<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345</id><updated>2011-08-20T18:12:54.119+07:00</updated><title type='text'>Save Our Borneo</title><subtitle type='html'>Save Our Borneo [SOB] adalah gerakan [movement] bersama upaya penyelamatan Kalimantan yang pada saat ini dalam tingkat kerentanan dan ancaman yang sangat tinggi sebagai akibat eksploitasi asset alam dan sumber kehidupan rakyat yang dilakukan dalam skala massif dan tidak bertanggungjawab.

kontak lebih lanjut hubungi :
nordin1211@yahoo.com.sg atau harizajudin@gmail.com

Jl. Aries No. 38 Komp. Amaco, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-116473065840454348</id><published>2006-11-28T23:10:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:27:58.053+07:00</updated><title type='text'>Potensi konflik dan kerunyaman pengelolaan SoB(1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MMTopic3" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Investasi Ekonomi di wilayah komunitas GB (Sebaran HPH, HTI, Kebun, Tambang, Infrastruktur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sebaran HPH di Kawasan Green Belt&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada tahun 2005 yang kemudian di analisis melalui overlay dengan kawasan Green Belt diperoleh data luasan dan jumlah HPH yang berada di kawasan Green Belt terdapat 76 HPH dengan Total luasan  sekitar 3,983 juta Ha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Green Belt                       Luasan    Jumlah HPH     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kapuas Hulu                 55.233,57      5     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Iban                          1.242.783,21     16     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Muller                         595.773,43     25     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Meratus                      451330,99     13     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Schawaner              1.638.834,80     25     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Jumlah                    3.983.956,00     84   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Keterangan : Jumlah seluruh HPH yang berada di Green Belt adalah 76 Perusahaan, Jumlah di tabel dikarenakan ada HPH yang masuk lebih dari 1 kawasan GB.  Jumlah HPH bukan berdasarkan per Propinsi tetapi perhitungan Pulau, misalnya Meratus bagian Kalsel hanya ada 4 HPH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-116473065840454348?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/116473065840454348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=116473065840454348&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/116473065840454348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/116473065840454348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/11/potensi-konflik-dan-kerunyaman.html' title='Potensi konflik dan kerunyaman pengelolaan SoB(1)'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114490286738864823</id><published>2006-04-20T11:25:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:28:59.573+07:00</updated><title type='text'>Latar Belakang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Kalimantan atau lazim juga disebut Borneo, sebuah pulau yang terbagi menjadi 3 negara, yaitu Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia yang berada pada garis katulistiwa yang beriklim trofis. Borneo yang masuk dalam wilayah negara Indonesia, secara administrative terbagi menjadi 4 propinsi , yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan luas seluruhnya adalah 549.032 km2 atau 73 % dari luas Borneo (Kathy Mackinnon:1:2000). Luas diatas merupakan 28% seluruh daratan Indonesia. Borneo terbentang di katulistiwa antara 70 LU dan 40 LS. Borneo terletak di kawasan bercurah hujan konstan dan bersuhu tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu, pulau ini memiliki beberapa habitat tropis tersubur di muka bumi dan memiliki hutan basah tropis terluas di kawasan Indomalaya. Pulau ini kaya akan keragaman hayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk Kalimantan sekitar 9,1 juta (1991), dengan kepadatan penduduk 17 orang/km2. Kalimantan berperanan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Kekayaan ini bukan berasal dari produk industri, juga bukan dari hasil pertanian dan perkebunan, melainkan karena besarnya cadangan sumber daya alam: hutan, minyak, gas, batu bara, dan mineral-mineral lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Borneo berbentuk pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama di bagian selatan. Lebih dari setengah pulau ini berada di bawah ketinggian 150 m dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Borneo tidak memiliki gunung berapi tetapi jajaran pegunungan, utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau, seperti trisula terbalik dari utara ke selatan, dengan tiga mata tombaknya bercabang di bagian selatan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah pesisir umumnya didefinisikan sebagai suatu jalur daratan dan laut yang terdapat di sepanjang pesisir. Wilayah ini hanya sebagian kecil di Kalimantan. Wilayah ini mencakup beberapa habitat yang dari segi ekologi sangat produktif, yaitu muara sungai, lahan basah pasang-surut, hutan bakau dan terumbu karang, dan juga merupakan daerah temapat tinggal sebagaian besar penduduk Kalimantan, di mana sebagian besar pembangunan sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis pesisir Kalimantan membentang sejauh 8.054 km, yakni dari Semenanjung Sambas di bagian barat sampai Pulau Nunukan di perbatasan Sabah. Sebagaian besar garis ini berhadapan dengan pantai yang dangkal, dan dibelakangnya terdapat hutan bakau dan hamparan lumpur, atau pantai berpasir yang luas, yang tepinya ditumbuhi pohon-pohon cemara Casuarina. Habitat-habitat utama di Kalimantan meliputi pulau-pulau kecil berbatu-batu, formasi terumbu karang, garis pantai berbatu-batu termasuk tanjung pantai berpasir, asosiasi bakau/nipah, dan hamparan lumpur, serta muara sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang batas hutan bakau dan nipah daerah pesisir, tanah yang tergenang air di dataran rendah Kalimantan menunjang kehidupan rawa gambut dan hutan air tawar yang sangat luas. Kalimantan, secara keseluruhan, memiliki lahan basah seluas 20.116.000 ha. Dari lahan seluas itu, yang tersisa sekitar 12.478.000 ha. Persoalannya adalah dari 20 juta ha luas lahan itu, yang dilestarikan hanya sebesar 1.322.000 ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan memiliki kekayaan hutan yang berlimpah ruah. Pada tahun 1968, Kalimantan ditaksir mempunyai 41.470.000 ha hutan atau kira-kira 70%. Luas ini mencakup 34% seluruh luas hutan di Indonesia. Menjelang tahun 1990, dengan basis data yang lebih baik, luas lahan di Kalimantan yang masih tertutup hutan hanya 34.730.000ha atau 63%. Angka ini menunjukkan kehilangan hutan tujuh juta hektar selama dua puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, perhatian masyarakat di Kalimantan diberikan pada tanaman perkebunan dan tanaman keras. Tiga tanaman perkebunan utama di Kalimantan adalah kelapa sawit, karet, dan kelapa. Ketiga produk alam ini dipandang efektif dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mampu diterapkan dalam melindungi sistem ekologi. Selain itu, pengelolaan lahan dengan media perkebunan besar mampu melindungi tanah dengan baik, menjaga eksistensi satwa liar, dan menganut sistem berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borneo merupakan daratan dengan sungai-sungai besar: Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kayan, dan Sungai Mahakam di wilayah Kalimantan. Sungai-sungai ini merupakan jalur masuk utama ke pedalaman pulau dan daerah pegunungan tengah. Semakin ke hulu, sungai lebih sempit. Sungai tersebut mengalir melalui hutan-hutan perbukitan, berarus deras, dan airnya jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan sungai-sungai utama di Kalimantan terdapat di jajaran pegunungan tengah. Sungai-sungai itu semakin lebar dan semakin besar volumenya menuju ke laut, karena ada tambahan air dari anak-anak sungainya, yang membentuk sungai utama yang mengalirkan air dari daerah aliran sungai yang luas. Debit air bervariasi menurut musim. Kecepatan arus, kedalaman air, dan komposisi substrat bervariasi menurut panjang aliran dan lebar sungai, dan ini mempengaruhi biota yang dapat hidup di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borneo memiliki flora yang terkaya di Kepulauan Sunda, baik jumlah kekayaan maupun keragaman jenisnya. Borneo memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae, yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di kawasan Asia Tenggara; 58% jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Borneo memiliki lebih dari 2.000 jenis anggrek dan 1.000 jenis Pakis, dan merupakan pusat distribusi karnivora kantung semar Nepenthes. Tingkat endemisme flora cukup tinggi, yaitu sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya 59 marga di pulau ini unik (dari 1.500 marga seluruhnya). Hanya satu suku endemik di Borneo, yaitu Scyphostegiaceae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan jenis tumbuhan dapat dihubungkan dengan tipe tanah. Keragaman tipe habitat dan endemisme lokal berkaitan dengan tanah, misalnya sifat geologi batuan muda, khususnya di barat daya Borneo, berperanan dalam menentukan kekayaan jenis tersebut. Keragaman habitat hutan di Borneo berkisar dari hutan Dipterocarpaceae dewasa dengan tajuk tinggi, stratifikasi yang jelas, dan tumbuhan polong-polongan yang tinggi dan hutan Dipterocarpaceae yang menjulang tinggi. Sebagaian dari 146 enis rotan Borneo berkaitan dengan tipe hutan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauna Borneo menggambarkan sejarah geologi dan hubungannya dengan daratan purba. Pulau ini kaya akan fauna yang berasal dari Asia, misalnya, keluarga rusa, sapi liar, babi, kucing, monyet dan kera, tupai, dan banyak keluarga burung Asia. Banyak fauna Borneo yang serupa dengan fauna daratan Asia dan pulau-pulau Sunda lainnya, tetapi keserupaan dengan Sulawesi dan pulau-pulau di sebelah timur hanya sedikit, karena komposisi faunanya agak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran Kehidupan Masyarakat Kalimantan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk terbanyak yang mendiami Kalimantan adalah Suku Dayak. Secara harfiah, “Dayak” berarti orang pedalaman dan merupakan istilah kolektif untuk bermacam-macam golongan suku, yang berbeda dalam bahasa, bentuk kesenian, dan banyak unsur budaya serta organisasi sosial. Mereka terutama merupakan peladang berpindah padi huma, yang menghuni tepi-tepi sungai di Kalimantan. Di seluruh Borneo, barangkali terdapat 3 juta orang Dayak. Pada umumnya, mereka tinggal di daerah-daerah aliran sungai di dataran rendah dan dataran-dataran aluvial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Penyelematan Pulau Kalimantan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar karekteristik umum Pulau Kalimantan ada keterikatan antar kawasan terutama daerah hulu-hulu sungai yang menjadi bagian penting dari kehidupan di Pulau ini. Namun kondisi kawasan ini menunjukan adanya penurunan fungsi yang secara nyata dari tahun ke tahun diantaranya oleh kegiatan ekstraktif apalagi dengan kebijakan pemerintah yang terus mengancam kawasan ini seperti rencana pertambangan di kawasan lindung di Pegunungan Meratus atau rencana spektakular sawit 1,8 juta hektar di perbatasan maupun. Sehingga kedepannya bagaimana kawasan tersebut dapat diselamatkan, karena dengan menyelamatkan kawasan tersebut otomatis juga akan menyelamatkan kehidupan di pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan “penting” yang dimaksud adalah kawasan yang memberikan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat . Di kawasan inilah tempat penyedia air, penyeimbang kondisi lingkungan hidup, pelindung dari bencana, intinya kawasan inilah yang akan membantu menyelamatkan kehidupan di Pulau Kalimantan. Kawasan ini kemudian disebut sebagai “sabuk hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Terkini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimantan pada umumnya ketersediaan sumber daya alam meskipun dikatakan masih cukup tinggi namun ketersediaannya mulai terbatas. Nilai komoditas sumber daya alam di Kalimantan berasal dari beberapa sector, diantaranya hasil hutan, tambang, pertanian dan perikanan yang mendatangkan nilai ekonomi wilayah. Namun belakangan ini potensi sumber daya alam tersebut mengalami pemborosan dalam pemanfaatan, sehingga terjadi kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan hidup yang ditandai dengan pencemaran sungai serta banjir. Kalimantan yang berada di Wilayah Republik Indonesia terletak diantara 4º24' LU - 4º10' LS dan 108º30' BT - 119º00' BT, dengan luas wilayah lebih kurang 535.834 km². Perbatasan dengan Negara Malaysia terletak dibagian utara yang panjangnya mencapai 3.000 km. sebagai wilayah yang mempunyai kawasan perbatasan maka tidak dapat dikesampingkan pula persoalan yang terkait dengan illegal loging, konversi kawasan hutan dan illegal trading. Potensi hutan lindung, hutan produksi, cagar alam dan tambang umumnya menyebar di kawasan perbatasan. Potensi ini sudah dilirik oleh Negara-negara Asia, yaitu dengan membentuk kerangka kerjasama ekonomi regional BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan melalaui jalur perdagangan laut internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi fisik wilayah Kalimantan yang masih menyimpan potensi sumber daya alam sebagian besar di wilayah pegunungan, yang meliputi kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai konservasi flora dan fauna, hutan di pegunungan Muller dan Schawaner, serta kawasan hutan dan hutan lindung lainnya yang ditetapkan sebagai “world heritage forest”. Kawasan hutan tersebut merupakan hulu-hulu sungai yang menyimpan cadangan air untuk seluruh Kalimantan, yaitu sebanyak 35 % yang tidak akan habis, tetapi dengan syarat tidak terganggu dan tercemar serta perlu dikelola sebagai suatu kawasan bioregion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini hasil hutan Kalimantan masih dijadikan kayu industri, sehingga beberapa spesies kayu mulai punah seperti, gaharu, ramin dan cendana yang ditebang tanpa kendali. Selain industri kayu, juga dari hasil pertambangan, pertanian/perkebunan dan industri hasil olahan yang mengandalkan sumber daya alam mengabaikan kondisi lingkungan hidup dan keberlanjutannya. Potensi sumber daya alam tersebut memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Nasional yang mencapai 10,09%, hal ini merupakan suatu nilai yang cukup tinggi. Kontribusi terbesar berasal dari sector industri pengolahan (25,8%), pertambangan dan bahan galian (20,66%), serta pertanian/perkebunan (16,34%). Meskipun pertanian pada urutan ke tiga, namun pada lingkup Propinsi, pertanian sangat dominant memberikan kontribusi pada PDRB, yaitu antara 20 – 40 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran singkat tersebut dapat memberikan ilustrasi bahwa Kalimantan dipandang oleh para ekonom sebagai kawasan yang memberikan harapan perkembangan dan pertumbuhan wilayah dan kontribusinya pada pertumbuhan nasional. Namun, para ekonom tersebut tidak pernah memandang dari ketersediaan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan, serta kodisi social, budaya masyarakat yang sangat tergantung oleh ketersediaan sumber daya alam sebagai ruang dan sumber kehidupan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;ul style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;Degradasi kualitas lingkungan hidup sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak mengacu pada kondisi bioregion, sehingga mengurangi potensi sumber daya alam Kalimantan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan yang subur di dataran rendah dan tidak berawa. Pola penyebarannya sangat terbatas dibagian barat, selatan dan timur bagian utara wilayah Kalimantan. Dibagian tengah dan dataran rendah pantai selatan umumnya lahan gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi dan sulit ditanami dengan komoditas pertanian yang ekonomis. Sedangkan dibagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi salah satu isu utama di Kalimantan, walaupun telah terdapat berbagai peraturan perundang-undangan tentang alokasi lahan, dalam pelaksanaannya masih terjadi penyimpangan di lapangan. Kondisi ini telah menimbulkan dampak negative yang sangat berat dengan munculnya banjir dan menurunnya produktivitas pertanian rakyat, serta serta dampak social lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkembangan pembangunan di bagian hulu kawasan perbatasan dan hulu pegunungan, telah mempersempit vegetasi yang menutup permukaan tanah menjadi lapisan kedap air, sehingga meningkatkan air limpasan dan telah mengakibatkan bahaya erosi tanah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesenjangan pembangunan di Kalimantan tidak hanya antar Propinsi tetapi juga antar Kabupaten di wilayah bagian pesisir, pedalaman dan perbatasan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kami meminta partisipasi semua pembaca, terutama pada semua tulisan-tulisan kami, untuk penyelamatan Pulau Kalimantan dari Bencana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114490286738864823?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114490286738864823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114490286738864823&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114490286738864823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114490286738864823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/latar-belakang.html' title='Latar Belakang'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114546470289237522</id><published>2006-04-19T23:38:00.000+07:00</published><updated>2006-12-24T00:52:03.790+07:00</updated><title type='text'>Kalimantan Secara Umum</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.1.1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Letak Geografis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah nama bagian wilayah Indonesia di Pulau Borneo Besar;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Seluruh Pulau Irian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kalimantan meliputi 73 % massa daratan Borneo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keempat propinsi di Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, luas seluruhnya adalah 549.032 km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luasan ini merupakan 28 % seluruh daratan Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalimantan Timur saja merupakan 10% dari wilayah Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagian utara P. Borneo meliputi negara bagian Malaysia yaitu Serawak dan Sabah, dan Kesultanan Brunei Darusallam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Batasan wilayah secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik yang ada sekarang ini mencerminkan kepentingan penjajah masa lampau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia, terletak diantara 4&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 24` LU - 4&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 10` LS dan anatara  108&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 30` BT - 119&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535.834 km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;. Berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur.  Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan  maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”&lt;i&gt;illegal trading”&lt;/i&gt; apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. Selain itu pesoalan  ”&lt;i&gt;illegal loging&lt;/i&gt;” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional ALKI 1 dan ALKI 2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:396.75pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Riza\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="situasi kalimatan"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img style="font-family: courier new;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Riza/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" height="383" width="529" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.1.2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;    &lt;b&gt;Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain–lain (0,93 %).  Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;dengan kelerengan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sebagai fungsi cadangan air&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; dimasa yang akan datang&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis tersebut adalah Pegunungan Muller, Schawaner, Iban dan Kapuas Hulu serta dibagian selatan Pegunungan Meratus. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu, ramin, dan cendana sudah hampir punah. Analisis ekonomi hasil hutan dengan ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, wilayah dan ekonomi nasional &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Para Ahli agronomi sepakat bahwa tanah-tanah di Kalimantan adalah tanah yang sangat miskin, sangat rentan dan sangat sukar dikembangkan untuk pertanian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; karena terdiri dari lahan rawa gambut, lahan bertanah asam, berpasir, dan lahan yang memiliki kelerengan curam.   Kalimantan dapat dikembangkan, tetapi hanya dalam batas-batas ekologis yang agak ketat dan dengan kewaspadaan tinggi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lahan yang luas telah dieksploitasi secara buruk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Operasi pembalakan yang dikelola dengan buruk pula, serta rencana-rencana pertanian yang gagal, telah meninggalkan bekas-bekasnya pada bentang lahan di Kalimantan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padang Pasir putih yang luas dan kerangas yang mengalami &lt;i style=""&gt;Lateralisasi&lt;/i&gt; menjadi merah dan ditinggalkan ; padahal semula ditumbuhi hutan lebat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setiap tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lautan padang alang-alang menjadi kering dan terbakar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hutan tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan regeneresi dan lautan padang rumput terus bertambah luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sebagai besar lahan Gambut berada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman, pegunungan, dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian.  Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan usaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Proses-proses ekologis utama adalah proses-proses yang diatur atau ditentukan oleh ”ekosisitem dan sangat mempengaruhi produksi pangan, kesehatan dan aspek lain untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sistem penunjang kehidupan adalah &lt;i style=""&gt;ekosistem ekosistem&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;utama&lt;/i&gt; yang terlibat di dalamnya, beberapa ekosistem kehidupan yang menghadapi ancaman bahaya terbesar adalah sistem pertanian, hutan, lahan basah dan sistem pesisir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka, da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pencemaran sungai dikarenakan pembalakan hutan, buangan limbah industri tanpa perlakukan, limbah rumah tangga dan limbah dari penambangan emas tanpa izin telah menyebabkan alur perairan menjadi bahaya bila digunakan untuk keperluan ruamah tangga dan menyebabkan kerugian berupa sebagian sumber daya perikanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas, mangan, bauksit, pasir kwarsa, fosfat, mika dan batubara. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah, pantai, dan ”&lt;i&gt;off sore&lt;/i&gt;”. Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan, perkebunan, dan pertanian. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan.  Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran, karena keterbatasan lahan di negara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Namun sekarang ini pengembangan perkebunan juga mengancam kawasan perbukitan dataran tinggi, namun di duga areal yang sebenarnya kurang cocok untuk perkebunan hanya sebagai dalih untuk melakukan eksploitasi kayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur.  Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 12pt 4pt 0.0001pt 0cm; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.1.3.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;   &lt;b&gt;Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: courier new; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;left:0;" wrapcoords="-88 0 -88 21513 21600 21513 21600 0 -88 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Riza\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.png" title="51k"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Riza/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="329" hspace="12" width="324" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan &lt;i&gt;”Human Developmen Index” (HDI)&lt;/i&gt; .  HDI pada tahun 1996 sampai dengan 1999 menurun di semua propinsi. Total HDI rata-rata di Kalimantan 68,2 tahun 1996 dan 64,3 pada 1999 kemudian pada tahun 2003 menjadi 65. Penurunan ini lebih disebabkan karena memang tingkat pendapatan perkapita jauh menurun akibat krisis, sementara HDI sangat ditententukan oleh faktor income/capita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Jika melihat data kemiskinan pada tahun 2002 yang dikeluaran dinas sosial terlihat kondisi sosial masyarakat Kalimantan, buta huruf rata-rata 7,28 % dengan Kalimantan Barat yang tertinggi yaitu di Kabupaten Sintang 17 %.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat yang belum mendapatkan pelayananan air bersih rata-rata 58,7 %, dengan Kalimantan barat yang tertinggi yaitu 92 %.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Indeks Kemiskinan masih 29 % dari total penduduk, selengkapnya dapat dilihat pada &lt;a href="lampiran/tabel/kemiskinan.xls" title="Kondisi sosial masyarakat kalimantan per-kabupaten tahun 2002"&gt;lampiran tabel&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan (1999) terhadap PDB nasional mencapai 10.09 %, suatu nilai yang cukup baik. Dari angka itu nilai PDRB terbesar didapat dari propinsi Kaltim yaitu 59,21 %.  Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB tahun 2000 adadalh Industri pengolahan (25,8 %), sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian (20,66 %) sendangkan ketiga pertanian (16,34 %).  Walupun sektor pertanian ketiga, namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %, kecuali di propinsi Kaltim. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian yaitu mencapai 23 % (1996-2000).  Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kalimantan berperan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 2003&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;, Kalimantan menghasilkan 29 % pendapatan sektor Indonesia yang berasal dari migas, 25,72% dari sektor pertambangan dan 34.54 % dari sektor hutan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun perlu di lontarkan pertanyaan apakah dalam jangka panjang eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan bersiapat nasional? Apakah eksploitasi dapat berjalan terus? Ataukah akan menyebabkan kerusakan lingkungan, penurunan kualitas tanah dan hutan serta pemcemaran perairan? Apa yang dilakukan untuk memperbaiki berbagai potensi kerusakan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;A.1.4. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;  Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimanta&lt;b&gt;n&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Tahun 2000 total panjang jalan di pulau Kalimantan 42.641 km. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;yang sangat besar.  Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85,29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terhubungkan secara masif, yaitu jalur utara membentang barat-timur, tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis, mendukung dan mendorong perkembangan wilayah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan raya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet  kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan, yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan, Kalsel 1 kota pelabuhan, dan Kaltim 15 kota pelabuhan. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu  2.491.102 ton bongkar dan 54.324.824 ton muat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial, agama dan keamanan wilayah. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima), Kalteng 7 (tujuh), Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat).  Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang - keluar pelabuhan udara tercatat 39.964 pesawat keberangkatan dan 40.005 pesawat kedatangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 4pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.1.5. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;Kondisi Prasarana Kelistrikan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-right: 4pt; margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total, sebagian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. Wilayah-wilayah lainnya sudah dihubungi dengan jaringan bertegangan 150 KV dan masih terbatas dalam jangkauan pelayanannya. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD  dan ada beberapa dari PLTG, PLTA dan PLTGU.  PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal.  Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air, batu bara, dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA, PLTG, dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”&lt;i&gt;generate”&lt;/i&gt;  kegiatan / kawasan industri sawit, olahan hasil hutan, pertambangan, semen, dan industri lainnya.  Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis.    Saat ini telah direncanakan pembangunan, PT PLN bakal menambah dua unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 2x65 mega watt pada tahun 2007 di Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A..1.6.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wilayah Administrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="'width:306.75pt;height:255.75pt;" allowoverlap="f"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Riza\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title="administrasi kalimantan"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Riza/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1026" border="0" height="341" width="409" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" lang="SV" &gt;Secara administratif&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;di Pulau Kalimantan terdiri dari :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable"  style="width: 300pt; margin-left: 41.4pt; border-collapse: collapse; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="400"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Propinsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; width: 68pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Kabupaten&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; width: 65pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Kecamatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(204, 255, 204) none repeat scroll 0% 50%; width: 48pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Desa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 68pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 65pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;127&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 48pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1500&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 68pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 65pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;85&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 48pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1355&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   Selatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 68pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 65pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;117&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 48pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1972&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: silver none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 68pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 65pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;88&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 48pt; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1404&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(255, 204, 0) none repeat scroll 0% 50%; width: 119pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="159"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(255, 204, 0) none repeat scroll 0% 50%; width: 68pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="91"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;52&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(255, 204, 0) none repeat scroll 0% 50%; width: 65pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="87"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;417&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(255, 204, 0) none repeat scroll 0% 50%; width: 48pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; height: 12.75pt; color: rgb(255, 0, 0);" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="64"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;6231&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Sum&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ber : data administrasi KPU, 2003&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan Barat Secara Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Kalimantan Barat memiliki &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;luas 146.807 Km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;terletak di bagian barat pulau Kalimantan atau di antara garis 2&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;08’ LU serta 3&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;05’ LS serta di antara 108&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;0’ BT dan 114&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;10’ BT pada peta bumi. Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 0&lt;sup&gt;o&lt;/sup&gt;) tepatnya di atas Kota Pontianak yang merupakan ibukota propinsi ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalbar adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta diiringi kelembaban yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ciri-ciri spesifik lainnya adalah bahwa wilayah Kalimantan Barat termasuk salah satu propinsi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berbatasan langsung dengan negara asing, yaitu dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Bahkan dengan posisi ini, maka daerah Kalimantan Barat kini merupakan satu-satunya propinsi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang secara resmi telah mempunyai akses jalan darat untuk masuk dan keluar dari negara asing. Hal ini dapat terjadi karena antara Kalbar dan Sarawak telah terbuka jalan darat antar negara Pontianak – Entikong – Kuching (Sarawak, Malaysia) sepanjang sekitar 400 km dan dapat ditempuh sekitar enam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sampai delapan jam perjalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pengeksploitasian yang buruk (pembalakan hutan/kayu, pertanian lahan kering yang gagal) telah meninggalkan bekas pada bentang alam/lahan, hilangnya sumberdaya dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pencemaran yang terjadi pada sungai merupakan suatu dampak dan akibat dari pengeksploitasian yang buruk (pembukaan hutan, limbah industri tanpa perlakuan dan rumah tangga, dan kegiatan PETI) menyebabkan alur-alur sungai menjadi bahaya untuk digunakan sebagai keperluan rumah tangga. Selain itu juga, ada suatu dampak berupa kerugian pada sumberdaya ikan, dan juga penebangan hutan bakau untuk tambak menyebabkan kerugian sumberdaya lepas pantai. Tanpa perencanaan yang seksama, pembangunan di Kalimantan Barat hanya dapat menimbulkan suatu keuntungan ekonomi pada Jangka pendek, yang dengan terus mengorbankan kerusakan lingkungan dalam Jangka Panjang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan Tengah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Propinsi Kalimantan Tengah beribukota di Palangkaraya dengan luasan .... . Secara geografis terletak di daerah khatulistiwa, yaitu 0&lt;sup&gt;°&lt;/sup&gt;45 LU, 3&lt;sup&gt;°&lt;/sup&gt;30 LS, 111 ° BT dan 116&lt;sup&gt;°&lt;/sup&gt; BT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sebagian besar wilayah propinsi Kaimantan Tengah merupakan dataran rendah, ketinggian berkisar antara 0 s/d 150 meter dari permukaan laut. Kecuali sebagian kecil di wilayah utara merupakan daerah perbukitan di mana terbentang pegunungan Muller dan Schwaner dengan puncak tertingginya (bukit Raya) mencapai 2.278 meter dari permukaan laut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Terdapat sebelas (11) sungai besar dan tidak kurang dari 33 anak sungai kecil/anak sungai, keberadaanya menjadi salah satu ciri khas Propinsi Kalimantan tengah. Sungai barito dengan kepanjangannya mencapai 900 km dengan rata-rata kedalaman 8 meter merupakan sungai terpanjang dan dapat dilayari hingga 700 km.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan Selatan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luasan 3,7 jt Ha atau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;6,98% luas Pulau Kalimantan dengan ibukota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banjarmasin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara geografis terletak di antara 1o 21’ 49” LS – 1o 10’ 14” LS dan 114o 19’ 33” BT – 116o 33’ 28”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kekhasan propinsi ini adalah Propinsi di belah oleh gugusan pegunungan Meratus dan menjadi batas alam hampir seluruh kabupaten di propinsi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan Timur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalimantan Timur dengan luas wilayah 245,237.8 km² atau seluas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura, terletak antara 113º44’ Bujur Timur dan 119º00’ Bujur Barat serta diantara 4º24’ Lintang Utara dan 2º25’ Lintang Selatan. Dengan adanya perkembangan dan pemekaran wilayah, propinsi terluas kedua setelah Papua ini dibagi menjadi 9 (sembilan) kabupaten, 4 (empat) &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kesembilan kabupaten tersebut adalah Pasir dengan ibukota Tanah Grogot, Kutai Barat dengan ibukota Sendawar, Kutai Kartanegara dengan ibukota Tenggarong, Kutai Timur dengan ibukota Sangatta, Berau dengan ibukota Tanjung Redeb, Malinau dengan ibukota Malinau, Bulungan dengan ibukota Tanjung Selor dan Nunukan dengan ibukota Nunukan, dan Penajam Paser Utara dengan ibukota Penajam. Sedangkan keempat &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; adalah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Balikpapan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Samarinda, Tarakan dan Bontang. Kalimantan Timur merupakan salah satu pintu gerbang pembangunan di wilayah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bagian timur. Daerah yang juga dikenal sebagai gudang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kayu dan hasil pertambangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini mempunyai ratusan sungai yang tersebar pada hampir semua kabupaten/kota dan merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sarana angkutan utama di samping angkutan darat, dengan sungai yang terpanjang Sungai Mahakam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Propinsi Kalimantan Timur terletak di sebelah paling timur Pulau Kalimantan dan sekaligus merupakan wilayah perbatasan dengan Negara &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;, khususnya Negara Sabah dan &lt;st1:place st="on"&gt;Sarawak&lt;/st1:place&gt;. Tepatnya propinsi ini berbatasan langsung dengan Negara Malaysia di sebelah utara, Laut Sulawesi dan Selat Makasar di sebelah timur, Kalimantan Selatan di sebelah selatan, dan dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta Malaysia di sebelah barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daratan Kalimantan Timur tidak terlepas dari gugusan gunung dan pegunungan yang terdapat hampir di seluruh kabupaten, yaitu ada sekitar 13 gunung. Gunung yang paling tinggi di Kalimantan Timur yaitu Gunung Makita dengan ketinggian 2 987 meter yang terletak di Kabupaten Bulungan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedang untuk danau yang berjumlah sekitar 17 buah, keseluruhannya berada di Kabupaten Kutai dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;danau yang paling luas yaitu Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang dengan luas masingmasing 15 000 hektar, 13 000 hektar, dan 11.000 hektar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:courier new;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px; color: rgb(255, 0, 0);font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="color: rgb(255, 0, 0);" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt; Kawasan ini yang harus diselamatkan, melihat dari kondisi karakteristik pulau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="color: rgb(255, 0, 0);" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Bapenas, 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; BPost Selasa, 05 September 2006&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114546470289237522?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114546470289237522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114546470289237522&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114546470289237522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114546470289237522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/kalimantan-secara-umum.html' title='Kalimantan Secara Umum'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114537958199490659</id><published>2006-04-18T23:59:00.000+07:00</published><updated>2006-12-24T00:56:44.356+07:00</updated><title type='text'>Migrasi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;masih draft &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;div style=""&gt;&lt;div id="_com_4" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_4','_com_4')" onmouseout="msoCommentHide('_com_4')"&gt;&lt;p class="MsoCommentText"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="FI"&gt;A.2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Migrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalimantan adalah pulau khusus yang mempunyai daya tarik bagi para penduduk dari pulau yang jumlah penduduknya lebih padat.. Sering kali mereka merantau sendiri ke Kalimantan sedangkan keluarganya masih di tempat asal. Kalau pendatang baru sudah merasa cocok dan aman dengan tempat baru dan kesempatan pada masa depan terbuka, seluruh keluarganya akan mengikutinya. Atau dalam situasi lain, ibu-bapak merantau karena kontrak kerja di perkebunan akan langsung pindah bersama dengan keluarganya. 0a&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_1" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')" href="#_msocom_1" language="JavaScript" name="_msoanchor_1"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Migrasi pertama kemungkinan terjadi ketika orang luar datang dari daerah Yunnan Cina Selatan sekitar tahun 3000 – 1500 SM (Zaman glasial/zaman es) menggunakan perahu bercadik melalui Indocina ke semenanjung Malaya ke selatan Kalimantan, kelompok ini disebut dengan ”Proto-Melayu”. &lt;a style=""&gt;&lt;span style="color:green;"&gt;Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan disebut suku melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_2" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_2','_com_2')" onmouseout="msoCommentHide('_com_2')" href="#_msocom_2" language="JavaScript" name="_msoanchor_2"&gt;[R2]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedatangan bangsa melayu Sumatera &amp; Semenanjung Malaya ke Kalimantan memaksa suku dayak yang tinggal di tepi sungai Kapuas pindah ke hulu-hulu sungai; migrasi bangsa Cina Ke Kalbar sejak abad ke – 17 melalui rute Indocina-Malaya-Kalbar &amp; Borneo Utara-Kalbar sebagai tenaga pekerja emas di Monterado (Sultan Sambas &amp;amp; Panembahan Mempawah).&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_3" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_3','_com_3')" onmouseout="msoCommentHide('_com_3')" href="#_msocom_3" language="JavaScript" name="_msoanchor_3"&gt;[R3]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="IT" &gt;Menurut H.TH.Fisher, migrasi dari Asia terjadi pada fase pertama zaman &lt;i style=""&gt;Tretier&lt;/i&gt;. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras &lt;i style=""&gt;Mongoloid&lt;/i&gt; dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang di sebut pegunungan Muller-Schwaner.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulai Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;Cerita selanjutnya tentang suku dayak, dalam menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;a style=""&gt;Umumnya orang Dayak enggan tinggal bersama satu pemukiman dengan suku lain, mereka lebih senang pindah dan membuka kampung baru ke arah hulu sungai&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_4" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_4','_com_4')" onmouseout="msoCommentHide('_com_4')" href="#_msocom_4" language="JavaScript" name="_msoanchor_4"&gt;[R4]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;. Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan yang menurut &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tradisi lisan dayak, disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (fridolin ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Migrasi orang Dayak sendiri memilik berbagai cerita yang berbeda namun secara umum bisa dilihat dari gambaran &lt;a href="lampiran/Migrasi%20Suku%20Dayak.doc" title="Baca lebih lanjut tentang migrasi suku Dayak"&gt;mingrasi Dayak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terjadi oleh suku Dayak Kenyah dan Kayan&lt;/a&gt;.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;a href="lampiran/Nenek%20Moyang%20suku%20dayak%20Ngaju.doc" title="Baca tentang sejarah Asal muasal suku dayak Ngaju yang konon menyebar di Kalseltimteng"&gt;Migrasi dan asal muasal Dayak Ngaju yang konon merupakan induk beberapa anak suku dayak yang ada di Kalimantan memiliki sejarah tersendiri dalam kaitan sejarah migrasi kependudukan di Kalimantan.&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Menurut Hose (1990 : 7) dalam teks orisinal yang ditulis pada tahun 1926 dikemukakan bahwa beberapa abad yang lalu suku Iban merupakan salah satu suku yang mungkin merantau dari Sumatera. Hipotesis dari Adelaar yang mengatakan migrasi kembali ke Kalimantan menunjukkan kemungkinan orang Dayak memang berasal dari Kalimantan yang pindah ke luar dan pada akhirnya kembali lagi ke Kalimantan. Dewasa ini karena banyaknya migrasi, pernikahan di luar kelompok asli, dan juga orang Dayak yang pecah dari kelompoknya menyebabkan sulit untuk menemui tokoh masyarakat adat yang bisa menceritakan mitos dan sifat-sifat lain budayanya padi atau keperluan hidup sehari-harinya saja. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Tampaknya sekitar abad ke-11 suku Melayu masuk (atau kembali) ke Sambas, Mempawah, Sangga, Sintang dan kemudian menyebar ke tempat lain. Menurut pendapat umum agama Islam menyebar ke Kalimantan sekitar abad ke-15. Ini menunjukkan bahwa Islam masuk setelah orang Melayu dan Jawa membawa unsur-unsur agama Hindu dan budaya dari zaman Sriwijaya dan juga dari zaman Majapahit ke Kalimantan. Salah satu Kerajaan Hindu tertua di Kutai didirikan sekitar abad keempat, tepatnya di Kalimantan Utara. Disebutkan bahwa di candi Borobudur ada gambar laki-laki dengan telinga panjang yang sepertinya menggunakan sumpit yang panjang. Relief ini mungkin melukiskan orang Dayak (Avé 1986 : 13). Menurut Kühr (1995 : 53) dewa-dewi orang Dayak yang tinggal di pinggir sungai Kapuas, sebenarnya diberi nama dewa-dewi Hindu-Jawa yang didayakkan seperti; &lt;i&gt;Petara &lt;/i&gt;(Batara), &lt;i&gt;Jubata &lt;/i&gt;(Déwata) dan &lt;i&gt;Sengiaug &lt;/i&gt;(Sang Hyang). &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Di samping &lt;i&gt;back migration &lt;/i&gt;(merantau kembali) orang Melayu, bangsa Tionghoa berlayar ke pantai Asia Timur pada abad ketiga untuk perdagangan dan kembalinya melalui Kalimantan dan Filipina dengan memanfaatkan angin musim. Bangsa Tionghoa adalah kelompok etnis yang cukup penting dalam sejarah Kalimantan, sehingga sejarah mereka penting disorot. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sekitar abad ketujuh orang Tionghoa mulai menetap di Kalimantan tetapi mereka tetap bercorak Cina dan hubungan dengan negeri leluhur mereka selalu dipelihara. Pada tahun 1292 pasukan Kubilai Khan dalam perjalanannya untuk menghukum raja Kertanegara dari Majapahit di Jawa singgah di pulau Karimata yang terletak tidak terlalu jauh dari Pontianak. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 59pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Kawasan tersebut termasuk jaringan lalu lintas rute pelayaran dari daratan Asia ke Asia selatan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pasukan Tar-tar dari Jawa menderita kekalahan total dalam pertempuran dengan pasukan Kubilai Khan. Ada kemungkinan bahwa sebagian besar pasukannya lari dan menetap di Kalimantan karena mereka takut dihukum oleh pejabat Kubilai Khan yang masih ada di Jawa. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;Sumber lain menyebutkan, Bangsa Tionghoa diperkirakan mulia datang ke Kalimantan pada masa dinasti Ming, tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhurup kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Agama Islam di Kalimantan juga ikut disebarkan oleh orang Tionghoa. Pada tahun 1407 berdiri perkumpulan masyarakat Tionghoa Hanafi yang menganut Islam di Sambas. Laksamana Cheng Ho seorang Hui adalah penganut Islam dari Yunan yang atas perintah Cheng Tsu3&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan anak buahnya masuk untuk menguasai daerah tersebut. Dia menetap di sana dan menikah dengan penduduk setempat, serta menyebarkan agama Islam kepada penduduk lokal. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:olive;"  lang="SV" &gt;Pengaruh Islam diperkuat oleh kerajaan demak terutama di Kalselteng bersama masuknya para pedagang melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku dayak memeluk islam tak lagi mengakui dirinya sebagai orang dayak, tapi menyebutnya sebagai orang melayu atau orang banjar. Sedangkan orang dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagain Kota Waringin, salah seorang sultan kesultanan banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang dayak (Maanyaan atau Ot danum?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 59pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 1609 Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang aktif dari tahun 1602-1799 menjalin peniagaan dengan kerajaan Sambas, yang pada waktu itu masih di bawah kedaulatan kerajaan Johor. Dalam waktu yang relatif pendek perselisihan terjadi dan beberapa orang Belanda dibunuh oleh masyarakat Sambas. Pada tahun 1612 tindakan pembalasan oleh VOC terjadi, sebuah kampung di Sambas juga dibakar. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 59pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Pada abad ke-17 sudah ada dua rute laut dari Cina melalui Indo-Cina ke Nusantara. Pertama yang terus ke Malaya dan pantai Sumatra Timur lalu ke Bangka-Belitung serta pantai Kalbar, terutama Sambas dan Mempawah. Rute laut kedua melalui Borneo Utara terus ke Sambas dan pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 59pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 1745&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span  lang="IT" style="color:black;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; gelombang besar masyarakat Tionghoa datang dengan persetujuan Sultan Sambas untuk membuka tambang-tambang emas. Pada waktu itu sepertujuh produksi emas dunia diperkirakan berasal dari Kalbar. Orang Tionghoa membentuk kongsi di Montrado dan di Mandor, kongsi itu semakin lama semakin kuat. Perkongsian itu menetap di daerah tersebut dan wajib membayar upeti kepada sultan Melayu. Pembayaran itu mengakibatkan sultan memberi izin kepada orang Tionghoa untuk mengatur daerah sendiri, seperti urusan pemerintahan lokal dan punya pengadilan sendiri. Orang Dayak yang tidak merasa cocok dengan kekuatan orang Tionghoa berpindah ke luar daerah kekuasaan kongsi tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Gelombang perantau baru dari Tiongkok masuk karena hidup di Kalimantan aman dan ada cukup kesempatan untuk mencari emas, intan, perak dan juga karena tanahnya cukup subur. Pada tahun 1777, orang Tionghoa dari suku Tio Ciu dan suku Khe yang mencari emas di Mandor dan Montrado mendirikan Republik Lan Fong di Mandor, enam tahun setelah kota Pontianak didirikan. Pada umumnya hanya laki-laki Tionghoa yang merantau, ini dikarenakan mereka cepat berbaur dan bisa memperistri wanita Dayak atau Melayu. Kelompok Tionghoa cepat berkembang sehingga jumlah mereka mencapai 30.000 jiwa. Pada waktu itu, setelah mereka berkembang mereka berani melawan pemerintahan sultan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Beberapa pertempuran terjadi antara kongsi-kongsi dan pangeran dari Sambas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 1818 bendera Belanda dikibarkan di Sambas dan atas alasan perjanjian Belanda dengan Sultan, kepala-kepala Tionghoa sebenarnya berada di bawah kekuasaan Belanda. Setelah beberapa pertempuran berat terjadi, kekuasaan kongsi-kongsi Tionghoa dibubarkan di seluruh daerah Kalimantan Barat dan Republik Lan Fong Mandor yang berkuasa selama 107 tahun dan Republik Montrado yang berkuasa selama 100 tahun diakhiri (Lontaan 1975 : 256). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekitar 18 bulan setelah G30S meletus di Jawa, yang menyebabkan Soeharto menjadi pemimpin Indonesia, orang Dayak mengusir sekitar 45.000 jiwa Tionghoa dari pelosok dan membunuh ratusan jiwa Tionghoa, sebagai aksi politik untuk mengimbangi masalah pada zaman dahulu (Schwarz 2004 : 21). Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah kolonial mempengaruhi kehidupan orang Dayak, dan juga bahwa sejarah orang Tionghoa, Melayu dan Dayak sangat terjalin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang sudah disebutkan di atas, orang Melayu masuk dari &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt; dan dari Semenanjung Malaka sekitar abad ke-11 atau ke-12 dan berbaur dengan orang Dayak. Pada umumnya mereka mendiami daerah pinggir laut dan menjadi perantara orang luar dan orang Dayak yang ingin menukar atau menjual hasil hutan. Orang Melayu juga berbaur dengan keturunan orang Jawa yang sudah masuk sebelumnya. Seorang Ratu dari keturunan Hindu Majapahit yang memerintah daerah Sambas pindah ke agama Islam untuk memudahkan perniagaan dan mengembangkan hubungan baik dengan Johor dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sudah masuk Islam. Dewasa ini istilah Melayu digunakan sebagai kontras Dayak dengan Melayu. Istilah Melayu tidak digunakan sebagai referensi etnis tetapi sebagai referensi Islam kontras non-Islam. Peningkatan jumlah besar orang Melayu di Kalimantan disebabkan oleh orang asli atau Dayak yang memeluk Islam dan bukan karena jumlah besar orang Melayu yang merantau ke &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;. Orang Dayak yang memeluk Islam tidak berarti bahwa mereka selalu memeluk secara penuh tetapi mungkin hanya secara nominal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 22pt; text-align: justify; text-indent: 37pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada zaman dahulu, orang Dayak yang tidak mau dikuasai oleh suku lain terdesak dari pantai ke pedalaman Kalbar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Tergantung kekuatan suku Dayak tertentu, mereka membayar upeti atau tidak. Upeti dibayar dalam bentuk hasil hutan kepada sultan yang dibawa dengan sampan oleh pedagang Melayu ke hilir, ke pusat perdagangan di pinggir laut. Ada juga suku Dayak yang bertahan yang disebut “Dayak merdeka” dan mereka tidak dikuasai langsung oleh kerajaan Melayu pada zaman dahulu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 442.8pt;" valign="top" width="590"&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Migrasi   yang dilakukan oleh penduduk Tionghoa ke Kalimantan awalnya di daerah   Singkawang (Monterado), karena konon ceritanya dari kejauhan laut terpencar   sinar berwarna kuning, yang berrati banyak &lt;i style=""&gt;emas.&lt;/i&gt; Sejak itu dimulailah berbondong-bondong masyarakat Tionghoa   masuk ke wilayah Kalimantan (Kalimantan Barat) dan banyak membuka   pertambangan emas. Setelah itu masuk penjajahan Belanda yang ikut berperan   berinvestasi emas di wilayah Singkawang. Selain itu juga dipengaruhi oleh   migrasi dari Bugis, Melayu (Sumatera Semenanjung), Arab, Jawa. Dimana mereka   masuk melalui muara sungai-sungai (Mempawah, Selakau, Kapuas), mereka pada   umumnya menjadikan Kalimantan Barat awalnya sebagai tempat singgah dan   berdagang, namun pada lama kelamaan ada yang memulai berinvestasi tanah dan   melakukan perkawinan di sekitar pesisir sungai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Migrasi Suku-suku Lain di Indonesia ke Kalimantan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Bugis – Bajau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Serbuan Imigan dari orang-orang Bugis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari Sulawesi Selatan ke Kalseltim sekurang-kurangnya dimulai pada abad ke – 16.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Para pelaut bugis terlibat dalam perdangangan dan pengangkapan ikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Pada awal tahun 1950-an terjadi gelombang imigran baru dari orang Bugis yang karena penderitaan akibat pemberontakan Islam Kahar Muzakar di Sulsel (Vayda dan Sahur 1985).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka kemudian disusul oleh kerabatnya dan mulai membuka daerah-daerah hutan didataran rendah yang luas di sepanjang jalan untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;usaha tani &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lada dan perdaganan lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 1990-an migrasi orang bugis lebih pada kencendrungan mencari pekerjaan pada sektor usaha eksploitasi SDA seperti pertambangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Di daerah pantai barat laut Sabah dan sepanjang daerah pantai timur terdapat banyak suku Bajau, yang semual dikenal sebagai petualang laut ; penjelajah Laut Sulu untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya (Sopher 1965; Rutter 1930).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Jawa – Bali – Madura&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Pendatang dari jawa telah ada dalam jumlah besar di kalimantan dalam abad ke-14 dan ke-15 semasa puncak kejayaan Kerajaan majapahit di Jawa Timur. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengaruh mereka masih dapat dilihat dalam bahasa dan budaya serta tatacara istana di Banjarmasin, sambas dan Kotawaringain (Ave dan King 1986).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Migran baru terus berdatangan dan banyak yang berhasil mengerjakan sawah lahan basah pasang surut di Kalimantan Selatan (Collier 1977, 1980).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;Petani muskin yang cukup besar jumlahnya dari Jawa dan Bali juga telah dimukimkan kembali di kalimantan melalui program&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;transmigrasi yang disponsori pemerintah. Banyak pekerja kasar di industri perminyakan, perkayuan dan kini juga pendatang dari Jawa (termasuk di kegiatan illegal).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat Madura terdapat di Kalimantan barat, Tengah dan Selatan membawa orang madura ke Kalimantan akhir abad yang lalu sebagai bagian dari program kolonisasi mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang Madura menduduki berbagai lapangan pekerjaan, dari mengemudi beca, bertani dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Kaisar keempat dari dinasty Ming&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt; Ada yang menyebutkan tahun 1750, misalnya dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sarwoto kertodipoero,1963&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ekologi Kalimantan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" class="msocomoff" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_1" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_1" class="msocomoff"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_2" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_2','_com_2')" onmouseout="msoCommentHide('_com_2')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_2" class="msocomoff"&gt;[R2]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ditulis ari Walhi Kalbar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_3" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_3','_com_3')" onmouseout="msoCommentHide('_com_3')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_3" class="msocomoff"&gt;[R3]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Uban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_4" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_4','_com_4')" onmouseout="msoCommentHide('_com_4')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_4" class="msocomoff"&gt;[R4]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal itu terjadi jika pendatang melakukan kegiatan yang sama dengan penduduk asal, misalnya bertani dsb, namun jika beda kegiatan utama umumnya mereka bisa bergabung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;    &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114537958199490659?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114537958199490659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114537958199490659&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537958199490659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537958199490659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/migrasi.html' title='Migrasi'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114537950116345924</id><published>2006-04-18T23:58:00.001+07:00</published><updated>2006-11-28T21:03:08.110+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Pengelolaan Sumber Daya Alam</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="mobile-post"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;draft&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="Default" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A.2.3.1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Umum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Tekanan dari luar untuk memenuhi kebutuhan hidup dewasa ini lebih intrusif lagi. Pertama karena tekanan ekonomis memaksa eksplorasi kekayaan sumber daya alam dengan mengonversi yang tumbuh di atas bumi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kayu hutan hujan tropis menjadi bahan baku pada pabrik &lt;i&gt;plywood &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;dan produk kayu lainnya secara legal dan sebagian besarnya lagi secara illegal&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Hutan dan tanah dusun juga dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Kedua, kekayaan dari perut bumi, yakni mineral-mineral digali dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk permintaan pasar dunia. Itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pasca tradisional lebih diprioritaskan dibandingkan kebutuhan masyarakat pra modern. Bahan mentah sebenarnya terletak di “&lt;i&gt;Lebensraum&lt;/i&gt;” kelompok tradisional. Sejak lama Kalimantan dilihat sebagai sumber alam yang tidak ada habis-habisnya, padahal sumber itu sebenarnya terbatas. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Permintaan kayu pasar dunia masih kuat, sementara produksi kayu bulat turun karena sulit memperpanjang izin atau menebang pohon secara ilegal. Beberapa tahun belakangan ini, beberapa industri kayu sudah kesulitan bahan baku, beberapa industri sudah gulung tikar karena alasan kesulitan bahan baku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES" &gt;Beberapa yang bertahan memperoleh kayu dari luar pulau seperti Papua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES" &gt;Di beberapa daerah kebanyakan kayunya ditebang untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Di Kalimantan Barat, di desa Paham ada beberapa orang Dayak yang menebang kayu untuk permintaan pasar lokal. Mereka adalah kelompok penebang kayu yang masuk hutan memakai sepeda &lt;i&gt;ontel &lt;/i&gt;yang rangkanya diperkuat lagi dengan menggunakan kayu supaya bisa mengangkat beban kayu yang berat. Mereka pulang dari hutan dengan membawa papan kayu ke desanya pada waktu sore. &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.2.2.2&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejarah Pertambangan Di Kalimantan&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Eksploitasi mineral pertama yang penting adalah pertambangan dan pengolahan bijih besi yang terdapat di berbagai tempat di seluruh Borneo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini dimulai dengan diperkenalkannya keterampilan penggarapan besi dari daratan Asia diantara abad ke-5 dan ke-10 Masehi (Bellwood 1985), penduduk setempat mengembangkan keterampilan untuk peleburan dan penggarapan besi yang dengan cepat menyebar ke daerah pedalaman sejak abad ke-6 dan seterusnya (Sellato, 1989a).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sungai Apo Kayan dan S. Mantalat di daerah hulu daerah aliran S. Barito, S. Mantikai yaitu anak s. Sambas, S. Tayan yaitu anak S. Kapuas di Kalimantan Barat, semuanya mempunyai endapan biji besi dan terkenal dengan peleburan dan pembuatan barang-barang dari besi.(Ave dan King 1986)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Emas dan intan juga dikumpulkan sejak dahulu , diperdagangkan ke istana-istana Sultan dan kepada pedagang-pedagang Hindu dan Cina.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut tradisi orang Dayak sendiri hampir tidak pernah membuat dan memakaii perhiasan emas (Sellato 1989a), tetapi perdagangan emas mempengaruhi kebudayaan pulau ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Emas telah di ekspor dari Borneo bagian barat kira-kira sejak abad ke-13 dan menjelang akhir abad ke -17 pedagang-pedagang Cina telah mengumpulkan muatan-muatan emas di Sambas (Hamilton 1930).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Selama berabad-abad emas diperoleh dalam skala kecil oleh penambang-penambang suku dayak, dengan mendulang debu emas di sungai-sungai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulang, yaitu sejenis baki yang dangkal terbuat dari kayu yang digunakan untuk mendulang emas, dijual di pasar-pasar setempat seperti Martapura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Penambangan emas secara komersial pertama di Kalimantan di lakukan oleh masyarakat Cina.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam keramaian mencari emas pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ladang emas terkaya dan termudah dicapai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikerjakan dahulu, tambang emas terbesar berada di Sambas dan Pontianak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di sekitar Mandor.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat Cina kemudian berpindah ke arah barat di wilayah Landak, pungguh daerah aliran S. Kapuas, dan setelah cadangan emas habis mereka mulai membuka tambang-tambang yang sangat kecil di daerah pedalaman. Menjelang pertengahan abad ke-19, industri pertambangan emas di Kalimatan menurun dengan cepat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi meninggalkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kebudayaan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Sekarang ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalimantan telah terbagi-bagi dalam konsesi-konsesi pertambangan emas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di Sambas Kalimantan barat di kaki bukit pegunungan Schwaner, Kalimantan Tengah dan S. Kelian Kalimantan Timur telah dibuka pertambangan emas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Penambangan Batubara secara terbuka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibawah pengawasan kesultanan sudah mulai beroperasai di &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjelang abad ke-19, yang menghasilkan batubara bermutu rendah dalam jumlah kecil untuk penggunaan setempat (Lindblad 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tambang kecil milik negara di Palaran dekat Tenggarang di kesultanan Kutai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan suatu contoh yang khas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tambang batubara Modern yang pertama di Kalimatan adalah tambang “Oranje Nassau’ yang dibuka oleh Belanda di Pengaron, Kalimantan Selatan pada tahun 1849.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tambang ini lebih diarahkan untuk menujukkan haknya terhadap kekayaan mineral pulau itu dan bukan karena potensi komeresialnya (Lindblad 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan pertimbangan serupa Inggris mendirikan “British North Borneo Company” untuk bekerja di Sabah, kerena mereka tertarik kepada tambang batubara di &lt;st1:place st="on"&gt;Labuan&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hak-hak kolonial ini hanya dapat didirikan dengan beberapa kerepotan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada tahun 1888 perusahaan batubara Belanda (Oost-Borneo Maatchappij) mendirikan sebuah tambang batubara besar di Batu Panggal di tepi S. Mahakam.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pula kegiatan pribumi secara kecil-kecilan yang dilakukan di Martapura sepanjang S. Barito, sepanjang Mahakam Hulu dan S.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 1903, dengan penanaman modal Belanda, tambang batubara terbesar di P. Laut mulai berproduksi dan menjelang tahun 1910 telah menghasilkan kira-kira 25 % dari semua keluaran Indonesia (Lindblad 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Produksi tambang-tambang yang besar milik Belanda di ekspor, sedangkan kegiatan-kegiatan produksi yang lebih kecil diarahkan untuk pemasaran setempat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kualitas batubara yang rendah dan tersedianya batubara dari Eropa yang lebih murah, terutama dari Inggris, akhirnya menyebabkan kemunduran pada pertambangan besar Belanda di Kalimantan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun penemuan ladang-ladang batubara baru akhirnya-akhirnya ini menyebabkan timbulnya perhatian baru terhadap batubara &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; background: rgb(230, 230, 230) none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 23.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 414pt;" valign="top" width="552"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kalsel   :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Daerah   pedalaman dan pegunungan sebagai penghasil kekayaan alam, sedangkan daerah   pesisir sebagai pusat perdagangan, merupakan sebuah kombinasi yang sangat   ideal bagi para pemilik modal baik para bangsawan maupun bangsa   penjajah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain melihat potensi lada   yang begitu besar, Pemerintah Belanda juga mengetahui bahwa tanah Banjar   sangat kaya akan sumber daya tambang.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Selain hasil tambang intan, potensi batubara di tanah Banjar juga   menjadi incaran Pemerintah Belanda sejak waktu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kebijaksanaan   yang diambil Pemerintah Belanda ialah menyewa tanah apanase milik Pangeran   Mangkuhumi Kencana (Mangkubumi pada masa Pemerintahan Sultan Adam Al Wasik   Billah), untuk membuka tambang batu-bara di daerah Pengaron. Sewa tanah itu   sebesar 10.000 Gulden setahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belanda   mengambil inisiatif untuk segera eksploitasi terhadap sumber batu bara   tersebut. Batu bara ketika itu sedang mempunyai banyak peminat di pasar dunia   dan sumber batu bara tersebut banyak ditemukan di daerah Kerajaan   Banjar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 1849 dibukalah di   Pengaron oleh Gubernur Jenderal J.J. Rochassen dengan nama tambang batubara   Oranje Nassau.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tambang ini berproduksi   10.000 ton per tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Demikianlah   optimisnya pembukaan pertambangan itu dan diharapkan sukses seperti tambang   yang telah ditutup di Martapura karena terbunuhnya para pekerjanya sewaktu   pecah perang Banjar pada tahun 1859.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Adanya   resiko pertambangan seperti yang dihadapi oleh kedua tambang di Martapura itu   tidak mengecilkan semangat para investor untuk menanamkan modalnya pada usaha   itu, karena prospeknya yang kelihatan cerah. Kompetisi di pasaran terjadi   dengan batu bara yang diproduksi Inggris, karena kemampuan kapal-kapalnya   yang mempunyai daya angkut besar sehingga dapat menekan harga angkutan dari &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt; ke Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Untuk   mengelola pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan, maka pada tahun 1888   berdiri sebuah perusahaan Oost Borneo Maatschappij (OBM) berpusat di Batu   Panggal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perusahaan ini   mengeskploitasi tambang batubara di Palaran, Kutai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kemudian   setelah itu, perusahaan batu baru Pulau Laut didirikan pada 1903, sesudah   dilihat adanya kemungkinan untuk mengeksploitasi secara terbuka. Modal yang   cukup besar dari rencana 180.000 menjadi 2 juta gulden, untuk membuat laporan   tentang situasi geologi daerah itu. Berdasarkan laporan inilah tidak kurang   pemilik modal yang berminat menanamkan modalnya di Pulau Laut. Persiapan   cukup matang diperlukan agar para investor dapat bekeja dengan baik di daerah   itu, yakni membangun jalan untuk mengangkut batu, penyediaan tenaga buruh dan   sebagainya. Sejumlah modal dan beratus-ratus kuli akan membawa pembahan pada   kehidupan ekonomi dan sosial di pulau yang sepi itu. Ketika adminsitrator   bernama J. Lousdorfer mendarat di Kota Baru pada 1908, dia menjumpai keadaan   masyarakat yang sama sekali asing dari pengetahuannya, yakni mereka hidup   dengan aturan yang sangat berbeda dengan yang dikenalnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Produksi dari pabrik di Pulau Laut sebanyak 80.000 ton per tahun 1905.   Pada tahun 1908 kemampuan produksi maksimum tercapai. Jumlah pegawai   bertambah dari 150.000 orang kuli menjadi 230.000 orang kuli pada tahun 1910.   Pulau Laut menjadi kekuatan ekonomi yang besar, menjadi salah satu daerah   tambang batu bara terbesar di wilayah jajahan Belanda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Keberhasilan Pulau Laut sebagai eksportir batu bara   didukung oleh lokasi pelahuhannya yakni Stagen yang terletak dalam jalur   pengapalan besar yang mudah ditempuh berbagai macam kapal dari Makassar   karena tidak ada lagi tempat pengapalan batu bara yang dekat tempat   tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum tahun 1909 paling   tidak 3/5 dari hasil tambang diekspor ke luar negeri antara lain ke Jerman.   dimana batu bara Pulau Laut banyak dipakai oleh Norddeutscher Lloyd. Bremen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di Pulau Kalimantan, pasca Perang Duni I terdapat tiga   perusahaan tambang besar milik Eropa yang beroperasi di bidang pertambangan   batu bara yakni Maskapai Tambang Pulau Laut, OBM dan Parapattan Baru di   Sambaliung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketiga perusahaan itu   saling bersaing baik dalam hal kapasitas produksi, jumlah buruh yang   digunakan maupun keuntungan yang diperoleh perusahaan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pada tahun 1919-I922 Maskapai Tambang   Pulau Laut memperoleh keuntungan melebihi perolehan OBM dan Parapattan. Namun   pada tahun-tahun berikumya keuntungan Maskapai Tambang Pulau Laut semakin   menurun hingga sampai memperoleh kerugian sebesar 260.000 gulden.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Samentara di tahun 1923-1929 adalah   tahun-tahun yang menguntungkan bagi OBM dan Parapattan, keduanya bisa   menyaingi Maskapai Pulau Laut yang saat itu mengalami penurunan sehingga   dibubarkan pada tahun 1930.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada   mulanya OBM yang berjalan pesat, tetapi sesudah tahun 1927 Parapattan   berhasil sebagai ranking pertama sebagai perusahaan tambang batu bara   terbesar di Kalimantan Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Sejarah pertambangan mineral di Kalimantan sejak di bukanya kran PMA di mulai dengan kontrak kerja Generasi III+ yaitu Indo Muro Kencana di Kalteng dan Kelian Equatorial Mining di Kaltim.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sedangkan Pertambangan Batu Bara di mulai dengan Generasi Pertama oleh Adaro dan Arutmin di Kalsel dan di Kaltim Berau Coal, Indominco Mandiri, KPC, Kideco Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Tanito Harum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Saat ini setidaknya terdapat &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;a href="lampiran/administrasi%20kalimantan.jpg" title="lihat peta sebaran pertambangan batu bara di Kalsel"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;21 perusahaan besar pertambangan di Kalsel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;a href="A.1.%20Kalimantan%20Umum.doc" title="lihat daftar dan peta sebaran pertambangan besar di Kalimantan Timur"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;15 perusahaan besar pertambangan di Kaltim&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; dan &lt;a href="kalteng/SOB%20literatur%20research%20report-General%20kalteng%20province/outline%20report/Lampiran/Excel/Data%20base%20Pertambangan,DPE%20Kalteng,2006.xls"&gt;154 KP&lt;/a&gt; dan &lt;a href="kalteng/SOB%20literatur%20research%20report-General%20kalteng%20province/outline%20report/Lampiran/Excel/Data%20base%20PKP2B,DPE%20Kalteng,2006.xls"&gt;13 PKP2B&lt;/a&gt; perusahan pertambangan di Kalimantan Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.2.2.3. Sejarah Eksploitasi Hutan&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Eksploitasi kayu di &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; telah berlangsung lama dan menempati kedudukan yang penting selama penjajahan Belanda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mulai t&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;ahun 1904 sejumlah konsesi penebagan hutan telah diberikan di bagian hulu S.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barito dan daerah-daerah Swapraja di pantai timur, khusunya Kutai (Potter 1988).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Sampai tahun 1914, 80% kayu yang dihanyutkan ke hilir S.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barito terdiri atas kayu Depterocarpaceae, sedangkan kayu yang berasal dari pantai timur terutama adalah kayu besi (van Braam 1914).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hamparan hutan Dipterocarpaceae yang luas di pantai timur lebih sukar untuk dieksploitasi dan berbagai upaya pada permulaan gagal, meskipun dengan penanaman modal besar (Potter 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 1942 petugas-petugas penjajah Belanda menyiapkan peta hutan yang bersipat menyeluruh untk karesidenan Borneo Selatan dan Borneo Timur (meliputi KaltengSelTim) yang menunjukkan bahwa 94% luas karesidenan merupakan daerah yang tertutup hutan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Angka-angka mengenai luas lahan berhutan yang diterbitkan pada tahun 1929 masih dijadikan dasar dalam pemberian ijin konsesi penebangan hutan pada tahun 1975 (Hamzah 1978; Potter 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejak jaman penjajahan pelestarian hutan telah mendapat perhatian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Empat kawasan hutan ditetapkan ditetapkan sebagai cagar &lt;a style=""&gt;hidrologi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_1" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')" href="#_msocom_1" language="JavaScript" name="_msoanchor_1"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; di Borneo Tenggara yaitu gunung-gunung di Pulau Laut, dan tiga cagar alam meliputi Pegunungan Meratus yang membujur dari utara ke selatan (van Suchtelen 1933).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Penebangan kayu secara besar-besaran dimulai pada tahun 1967, ketika semua hutan yang ditaksir pada tahun 1968 seluas 41.470.000 atau kira-kira 77% di nyatakan milik negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada waktu itu pemerintah menghadapi masalah-masalah ekonomi yang berat sehingga membirikan konsesi kayu dengan murah kepada perusahaan-perusahaan asing yang berniat untuk mengeksploitasi tegakan kayu keras tropis yang luas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menjelang tahun 1972 luas daerah konsesi mencapai 26,2 juta hektar dan kemudian meningkat menjadi 31 juta ha pada tahun 1982 terutama di Kalteng dan Kaltim (Ave dan King). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan kini luasan HPH mencapai &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;17.072.503 Ha &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(SOB, 2006)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Sejarah pemanfaatan hutan di Kalimantan Tengah telah dimulai sejak lebih dari setengah abab lalu, yaitu dengan dimulainya kegiatan eksploitasi kayu agathis secara sederhana menggunakan sistem panglong/tebang banjir di daerah Sampit dan sekitarnya yang dilaksanakan oleh NV. BRUINZEEL. Dan setelah kemerdekaan, kegiatan eksploitasi dan pengolahannya selanjutnya diambil alih oleh PT. SAMPIT DAYAK dan PN Perhutani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh PT. Sampit Dayak dan PN Perhutani selain ditujukan untuk diolah sendiri, juga diarahkan untuk mensuplai kebutuhan Pabrik Kertas yang berada di Martapura.Kegiatan PN Perhutani mengekploitasi hutan di daerah Sampit tersebut terus berlanjut sampai dengan memasuki  era Orde Baru, dan pada dekade tahun 1970 karena tuntutan kebutuhan dan ketentuan, PN Perhutani selanjutnya direktruturisasi menjadi PT. Inhutani III.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Selaras dengan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam untuk pembangunan, maka memasuki  tahun 70-an, kegiatan eksploitasi di Kalimantan Tengah tidak lagi sebatas dilaksanakan oleh PT. Inhutani, tetapi telah melibatkan perusahaan swasta lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah dengan terbukanya peluang untuk memperoleh konsesi HPH dalam skala luas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pengusahaan Hutan Sejak Pelita I  sampai saat ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Era baru bagi pelaksanaan pemanfaatan  dan pengelolaan sumber daya hutan secara besar-besaran dan modern, perkembangannya dimulai dengan ditetapkannya Undang-Undang Pokok Kehutanan No. 5 tahun 1967, Undang-Undang No. 1 tahun 1967 mengenai PMA dan Undang-Undang No. 6 tahun 1968 tentang PMDN.  Ketiga Undang-Undang itulah yang mendasari dan menjadi landasan bagi pengelolaan hutan di Kalimantan Tengah khususnya dan Indonesia umumnya, yang ditandai dengan adanya pemanfaatan hutan dalam bentuk HPH dan HPHH, serta berkembangnya industri yang mengolah produk hasil hutan (sawmill, plywood, blackboard, particle board, chipmill, pulpmill dan sebagainya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Berikut ini disajikan data tentang perkembangan HPH sejak Pelita I sampai dengan saat ini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 23.4pt; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td rowspan="3" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 21.75pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" width="29"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;No&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="3"  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 51.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="69"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Periode&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="8"  style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 340.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="454"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Propinsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td colspan="2"  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 79.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="106"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalbar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2"  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 90pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalteng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2"  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 90pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="120"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalsel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2"  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 81pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="108"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kaltim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 39.55pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 39.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Luas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 39.55pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 50.45pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Luas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 54pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Luas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 45pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Luas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1967 – 1970&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;381.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1971 – 1975&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;87&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;8.567.500&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1976 – 1980&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;95&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;9.291.500&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1981 – 1985&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;112&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;11.231.500&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1986 – 1990&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;117&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;11.862.500&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1991 – 1995&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;117&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;4.790.522&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;1995 – 2000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;53&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;4.790.522&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;2001 – 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;54&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 21.75pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext;" valign="top" width="29"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 51.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="69"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;2006 -&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.85pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 39.55pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="53"&gt;   &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;54&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 50.45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="67"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="72"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="60"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td  style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 36pt;color:-moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" valign="top" width="48"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Berdasarkan data tersebut di atas terlihat bahwa era baru kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah di mulai dengan hanya 3 unit HPH pada tahun 1969/1970.  &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Setiap tahunnya data kepemilikan HPH selalu bertambah dan mencapai puncaknya pada tahun 1989/1990 dengan jumlah 117 HPH yang mencakup areal seluas  11.862.500 Ha, dan selanjutnya sejak saat itu mulai menyusut hingga pada tahun 2000 hanya berjumlah 53 unit saja dengan cakupan areal  4.790.522 Ha. Menyusutnya kepemilikan HPH tersebut diantaranya kerena pengelolaanya dianggap gagal melakukan pengelolaan hutan yang berazaskan kelestarian, sehingga pengelolaanya dikembalikan ke Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Sementara itu, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 312/Kpts-II/1999  tanggal 7 Mei 1999 terjadi perubahan yang sangat mendasar dalam trend pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Lebih dari 90 pemohon HPH baru telah mengajukan permohonan kepada Menteri Kehutanan untuk memperoleh Hak Pengusahaan atas suatu luasan tertentu kawasan hutan. Para pemohon tersebut memang sangat beragam, seperti koperasi, LSM di daerah, Perguruan Tinggi setempat, Pengusaha Lokal, termasuk swasta nasional tetapi umumnya bukan tergolong dalam kelompok konglomerat kehutanan seperti yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, hingga sekarang dari 90-an pemohon tersebut hanya 14 unit saja yang telah resmi memperoleh SK HPH dari Menteri Kehutanan. Artinya disatu sisi Pemerintah Pusat membuat kebijakan yang sangat “retorik” tetapi disi lain tidak didukung dengan “pengkondisian” kebijakan yang berpihak kepada daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; margin-left: 5.4pt; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 432pt;" valign="top" width="576"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Investasi Perkebunan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Dengan tidak menentunya pasaran batu bara, pemerintah   Hindia Belanda yang telah memberikan perhatian pada potensi daerah-daerah   luar Jawa mencoba untuk mengusahakan jenis komoditi lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan suksesnya tanaman tembakau di Deli,   maka dicoba pula untuk mengembangkannya pula di daerah Banjar, namun ternyata   hasilnya jauh dari memuaskan. Bersamaan dengan waktu pasar dunia sedang   dibanjiri oleh permintaan komoditi jenis baru, yakni karet, yang   diperlukanoleh industri mobil yang baru mulai berkembang saat itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk itu para pengusaha swasta yang telah   diberi keleluasaan untuk menanamkan modalnya di wilayah jajahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Karet merupakan salah satu primadona ekspor Hindia   Belanda waktu itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Primadona ekspor   Hindia Belanda adalah karet. Tanaman ini mulai dikenal dunia sekitar tahun   1900 dan masuk ke Kalimantan Selatan melalui dua jalan yang lokasinya   terpisah yakni daerah Pagat (dekat Barabai) dan pada daerah perkebunan   tembakau di wilayah utara Hulu Sungai.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Pada mulanya karet jenis Ficus Elastica dan Hevea Brasiliensis dicoba   di tanam di Perkebunan Hayup dekat Tanjung oleh dua&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;pengusaha bernama C.Bohmer dan W.M. Ernest tetapi kemudian mengalami   hambatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perkebunan karet kemudian   bisa dikembangkan dengan bantuan dana dari bank-bank di Berlin dan pagawasan   dari Perusahaan Karet Borneo yang berbasis di Banjarmasin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang pengusaha bernama E.A. Hilkes mencoba   menanam karet dengan mendatangkan bibit karet Hevea dari Semenanjung   Malaya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia membuat perkebunan di   daerah Martapura; Tanah Intan (Karang lntan) dan Danau Salak yang jumlah   pohonnya lebih dari 100.000 pohon di tahun 1907.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perkebunan karet pada tiga wilayah tersebut   menggunakan tenaga kuli kontrak dari Jawa maupun dari daerah sekitarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jenis kuli yang terakhir inilah yang   nantinya akan menjadi pengusaha karet pribumi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Setelah masa kontraknya   terutama yang dari Hayup selesai. Mereka kembali ke kampungnya dan menanam   karet sendiri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Mereka   sudah mendapat cukup pengalaman dalam pengolahan karet selama bekerja di   Perkebunan Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Harga karet yang tinggi sebelum Perang Dunia I   mengakibatkan perluasan perkebunan karet di sana terutama di daerah Hulu   Sungai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banyak tanah sawah yang   dijadikan perkebunan karet. Tidak kurang dari 40% kepala keluarga di Hulu   Sungai mempunyai perkebunan karet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Usaha   budidaya karet di daerah Banjar kemudian dipekuat oleh modal-modal asing   diluar orang-orang Belanda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mulai   dengan Hayup dan Tanah Intan yang dikelola oleh para pengusaha Inggris,   sedangkan Danau Salak pada 1917 dipegang oleh Jerman, namun setahun sejak   menduduki daerah Banjar perusahaan-perusahaan perkebunan karet itu dijual   kepada orang-orang Jepang dan sebagian kepada pemilik-pemilik modal Cina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Salah satu pusat budidaya karet, Hulu Sungai terus   menambah jumlah pohon karetnya. Pada tahun 1924 terdapat sekitar 10 juta   pohon yang dimiliki oleh sekitar 3.000 orang (rata-rata setiap pemilik   mempunyai 300 pohon).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jumlah itu terus   bertambah sehingga pada tahun 1963 terdapat tidak kurang dari 49 juta pohon   dengan pemilik sekitar 12.000 orang, dengan luas perkebunan sekitar 50.000   hektar. Kebanyakan pohon itu ditanam pada waktu memuncaknya permintaan karet   pada tahun 1920an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Salah satu keistimewaan dari budi daya karet di daerah   Banjar, bahwa pada mulanya mereka dipelopori oleh pengusaha-pengusaha asing,   namun pada masa kemudian justru yang memegang peran adalah para pemilik kebun   pribumi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akibat dari naik turunnya   produksi karet dan permintaan karet pasar dunia yang dapat mengikuti   perkembangan harga hanyalah karet rakyat, karena mereka menggunakan tenaga   kerja lebih banyak tenaga anggota keluarganya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Demikianlah berkembangan budidaya karet di daerah Banjar,   maka pada sekitar tahun 1930-an kesejahteraan penduduk meningkat dengan   pesat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini ditunjukkan antara lain   dengan banyaknya rumah yang dibangun di daerah Hulu Sungai, disamping itu   permintaan daerah Banjar akan barang-barang impor sangat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" class="msocomoff" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_1" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114537950116345924?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114537950116345924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114537950116345924&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537950116345924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537950116345924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/sejarah-pengelolaan-sumber-daya-alam.html' title='Sejarah Pengelolaan Sumber Daya Alam'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114537952353709117</id><published>2006-04-18T23:58:00.000+07:00</published><updated>2006-11-28T19:39:29.026+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Perkembangan Penduduk di Kalimantan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;i&gt;masih draft&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: arial;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.1pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:blue;"   lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.65pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:lime;"   lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;A.2.1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Jaman Pra Sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Suku Dayak dikatakan sebagai salah satu kelompok etnis tertua di Kalimantan. Menurut mitos, nenek moyang orang Dayak berasal dari Kalimantan. Namun catatan sejarah tentang orang Dayak sebelum tahun 1850 sebenarnya sanga&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/52k.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/200/52k.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;t nihil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Ada beberapa hipotesis dari para ahli, seperti dari Kern dan Bellwood yang menunjukkan bahwa orang pada zaman sekarang di Nusantara mungkin berasal dari Yunan, Tiongkok yang datang ke Nusantara secara bergelombang beberapa milenium sebelumnya. (Avé 1996 : 6).01&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.65pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Suku Dayak diperkirakan mulai datang ke pulau Kalimantan pada tahun 3000-1500 sebelum Masehi. Mereka adalah kelompok-kelompok yang bermigrasi dari daerah Yunnan, Cina Selatan. Kelompok ini disebut Proto-Melayu. Dari daratan Asia kelompok-kelompok kecil tersebut mengembara melalui Indocina ke Semenanjung Malaya, berlanjut ke pulau-pulau di Indonesia, termasuk Kalimantan. Beberapa kelompok lain diperkirakan ada yang melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Beberapa kelompok, terutama yang kemudian menetap di bagian selatan Kalimantan, kemungkinan besar untuk beberapa waktu singgah di Sumatera dan Jawa. Perpindahan ini terjadi pada zaman glasial (zaman es), dimana permukaan laut sangat surut sehingga dengan perahu-perahu kecil mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu. Teknologi perundagian yang telah dikenal di daratan Asia sekitar tahun 1500 sebelum Masehi memungkinkan perpindahan mereka menggunakan perahu bercadik. Masa bercocok tanam diperkirakan dimulai sekitar tahun 1000 sebelum Masehi. Beliung persegi dan kapak persegi yang dibuat dengan teknologi perundagian ditemukan di Nanga Balang, Kapuas Hulu. Kehidupan religi pada zaman ini adalah memuja roh nenek moyang, sesuai dengan kehidupan masyarakat zaman Megalithikum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;Bukti awal yang diketahui tentang keberadaan manusia di Kalimantan adalah sebuah tengkorak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;Homo sapien &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;yang ditemukan di Ambang Barat Gua Besar di Niah, Sarawak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tengkorak tersebut memiliki pertanggalan mutlak [&lt;i&gt;hasil pertanggalan radiocarbon C-14 terhadap matriks tanah tempat tengkorak tersebut ditemukan&lt;/i&gt;] lebih dari 35.000 tahun. Meskipun masih terdapat perdebatan tentang usia tengkorak tersebut, Niah tetap merupakan situs yang penting, karena mengandung rekaman data tingkatan okupasi manusia terlama di Asia Tenggara, Gua Niah merupakan sebuah situs dari Plestosen Atas yang banyak mengungkapkan gaya hidup manusia Paleolitik pendukung budaya manusia yang sudah menggunakan alat dalam menunjang kehidupan sehari-harinya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="FI" &gt;3a&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Gua-gua di Niah menunjukkan budaya penggunaan alat-alat dari batu yang lebih canggih dari 20.000 tahun yang lalu; alat-alat dari batu ini mungkin digunakan untuk membunuh dan memotong-motong makanan, dan kemudian jadi model pembuatan alat-alat lain dari bambu dan kalu dan tulang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="ES-CL" &gt;0b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Manusia purba di Borneo berburu binatang, menangkap ikan dan mengumpulkan hasil hutan dalam kurun waktu 40.000-20.000 tahun yang lalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diantara tulang-tulang yang patah dan terbakar di Niah terdapat tulang-tulang binatang yang sekarang sudah punah, termasuk tapir &lt;i style=""&gt;Tapirus indicus, trenggiling&lt;/i&gt; purba, &lt;i style=""&gt;manis palaeojavanica &lt;/i&gt;dan celurut bergigi putih &lt;i style=""&gt;Crocidura fuliginosa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Manusia purba juga berburu kancil &lt;i style=""&gt;Traqulus &lt;/i&gt;spp, orang utan &lt;i style=""&gt;Pongo pygmaeus&lt;/i&gt; dan rusa &lt;i style=""&gt;Cervus unicolor, &lt;/i&gt;badak Sumatera &lt;i style=""&gt;Dicerorhinus sumatrensis &lt;/i&gt;serta beruang madu &lt;i style=""&gt;Helarctos malayanus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Tikus babi&lt;i style=""&gt; Hylomys suillus &lt;/i&gt;dan biul &lt;i style=""&gt;Melogale orientalis &lt;/i&gt;tercata dari ekskavasi di Niah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Binatang-binatang tersebut sekarang hanya dapat ditemukan di tempat-tempat yang lebih sejuk dan di lereng-lereng yang lebih tinggi di G. Kinabalu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini mendukung teori yang mengatakan bahwa iklim pada akhir Pleistosen lebih dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manusia purba juga membawa ikan, burung, biawak dan buaya ke dalam gua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gua-gua di Niah menunjukkan budaya penggunaan alat-alat dari batu yang lebih canggih dari 20.000 tahun yang lalu; alat-alat dari batu ini mungkin digunakan untuk membunuh dan memotong-motong makanan, dan kemudian jadi model pembuatan alat-alat lain dari bambu dan kalu dan tulang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;Hasil ekskavasi terbaru di Madai, Sabah, memperlihatkan bukti lebih jauh tentang migrasi awal dan penghunian manusia di seluruh Kepulauan Indonesia dengan penanggalan mutlak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;30.000 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;tahun. Tejadinya perhubungan darat pada masa Plestosen, gelombang kedatangan manusia masa lampau menyapu daerah-daerah kepulauan di Paparan Sunda dari Asia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Orang-orang Negrito, nenek moyang bangsa aborigin Australia dan Melanesia, mungkin telah menghuni Gua Niah pada &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;50.000 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;tahun yang lalu, lalu digantikan oleh gelombang kedatangan Mongoloid Selatan. Saat gelombang migrasi menyapu daerah kepulauan, mereka bercampur dan melakukan persilangan dengan penduduk asli.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;Beberapa suku di Asia Tenggara seperti Negrito Malaysia memiliki budaya berburu dan mengumpulkan makanan yang masih primitif.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Hal tersebut mengarahkan dugaan bahwa orang-orang Penan (Punan) juga berasal dari penduduk Negrito asli Kalimantan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Beberapa kelompok suku bangsa di Asia Tenggara seperti bangsa Negrito dan bangsa Malay adalah pemburu primitif dan pengumpul.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suku Penan mungkin merupakan keturunan bangsa Negrito yang merupakan penduduk asli Borneo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa suku Penan mungkin sudah beralih dari cara hidup sebagai pemburu-pengumpul menjadi masyarakat petani (Bellwood 1985; Hoffman 1981).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suku Penan mendiami sebagian besar daerah berhutan di Serawak dan Kalimantan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka tinggal di kemah-kemah sementara dengan beberapa keluarga, berburu dengan sumpit, memanen sagu liar , mengumpulkan buah-buahan liar seperti rambutan, durian dan manggis serta menukarkan hasil-hasil hutan dengan masyarakat petani di sekitarnya, seperti suku Kayan (Hose dan McDougall 1912; Kedit 1978).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah benar suku Penan berasal dari bangsa Negrito atau bangsa Mongolia yang bermigrasi lebih akhir seperti suku Dayak, gaya hidup mereka sangat mencerminkan gaya hidup manusia purba. &lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="IT" &gt;Di Kalimantan Selatan Pegunungan Meratus yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terbentuk dari karst batu gamping yaitu jenis butuan yang sangat baik untuk mengkonservasi tulang secara alamiah. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  &gt;Jika harus dicari jejak-jejak masa lalu manusia prasejarah di daerah Kalimantan Selatan, maka pegunungan kapur seperti ini adalah salah satu tempat yang paling memberikan harapan untuk padang perbuman jejak manusia prasejarah antara lain harus diarahkan pada celah-celah batu gamping di Pegunungan Meratus yang banyak menyimpan gua-gua alamiah, baik berupa ceruk (rock shelter) maupun gua (cave).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  &gt;Penelitian intensif ekskavasi di Gua Babi di Bukit Batu Buli (Tabalong, Kalimantan Selatan) selama 1995 - 1999 berhasil menemukan komponen manusia yang bersifat fragmentaris dengan kuantitas yang cukup tinggi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berdasarkan karakter morfologisnya diketahui adanya tidak kurang dari 11 individu yang terdiri dari dewasa dan anak-anak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penemuan rangka manusia di Gua Tengkorak pada 1999 memberikan indikasi yang sangat penting dan signifikan tentang ras manusia pendukung budaya kawasan Bukit Batu Buli, yaitu Austromelanesoid.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:lime;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  &gt;Di Kalimantan Selatan, aktivitas masyarakat prasejarah &lt;i&gt;pada masa berburu dan meramu tingkat sederhana&lt;/i&gt; ditunjukkan dengan adanya bukti beberapa tinggalan budaya paleolit yang ditemukan di Awangbangkal Aranio (Kabupatcn Banjar) berupa kapak perimbas oleh seorang geolog bernama Toer Soetardjo pada tahun 1958.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;Sebelumnya, H. Kupper pada tahun 1939 juga menemukan alat-alat batu di daerah tepi selatan sungai Riam Kanan di Awangbangkal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alat-alat yang ditemukan digolongkan sebagai unsur budaya kapak perimbas dibuat dari batu kuarsa terdiri dari 5 buah kapak perimbas dan 2 (dua) buah alat serpih.3a&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:lime;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:lime;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Bentuk pertama pertanian menetap mungkin berkaitan dengan introduksi sagu dari Indonesia bagian timur, sagu lebih banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tumbuh di rawa-rawa pesisir yang lembab.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat purba mungkin mengambil pati dari sagu ini, lalu memelihara tumbuhan sagu, seperti yang dilakukan oleh suku Melanau di delta Rejang, Serawak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat pesisir dan pinggiran sungai mulai menangkap ikan dan mengumpulkan moluska air tawar; dengan kemampuan untuk memanen sagu secara teratur, kemudian terbentuk pemukiman menetap (Ave dan King 1986).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;0b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Perubahan gaya hidup yang cukup penting terjadi bersamaan dengan penemuan biji besi dan cara-cara untuk mengekstraksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mengolahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di Borneo ada beberapa tempat dengan endapan biji besi dan penduduk asli sudah menggunakan di delta-delta sungai di Kuching.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Serawak pada tahun 1.000 (Ave dan King 1986).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keterampilan dalam membuat alat-alat dari besi mungkin sudah ada sebelumnya,bersamaan dengan dikenalkan dengan pengenalan artefak dari besi dan perunggu tembaga dan tekhnologi penggunaannya dari orang-orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Vietnam, Cina dan India antara abad ke 6 ke 10 (Bellwood 1985).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gua Agop Atas pada batu kapur Madai sudah dihuni dari tahun 200-500 dan di dalamnya terdapat pecahan-pecahan tembikar, perunggu dan besi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guci-guci yang berkaitan dengan kurun waktu itu juga ditemukan di gua Madai dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapadong di Sungai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segama; guci-guci ini juga dipakai di Niah pada akhir masa Neolitik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guci yang tertua berasal dari tahun 200 SM.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tradisi ini mungkin berasal dari India dan Asia Tenggara dari permulaan milenium pertama sebelum Masehi.0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Penggunaan besi membawa perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan masyarakat setempat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan alat-alat yang terbuat dari besi, hutan lebih mudah dibuka dan pembukaan hutan ini memungkinkan penanaman padi dan taro.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat Dayak berubah dari pengumpul sagu alam menjadi masyarakat yang aktif menanam padi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Peladangan dengan padi dilahan-lahan kering masih tetap dilakukan sampai sekarang. 0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Bangsa-bangsa Austronesia yang kemudian menyebar di Kepulauan Indomalaya dari daratan Asia membawa bentuk ekonomi pertanian, yang semula hanya memfokuskan pada padi-padian dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memperkenal tembikar serta alat-alat baru serupa beliung dari batu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam permulaan Kal Holosen, kira-kira 7.000 tahun yang lalu, padi liar dan padi-padian lain dibudidayakan di punggung daerah aliran sungai Yangtze, yaitu lahan-lahan basah musiman di sebelah selatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padi mungkin diperkenalkan di Indonesia oleh imigran bangsa Mongolia, tetapi mungkin tidak langsung berhasil di tanam di Borneo, karena tidak ada bukti-bukti baik di Niah atau Madai (Bellwood 1985)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Besi digunakan untuk membuat pisau dan alat-alat pertanian serta alat untuk membuat lubang pada sumpit dari kayu besi yang keras.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sumpit ini merupakan ciri khusus Borneo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemburu purba di Borneo sudah mengenal panah dan anak panah, tetapi sumpit yang terbuat dari kayu ini adalah senjata yang jauh lebih hebat, lebih akurat dan mampu membunuh mangsa dari jarak jauh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ujung anak sumpit dimasukkan kedalam racun alami yang diambil dari getah tumbuhan.0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Daerah Apo kayan kaya akan biji besi, demikian pula Mantalat (Barito Hulu), Mantikai (anak sungai Sambas) dan Tayah di Kalimantan Barat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Parang dan Mandau merupakan senjata untuk berkelahi yang dicari oleh orang Dayak )Ave dan King 1986).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;0b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Batu megalitik yang ditemukan di sumber air s.Baram disekitar g. Murud dan tempat-tempat lain di pegunungan Kelabit dan di Kalimantan Tengah mungkin berasal dari kurun waktu ini (Harrisson 1962;Chin 1980).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyarakat Kelabit terus membuat megalit sampai tahun 1950, ketika mereka berubah menjadi penganut agama Kristen.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Megalit ini berkaitan dengan upacara-upacara penguburan tokoh-tokoh masyarakat, seperti kepala suku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Daerah dataran tinggi Bahau di Kalimantan Timur barangkali merupakan pusat arkeologi yang paling banyak memiliki benda-benda purba di Kalimantan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Disini terdapat kira-kira 50 pusat pemukiman dan kuburan yang disebut ”ngorek” yang memiliki monumen batu.0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Bukti-bukti arkeologi dari lokasi kuburan menunjukkan bahwa Borneo memiliki sejarah perdagangan yang panjang dengan dunia luar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Para pedagang India mulai mengunjungi Indonesia pada abad pertama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerajaan hindu Kutai didirikan dalam kurun waktu ini dan tempat-tempat penyembahan Brahma di Muara Kaman dan patung-patung Hindu di dalam G. Komeng di Kalimantan Timur kira-kira berasal dari abad ke 5 (Boyce, 1986).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;0b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Hubungan diplomasi antara bangsa Cina dan masyarakat di daerah pesisir Borneo tercatat dalam sejarah dinasti Cina dari abad ke-7 sampai abad ke-16. 0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Relief yang menggambarkan seorang pemburu dengan sumpit di galeri candi Borubodur di Jawa Tengag yang dibuat pada abad ke sembilan menyatakan bahwa hubungan antara orang Dayak dan orang Jawa sudah terjadi dalam kurun waktu ini (Ave dan King 1986).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selama abad ke-14 dan abad ke-15, di bagian selatan, barat dan timur Borneo merupakan daerah-daerah di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan sebelum ini Borneo sudah memiliki hubungan dnegan negara-negara Hindu-Budha.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini dibuktikan oleh adanya candi hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan.0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Pemukiman masyarakat dayak terpusat di dalam desa-desa inti, mereka tinggal bersama di dalam rumah panjang untuk &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;alasan sosial&lt;/span&gt; dan &lt;span style="background: yellow none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;keamanan&lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagian besar masyarakat Dayak memiliki akses atau sudah pernah terlibat dalam pertukatan tembikar dan besi dengan kulit kayu sebgai bahan pakaian mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Praktek-praktek lain yang dilakukan oleh suku Dayak adalah pembuatan tato, yang juga ditemukan diseluruh kalangan bangsa Astronesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:lime;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;A.2.2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Masa Kerajaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="IT" &gt;Pada umumnya sejarah Indonesia dalam mengungkapkan dan menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertump&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;u kepada historiografi tradisional seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu: (1) etnosentrisme, (2) rajasentrisme, (3) antroposentrisme&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;Diakui historiografi tradisional penulisannya tidak berlandaskan kepada metode sejarah, tetapi sumber-sumber historiografi tradisional sebagai sumber dapat dipergunakan selama sumber terbaik belum ditemukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Keadaan geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan jumlahnya mencapai ribuan pulau besar kecil menyebabkan daerah pesisir telah memegang peranan yang cukup penting di bidang perdagangan maupun kekuasaan politik dan ekonomi. Melihat kenyataan bahwa sejak permulaan berdirinya kerajaan Islam di Indonesia baik yang terletak di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku, maka daerah pesisirlah yang menjadi pusat kerajaan, hal ini tidak mengenyampingkan peranan kerajaan Mataram Islam yang berpusat di pedalaman. Dengan keadaan geografis semacam ini akan sulit kiranya membayangkan adanya suatu kekuasaan tunggal untuk menguasai seluruh Indonesia pada saat itu. Dalam perkembangan masyarakat Indonesia-Hindu yang berpindah secara perlahan dan lambat ke masyarakat Indonesia Islam dan lenyapnya kekuasan raja Indonesia-Hindu yang digantikan oleh munculnya kekuasaan kerajaan Indonesia Islam telah membawa akibat pula dalam transformasi politik dan sosial untuk menuju ke sistem masyarakat baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Perkembangan kehidupan pemerintahan dan kenegaraan di daerah &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Selatan sampai dengan permulaan abad 17 masih sangat kabur karena kurangnya data &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Adanya Hikayat Raja-Raja Banjar dan Hikayat Kotawaringin tidak cukup memberikan gambaran yang pasti mengenai keberadaan Kerajaan-kerajaan tersebut&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; background: rgb(243, 243, 243) none repeat scroll 0% 50%; width: 396pt; margin-left: 41.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="528"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 396pt;" valign="top" width="528"&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Sekilas Kerajaan di Kalimantan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pada abad 17 salah satu tokoh yaitu Pangeran Samudera (cucu Maharaja   Sukarama) dengan dibantu para Patih bangkit menentang kekuasaan pedalaman   Nagara Daha, kemudiian menjadikan Banjarmasin di pinggir Sungai Kwin sebagai   pusat pemerintahannya (daerah ini disebut Kampung Kraton).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pemberontakan Pangeran Samudera tersebut merupakan pembuka jaman baru   dalam &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Selatan   sekaligus menjadi titik balik dimulainya periode Islam dan berakhirnya jaman   Hindu.Â  Sebab dialah yang menjadi cikal bakal Islam Banjar dan pendiri   Kerajaan Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Dalam perkembangan &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   berikutnya pada Tahun 1859 seorang Bangsawan Banjar yaitu Pangeran Antasari   mengerahkan rakyat &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   Selatan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum kolonialisme Belanda   meskipun akhirnya pada Tahun 1905 perlawanan-perlawanan berhasil ditumpas   oleh Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kelancaran hubungan dengan Pulau Jawa turut mempengaruhi perkembangan di &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Selatan.   Bertumbuhnya pergerakan-pergerakan kebangsaan di Pulau Jawa dengan cepat   menyebar kedaerah &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   Selatan, hal ini tercermin dengan dibentuknya wadah-wadah perjuangan pada   Tahun 1912 di Banjarmasin seperti berdirinya Cabang-cabang Sarikat Islam di   seluruh &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   Selatan. Seiring dengan itu para pemuda &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; terdorong membentuk Organisasi   Kepemudaan yaitu Pemuda Marabahan, Barabai dan lain-lain, yang kemudian pada   Tahun 1929 terbentuk Persatuan Pemuda Borneo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Organisasi-organisasi perjuangan tersebut merupakan wadah untuk   menyebarluaskan kesadaran kebangsaan melawan penjajahan Kolonial Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pada periode pasca Proklamasi Kemerdekaan   merupakan momentum yang paling heroik dalam &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 102) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Selatan, dimana pada tanggal 16   Oktober 1945 dibentuk Badan Perjuangan yang paling radikal yaitu Badan Pemuda   Republik Indonesia &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   (BPRIK) yang dipimpin oleh Hadhariyah M. dan A. Ruslan, namun dalam   perjalanan selanjutnya gerakan perjuangan ini mengalami hambatan, terutama   dengan disepakatinya perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 Nopember 1945.   Berdasarkan perjanjian ini ruang gerak pemerintah Republik Indonesia menjadi   terbatas hanya pada kawasan Pulau Jawa, Madura dan Sumatera sehingga   organisasi-organisasi perjuangan di &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Selatan kehilangan kontak dengan Jakarta,   kendati akhirnya pada tahun 1950 menyusul pembubaran Negara Indonesia &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(153, 255, 153) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Timur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; yang dibentuk oleh   kaum kolonial Belanda, maka &lt;b&gt;&lt;span style="background: rgb(160, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;" &gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;   Selatan kembali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia   sampai saat ini&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Dibawah ini beberapa catatan singkat tentang kerajaan di &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="FI"&gt;Kutai Karta Negara di Kaltim :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:blue;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:blue;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="FI" &gt;Kalimantan Timur mempunyai sejarah yang berbeda dengan propinsi – propinsi lainnya di Negara Republik Indonesia. Sejarah tersebut antara lain adanya kerajaan yang tertua pada abad ke - VI yaitu kerajaan &lt;b&gt;Mulawarman Nala Dewa&lt;/b&gt;. Turunan Raja Mulawarman dapat berlanjut sampai dengan Raja ke – 25 yang bernama &lt;b&gt;Maharaja Derma Setia&lt;/b&gt; pada abad ke - XII  dengan nama Kerajaan &lt;b&gt;Kutai Ing Martapura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="FI" &gt;Menjelang kepudaran kerajaan tersebut, telah berdiri beberapa kerajaan di Kalimantan Timur, yang dimulai dengan kerajaan &lt;b&gt;Kutai Kartanegara&lt;/b&gt;, kerajaan Berau, kerajaan Bulungan dan kerajaan Pasir. Semua kerajaan tersebut memerintah di wilayahnya masing – masing tanpa ada peperangan antara mereka, hingga masuk Belanda dan mulai menjajah Kalimantan Timur ini pada tahun 1844, demikian pula ketika Jepang menjajah wilayah ini pada tahun 1941 – 1945. Pada masa perjuangan fisik, tahun 1945 – 1949 rakyat juga turut bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan yang puncaknya pada peristiwa sanga- sanga sekitar January 1947 )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="FI" &gt;Setelah mengalami masa-masa perubahan system pemerintahan dari bentuk kerajaan menjadi daerah istimewa tahun 1956, dan akhirnya menjadi Kabupaten tahun 1960, yaitu Kabupaten Kutai, Kabupaten Berau, Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Pasir ditambah dengan KotaPraja Samarinda dan Balikpapan. Semua daerah kabupaten / KotaPraja tersebut dibawah naungan Propinsi Kalimantan Timur tepat pada bulan January 1957. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:black;"  lang="FI"&gt;Kerajaan &lt;i style=""&gt;Nan Sarunai – Dipa – Daha – Banjar &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di Kalsel&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt; :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di Kalimantan Selatan terutama sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terbentuknya Negara Dipa dan Negara Daha menandai zaman klasik di Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Zaman keemasan Kerajaan Banjar terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Pada masa itu teriadi puncak perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sebagaimana ditandai oleh lahirnya Ulama-ulama Urang Banjar yang terkenal dan hasil karya tulisnya menjadi bahan bacaan dan rujukan di berbagai negara, antara lain Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_1" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')" href="#_msocom_1" language="JavaScript" name="_msoanchor_1"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Melacak latar belakang keberadaan Negara Nan Sarunai, Dipa dan Daha masih sangat tergantung kepada cerita rakyat berbentuk nyanyian Orang Maanyan dan Hikayat Banjar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;.&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Menurut Ras, Hikayat Banjar terbagi dalam dua versi&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;Versi pertama merupakan versi yang telah dirubah dan disusun pada masa Kerajaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang secara definitif telah memeluk agama Islam, sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa secara definitif beragama Hindu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Dalam cerita rakyat dan Hikayat Banjar, di area Kalimantan Selatan ini dulunya terdapat sebuah negara bernama Nan Sarunai lalu sirna&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;,&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;kemudian muncul Negara Dipa, lalu digantikan oleh kerajaan Daha. Disadari informasi dari Hikayat Banjar tentang Negara Dipa dan Daha ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya&lt;i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Tidak jelas kapan kerajaan ini berdiri, namun ada sebuah catatan yaitu Pada Abad XIV, Negara Nan Sarunai diserang oleh Majapahit dan mengalami kekalahan. Dampak dari serangan ini, membuat Orang Maanyan eksodus meninggalkan Sarunai. Peristiwa tragis yang dialami oleh Orang Maanyan kemudian dituangkan kedalam nyanyian atau wadian yang kemudian ditranformasikan kepada generasi berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Dalam eksodus itu, Orang Maanyan terpecah dan tersebar menjadi tujuh suku kecil yang masing-masing bernama: (1) Maanyan Siung bermukim di Telang, Paju Epat dan Buntok, (2) Maanyan Patai bermukim di aliran Sungai Patai, (3) Maanyan Paku berdomisili di wilayah Tampa, (4) Maanyan Paju X bermukim di sepanjang aliran Sungai Karau dan Barito, (5) Maanyan Paju Epat bermukim di wilayah aliran sungai yang sama dengan pemukiman Paju X, (6) Maanyan Dayu menghuni aliran Sungai Dayu, dan (7) Maanyan, mereka menghuni di wilayah Bintang Karang, Tumpang Murung, Dusun Timur, Tamiang Layang, Belawa, Tupangan Daka dan Barito&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;Negara Dipa dan Daha Sebagai Negara Awal &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Menurut Hikayat Banjar Kerajaan Dipa diawali dari cerita tentang saudagar bernama Mpu Jatmika yang berasal dari Keling&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, bersama dengan dua orang anaknya bernama Lambung Mangkurat dan Mpu Mandastana telah tiba di Hujung Tanah. Tanah di Hujung Tanah ketika dicium oleh Mpu Jatmika berbau harum, sehingga ia yakin bahwa daerah itu cocok untuk membangun negeri yang bernama Dipa dengan ibukotanya bernama Kuripan dan mengangkat dirinya untuk menjadi raja sementara di kerajaan itu di Hujung Tanah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Lebih lanjut Hikayat Banjar meriwayatkan, bahwa Negara Dipa digantikan oleh negara baru yang bernama Negara Daha. Beralihnya Negara Dipa ke Negara Daha merupakan suatu peristiwa kekeluargaan antara seorang keturunan Pangeran Suryanata bernama Sekarsungsang yang secara tidak sadar telah mengawini ibunya bernama Putri Kalungsu. Perkawinan antara Sekarsungsang dan Putri Kalungsu oleh Hikayat Banjar dijadikan titik pangkal munculnya Negara Daha dengan rajanya yang bernama Sekarsungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Pusat Negara terletak di Muara Hulak dan Muara Bahan sebagai pelabuhannya. Dengan Daerah-daerah kekuasaan itu meliputi Batang Tabalung, Batang Baritu, Batang Alai, Batang Amandit, Batang Balangan, Batang Petak beserta komunitas-komunitas yang mendiami bukit-bukit di sekitarnya, Biaju Kecil, Biaju Besar, Sabangau, Mandawai, Katingan, Sampit, dan Pambuang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;Runtuhnya Negara Daha &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Dimulai dari Raden Sukarama memerintah Negara Daha yang mewasiatkan tahta kekuasaan Negara Daha kepada cucunya bernama Raden Samudera, tetapi wasiat itu ditentang oleh ketiga anaknya, yaitu Mangkubumi, Tumenggung, dan Bagalung. Setelah Raden Sukarama wafat, Pangeran Tumenggung merampas kekuasaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Raden Samudera memilih untuk menjadi pelarian politik dan bersembunyi di hilir Sungai Barito yaitu Kampung Banjarmasih, dan ia dilindungi oleh kelompok-kelompok (melayu) yang dipimpin Pati Masih&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Perjalanan selanjutnya Raden Samudera diangkat menjadi kepala negara oleh kelompok Melayu di daerah itu dan merupakan embrio bagi kelahiran Orang Banjar. Raden Samudera dianjurkan oleh Patih Masih untuk meminta bantuan ke Demak guna persiapan untuk mengambil kembali tahtanya atas Negara Daha. Permintaan bantuan dari Raden Samudera oleh Sultan Demak diterima, tetapi dengan suatu syarat, bahwa Raden Samudera beserta pengikutnya harus memeluk agama Islam. Raden Samudera menyanggupi persyaratan itu, tidak lama kemudian, Sultan Demak mengirimkan kontingennya yang dipimpin oleh Khatib Dayan. Gelar atau nama Khatib Dayan lebih mencerminkan nama seorang penyampai khotbah atau penyiar agama ketimbang nama atau gelar seorang panglima perang&lt;a style="" href="#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Peperangan dimenangkan oleh Raden Samudera yang kemudian memindahkan rakyat Negara Daha ke Banjarmasih. Perpindahan rakyat Negara Daha ke Banjarmasih merupakan manifestasi dari tujuan perang, yaitu merekrut jumlah tenaga manusia, dan pengukuhan Raden Samudera sebagai kepala negara yang mempunyai kharisma. Pembauran penduduk di Banjarmasih, yang terdiri dari rakyat Negara Daha, Melayu, Dayak, dan Orang Jawa (kontingen dari Demak), pada dasarnya menggambarkan bersatunya masyarakat sebagai kesaktian utama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Kemenangan Raden Samudera atas Pangeran Tumenggungg pada abad XVI merupakan suatu perwujudan terjadinya pergeseran politik dari negara yang ekonominya berbasiskan agraris (Daha) kepada negara yang bersifat maritim, dan Islam dijadikan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;sebagai agama negara. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Gelar yang dipergunakan oleh Raden Samudera sejak saat itu berubah menjadi Sultan Suriansyah. Kemudian menjadi Kerajaan Banjar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Dalam Hikayat Banjar ditemui istilah-istilah seperti: Negeri Banjar, Orang Banjar, Raja Banjar dan Tanah Banjar. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Istilah-itilah itu mengacu kepada pengertian wilayah Kerajaan ini, yaitu wilayah kerajaan dimana penduduknya disebut orang Banjar dan rajanya disebut Raja Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36.8pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kerajaan Banjar adalah nama lain dari sebutan Kerajaan Banjarmasin atau Kesultanan Banjar. Pengaruh Kesultanan Banjar melebar meliputi gabungan seluruh wilayah yang saat ini dikenal sebagai Propinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur bahkan ada beberapa daerah yang pada saat ini masuk wilayah Propinsi Kalimantan Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36.8pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kerajaan Banjar yang berkembang sampai abad ke-19 merupakan sebuah kerajaan Islam merdeka dengan nation atau bangsa Banjar sebagai bangsa dari Kerajaan Banjar. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada akhir abad ke-19 ekspansi kolonial Belanda berhasil menguasai Kerajaan Banjar dan secara sepihak mengumumkan Proklamasi Penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayah kerajaan yang herhasil dikuasainya dijadikan Karesidenan Afdelling Selatan dan Timur &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt; (Residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo). Sejak itulah bangsa Banjar turun derajatnya menjadi bangsa jajahan. Mereka tidak lagi disebut sebagai suatu nation akan tetapi hanya sebagai Urang Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kerajaan Sambas di Kalbar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Sejarah tentang asal usul kerajaan Sambas tidak bisa terlepas dari Kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat. Pada jaman dahulu, di Negeri Brunei Darussalam, bertahtalah seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang kesembilan yaitu Sultan Abdu lDjalil Akbar. Beliau mempunyai putra yang bernama sultan Raja Tengah. Raja tengah inilah yang telah datang ke Kerajaan Tanjungpura (Sukadana). Karena prilaku dan tata kramanya sesuai dengan keadaan sekitarnya, beliau disegani bahkan Raja Tanjungpura rela mengawinkan dengan anaknya bernama ratu Surya. Dari perkawinan ini terlahirlah Raden Sulaiman. Saat itu di Sambas memerintah seorang ratu keturunan Majapahit (Hinduisme) bernama Ratu Sepudak dengan pusat pemerintahannya di Kota Lama kecamatan Telok keramat skt 36 Km dari Kota Sambas. Baginda Ratu Sepudak dikaruniai dua orang putri. Yang sulung dikawinkan dengan kemenakan Ratu Sepudak bernama raden Prabu Kencana dan ditetapkan menjadi penggantinya. Ketika Ratu Sepudak memerintah, tibalah raja Tengah beserta rombongannya di Sambas. Kemudian banyak rakyat menjadi pengikutnya dan memeluk agama Islam. Tak berapa lama, Ratu Sepudak wafat. Menantunya Raden Prabu Kencana naik tahtadan memerintah dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Pada peristiwa bersamaan putri kedua Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu kawin dengan Raden Sulaiman (Putera sulung Raja Tengah. Perkawinan ini dikaruniai seorang putera bernama Raden Boma. Dalam pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda, diangkatlah pembantu-pembantu Administrasi kerajaan. Adik kandungnya bernama Pangeran Mangkurat ditunjuk sebagai Wazir Utama. Bertugas khusus mengurus perbendaharaan raja, terkadang juga mewakili raja. Raden Sulaiman ditunjuk menjadi Wazir kedua yang khusus mengurus dalam dan luar negeri dan dibantu menteri-menteri dan petinggi lainnya. Rakyat lebih menghargai Raden Sulaiman daripada Pangeran Mangkurat, hingga menimbulkan rasa iri dihati Pangeran Mangkurat. suatu ketika tangan kanan Raden Sulaiman bernama Kyai Satia Bakti dibunuh pengikut Pangeran Mangkurat. setelah dilaporkan kepada raja, ternyata tak ada tindakan positif, suasana makin keruh. Raden Sulaiaman mengambil kebijaksanaan meninggalkan pusat kerajaan, menuju daerah baru dan mendirikan sebuah kota dengan nama Kota bangun. Jumlah pengikutnyapun makin banyak. Hal ini telah mengajak Petinggi Nagur, Bantilan dan Segerunding mengusulkan untuk berunding dengan Ratu Anom Kesuma Yuda. Hasil mufakat keduanya meninggalkan kota lama. Raden Sulaiman menuju kota Bandir dan Ratu Anom Kesuma Yuda berangkat menuju sungai Selakau. Kemudian agak ke hulu dan mendirikan kota dengan ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Meninggalnya Ratu Anom Kesuma Yuda dan Pangeran Mangkurat, putera Ratu Anom yang bernama Raden Bekut diangkat menjadi raja dengan gelar Panembahan Kota Balai. Beliau beristrikan Mas Ayu Krontiko, puteri Pangeran Mangkurat. Raden Mas Dungun putera raden Bekut adalah Panembahan terakhir Kota Balai. Kerajaan ini berakhir karena utusan Raden Sulaiman menjemput mereka kembali ke Sambas. Kurang lebih 3 tahun kemudian berdiam di Kota Bandir, atas hasil mufakat, berpindahlah mereka dan mendirikan pusat pemerintahannya di Lubuk Madung, pada persimpangan tiga sungai : sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai Teberau. Kota ini juga disebut orang " Muara Ulakan". Kemudian keraton kerajaan dibangun dan hingga kini masih berdiri megah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di tempat inilah raden sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Pertama di kerajaan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafeiuddin I. Saudara-saudaranya, Raden Badaruddin digelar pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Raden Abdul Wahab di gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma. Raden Bima (anak Raden Sulaiman) ke Sukadana dan kawin dengan puteri raja Tanjungpura bernama Puteri Indra Kesuma (adik bungsu Sultan Zainuddin) dan dikaruniai seorang putera diberinama Raden Meliau, nama yang terambil dari nama sungai di Sukadana. Setahun kemudian merka pamit ke hadapan Sultan Zaiuddin untuk pulang ke Sambas, oleh Raden Sulaiman dititahkan berangkat ke Negeri Brunai untuk menemui kaum keluarga. Sekembalinya dari Brunai, Raden Bima dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad Tadjuddin. Bersamaan dengan itu, Raden Akhmad putera Raden Abdu Wahab dilantik menjadi Pangeran Bendahara Sri Maharaja. Wafatnya Sultan Muhammad Tadjuddin, pemerintahan dilanjutkan Puteranya Raden Meliau dengan gelar Sultan Umar Akamuddin I.&lt;br /&gt;Berkat bantuan permaisurinya bernama Utin Kemala bergelar Ratu Adil, pemerintahan berjalan lancar dan adil. Inilah sebabnya dalam sejarah Sambas terkenal dengan sebutan Marhum Adil, Utin Kemala adalah puteri dari pangeran Dipa (seorang bangsawan kerajaan Landak) dengan Raden Ratna Dewi (puteri Sultan Muhammad Syafeiuddin I).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Wafatnya Sultan Umar Akamuddin I, Puteranya Raden Bungsu naik tahta dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kemudian diganti oleh Abubakar Tadjuddin I. Berganti pula dengan Raden Pasu yang lebih terkenal dengan nama Pangeran Anom. Setelah naik tahta beliau bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I. Sebagai wakilnya diangkatlah Sultan Usman Kamaluddin dan Sultan Umar Akamuddin III. Pangeran Anom dicatat sebagai tokoh yang sukar dicari tandingannya, penumpas perampok lanun. Setelah memerintah kira-kira 13 tahun (1828), Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I wafat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Puteranya Raden Ishak (Pangeran Ratu Nata Kesuma)baru berumur 6 tahun. Karena itu roda pemerintahan diwakilikan kepada Sultan Usman Kamaluddin.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Tanggal 11 Juli 1831, Sultan Usman Kamaluddin wafat, tahta kerajaan dilimpahkan kepada Sultan Umar Akamuddin III. Tanggal 5 Desember 1845 Sultan Umar Akamuddin III wafat, maka diangkatlah Putera Mahkota Raden Ishak dengan gelar Sultan Abu Bakar Tadjuddin II. Tanggal 17 Januari 1848 putera sulung beliau yang bernama Syafeiuddin ditetapkan sebagai putera Mahkota dengan gelar Pangeran Adipati. Tahun 1855 Sultan Abubakar Tadjuddin II diasingkan ke Jawa oleh pemerintah Belanda (Kembali ke Sambas tahun 1879). Maka sebagai wakil ditunjuklah Raden Toko' (Pangeran Ratu Mangkunegara) dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin. Pada tahun itu juga atas perintah Belanda, Pangeran Adipati diberangkatkan ke Jawa untuk study.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Tahun 1861 Pangeran Adipati pulang ke Sambas dan diangkat menjadi Sultan Muda. Baru pada tanggal 16 Agustus 1866 beliau diangkat menjadi Sultan dengan gelar sultan Muhammad Syafeiuddin II. Beliau mempunyai dua orang istri. Dari istri pertama (Ratu Anom Kesumaningrat) dikaruniai seorang putera bernama Raden Ahmad dan diangkat sebagai putera Mahkota. Dari istri kedua (Encik Nana) dikaruniai juga seorang putera bernama Muhammad Aryadiningrat. Sebelum manjabat sebagai raja, Putera Mahkota Raden Ahmad wafat mendahului ayahnya. Sebagai penggantinya ditunjuklah anaknya yaitu Muhammad Mulia Ibrahim. Pada saat Raden Ahmad wafat, Sultan Muhammad Syafeiuddin II telah berkuasa selama 56 tahun. Beliau merasa sudah lanjut usia, maka dinobatkan Raden Muhammad Aryadiningrat sebagai wakil raja dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin II.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Setelah memerintah kira-kira 4 tahun, beliau wafat. Roda pemerintahan diserahkan kepada Sultan Muhammad Mulia Ibrahim. Dan pada masa pemerintahan raja inilah, bangsa Jepang datang ke Sambas. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim adalah salah seorang yang menjadi korban keganasan Jepang. Sejak saat itu berakhir pulalah kekuasaan Kerajaan Sambas. Sedangkan benda peninggalan Kerajaan Sambas antara lain tempat tidur raja, kaca hias, seperangkat alat untuk makan sirih, pakaian kebesaran raja, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam lele, 2 buah tempayan keramik dari negeri Cina dan kaca kristal dari negeri Belanda&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dengan menurunnya kekuasaan Majapahit, Islam semakin tersebar ke seluruh kepualauan mengikuti jalur perdagangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa para pedagang Islam sudah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di Borneo dalam abad ke-13.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerajaan Brunei mungkin sudah berdiri sejak abad ke-15.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sultan Brunei mendapat kekayaan yang sangat banyak dari penarikan pajak dari daerah-daerah tepi sungai di Pontianak sampai kebagian selatan Filipina.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kerajaan Islam lain yang cukup penting adalah Sambas, Sukadana dan Landak di pesisir barat, dan Banjarmasin di sebelah selatan.0b&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_2" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_2','_com_2')" onmouseout="msoCommentHide('_com_2')" href="#_msocom_2" language="JavaScript" name="_msoanchor_2"&gt;[R2]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Dengan pertambahan pedagangan Islam yang menetap di daerah pesisir, suku Dayak semakin masuk kepedalaman damal beberapa gelombang migrasi&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_3" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_3','_com_3')" onmouseout="msoCommentHide('_com_3')" href="#_msocom_3" language="JavaScript" name="_msoanchor_3"&gt;[t3]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt; .&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suatu kelompok imigran yang paling akhir yaitu suku Iban, yang terkenal dengan penyebaran yang sangat luas di daerah aliran S.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kapuas di Kalimantan barat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai ke sebagian besar negara bagian Serawak dalam kurun 400 tahun terakhir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menjelang tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1850 mereka sudah mendiami sebagian besar daerah Rajang (St. John 1974) dan selama abad ke-19 mereka terus berpindah kearah utara yaitu ke Brunei.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka membuka hutan tropis yang sangat luas di sepanjang lembah-lembah sungai untuk melakukan perladangan berpindah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penyebaran ini barangkali tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seluruhnya didorong oleh tekanan kepadatan penduduk dan kebutuhan untuk menanam tanaman pangan yang lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak, tetapi juga oleh kebutuhan budaya dan ritus mereka untuk mengumpulkan kepala orang.0b&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="IT" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; background: rgb(255, 255, 153) none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 41.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 401.4pt;" valign="top" width="535"&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="style91"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejarah Tionghoa Masuk ke Kalimantan Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="style91"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="style91"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak abad ketiga, pelaut Cina telah berlayar ke   Indonesia untuk melakukan perdagangan. Rute pelayaran menyusuri pantai Asia   Timur dan pulangnya melalui Kalimantan Barat dan Filipina dengan   mempergunakan angin musim. Pada abad ketujuh, hubungan Tiongkok dengan   Kalimantan Barat sudah sering terjadi, tetapi belum menetap. Imigran dari   Cina kemudian masuk ke Kerajaan Sambas dan Mempawah dan terorganisir dalam   kongsi sosial politik yang berpusat di Monterado dan Bodok dalam Kerajaan   Sambas dan Mandor dalam Kerajaan Mempawah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="style91"&gt;&lt;span style=""&gt;Pasukan Khubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau   Sing dalam perjalanannya untuk menghukum Kertanegara, singgah di kepulauan   Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura. Karena   kekalahan pasukan ini dari angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman   dari Khubilai Khan, kemungkinan besar beberapa dari mereka melarikan diri dan   menetap di Kalimantan Barat. Pada tahun 1407, di Sambas didirikan   Muslim/Hanafi - Chinese Community. Tahun 1463 laksamana Cheng Ho, seorang Hui   dari Yunan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar keempat   dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi pelayaran ke Nan Yang.   Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap di Kalimantan Barat dan   membaur dengan penduduk setempat. Mereka juga membawa ajaran Islam yang   mereka anut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Di abad ke-17 hijrah bangsa Cina ke Kalimantan Barat menempuh dua rute   yakni melalui Indocina - Malaya - Kalimantan Barat dan Borneo Utara -   Kalimantan Barat. Tahun 1745, orang Cina didatangkan besar-besaran untuk   kepentingan perkongsian, karena Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah   menggunakan tenaga-tenaga orang Cina sebagai wajib rodi dipekerjakan di   tambang-tambang emas. Kedatangan mereka di Monterado membentuk kongsi Taikong   (Parit Besar) dan Samto Kiaw (Tiga Jembatan). Tahun 1770, orang-orang Cina   perkongsian yang berpusat di Monterado dan Bodok berperang dengan suku Dayak   yang menewaskan kepala suku Dayak di kedua daerah itu. Sultan Sambas kemudian   menetapkan orang-orang Cina di kedua daerah tersebut hanya tunduk kepada   Sultan dan wajib membayar upeti setiap bulan, bukan setiap tahun seperti   sebelumnya. Tetapi mereka diberi kekuasaan mengatur pemerintahan, pengadilan,   keamanan dan sebagainya. Semenjak itu timbulah Republik Kecil yang berpusat   di Monterado dan orang Dayak pindah ke daerah yang aman dari orang Cina.&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pada Oktober 1771 kota Pontianak berdiri. Tahun 1772 datang seorang   bernama Lo Fong (Pak) dari kampung Shak Shan Po, Kunyichu, Kanton membawa 100   keluarganya mendarat di Siantan, Pontianak Utara. Sebelumnya di Pontianak   sudah ada kongsi Tszu Sjin dari suku Tio Ciu yang memandang Lo Fong sebagai   orang penting. Mandor dan sekitarnya juga telah didiami suku Tio Ciu,   terutama dari Tioyo dan Kityo. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Daerah Mimbong   didiami pekerja dari Kun-tsu dan Tai-pu. Seorang bernama Liu Kon Siong yang   tinggal dengan lebih dari lima ratus keluarganya mengangkat dirinya sebagai   Tai-Ko di sana. Di San Sim (Tengah-tengah Pegunungan) berdiam pekerja dari   daerah Thai-Phu dan berada di bawah kekuasaan Tong A Tsoi sebagai Tai-Ko. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Lo Fong   kemudian pindah ke Mandor dan membangun rumah untuk rakyat, majelis umum   (Thong) serta pasar. Namun ia merasa tersaingi oleh Mao Yien yang memiliki   pasar 220 pintu, terdiri dari 200 pintu pasar lama yang didiami masyarakat   Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung dan Liuk Fung dengan Tai-Ko Ung Kui Peh dan 20   pintu pasar baru yang didiami masyarakat asal Kia Yin Tju dengan Tai-Ko Kong   Mew Pak. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Mao Yien juga mendirikan benteng Lan Fo   (Anggrek Persatuan) dan mengangkat 4 pembantu dengan nama Lo-Man. Lo Fong   kemudian mengutus Liu Thoi Ni untuk membawa surat rahasia kepada Ung Kui Peh   dan Kong Mew Pak, sehingga mereka terpaksa menyerah dan menggabungkan diri di   bawah kekuasaan Lo Fong tanpa pertumpahan darah. Lo Fong kemudian juga   merebut kekuasaan Tai-Ko Liu Kon Siong di daerah Min Bong (Benuang) sampai ke   San King (Air Mati). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Abad 18 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Lo Fong   kemudian menguasai pertambangan emas Liu Kon Siong dan pertambangan perak   Pangeran Sita dari Ngabang. Kekuasaan Lo Fong meliputi kerajaan Mempawah,   Pontianak dan Landak dan disatukan pada tahun 1777 dengan nama Republik Lan   Fong. Tahun 1795 Lo Fong meninggal dunia dan dimakamkan di Sak Dja Mandor.   Republik yang setiap tahun mengirim upeti kepada Kaisar Tiongkok ini pun   bubar. Oleh orang Cina Mandor disebut Toeng Ban Lit (daerah timur dengan 1000   undang-undang . Tahun 1795, berkobar pertempuran antara kongsi Tai-Kong yang   berpusat di Monterado dengan kongsi Sam Tiu Kiu yang berpusat di Sambas   karena pihak Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di Sungai Raya Singkawang,   daerah kekuasaan Tai-Kong. Tahun 1796, dengan bantuan kerajaan Sambas, kongsi   Sam Tiu Kiu berhasil menguasai Monterado. Namun seorang panglima sultan   bernama Tengku Sambo mati terbunuh ketika menyerbu benteng terakhir kongsi   Tai Kong. Perang ini oleh rakyat Sambas disebut juga Perang Tengku Sambo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span  lang="IT"  style="font-size:85%;color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.2.3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Masa Penjajahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Sistem Pemerintahan Hindia Belanda mulai diberlakukan di Kalimantan Selatan ketika F.N. Nieuwenhuyzen mengumumkan Proklamasi Penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada tanggal 11 Juni 1860. Dalam proklamasi tersebut antara lain dinyatakan Kerajaan Banjar dihapuskan dan tidak lagi diperintah oleh raja (sultan) dan seluruh pemerintahan di lingkungan bekas Kerajaan Banjar langsung di bawah kekuasaan Gubernemen Hindia Belanda di bagian Selatan dan Timur pulau Borneo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;Kemudian dibentukan Karesidenan Afdeling Selatan dan Timur Borneo, maka pada tahun 1865 Belanda, afdeling di wilayah-wilayah bekas kesultanan Banjar yang telah dikuasai,sebagai berikut : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Afdeling Banjarmasin termasuk Onderafdeling Kween (Kuin) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Afdeling Martapura yang terbagi atas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; district. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  lang="FI" &gt;(Martapura, Riam Kiwa, Riam Kanan, Banua Ampat, Margasari &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Afdeling Tanah Laut, terbagi atas empat district&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Pleihari, Tabanio, Maluka dan Satui&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Afdeling Amuntai yang terbagi atas tujuh district (Amuntai, Nagara, Balangan, &lt;st1:place st="on"&gt;Alai&lt;/st1:place&gt;, Amandit, Tabalong, Kalua&lt;a style="" href="#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Keorganisasian pemerintahan Hindia Belanda selalu mengalami perubahan, begitupula dengan jumlah afdeling dan distriknya. Berdasarkan Staatsblad tahun 1898 nomor 178, di daerah Borneo bagian Selatan dibagi ke dalam beberapa wilayah administratif, yakni Afdeling Banjarmasin dan daerah sekitarnya (&lt;i&gt;ommelanden&lt;/i&gt;) Afdeling Martapura; Afdeling Kandangan; Afdeling Amuntai; Afdeling Tanah-tanah Dusun/Teweh (&lt;i&gt;Doesoenlanden&lt;/i&gt;); Afdeling Tanah-tanah Dayak/Kapuas (&lt;i&gt;Dajaklanden&lt;/i&gt;); Afdeling Sampit; Afdeling Pasir dan Tanah Bumbu&lt;a style="" href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  &gt;Di &lt;a style=""&gt;Kalimantan Tengah : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;" &gt;Tercatat dalam buku sejarah propinsi Kalimantan Selatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="FI"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;" &gt; bahwa Sultan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;" &gt; Tahmidullah II pada tahun 1787 menyerahkan kemerdekaan dan kedaulatan kerajaan kepada &lt;i style=""&gt;VOC (Veregnide Oost Indische Company) &lt;/i&gt;yang ditandai dengan &lt;i style=""&gt;Akte penyerahan (Acte van afstand) &lt;/i&gt;tertanggal Kayutangi 17-8-1787. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;Akte penyerahan tersebut ditandatangani oleh Sultan Tahmidullah II di depan &lt;i style=""&gt;Residen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walbeck&lt;/i&gt;. Hal ini terjadi setelah Sultan Tahmidullah berhasil menguasai tahta kerajaan dengan bantuan VOC dan selanjutnya Kerajaan Banjar menjadi taklukan VOC.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;Berdasarkan akte peenyerahan tersebut, Sultan Tahmidullah juga menyerahkan status wilayah kekuasaannya termasuk daerah-daerah dayak &lt;i style=""&gt;((dajaksche provintien) &lt;/i&gt;ke bawah kekuasaan VOC. Setelah VOC dinyatakan bangkrut dan bubar, selanjutnya penguasaan daerah bekas taklukan VOC diambil alih oleh kerajaan Belanda melalui Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). Dengan demikian daerah dayak juga berada di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;Pada tanggal 1 Januari 1817, ditanda tangani kontrak persetujuan &lt;i style=""&gt;Karang Intan I&lt;/i&gt; oleh &lt;i style=""&gt;sultan Sulaiman di depan Residen Arnout van boekholzt&lt;/i&gt; dari pemerintah hindia Belanda. Enam tahun kemudian, yakni tanggal 13 september 1923, dilakukan alterasi dan ampliasi (perubahan, peralihan, penambahan, perluasan dan penyepurnaan) yang dikenal dengan nama &lt;i style=""&gt;Kontrak Persetujuan Karang Intan II&lt;/i&gt;. Kontrak tersebut juga ditanda tangani &lt;i style=""&gt;oleh Sultan Sulaiman di depan Residen Mr.Tobias.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;Berdasarkan kontrak persetujuan ke II ini, Sultan melepaskan secara penuh hak-haknya atas seluruh kawasan di Kalimantan yang dianggap sebagai wilayah kerajaan Banjar itu, termasuk yang disebut Belanda sebagai &lt;i style=""&gt;Daerah Dayak (Dajaksche provintien)&lt;/i&gt;. Pihak Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan pemetaan di kawasan &lt;i style=""&gt;dajaksche provintien&lt;/i&gt;. Sungai kahayan dalam pemerintaha Belanda di sebut &lt;i style=""&gt;Groote dajak Rivier&lt;/i&gt; sedang sungai kapuas di sebut &lt;i style=""&gt;Kleinee dajak rivier&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_4" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_4','_com_4')" onmouseout="msoCommentHide('_com_4')" href="#_msocom_4" language="JavaScript" name="_msoanchor_4"&gt;[R4]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Sebelum adanya akte penyerahan Kayutangi tersebut, wilayah &lt;i style=""&gt;Dajaksche provintien&lt;/i&gt; yang kini dikenal sebagai wilayah Propinsi Kalimantan Tengah tidak langsung dikuasai VOC. Ketika &lt;i style=""&gt;Perang Banjar (1859-1865)&lt;/i&gt; usai dengan Belanda sebagai pemenangnya, suku dayak masih melanjutkan pertempurannya melawan Belanda yang dikenal dengan nama &lt;i style=""&gt;Perang Barito (1865-1905)&lt;/i&gt;. Tetapi akibat akte penyerahan serta Kontrak Perjanjian Karang Intan I dan II, tertancaplah kekuasaan penjajah Belanda di Kaimantan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Namun penguasaan yang sangat luas itu tidak berlangsung mulus. Belanda mengalami kekurangan tenaga dalam mengelola pemerintahan meskipun telah dilakukan pembagian wilayah. Belanda kemudian membatasi kekuasaan langsungnya pada tingkat &lt;i style=""&gt;onderafdeling &lt;/i&gt;saja, sedang untuk pemerintahan &lt;i style=""&gt;distrik&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;onderdistrik&lt;/i&gt; Belanda menggunakan para petinggi &lt;i style=""&gt;Suku Dayak&lt;/i&gt;. Beberapa &lt;i style=""&gt;Temanggong dan Damang&lt;/i&gt; diangkat menududuki jabatan Kepala distrik dan kepala onderdistrik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Sejak tahun 1823, kawasan yang disebut &lt;i style=""&gt;wilayah dayak (Dajaksche provintien)&lt;/i&gt; dimasukan dalam wilayah yang disebut &lt;i style=""&gt;kapoeas-Moeroeng Gabied &lt;/i&gt;yang merupakan bagian dari &lt;i style=""&gt;afdeling&lt;/i&gt; Marabahan yang berkedudukan di Marabahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membawahi beberapa &lt;i style=""&gt;Onderafdeling, &lt;/i&gt;salah satunya adalah &lt;i style=""&gt;Onderafdeling Koeala Kapoeas&lt;/i&gt; yang dipimpin seorang &lt;i style=""&gt;Controleur&lt;/i&gt;. Salah satu distrik dilingkup &lt;i style=""&gt;Onderafdeling koeala Kapoeas&lt;/i&gt; adalah &lt;i style=""&gt;distrik Pangkoh&lt;/i&gt; yang berkedudukan di Pangkoh. Wilayah distrik Pangkoh meliputi seluruh aliran sungai Kahayan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan pada tahun 1872 dipimpin oleh &lt;i style=""&gt;Temanggong Rambang&lt;/i&gt; sebagai kepala distrik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Memasuki abad ke-20 (tahun 1913), kawasan &lt;i style=""&gt;kapoeas-Moeroeng gebied&lt;/i&gt; dibentuk menjadi 2 afdeling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu (1) &lt;i style=""&gt;afdeling dajaklanden (tanah dayak)&lt;/i&gt; berkedudukan di Banjarmasin,dan (2)&lt;i style=""&gt;Afdeling dusunlanden (tanah dusun)&lt;/i&gt;berkedudukan di Muara teweh. Distrik pangkoh yang sebelumnya membawahi seluruh aliran Sungai kahayan dihapuskan dan dibentuk 2 onderafdeling yaitu (1)&lt;i style=""&gt;onderafdeling boven dajak&lt;/i&gt; berkedudukan di Kuala Kurun,dan (2) &lt;i style=""&gt;onderafdeling Beneden dajak&lt;/i&gt; berkedudukan di Kuala Kapuas. Desa/kampung Pahandut terletak dalam &lt;i style=""&gt;onderafdeling Beneden dajak&lt;/i&gt;. Kedua &lt;i style=""&gt;onderafdeling&lt;/i&gt; termasuk dalam lingkup &lt;i style=""&gt;afdeling dajaklanden&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Pada tahun 1946, &lt;i style=""&gt;afdeling kapuas Barito&lt;/i&gt; beserta seluruh &lt;i style=""&gt;onderafdeling&lt;/i&gt;-nya dihapus. Bekas wilayah &lt;i style=""&gt;onderafdeling Beneden&lt;/i&gt; dajak di pecah menjadi 2 distrik,yaitu &lt;i style=""&gt;(1) distrik Kapuas dan (2)distrik Kahayan&lt;/i&gt;. Distrik kahayan itu sendiri terbagi menjadi 2 onderdistrik,yaitu (1) &lt;i style=""&gt;Onderdistrik kahayan Hilir&lt;/i&gt; dengan Ibukota Pulang Pisau dan (2) &lt;i style=""&gt;Onderdistrik Kahayan Tengah&lt;/i&gt; dengan ibukota Pahandut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="SV" &gt;Kaltim ; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Kalbar : &lt;span style="color: rgb(153, 204, 0);"&gt;SEJARAH KAPUAS HULU PADA ZAMAN BELANDA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Sejumlah pegunungan yang membentang di Kabupaten Kapuas Hulu, serupa Schwaner dan Muller, ternyata diabadikan dari nama sejumlah pelaku ekspedisi berkebangsaan asing pertengahan abad XIX di daerah itu. Wilayah perbatasan antara Kapuas dan Mahakam merupakan salah satu wilayah yang paling terpencil di Borneo. Di sebelah timur, daerah Mahakam Hulu, yang terisolasi oleh jeram-jeram yang sangat berbahaya, di mana suku Kayan-Mahakam, suku Busang termasuk sub suku Uma Suling dan lain-lain serta suku Long Gelat sebuah sub suku dari Modang menempati daratan-daratan yang subur, sedangkan suku Aoheng mendiami daerah berbukit-bukit. Di sebelah barat, daerah Kapuas Hulu dengan kota niaga kecil Putussibau, dikelilingi oleh desa-desa Senganan, Taman dan Kayan. Lebih ke hulu lagi, dua desa kecil Aoheng dan Semukng. Di antara keduanya, sebuah barisan pegunungan yang besar mencapai ketinggian hampir 2000 meter didiami oleh suku nomad Bukat atau Bukot dan Kereho atau Punan Keriu, serta suku semi nomad Hovongan atau Punan Bungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;Orang asing pertama yang mencapai dan melintasi pegunungan ini adalah Mayor Georg Muller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I yang sesudah Waterloo masuk dalam pamongpraja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah kolonial, ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo. Pada tahun 1825, kendati Sultan Kutai enggan membiarkan tentara Belanda memasuki wilayahnya, Muller memudiki Sungai Mahakam dengan belasan serdadu Jawa. Hanya satu serdadu Jawa yang dapat mencapai pesisir barat. Berita kematian Muller menyulut kontroversi yang berlangsung sampai tahun 1850-an dan dihidupkan kembali sewaktu-waktu setiap kali informasi baru muncul. Sampai tahun 1950-an pengunjung-pengunjung daerah itu pun masih juga menanyakan nasib Muller. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Bahkan sampai hari ini hal-hal sekitar kematian Muller belum juga terpecahkan. Diperkirakan Muller telah mencapai kawasan Kapuas Hulu dan dibunuh sekitar pertengahan November 1825 di Sungai Bungan, mungkin di jeram Bakang tempat ia harus membuat sampan guna menghiliri Sungai Kapuas. Sangat mungkin bahwa pembunuhan Muller dilakukan atas perintah Sultan Kutai, disampaikan secara berantai dari satu suku kepada suku berikutnya di sepanjang Mahakam dan akhirnya dilaksanakan oleh sebuah suku setempat, barangkali suku Aoheng menurut dugaan Nieuwenhuis. Karena Muller dibunuh di pengaliran Sungai Kapuas, dengan sendirinya sultan tidak dapat dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab. Bagaimanapun, ketika ekspedisi Niewenhuis berhasil melintasi daerah perbatasan hampir 70 tahun kemudian, pada hari nasional Perancis tahun 1894, barisan pegunungan ini diberi nama Pegunungan Muller.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;Menjelang pertengahan abad XIX, Belanda telah berhasil menguasai daerah-daerah pesisir dan perdagangan di muara sungai besar. Penguasaan niaga saja ternyata tidaklah cukup, dan kekuatan-kekuatan kolonial membutuhkan penguasaan teritorial yang sesungguhnya, yang berdasarkan struktur-struktur administratif dan militer. Dalam rangka inilah ekspedisi-ekspedisi besar dilakukan pada perempat akhir abad XIX. Ekspedisi ke Kapuas Hulu dimulai pada 1893 oleh Nieuwenhuis. Eksplorasi lebih lanjut lalu menyusul pada tahun-tahun pertama abad yang baru oleh Enthoven di Kapuas Hulu Hingga di tahun 1930-an, seluruh pedalaman Borneo telah jatuh di bawah kekuasaan sebenarnya dari kekuatan-kekuatan kolonial, kecuali Kesultanan Brunei yang sudah sangat menciut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang Borneo dari sebelum zaman penjajahan tidak banyak diketahui. Abad XIX terjadi migrasi suku Dayak Iban secara besar-besaran, memasuki lembah Rejang dari selatan, mungkin dari daerah aliran Sungai Kapuas. Sebelumnya di daerah aliran Sungai Rejang tidak terdapat suku Iban. Dengan bermigrasi ke daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, suku Iban menyerang suku Kayan di daerah hulu sungai-sungai itu pada tahun 1863 dan terus maju ke utara dan ke timur. Pesta perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku lain terusir dari lahannya. Menjelang awal tahun 1900-an suku Dayak pengayau telah memasuki daerah hulu Sungai Rajang, Kayan, Mahakam dan Kapuas yang terpencil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Pada 6 September 1818 Belanda masuk ke Kerajaan Sambas. Tanggal 23 September Muller dilantik sebagai Pejabat Residen Sambas dan esoknya mengumumkan Monterado di bawah kekuasaan pemerintahan Belanda. Pada 28 November diadakan pula pertemuan dengan kepala-kepala kongsi dan orang-orang Cina di Sambas. Tahun 1819, masyarakat Cina di Sambas dan Mandor memberontak dan tidak mengakui pemerintahan Belanda. Seribu orang dari Mandor menyerang kongsi Belanda di Pontianak. Pada 22 September 1822 diumumkan hasil perundingan segitiga antara Sultan Pontianak, pemerintahan Belanda dan kepala-kepala kongsi Cina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Namun pada 1823, setelah berhasil menguasai daerah Lara, Sin Ta Kiu (Sam Tiu Kiu), Sambas, kongsi Tai Kong mengadakan pemberontakan terhadap belanda karena merasa hasil perundingan merugikan pihaknya. Dengan bantuan Sam Tiu Kiu dan orang-orang Cina di Sambas, kongsi Tai Kong kemudian dipukul mundur ke Monterado. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Setelah gagal pada serangan kedua tanggal 28 Februari 1823, pada 5 Maret penduduk Cina yang memberontak menyatakan menyerah dan kemudian 11 Mei komisaris Belanda mengeluarkan peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban kongsi-kongsi. Tahun 1850, kerajaan Sambas yang dipimpin Sultan Abubakar Tadjudin II hampir jatuh ke tangan perkongsian gabungan Tai Kong, Sam Tiu Kiu dan Mang Kit Tiu. Kerajaan Sambas meminta bantuan kepada Belanda. Tahun 1851, kompeni Belanda tiba dipimpin Overste Zorg yang kemudian gugur ketika perebutan benteng pusat pertahanan Sam Tiu Kiu di Seminis Pemangkat. Ia dimakamkan di bukit Penibungan, Pemangkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Abad 18 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Tahun 1854 pemberontakan kian meluas dan didukung bangsa Cina yang di luar perkongsian. Belanda kemudian mengirimkan pasukan tambahan ke Sambas yang dipimpin Residen Anderson. Akhirnya pada 1856 Republik Monterado yang telah berdiri selama 100 tahun berhasil dikalahkan. Tanggal 4 Januari 1857 Belanda mengambil alih kekuasaan Cina di kerajaan Mempawah, dan tahun 1884 seluruh perkongsian Cina di Kalimantan Barat dibubarkan oleh Belanda. Tahun 1914, bertepatan dengan Perang Dunia I, terjadi pemberontakan Sam Tiam (tiga mata, tiga kode, tiga cara). Pemberontakan di Monterado dipimpin oleh bekas keluarga Republik Monterado, sedangkan pemberontakan di Mempawah dipimpin oleh bekas keluarga Republik Lan Fong. Mereka juga dibantu oleh masyarakat Melayu dan Dayak yang dipaksa untuk ikut. Pemberontakan berakhir tahun 1916 dengan kemenangan di pihak Belanda. Belanda kemudian mendirikan tugu peringatan di Mandor bagi prajurit-prajuritnya yang gugur selama dua kali pemberontakan Cina (tahun 1854-1856 dan 1914-1916). Perang 1914-1916 dinamakan Perang Kenceng oleh masyarakat Kalimantan Barat. Tahun 1921-1929 karena di Tiongkok (Cina) terjadi perang saudara, imigrasi besar-besaran orang Cina kembali terjadi dengan daerah tujuan Semenanjung Malaya, Serawak dan Kalimantan Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;Pada zaman pemerintahan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda" title="Hindia Belanda"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt; berdasarkan Keputusan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gubernur_Jenderal" title="Gubernur Jenderal"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;Gubernur Jenderal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt; yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Borneo" title="Borneo"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;Borneo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt; berkedudukan di &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banjarmasin" title="Banjarmasin"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;Banjarmasin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt; dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Waterafdeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Residen&amp;action=edit" title="Residen"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;Residen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt;. Pada tanggal &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Januari" title="1 Januari"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;1 Januari&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1957" title="1957"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="SV"&gt;1957&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="SV" &gt; Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="FI" &gt;Kedua provinsi itu adalah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Selatan" title="Kalimantan Selatan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="FI"&gt;Kalimantan Selatan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="FI" &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur" title="Kalimantan Timur"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:red;"  lang="FI"&gt;Kalimantan Timur&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:red;"  lang="FI" &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.2.4.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Masa Kemerdekaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;But the country was not aiming at subjecting to it's former ruler again. Strong resistance, mainly on Jawa, and several diplomatical manouvres lead to the call for independence in 1945. The &lt;st1:country-region st="on"&gt;Netherlands&lt;/st1:country-region&gt; didn't recognise the government, and only have &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sovereignty four years later. Kalimantan did not play an important role during the battle for independence, but it had important military role in the Indonesian confrontation with &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Because both camps realized Sukarno was not looking for more land, but only internal political power, no big fights were fought. Dayak at both sides of the borders used the opportunity to headhunt several people, the ultimate way to show courage. &lt;span style="color:blue;"&gt;(&lt;i style=""&gt;Tetapi negeri adalah tidak mengarahkan tunduk kepada adalah penguasa/penggaris terdahulu lagi . &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Perlawanan yang kuat terutama di Jawa dan beberapa manuver diplomatik mendorong terjadinya kemerdekaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pada tahun 1945&lt;/span&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Netherlands tidak mengenali pemerintah, dan hanya mempunyai Kedaulatan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; empat tahun kemudian. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kalimantan tidak memainkan peranan penting dalam pertempuran untuk mencapai kemerdekaan, namun ketika terjadi konfrontasi antara &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; justru dimainkan peranannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;, Sebab kedua-duanya kemah [merealisir/sadari] Sukarno adalah tidak mencari lebih [] daratan, tetapi hanya kuasa politis internal, tidak (ada) perkelahian besar dilancarkan. Dayak pada kedua sisi (menyangkut) perbatasan menggunakan kesempatan ke headhunt beberapa orang, jalan/cara yang terakhir untuk menunjukkan keberanian)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.2.5.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sejarah Pembentukan Wilayah Administrasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pada masa kemerdekaan yakni sesudah pemulihan kedaulatan yang ditandai dengan konprensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 14 Agustus 1950 pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1950 yang menetapkan pembagian wilayah RIS atas 10 propinsi (propinsi administratif). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Satu diantaranya adalah Propinsi Kalimantan. Propinsi Kalimantan meliputi 3 keresidenan yakni Keresidenan kalimantan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Barat, Keresidenan kalimantan Selatan dan Keresidenan kalimantan Timur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Residentie Zuid-Borneo (Keresidenan kalimantan Selatan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="NL" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="NL" &gt;Residentie Oost-Borneo (keresidenan kalimantan Timur)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Residentie West-Borneo (keresidenan Kalimantan Barat)^&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Eks Daerah Otonom Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin dibentuk menjadi 3 Kabupaten yaitu ; (1) Kabupaten Kapuas,(2) Kabupaten Barito dan (3) Kabupaten Kotawaringin yang bersama-sama daerah Otonom Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara, di gabungkan kedalam Keresidenan Kalimantan Selatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1953 yang mulai berlaku pada tanggal 7 Januari 1953, tapi karena terbentur sulitnya cara-cara pemilihan/pengangkatan anggota DPRD Propinsi, hingga selalu gagal, maka sampai saatnya Kalimantan dipecah menjadi tiga propinsi otonom&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="" href="#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Setelah satu tahun terbentuknya Propinsi Kalimantan dan setelah meninjau berbagai segi, rupanya pemerintah pusat berpendapat bahwa kini tibalah saatnya untuk meninjau kembali pembagian &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; lebih lanjut dalam beberapa daerah otonom propinsi. Dan kabinet dalam rapatnya ke 33 tanggal 4 Oktober 1956 pada prinsipnya telah memutuskan untuk memekarkan Propinsi Kalimantan yang sekarang ini menjadi tiga propinsi otonom, sedangkan untuk memudahkan dibentuknya Propinsi Kalimantan Tengah kelak di kemudian hari, maka secara administratif Kalimantan Selatan segera sesudah berlakunya undang-undang tersebut akan dibagi menjadi dua keresidenan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Propinsi Kalimantan Tengah yang akan meliputi Kabupaten Barito, Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Kotawaringin pembentukannya ditangguhkan selambat-lambatnya tiga tahun. Penangguhan ini mengingat akan keadaan uang negara, besarnya penghasilan dapat dipungut oleh propinsi sendiri di daerahnya masing-masing serta keadaan peralatan pemerintah pada umumnya dan khususnya kekurangan akan tenaga-tenaga teknis yang kapabel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Sesudah melalui sidang-sidang antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah maka akhirnya disahkanlah Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Kalimantan Barat, Propinsi Kalimantan Selatan dan Propinsi Kalimantan Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 1956) yang diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956. Tetapi di dalam Pasal 93 disebutkan bahwa Undang-undang ini mulai berlaku pada hari yang akan ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri. Berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 52/10/50 tanggal 12 Desember 1956 ditetapkan bahwa Undang-undang tersebut mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 1957. Pada tanggal 9 Januari 1957 dengan disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia telah dilakukan serah terima kekuasaan pemerintahan antara Gubernur Kalimantan (Milono) dengan Acting Gubernur Kalimantan Selatan Syarkawi, Acting Gubernur Kalimantan Barat A.R Afloes, Acting Gubernur Kalimantan Timur Bambang Pranoto di Banjarmasin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada kesempatan ini telah diresmikan pula oleh Menteri Dalam Negeri Kantor Gubernur Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah di Banjarmasin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pasal 1 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 tersebut di atas menyebutkan : “Daerah Otonom Propinsi Kalimantan sebagai dimaksud dalam Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1953 (Lembaran Negara 1953 Nomor 8) dibubarkan dan wilayahnya dibagi untuk sementara menjadi Daerah Tingkat I, yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dengan nama dan batas-batas sebagai berikut : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Propinsi Kalimantan Barat yang berkedudukan di Pontianak, yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Kabupaten Sambas, Pontianak, Ketapang, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu dan Kota Besar Pontianak, tersebut dalam Pasal 1 ad. 1 Nomor 9 sampai dengan 15 Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1953 (Lembaran Negara Nomor 9 Tahun 1953); &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Propinsi Kalimantan Selatan yang berkedudukan di Banjarmasin, yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Barito, Kapuas, Kotawaringin, Kotabaru dan Kota Besar Banjarmasin, tersebut dalam Pasal 1 ad. 1 Nomor 1 sampai dengan 8 (delapan) Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 (Lembaran Negara Nomor 9 Tahun 1953); &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Propinsi Kalimantan Timur yang berkedudukan di Samarinda yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Istimewa Kutai, Bulongan dan Berau, tersebut dalam Pasal 1 ad. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;II Nomor 1 sampai 3 Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1953 (Lembaran Negara Nomor 9 Tahun 1953).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Di dalam Pasal 3 Undang-undang tersebut ditetapkan jumlah anggota Dewan Pemerintah Daerah (DPD) masing-masing Propinsi sekurang-kurangnya lima orang, dengan ketentuan jumlah tersebut diluar Gubernur Kepala Daerah Propinsi yang menjabat Ketua Dewan Pemerinah Daerah Propinsi dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Propinsi ini masing-masing terdiri dari tiga puluh orang. Kemudian dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah dan Perubahan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swantantra Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, maka terjadi pengurangan wilayah pemerintahan atas Propinsi Kalimantan Selatan. Propinsi Kalimantan Selatan yang semula terdiri dari delapan daerah kabupaten berkurang menjadi empat kabupaten dan satu &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; besar, karena &lt;st1:place st="on"&gt;Kapuas&lt;/st1:place&gt;, Barito dan Kotawaringin dimasukkan ke dalam wilayah Propinsi Kalimantan Tengah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1956, tentang Pembentukan DPRD dan DPD Peralihan, ditentukan antara lain bahwa DPRD Peralihan akan bubar, sesudah DPRD atas dasar pemilihan umum dilantik, tetapi selambat-lambatnya satu tahun. Pada tanggal 24 September 1956 dinyatakan mulai berlaku tentang undang-undang pemilihan anggota DPRD (dengan dasar pemilihan umum) berdasarkan Undang-undang Nomor 19 tahun 1956).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 37.4pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Tetapi meskipun satu tahun berlaku ternyata DPRD atas dasar Undang-undang tersebut belum dapat dibentuk , maka oleh Pemerintah Pusat dengan Undang-undang Darurat Nomor 9 Tahun 1957 yang ditetapkan kemudian dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1958, ditentukanlah perpanjangan masa kerja DPRD Peralihan dengan ketentuan baru dapat bubar setelah DPRD atas dasar pemilihan umum dilantik sampai dengan 17 Juli 1957. Sementara DPRD Peralihan terus berjalan, keluarlah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Peraturan Daerah sebagai pengganti Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 yang menjadi dasar pemerintahan daerah ke DPRD semula, karena undang-undang tersebut mulai berlaku pada tanggal 18 Januari 1957, sedangkan DPRD Peralihan di wilayah Kalimantan Selatan belum bubar maka dengan sendirinya DPRD Peralihan menjalankan wewenang berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957. Dan dengan dasar Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 inilah nama-nama daerah berubah yakni : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;1. Propinsi menjadi Daerah Swatantra Tingkat I &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;2. Kabupaten menjadi Daerah Swatantra Tingkat II &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;3. Kota Besar menjadi Kotapraja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 37.4pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1956 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1956 serta Petunjuk-petunjuk Menteri Dalam Negeri juga Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan tanggal 25 Februari 1957 Nomor 13 Tahun 1957 (yang diubah beberapa kali), terakhir dengan Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan tanggal 20 Desember 1957 Nomor 23 Tahun 1957 diadakan serentak Pemilihan Umum DPRD Swatantra Tingkat I dan Tingkat II/ Kotapraja di seluruh Wilayah Kalimantan Selatan (tidak termasuk lagi Kalimantan Tengah), masing-masing daerah telah tersusun dan dilantik pada pertengahan 1958. Kemudian menyusullah penyempurnaan Pemerintahan Daerah yang karena belum dapat dipilih oleh rakyat, dipilih oleh masing-masing DPRD. Adapun dasar dari pemilihan Kepala Daerah tersebut di atas adalah Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1957 tentang Penerapan Umum Mengenai Syarat-syarat Kecakapan Pengetahuan dan Cara serta Pengesahan Kepala Daerah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 37.4pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-undang Darurat Tahun 1953 menjadi Undang-undang maka Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan akhirnya mempunyai wilayah sebanyak tujuh Daerah Tingkat II / Kotapraja yang terdiri dari : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1. Daerah Kotapraja Banjarmasin dengan ibukotanya Banjarmasin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;2. Daerah Tingkat II Banjar dengan ibukotanya Martapura &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;3. Daerah Tingkat II Barito Kuala dengan ibukotanya Marabahan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;4. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan ibukotanya Kandangan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;5. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Tengah ibukotanya Barabai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;6. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Utara ibukotanya Amuntai &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;7. Daerah Tingkat II Kotabaru dengan ibukotanya Kotabaru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_5" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_5','_com_5')" onmouseout="msoCommentHide('_com_5')" href="#_msocom_5" language="JavaScript" name="_msoanchor_5"&gt;[R5]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Berdasarkan &lt;a style=""&gt;Undang Undang Darurat No.2 tahun 1953 &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_6" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_6','_com_6')" onmouseout="msoCommentHide('_com_6')" href="#_msocom_6" language="JavaScript" name="_msoanchor_6"&gt;[R6]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;(Lembaran Negara Tahun 1953 No.8) terbentuk Daerah Kalimantan dengan ibukotanya di Banjarmasin. Perkembangan ketatanegaraan, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan UU Nomor 25 tahun 1956 yang isinya membagi Kalimantan menjadi 3 (tiga) propinsi dan diberlakukan terhitung tanggal 1 januari 1957, maka Kalimantan menjadi Kalimantan timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Penjelasan UU nomor 25 tahun 1956 tersebut hanya menyatakan, bahwa Kalimantan Tengah Akan dibentuk menjadi propinsi otonom selambat-lambatnya dalam jangka waktu tiga (3) tahun, sebelumnya akan dibentuk terlebih dahulu daerah kerisedenan sebagai persiapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Akhirnya dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957, lembaran Negara Nomor 53 tahun 1957 dan Tambahan Lembaran Negara tahun 1957 Nomor 1284 tertanggal 23 mei 1957 dibentuklah Propinsi Kalimantan Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";color:navy;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.2.6.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Masa Eksploitasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; background: rgb(243, 243, 243) none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 41.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; border-collapse: collapse; font-family: arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 396pt;" valign="top" width="528"&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sejarah Kota &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pontianak&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan pada   tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka   hutan di persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai   Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal dan tempat   tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman   Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Perdagangan dan Pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman   Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat   pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman   Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis   Kecamatan Pontianak Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:&lt;br /&gt;1. Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808&lt;br /&gt;2. Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819.&lt;br /&gt;3. Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855.&lt;br /&gt;4. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872.&lt;br /&gt;5. Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895.&lt;br /&gt;6. Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944.&lt;br /&gt;7. Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945.&lt;br /&gt;8. Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;SEJARAH PEMERINTAHAN KOTA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kota Pontianak didirikan oleh Syarif   Abdurrahman Alkadrie (lahir 1742 H) yang membuka pertama Kota Pontianak, pada   hari Rabu tanggal 23 Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 14 Radjab 1185,   untuk kemudian pada Hijriah sanah 1192 delapan hari bulan Sja'ban hari Isnen,   &lt;b&gt;SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRIE &lt;/b&gt;dinobatkan menjadi &lt;b&gt;Sultan Kerajaan   Pontianak. &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Selanjutnya 2 tahun kemudian setelah   Sultan Kerajaan Pontianak dinobatkan, maka pada Hijrah sanah 1194 bersamaan   tahun 1778, masuk dominasi kolonialis Belanda dari Batavia (Betawi) utusannya   Petor (Asistent Resident) dari Rembang bernama WILLEM ARDINPOLA, dan mulai   pada masa itu bangsa Belanda berada di Pontianak, oleh Sultan Pontianak. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Bangsa Belanda itu ditempatkan di seberang Keraton   Pontianak yang terkenal dengan nama TANAH SERIBU (Verkendepaal). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Dan baru pada tanggal 5 Juli 1779, 0.1.   Compagnie Belanda membuat perjanjian (Politiek Contract) dengan Sultan   Pontianak tentang penduduk Tanah Seribu (Verkendepaal) untuk dijadikan tempat   kegiatan bangsa Belanda, dan seterusnya menjadi tempat/kedudukan Pemerintah   Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan   Borneo lstana Kadariah Barat), dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling   van Pontianak (Asistent Resident Kepala Daerah Kabupaten Pontianak) dan   selanjutnya Controleur het Hoofd Onderaffleeling van Pontianak/ Hoofd   Plaatselijk Bestur van Pontianak (bersamaan dengan Kepatihan) membawahi   Demang het Hoofd der Distrik Van Pontianak (Wedana) Asistent Demang het Hoofd   der Onderdistrik van Siantan (Ass. Wedana/ Camat) Asistent Demang het Hoofd   der Onderdistrik van Sungai Kakap (Ass. Wedana/Camat).&lt;br /&gt;Kronologis berdirinya Plaatselijk Fonds seterusnya Stadsgemeente, Pemerintah   Kota Pontianak, Kotapraja, Kota Besar, Kotamadya Dati 11 Pontianak dapat   diuraikan sebagai berikut : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PLATSELIJK FONDS &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Berada dibawah kekuasaan Asistent   Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (semacam Bupati KDH Tk. II   Pontianak). Plaatselijk Fonds merupakan badan, yang mengelola dan mengurus   Eigendom (milik) Pemerintah, dan mengurus dana /keuangan yang diperoleh dari   : Pajak, Opstalperceelen, Andjing Reclame, Minuman keras dan Retribusi Pasar,   penerangan jalan, semuanya berdasarkan Verordening/Peraturan yang berlaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Daerah kerja Platselijk Fonds adalah daerah   Verkendepaal (Tanah Seribu). Pimpinan Plaatselijk Fonds terdiri dari :   Voorziter (Ketua) Beheerder Staadfonds (Pimpinan selain Voorzter),   Sekretaris. Behercomisie dibantu beberapa Comisieleden (Pengawasan)   Plaatselijk Fonds, setelah pendaratan Jepang, praktis terhenti, terkecuali   soal kebersihan, dan bekerja kembali dengan pimpinan tentara Jepang, setelah   masuk tenaga sipil Jepang dan adanya Kenkarikan (semacam Asisten Resident)   Jepang, maka Platselijk Fonds dihidupkan kembali berganti nama SHINTJO yang   dipimpin orang Indonesia yaitu Alin. Bp. MUHAMMAD ABDURRACHMAN sebagai   SHINTJO dan untuk Pimpinan Pemerintah Sipil tetap ada Demang &amp; Ass.   Demang dengan nama Jepang adalah GUNTJO. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;STADSGEMEENTE (LAMDSHAAP GEMEENTE) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Berdasarkan Besluit Pemerintah Kerajaan   Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan/Goedgskeurd   de Resident der WesteraMeeling Van Borneo (Dr. J VAN DER SWAAL) menetapkan   sementara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi Syahkota pertama adalah R. SOEPARDAN, dan Syahkota melakukan   serah terima harta benda dan keuangan Platselijk Fonds pada tanggal 1 Oktober   1946 dari Staats Fonds MUHAMMAD ABDURRACHMAN. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Masa jabatan Syahkota R. SOEPARDAN 1   Oktober 1946 dan berakhir awal tahun 1948, untuk selanjutnya berdasarkan   penetapan Pemerintah Kerajaan Pontianak diangkat ADS. HIDAYAT, dengan jabatan   BURGERMESTER Pontianak sampai tahun 1950. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PEMERINTAHAN KOTA PONTIANAK &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pembentukan Stadsgerneente bersifat   sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak&lt;br /&gt;tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/I946/KP dirobah dan diperhatikan kembali   dengan Undang-Undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949   No. 40/1949/KP, memutuskan mulai dari tanggal Peraturan ini berlaku maka   Keputusan Pemerintah Kerajaan Pontianak bertanggal 14 Agustus 1946 No.   24/1/1946/KP dirubah dan diperhatikan kembali. Dalam undang-undang ini   disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah kota   Pontianak. Sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota   Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak   adalah NY. ROHANA MUTHALIB, sebagai wakil Walikota Pontianak, dan apa sebab   kedudukannya sebagai Wakil Walikota Pontianak, mengingat pasal 25 dari U.U.   Ketua Pontianak sebagai Walikota hanya dapat diangkat lelaki yang menurut   keputusan Hakim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Sebagai pengganti NY. ROHANA MUTHALIB,   oleh Pemerintah diangkat SOEMARTOYO, sebagai Walikota Besar Pontianak,   mengingat peralihan Kekuasaan Swapraja Pontianak kepada Bupati/Kabupaten   Pontianak tidak termasuk, maka Pemerintah Daerah Kota Besar Pontianak   berstatus Otonom. Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan   Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan LANDSCHAP   GEMEENTE, ditingkatkan menjadi KOTA PRAJA Pontianak. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum   dan Urusan Pemerintahan Daerah ( Otonomi Daerah ). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Selanjutnya perkembangan Pemerintah Kota   Praja Pontianak berubah dan sebutannya yaitu dengan berdasarkan Undang-Undang   No. 1 Tahun 1957 Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden   No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang   Undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja   Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja   Pontianak diganti menjadi KOTAMADYA PONTIANAK. Kemudian dengan Undang-Undang   No.5 Tahun 1974, maka sebutan/nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi   KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PONTIANAK. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22   Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah yang diterbitkan oleh Pemerintah   Republik Indonesia merubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat 11 Pontianak   menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="FootnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="FootnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Harry Widianta dan Retno Handini. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Ekskavasi Situs &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Gua &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Babi Tahap&lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;III &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;- &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;IV Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi Banjarmasin. 1998/1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; Sartono Kartodirdjo, ”Historiografi Tradisional, Modern , Fungsi dan Strukturnya&lt;i&gt;”, &lt;/i&gt;dalam &lt;i&gt;Makalah Simposium Internasional Ilmu Humaniora I, &lt;/i&gt;Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1993, hal. 7. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;a href="http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&amp;op=detail_provinsi&amp;amp;id_prov=19&amp;dt=sejarah&amp;amp;nm_prov=Kalimantan%20Selatan"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;http://www.depdagri.go.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; http://0141117.tripod.com/sejarah.htm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt; “Hikayat Banjar” adalah sebuah manuskrip tua yang telah lama dikenal di daerah Kalimantan Selatan sejak Zaman Kerajaan Banjar. Nama asli dari manuskrip tersebut beberapa macam, misalnya : Hikayat Lambung Mangkurat, Tutur Candi, Hikayat Raja-raja Banjar dan Kotawaringin, Cerita Lambung Mangkurat dan Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin. Tidak diketahui mengenai penulis Hikayat Banjar, tetapi satu hal yang jelas adalah penulis atau penyalinnya bukanlah satu orang Raja, melainkan ditulis dan/atau disalin dari sumber lisan oleh orang banyak. Oleh karena itu dapat dimengerti jika terdapat banyak koleksi naskah Hikayat Banjar yang tidak sama bentuk dan isinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Lihat J.J. Ras, &lt;i&gt;Hikayat Banjar: A Study in Malay Historiography, &lt;/i&gt;The Martinus Nijhoff, 1968&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;hal. 238. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Tentang Sarunai Fridolin Ukur menyebutnya sebagai sebuah kerajaan Orang Dayak Maanyan yang rusak oleh Jawa. Lihat .Fridolin Ukur, &lt;i&gt;Tanya Jawab Tentang Suku Dayak&lt;/i&gt;, BPK Gunung Mulia, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1977, hal. 46.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; A.B. Hudson, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Menurut Schrieke, Keling identik dengan Kediri Utara lihat B. Schrieke, &lt;i&gt;Indonesian Sociological Studies &lt;/i&gt;Part Two, N.V. Mijvarking van Hocke, Bandung, 1957, hal. l26. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;span style="color:black;"&gt;A. Van Der Ven, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal.93&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;span style="color:black;"&gt;M.Z. Arifin Anis,”Banjarmasih Sebagai Bandar Perdagangan Pada Abad XVII”.Dalam &lt;i&gt;Jurnal Vidya Karya &lt;/i&gt;Nomor 2, Oktober 2000&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;Banjarmasin, hal. 91&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lebih jauh tentang isi Proklamasi 11 Juni 1860, lihat Amir Hasan Kiai Bondan, &lt;i&gt;Suluh Sedjarah Kalimantan&lt;/i&gt;, Fadjar, Banjarmasin, 1953, hal. 51-53 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan H.G. Gusti Mayur, &lt;i&gt;Perang Banjar&lt;/i&gt;, CV. Rapi, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1979, hal. 60-61. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Soenarto &lt;i&gt;et al&lt;/i&gt;., &lt;i&gt;ibid., &lt;/i&gt;hal. 32-33. Lihat pula Depdikbud, &lt;i&gt;Sejarah Daerah Kalimantan Selatan&lt;/i&gt;, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1977/1978, hal. 64-65 yang terdiri dari 3 afdeling yaitu Afdeling Banjarmasin, Afdeling Martapura dan Afdeling Amuntai. Bandingkan dengan Amir Hasan Kiai Bondan, &lt;i&gt;op.cit., &lt;/i&gt;hal. 192-194. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; M. Idwar Saleh &lt;i&gt;et al, Sejarah Daerah Tematis Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan&lt;/i&gt;, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 1978/1979, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;bagian ini diambil dari anonim (1978),&lt;i style=""&gt;sejarah daerah Kalimantan Selatan. &lt;/i&gt;Departemen pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta;Gusti Mayur H (1979). &lt;i style=""&gt;Perang Banjar&lt;/i&gt;. CV Rapi. Banjarmasin dan Anonim (2002)&lt;i style=""&gt;Sejarah kaimantan Tengah.&lt;/i&gt;Draft-3.Naskah Belum diterbitkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Kodam X/LM, &lt;i&gt;loc.cit&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Alex A. Koroh, &lt;i&gt;op.cit&lt;/i&gt;, hal. 58.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Alex A. Koroh, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hal. 59.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Alex A. Koroh, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hal. 60.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Alex A. Koroh, &lt;i&gt;loc.cit&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:black;"&gt;Kodam X/LM, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hal. 574&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;span style="color:black;"&gt;Kodam X/LM, &lt;i&gt;loc.cit&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Kodam X/LM, &lt;i&gt;loc.cit&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";color:black;" &gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; Kodam X/LM, &lt;i&gt;ibid&lt;/i&gt;, hal. 576. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" class="msocomoff" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_1" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_1" class="msocomoff"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Masukkan kedalam sejarah saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_2" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_2','_com_2')" onmouseout="msoCommentHide('_com_2')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_2" class="msocomoff"&gt;[R2]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kerajaan islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_3" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_3','_com_3')" onmouseout="msoCommentHide('_com_3')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_3" class="msocomoff"&gt;[t3]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Lebih detail permasalajhan migrasi penduduk cari di Bab 8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_4" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_4','_com_4')" onmouseout="msoCommentHide('_com_4')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_4" class="msocomoff"&gt;[R4]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="IT" &gt;Cek lagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum 1865 kalseltim dikuasai secara tidak langsung oleh VOC, Kekalahan Pada perang Banjar menyebabkan kerajaan Banjar dan Bawahannya di kuasai penuh kecuali Kalteng karena mereka masih berperang sampai tahun 1905&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_5" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_5','_com_5')" onmouseout="msoCommentHide('_com_5')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_5" class="msocomoff"&gt;[R5]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari sejarah banjar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_6" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_6','_com_6')" onmouseout="msoCommentHide('_com_6')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114537952353709117?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114537952353709117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114537952353709117&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537952353709117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537952353709117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/sejarah-perkembangan-penduduk-di.html' title='Sejarah Perkembangan Penduduk di Kalimantan'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114537716401357403</id><published>2006-04-18T23:19:00.001+07:00</published><updated>2006-11-28T22:09:05.696+07:00</updated><title type='text'>Posisi Geo-Politik</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" class="Section1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.4.1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sejarah Geopolitik &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_1" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')" href="#_msocom_1" language="JavaScript" name="_msoanchor_1"&gt;[t1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="display: none;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Bangsa-bangsa Eropa pertama kali datang ke daerah pesisir &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt; pada permulaan Abad ke -16.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Waktu itu mereka menemui beberapa kerajaan Islam yang tersebar, terletak pada lokasi yang strategis untuk mengatur pengangkutan hasi hutan yang datang melalui sungai – sungai besar di &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bangsa Eropa yang pertama kali datang adalah &lt;i style=""&gt;Ludovico da Varthema&lt;/i&gt; dari Italia, yang datang pada tahun 1504&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan tahun 1507.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian bangsa Portugis datang ke Borneo, khususnya ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada tahun 1521 salah seorang penulis perjalanan terakhir &lt;span style="background: silver none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;Magellan&lt;/span&gt;, yaitu Anton Pigafetta, mengunjungi istana sultan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang megah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah itu penjajah Spanyol kadang-kadang melakukan perampasan terhadap &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dari pangkalannya Filipina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Dari kontak awal dengan bangsa-bangsa Eropa ini, seluruh pulau ini dikenal sebagai Borneo, nama yang diambil dari kata &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan nama Kalimantan berasal dari kata Lamanta (sagu mentah) tetapi kemudian di ubah oleh orang Jawa menjadi Kalimantan yang berarti “sungai yang berbatu mulia”, suatu sebutan bagi pulau ini yang sangat kaya akan emas dan intan (Ave dan King 1986).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pedagang Eropa yang pertama hanya memperhatilan perdagangan dengan penduduk pesisir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baru pada abad ke-19 daerah pedalaman juga berada dibawah kontrol bangsa Belanda dan Inggris yang menguasainya sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daerah jajahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kapal-kapal perdagangan Belanda singgah di Kepulauan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; pada akhir abad ke-16 dan mulai melakukan pemetaan pulau &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam 200 tahun terakhir selanjutnya perusahaan perdagangan Belanda mencoba untuk memantapkan kehadirannya di Borneo melalui pengontrolan perdagangan emas, intan dan lada, namu usaha ini tidak selalu berhasil. Pada awal tahun 1800-an, Belanda menjalin kerja sama dengan sultan-sultan &lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Pontianak&lt;/st1:city&gt; dan Sambas, terakhir pada tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1840 Belanda berhasil menegakan kedaulatannya di &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini didorong barangkali oleh kehadiran Inggris di Borneo Utara, terutama Serawak yang diserahkan oleh Sultan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Brunei&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kepada James Brooke pada tahun 1842, yang kemudian berlangsung selama 100 tahun.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemerintahan ini dikenal dengan “Raja Putih untuk Serawak” sampai Jepang menguasainya pada tahun 1942.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagian-bagian lain seperti bagian utara dan timur laut &lt;st1:place st="on"&gt;Borneo&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berada dibawah kekuasaan perusahaan perdagangan Inggris.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penjajahan di Borneo ini mendorong pembukaan hutan untuk mendirikan hutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Kalimantan Kaya dengan hutan dan dibawahnya terdapat sumber-sumber mineral serta luasnya lahan menjadi daya tarik yang sejak dulu untuk menguasai daerah-daerah dipulau ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sampai Sekarang ini &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; di pandang sebagai sumber pendapatan (devisa negara).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Dimulai dengan Kayu yaitu menjamurnya perusahaan dan industri kehutanan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;Kegiatan ini dibarengi dan dilanjutkan dengan aktivitas pertambangan besar-besaran seperti batu bara dan Emas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Disamping itu sumber Migas menjadi andalan negara pada daerah ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Menurunnya atau bangrutnya Industri Kehutanan kemudian pihak luar memandang &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; sebagai sumber lahan dan tentunya sisa-sisa kayu dari HPH yang belum habis di tebang menjadi peluang untuk mengembangkan industri Perkebunan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baik itu Perkebunan Kelapa Sawit maupun Kebun Kayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Secara kolonialisasi, &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; dipandang sebagai tempat yang luas untuk memukimkan penduduk luar ke Pulau ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kemudian pada saat kemerdekaan, program seperti ini terus dilanjutkan oleh pemerintah RI yaitu dengan pola transmigrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Banyaknya jenis enemik pada flora &amp; fauna telah menarik pihak-pihak lain untuk melakukan kegiatan Konservasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini menyebabkan banyaknya negara-negara luar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maupun lembaga konservasi tertarik datang ke Kalimantan untuk melakukan kegiatan pengelolaan konservasi pada kawasan-kawasan tersebut, baik itu untuk kepentingan konservasi murni atau ada agenda lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena belakangan ini isu konservasi terutama penyelamantan satwa dan penjualan karbon dinilai sebagai sesuatu yang ”menghasilkan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.4.2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Potensi Kalimantan menurut cara pandang kepentingan politik regional, nasional dan Internasional (BIM-PEAGA, Kesepakatan Gubernur dll)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pulau Kalimantan memiliki dipandang sebagai &lt;i style=""&gt;prime-mover&lt;/i&gt; pengembangan wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;. RTRW Pulau Kalimantan secara regional dirancang untuk mengakomodasikan kebijakan-kebijakan pengembangan KTI agar berbagai upaya pembangunan lintas wilayah dan lintas sektor dapat berjalan secara serasi, selaras, saling menguatkan (sinergis), dan dapat memberikan &lt;i style=""&gt;multiplier effect&lt;/i&gt; yang besar bagi kawasan-kawasan di sekitarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0cm 0cm 6pt 36pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Berdasarkan arah pengembangan RTRW Nasional telah disusun 7 (tujuh) kebijakan pokok pengembangan KTI, yang juga berlaku untuk pengembangan wilayah Pulau Kalimantan. Adapun 7 (tujuh) kebijakan pokok tersebut yang berlaku untuk wilayah Pulau Kalimantan meliputi : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 0cm 0cm 6pt 51.3pt; text-align: justify; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pembangunan KTI dikembangkan secara terpadu lintas wilayah administrasi dan lintas sektor dengan memanfaatkan RTRWN, RTRW Pulau dan RTRW Propinsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pengembangan kawasan-kawasan prioritas dalam rangka percepatan pertumbuhan wilayah KTI (KAPET sebagai &lt;i style=""&gt;unit corporate&lt;/i&gt; mandiri ; kawasan cepat tumbuh dan potensial tumbuh ; kawasan KESR BIMP-EAGA melalui peningkatan kerjasama lintas negara) ; serta tanpa melupakan kawasan tertinggal seperti kawasan pesisir dan terisolasi di pedalaman/perbatasan di Kalbar dan Kaltim ; kawasan hulu sungai di Kalteng (Kahayan, Barito, Katingan, Mentaya, Seruya).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pengembangan kawasan perbatasan sebagai kawasan depan yang dilakukan dengan memadukan pendekatan &lt;i style=""&gt;prosperity&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;security&lt;/i&gt;, seperti pada kawasan perbatasan Kalbar (Entikong, Nagabadau) dan Kaltim (Nunukan) dengan Negara Bagian Sarawak (Kuching) dan Sabah (Kinabalu).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;Simpul-simpul utama KTI didorong sebagai pusat/hub ekonomi wilayah Timur Indonesia ke pasar internasional yang didukung oleh pengembangan industri pengolahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;Simpul-simpul utama di Kalimantan yang juga merupakan kota-kota nasional, meliputi : Pontianak, Sampit, Palangkaraya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banjarmasin, Tarakan, Bontang, Nunukan, Balikpapan, dan Samarinda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;Wilayah KTI merupakan sentra pendukung ketahanan pangan nasional yang diarahkan untuk mendukung kebijakan substitusi import bahan pangan. Hal ini dicapai melalui pengembangan pola agroindustri terpadu dengan mengembangkan potensi pertanian skala besar (&lt;i style=""&gt;agriculture estate&lt;/i&gt;) yang dilengkapi dengan sistem manajemen modern berbasis teknologi (&lt;i style=""&gt;technology-based farming system&lt;/i&gt;), serta memiliki akses ke sentra produksi dan pasar regional/internasional dengan memanfaatkan pelayanan prasarana dan sarana yang tersedia. Kawasan-kawasan strategis yang merupakan sentra produksi tanaman pangan di Pulau Kalimantan, meliputi : di Kalbar (Pontianak dsk, KAPET Sanggau, Singkawang dsk, Ketapang dsk, dan Kapuas Hulu dsk) ; di Kalteng (KAPET DAS Kakab, Sampit dsk, Pangkalan Bun dsk, Buntok dsk, Muara Teweh dsk) ; dan di Kalsel (Banjarmasin Raya dsk, Pahuluan dsk).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;Wilayah KTI merupakan sentra pengembangan kelautan terpadu dengan memperhatikan peningkatan kemampuan teknologi kelautan dan perikanan secara bertahap ; pemanfaatan sumber daya alam yang belum tergali secara berkelanjutan ; pengembangan tidak terfokus pada kawasan pesisir saja (namun termasuk pula kawasan yang lebih luas, yakni jembatan menuju pasar dunia). Dalam hal ini, laut merupakan alat pengawal dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan NKRI. Sentra-sentra pengembangan kelautan di Pulau Kalimantan meliputi : di Kalbar (KL Ketapang dsk dan KL Natuna dsk) ; di Kalteng (KL Kuala Pembuang dsk) ; di Kalsel (KL Pulau Laut dsk) ; di Kaltim (KL Bontang). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 51.3pt; text-indent: -15.3pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;Wilayah KTI merupakan sentra pengembangan potensi sumber daya alam yang berorientasi ekspor, dengan tetap mendorong peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Kalimantan Barat terletak dan dilalui garis Khatulistiwa dan berbatasan dengan Malaysia (Sarawak), sebelah Selatan dengan Laut Jawa, sebelah Barat dengan Selat Karimata dan di sebelah Timur dengan Prop. Kaltim &amp; KalTeng. Kondisi Kalimantan sangatlah diperebutkan dan banyak pihak-pihak yang menganggap dirinya sangat berkepentingan dalam melakukan pembangunan dan pengembangan di Kalimantan yang sifat eksploitatif. Ini dapat dilihat dari berbagai Forum kesepakatan yang telah dibuat oleh pemerintah/Negara, guna memudahkan akses dan menjalin kerjasama dalam membangunan kawasan yang bertaraf internasional. Dari kepentingan regional sendiri, Kalbar merupakan salah satu dan juga satu-satunya pintu masuk untuk berhubungan dengan Negara satu rumpun diatas pulau Kalimantan yang masih masuk ke dalam kesatuan Pulau Borneo. Dengan kondisi demikian dibuat suatu kerjasama &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Sosek Malindo&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt; yang berkeinginan dalam berinvestasi di wilayah Kalimantan investor dari Malaysia &amp;amp; Brunei dapat dengan mudah masuk dan melakukan kegiatan eksploitasi atas kepentingan dan kesatuan region Boreno. Selain itu juga dalam menjaga pembangunan serta persatuan &amp; kesatuan bangsa, pemerintah membentuk suatu program KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) yang lebih dititk beratkan pada pengembangan kawasan di belah Timur dengan membangun kegiatan ekonomi seperti perkebunan skala besar, pertambangan serta kehutanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Dari politik nasional Indonesia dan internasional, kawasan Kalimantan sangatlah berpotensi dalam menjaga persatuan dan kesatuan kawasan Indonesia, dimana merupakan perbatasan secara langsung baik itu darat maupun air/laut. Ini memungkinkan banyaknya dibangun pos-pos militer maupun polisi untuk mengantisipasi serangan dari luar katanya pemberontak. Memang hal ini berlebihan, mungkin karena sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan dalam memerdekakan dan merebut hak-haknya sebagai satu kesatuan suku yang mendapatkan pengakuan di nasional maupun internasional. Ini diwujudkan dengan ketakutan pemerintah khususnya pihak keamanan, dengan alasan menjaga stabilitas nasional dari indikasi munculnya kembali &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Peraku&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt; (Pergerakan Rakyat Kalimantan Utara) yan memang berlokasi di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Di dalam perekonomian Borneo (Indonesia, Brunai, Sarawak), jalur Kalimantan Barat merupakan jalur yang sangat potensial untuk berhubungan dengan selat terpadat (Selat Malaka) sebagai jalur transportasi laut terpadat. Selain itu juga di dalam pengembangan melalui darat Kalimantan Barat menjadikan sentra segitiga Emas (Kalbar-Serawak-Brunai) dalam memenuhi kebutuhan pengembangan &amp; pembangunan perekonomian di 3 wilayah tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MMTopic5" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Jadi sangatlah wajar, apabila Kalimantan Barat tersebut bisa dibilang lebih berbeda dari Kalimantan lainnya (KalTim, Kalsel, Kalteng), mengapa demikian karena dari segi social budaya sangatlah kental dipengaruhi oleh budaya Melayu dan menjadi penopang jalur lalulintas barang komoditi ke luar negeri melalui Laut Cina Selatan langsung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 120%;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 120%;" lang="FI"&gt;Kesepakatan Gubernur Kalimantan : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="FI" &gt;Atas inisiatif Pemerintah Propinsi se-Kalimantan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada tanggal 31 Mei 2002 di Jakarta yang baru lalu telah dilakukan penandatanganan &lt;b style=""&gt;Kesepakatan Kerjasama&lt;/b&gt; antara Depkimpraswil dengan Pemerintah Propinsi se-Kalimantan, untuk perwujudan tata ruang pulau Kalimantan. Dalam kaitan ini, peran Depkimpraswil adalah memberikan fasilitasi penataan ruang wilayah pulau agar percepatan pembangunan Pulau Kalimantan sebagai bagian dari agenda nasional untuk percepatan KTI dan pemantapan pelaksanaan otonomi daerah dapat dicapai. Apabila dikaitkan dengan rencana pembangunan transportasi jalan rel, maka RTRW Pulau diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai landasan pelaksanaan prinsip sinergitas pembangunan dan pengelolaan kompetisi (&lt;i style=""&gt;managed competition&lt;/i&gt;) untuk mencapai kesepakatan atas pengelolaan dan pengembangan prasarana dan sarana transportasi jalan rel, serta sekaligus meminimalkan terjadinya potensi konflik lintas wilayah dan lintas sektor.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; width: 423pt; margin-left: 41.4pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="564"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="display: none;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 423pt;" valign="top" width="564"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="display: none;"&gt;   &lt;td style="border-style: none none solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 423pt;" valign="top" width="564"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 50%; width: 423pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="564"&gt;   &lt;h3 style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;BOX: Perjanjian Perdagangan Lintas-Batas Indonesia Malaysia 1970-1991&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Pada tahun 1970 (Kabupaten Bulungan),   telah diatur perdagangan lintas batas antar Negara Indonesia dan Kerajaan   Malaysia ditandatangani pada 24 Agustus 1970, sebagai pelaksanaan dari pasal   IX &lt;b&gt;Basic Agreement on Border Crossing&lt;/b&gt; (26 Mei 1967) dan merupakan   pelaksanaan dari &lt;b&gt;Basic Agreement on Trade and Economic Relation&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Ketentuan   perjanjian tersebut mengatur:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Perdagangan   lintas-batas hanya dapat dilakukan oleh penduduk di daerah perbatasan dan   memiliki Pas Lintas Batas (PLB) dengan nilai barang yang dibawa tidak   melebihi 600 dolar &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;   per bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Untuk   perdagangan melalui lautan hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kapal   motor tidak melebihi 20 meter kubik dan nilai barang tidak melebihi 600 dolar   Malaysia untuk setiap perahu dalam satu kali pelayaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12.6pt; text-align: justify; text-indent: -9pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Barang   yang diuperjualbelikan antara lain: dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;:   hasil pertanian dan hasil bumi di daerah perbatasan – tidak termasuk minyak   mineral dan biji tambang – dan dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;   barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari/ konsumsi, peralatan dan   perlengkapan industri dalam daerah perbatasan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada   tanggal 12 Mei 1984 ditandatangani Persetujuan Lintas-Batas Indonesia –   Malaysia yang mengatur ketentuan baru, yaitu syarat-syarat pelintas batas   yang diperbolehkan keluar / masuk daerah Indonesia – Malaysia. Dalam &lt;b&gt;“Agreement   Minutes of The Meeting of The Indonesia-Malaysia Joint Commission on Trade”&lt;/b&gt;   di Jakarta 1 – 2 April 1986, staf senior kedua negara berusaha untuk   menyepakati ddinaikannya nilai barang yang dapat dibawa melalui perbatasan   dari 600 dolar Malaysia menjadi 3.000 dolar Malaysia per bulan/ orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Pada   tahun 1989, Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur dan Kerajaan Negara   bagian &lt;st1:place st="on"&gt;Sabah&lt;/st1:place&gt; melakukan kesepakatan mengenai &lt;b&gt;Record   Of Agreement (ROA)&lt;/b&gt; sebagai landasan dari kerjasama yang akan dilaksanakan   bersama. Pada tahun 1991, Sabah Kalimantan Timur sepakat membentuk &lt;b&gt;Joint   Working Commite (JWC)&lt;/b&gt; untuk menyusun &lt;b&gt;Letter Of Intent (LOI)&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Memorandum   Of Understanding (MOU)&lt;/b&gt; bidang sosial ekonomi. Konsep LOI dan MOU diatas   telah disetujui oleh Pemerintah Pusat Indonesia di Jakarta, tetapi sebaliknya   Pemerintah Kerajaan Federal Malaysia tidak menyetujui karena masalah politik   intern &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.   Pada saat yang sama, menurut Pemerintah Daerah Kalimantan Timur (1991) Warga   Negara Indonesia di Sabah Malaysia diperkirakan sebesar 300 ribu orang yang   bekerja diberbagai bidang, mulai bekerja di perkebunan kelapa sawit, pembantu   rumah tangga, pelayan toko, buruh bangunan, wanita tuna susila, menganggur   karena ikut keluarga. Mereka berasal dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa   Tengah, NTT, Kalsel, Kaltim dan NTB.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 3.6pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Pada   putaran diskusi kedua negara dilanjutkan, pada tahun 1995 pada sidang ke 39   tanggal 11 – 14 Oktober 1995 dan sidang GBC Malaysia ke 24 tanggal 9 Januari   1996 tentang Keputusan Resmi pembentukasn JKK/KK (Kelompok Kerja) Sosial   Ekonomi (Sosek) Malindo Peringkat Negeri Sabah/ Daerah Kaltim. Pada putaran   sidang ke 8 KK/JKK Sosek Malindo Tingkat Daerah Kaltim Peringkat Negeri Sabah   Tanggal 5 – 7 Agustus di Surabaya Jawa Timur. Pada putaran Sidang ke 21   KK/JKK Sosek Malindo Tingkat Pusat tanggal 10 – 11 September 2004 di Solo   Jawa Tengah, kemudian rapat teknis Sosesk Malindo Tingkat Daerah   Kaltim/Peringkat Negeri Sabah dan Pertemuan Sidang Segi Empat Sosesk Malindo   Kalimantan Timur – Sabah – Serawak – Kalimantan Barat di Hotel Bina Kutai   Balikpapan tanggal 11 – 14 Juli 2004. Tujuan sidang putaran Balikpapan tahun   2004, adalah: 1) Merumuskan kebijakan yang ditempouh dalam kerjasama   Bilateral Indonesia Malaysia, khususnya kerjasama KK/JKK Pembangunan Sosio –   Ekonomi Perbatasan, 2) Melakukan evaluasi kesepakatan yang telah diambil   dalam pertemuan sebelumnya, baik tingkat Daerah/Negeri maupun tingkjat Pusat   dan penyempurnaan kebijaksanaan dalm meningkatkan pelaksanaan kedua Daerah/   Negeri. Pembahasdanb sidang putaran &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Balikpapan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;   adalah:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1) Pembangunan Pos Lintas   batas Darat – Laut, 2) Penanggulangan Penyelundupan, 3) Sosial Budaya, 4)   Pendidikan dan 5) Kesehatan, disamping itu proposal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;program kerjasama Kalimantan Timur –   Serawak. Proses putaran sidang-sidang tidak banyak merndapat hasil yang   diharapkan bagi perbaikan sektor industri kehutanan dan perdagangan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;,   karena proses penyelundupan kayu dan barang konsumsi terus berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse; display: none;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="display: none;"&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="display: none;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 73.8pt;" valign="top" width="98"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="line-height: 120%;font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.4.3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepentingan Proyek Kerja Internasional, Lembaga Keuangan Internasional (WB, ADB, IMF dll)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Dikalimantan tengah untuk proyek bersama WB di lakukan pada Program Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang sudah dilakukan pada tahun 2001 yang meliputi beberapa kabupaten yaitu katingan,KOTIM dan Seruyan &lt;i style=""&gt;(tidak ada data)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;Berdasarkan RTRWP 2003(hasil revisi) terdapat rencana pembuatan jalan antara Tumbang samba (katingan)dengan Nanga bulik atas usulan JICA &lt;i style=""&gt;(tidak ada data)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A.4.4.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kekuatan Politik Pemerintahan (Partai di DPRD &amp; Pimpinan Daerah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Partai Politik Pemenang Pemilu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Berdasarkan hasil pemilu tahun 2004 di Kaimantan Tengah,dari 24 partai politik peserta pemilu,11 partai politik yang memperoleh suara terbanyak. Untuk DPRD Propinsi adalah : Partai Golkar 25,99%,PDIP sebesar 20,63%,PPP sebesar 7,84%, partai Demokrat sebesar 7,52%,PAN sebesar 6,18%,PKB sebesar 4,29%,PBR sebesar 3,87%,PKS sebesar 3,15%,PBB sebesar 3,05%, PDS sebesar 2,92%. Sedangkan untuk paratipartai lainnya jumlah suara yang dikumpulkan atau diperoleh tidak lebih dari 25 suara atau 2% dari total jumlah pemilih sebesar 868.067 orang (KTDA 04).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di empat kabupaten (Katingan,GUMAS,MURA dan BARUT) pada pemilihan umum tahun 2004 yang lalu suara tebanyak di peroleh oleh PDIP. Begitu juga halnya dengan pemilihan untuk anggota DPRD kota dan Kabupaten. Untuk daerah Kabupaten KOBAR,KOTIM,Kapuas,BARSEL,Pulang Pisau,BARTIM dan Palangkaraya sura terbanyak diperoleh oleh Partai GOLKAR. Kekuatan politik di pemerintahan Kabupaten dan kota lebih banyak di dominasi dan di dukung oleh partai besar seperti PDIP dan GOLKAR. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(&lt;a href="kalteng/SOB%20literatur%20research%20report-General%20kalteng%20province/outline%20report/Lampiran/Excel/Hasil%20pemilu%202004%20kalteng,BPS,2004.xls"&gt;tabel hasil pemilu 2004&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di Kalimantan Selatan, Partai – partai lama seperti Gorkar, PPP dan PDI Perjuangan menguasai seluruh Kabupaten di Kalsel pada posisi 3 Besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hanya beberapa daerah partai baru seperti PKS dan PKB bisa memenangkan Pemilu (&lt;a href="lampiran/Partai%20politik%20pemenang%20pemilu%20per%20kabupaten%20kalsel.doc" title="Partai Pemenang Pemilu Kalsel"&gt;lihat tabel hasil pemilu&lt;/a&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di Kabupaten Pasir, Dilihat dari unsur yang duduk dalam keanggotaan DPRD Kabupaten Pasir periode 2004 - 2009 jumlah anggota dewan sebanyak 25 orang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terdiri dari 3 fraksi, yaitu fraksi Partai Golkar (11), fraksi Partai Persatuan Pembangunan (7), dan fraksi Ukhuwah (6)&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Di Kabupaten Kutai Barat yang merupakan wilayah Administrasi dari GB Meratus dan Muller unsur yang duduk dalam keanggaotaan Dewan Perwa-kilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2003 sebanyak 25 orang. Dimana 12 Anggota DPRD merupakan wakil dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 6 orang berasal dari Partai Golongan Karya (GOLKAR), 3 orang berasal dari TNI/POLRI dan untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(PAN), PDKB dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB masing-masing) sebanyak 1 orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pimpinan Daerah Pada Pilkada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Berdasarkan hasil Pilkada dengan melihat pemimpin (Bupati) yang masih bertarung dan memenangkan Pilkada ada 13 bupati sedangkan bupati baru hanya berjumlah 8.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebanyakan kabupaten yang berada dikawasan Green Belt adalah bupati lama dan di calonkan oleh partai-partai lama, sehingga kemungkinan besar pola pembangunan akan masih mengikuti cara-cara dulu yang cendrung eksploitatif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gambaran pemengan Pilkada dapat dilihat pada peta di bawah ini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:351pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Riza\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="pilkada"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 442.8pt;" valign="top" width="590"&gt;   &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 35.9pt 0.0001pt 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Box :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 35.9pt 0.0001pt 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 35.9pt 0.0001pt 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;KESEPAKATAN KESEPAKATAN   BERSAMA BERSAMA ANTARA ANTARA GUBERNUR &lt;st1:place st="on"&gt;KALIMANTAN&lt;/st1:place&gt;   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 35.9pt 0.0001pt 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;DENGAN BUPATI/ WALIKOTA SE DENGAN BUPATI/ WALIKOTA SE-KALIMANTAN TIMUR &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin: 0cm 35.9pt 0.0001pt 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanggal 12 Januari 2006 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Pengurangan pengurangan kawasan kawasan budidaya budidaya kehutanan   kehutanan yang yang sebelumnya sebelumnya seluas seluas + 9.774.753,19 ha   menjadi seluas 9.774.753,19 ha menjadi seluas + 7.653.565,36 ha 7.653.565,36   ha (39 (39,14 14 % ) . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Penambahan kawasan budidaya non kehutanan yang penambahan kawasan   budidaya non kehutanan yang sebelumnya seluas sebelumnya seluas +   5.170.784,60 ha menjadi seluas 5.170.784,60 ha menjadi seluas + 6.520.622,73   ha 6.520.622,73 ha (33,36 %). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Penambahan kawasan lindung penambahan kawasan lindung termasuk hutan   penelitian termasuk hutan penelitian yang sebelumya seluas yang sebelumya   seluas + 4.604.972,75 ha menjadi seluas 4.604.972,75 ha menjadi seluas +   4.951.853,64 ha 4.951.853,64 ha (25,33 %). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;Kawasan strategis nasional (radius 5 km sepanjang garis kawasan strategis   nasional (radius 5 km sepanjang garis perbatasan negara) seluas perbatasan   negara) seluas + 424.516,12 ha 424.516,12 ha (2,17 %) &lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="Default"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default" style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;(2,17 %).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 16.65pt; text-align: justify; text-indent: -16.65pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dari total share PDB wilayah KTI terhadap perekonomian nasional (19%), maka share Pulau Kalimantan adalah yang terbesar (8%), sementara wilayah lainnya seperti Sulawesi (5%), Papua (3%), Nusa Tenggara (1,5%) dan Maluku (1,5%). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pasir dalam Angka, 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="Default"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" lang="ES-CL" &gt;Usulan Program Prioritas Tahun 2007 Program Prioritas Tahun 2007 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;Provinsi Kalimantan Timur,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Musrenbangnas April 2006 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" class="msocomoff" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;  &lt;div id="_com_1" class="msocomtxt" language="JavaScript" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a name="_msocom_1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoCommentText"&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a href="#_msoanchor_1" class="msocomoff"&gt;[t1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari Ekologi Kalimatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;informasi lebih lanjut hubungi
nordin (Nordin1211@yahoo.com.sg)
Riza (harizajudin@gmail.com)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25994345-114537716401357403?l=soborneo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://soborneo.blogspot.com/feeds/114537716401357403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25994345&amp;postID=114537716401357403&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537716401357403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25994345/posts/default/114537716401357403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://soborneo.blogspot.com/2006/04/posisi-geo-politik.html' title='Posisi Geo-Politik'/><author><name>Save Our Borneo Movement</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04389448509734952568</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25994345.post-114537717313232950</id><published>2006-04-18T23:19:00.000+07:00</published><updated>2006-11-28T21:57:06.706+07:00</updated><title type='text'>Penduduk Kalimantan Dulu dan Sekarang</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Secara Umum Kondisi Penduduk Pulau Kalimantan sekarang ini berdasarkan jumlahnya dari data BPS adalah seperti berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable"  style="width: 396.65pt; margin-left: 4.75pt; border-collapse: collapse;font-family:arial;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="529"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td rowspan="2" style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Propinsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 270pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="360"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jumlah   Penduduk (BPS)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kepadatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1995&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2002&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2003/&lt;span style="color:blue;"&gt;04&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3.635.730,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3.740.017,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;4.167.293,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  &gt;4.033.234&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1.627.453,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1.801.504,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1.947.263,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   Selatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2.893.477,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2.970.244,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3.054.129,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  &gt;3.267.282(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2,04%)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalimantan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2.314.183,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2.436.545,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2.566.125,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.704.851   /&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="IN" &gt;2.750.369&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;14,13&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 72.65pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="97"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jumlah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;10.470.843,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;10.948.310,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 63pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="84"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;11.734.810,00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 81pt; height: 12.75pt;" valign="bottom" width="108"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt; height: 12.75pt;" nowrap="nowrap" valign="bottom" width="72"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Hasil susenas, 2002.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diambil dari profil tataruang per-propinsi 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:85%;"&gt;Jumlah penduduknya&lt;span style="background: red none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;11 juta (2002)&lt;/span&gt; , dengan kepadatan penduduk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;22 orang/km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Laju pertumbuhan penduduk 1990 – 2000 adalah 1,87 %.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt; text-indent: -27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A.3.1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kondisi Penduduk Berdasarkan Suku bangsa yang ada di Kalimantan dan perkembangan dan penyebaran menurut waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default"  style="margin: 0cm 0cm 6pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Suku Dayak sebenarnya adalah nama kolektif puluhan suku, sub suku dan sub-sub suku. Beberapa kategorisasi digunakan pada masyarakat Dayak, tetapi pada umumnya bisa disebutkan bahwa kelompok induk Dayak terdiri dari Ngaju–Ot Danum, Iban, Punan, Kenyah Kayan, Lun Dayeh dan Land Dayak sebagai kelompok utama di Kalimantan (Avé 1996 : 4). Menurut klasifikasi Mallinckrodt, yang sedikit berbeda dari yang disebut di atas, yakni ada enam suku induk Dayak utama. Kelompok &lt;b style=""&gt;pertama&lt;/b&gt;, Kenya – Kayan – Bahhau, yang pada umumnya mendiami daerah Kalimantan Timur.&lt;b style=""&gt; Kedua&lt;/b&gt;, suku Ot Danum mendiami Kalimantan Tengah. &lt;b style=""&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, suku Iban tinggal di daerah Malaysia Timur, Sabah dan Kalimantan Timur. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;, kelompok Murut, yang pada umumnya di Malaysia Timur, bagian Sabah dan bagian utara Kalimantan Timur. &lt;b style=""&gt;Kelima&lt;/b&gt;, kelompok Klemantan, juga sering diklasifikasikan sebagai Dayak Darat yang tinggal di Kalimantan Barat dan &lt;b style=""&gt;Keenam&lt;/b&gt;, kelompok Punan yang pada umumnya tinggal di pedalaman Kalimantan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Default"  style="margin: 0cm 0cm 6pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kita harus mengetahui bahwa dewasa ini bahasa dan latar belakang etnis Dayak tidak selalu mengikuti wilayah yang sama. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kadang-kadang kelompok terpisah dari sub suku yang pindah ke daerah lain, karena kesempatan ekonomi atau alasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;n lain. Masyarakat itu membawa bahasa dan kebudayaan sendiri. Bahasa mungkin berubah sedikit, tetapi budaya dapat berubah dengan cepat sesuai dengan lingkungannya. Misalnya, ada informan yang mengatakan, bahwa ada kelompok orang Iban yang baru pindah pada waktu Perang Dunia Kedua dari Sarawak ke Kalimantan Barat (Kalbar). Alasan mereka pindah karena hidup di Sarawak terlalu berat dibandingkan dengan hidup di Kalbar khususnya pada waktu Jepang menduduki Borneo. Setelah perang selesai, kelompok Iban tidak kembali ke tempat asalnya.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_1" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_1','_com_1')" onmouseout="msoCommentHide('_com_1')" href="#_msocom_1" language="JavaScript" name="_msoanchor_1"&gt;[R1]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak literatur tentang suku-suku yang mendiami pulau &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; namun belum ada secara konfehensif secara pasti membuat peta sebaran suku-suku tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suku bangsa Dayak saja, menurut hasil penelitian awal seperti Tjilik Riwut (1958 &amp; 1979), A.B Hudson(1967), Ukur(1972) terbagi kedalam paling sedikit 405 sub etnis. Nama-nama sub etnis itu pada umumnya dibuat sendiri oleh masing-masing sub kelompok etnis berdasarkan ciri-ciri tempat tinggal seperti daerah aliran sungai dan daerah pedalaman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan data yang dikutif dari &lt;a href="http://www.ethnologue.com/"&gt;http://www.ethnologue.com&lt;/a&gt; terdapat sebanyak &lt;a href="literatur/masyarkat%20adat/suku/suku.xls"&gt;123 suku&lt;/a&gt;, ini termasuk suku yang telah mengalami perkembangan&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di website ini mereka mencoba untuk membuat &lt;i style=""&gt;bolder &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebaran suku namun mereka hanya berani membaginya berdasarkan penggunaan bahasa yang bisa/secara umum di gunakan di daerah tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Peta tersebut seperti gambar di bawah ini :&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/1600/suku.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1780/2722/200/suku.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun berdasarkankan FGD yang dilakukan oleh SOB beberapa bagian masih salah dan yang pasti belum lengkap dan detail.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saat ini dicoba untuk melakukan perbaikan terhadap data dasar tersebut diatas melalui ground cek dan pengumpulan data lebih lanjut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36.8pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid"  style="border: medium none ; background: rgb(230, 230, 230) none repeat scroll 0% 50%; margin-left: 32.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; border-collapse: collapse;font-family:arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 410.4pt;" valign="top" width="547"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kalsel&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam   perkembangannya, penduduk Kalimantan Selatan sekarang terdiri dari berbagai   suku bangsa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Suku Banjar menjadi suku   yang mendominasi jumlah penduduk di Kalimantan Selatan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suku-suku lain diantaranya adalah suku   Dayak Meratus, Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Mandar, Dayak Bakumpai dan   lain-lain (BPS 2000).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Prosentase   penduduk Kalimantan Selatan berdasarkan suku bangsa adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36.8pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berdasarkan   sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku   Dayak Meratus di Kalimantan Selatan berjumlah 35.838 jiwa, yang terdistribusi   pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36.8pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;585 jiwa di kabupaten Tanah Laut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;14.508 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.737 jiwa di kabupaten Banjar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;836 jiwa di kabupaten Barito Kuala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;112 jiwa di kabupaten Tapin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;3.778 jiwa di kabupaten Hulu   Sungai Selatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;3.368 jiwa di kabupaten Hulu   Sungai Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;244 jiwa di kabupaten Hulu   Sungai Utara (termasuk Balangan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.106 jiwa di kabupaten Tabalong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7.836 jiwa di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Banjarmasin&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 83.1pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.728 jiwa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;   Banjarbaru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;i&gt;Belum ditemukan data   penduduk Kalsel berdasarkan suku bangsa pada periode sebelum tahun 2000, BPS   tidak tersedia data tersebut&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kalteng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wilayah propinsi   Kalimantan Tengah didiami oleh banyak suku yang tersebar di berbagai   kabupaten. Suku-suku tersebut antara lain adalah suku dayak Ngaju, Maanyan, Katingan,   Lawangan, Bakumpai,Dusun, Ot danum (Kadorih),Ot marikit, Ot patih Tarukah, Ot   siao, siang, Murung, Teboan dan Bentian. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Suku-suku   ini terbagi dalam sejumlah anak suku (sub suku). Suku dayak Ngaju dan Ot   danum merupakan suku terbesar yang menyebat pada wilayah DAS kahayan, DAS   Katingan, DAS Mentaya, DAS Seruyan, DAS Kapuas dan DAS Barito.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Seiring dengan perkembangan kota palangkaraya, masyarakat banjar yang   identik dengan sistem perdagangannya mulai mengisi sentra-sentra ekonomi   (pasar). Saat itu semua kebutuhan bahan pokok di pasok kebanyakan dari   Banjarmasin. Kapal-kapal dagang dari Banjarmasin mulai marak memasuki sungai   kahayan dengan melalui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kabupaten   kapuas (Sebelum lancarnya arus transportasi darat). Maka tidak tidaklah aneh   di kota Palangkaraya, Sampit dan Pangkalan Bun banyak warga Banjar yang juga   ikut membangun dan meramaikan pembangunan provinsi Kalimantan Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:85%;"&gt;Suku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jawa dan Madura lebih banyak   pada daerah pesisir seperti kota Sampit dan Pangkalanbun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Hal ini dikarenakan sistem perdagangan dengan daerah lain seperti pulau Jawa.   Untuk masyarakat dari Sulawesi (suku bugis) sebagian terdapat di kabupaten   Kuala Pembuang. Awal masuk suku bugis ini masih belum ada data yang cukup &lt;i style=""&gt;(perlu dilakukan penelitian lebih lanjut).&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah orde baru pada   tahun 1980-an dan kemudian banyak perusahaan HPH, menjadi faktor utama masuk penduduk   dari Pulau jawa dan Bali secara besar besaran mulai masuk. Selain itu juga   banyak penduduk dari suku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Madura, Sunda, Flores, Lombok dan Bugis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut laporan Deputi   kepala Pelaksanaan harian Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana dan   Pengungsi (BAKORNAS PBP) pada tahun 2002, telah terjadi migrasi/perpindahan   besar-besara dari seluruh Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah faktor   utamanya adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="lampiran/word/A.3.%20Tragedi%20Sampit.doc" title="Lihat tulisan lebih mendalam tentang Konflik Madura dan Dayak di Sampit"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;konflik etnis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Tercatat sekitar 181.575   jiwa mengungsi ke luar Kalimantan Tengah. Bahkan laporan dari seluruh   pemerintah Kabupaten/kota se kalimantan Tengah jumlah pengungsi tersebut   hanya tercatata 70.070 jiwa &lt;i style=""&gt;(adat   istiadat dayak ngaju-pemerintah kota palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3.6pt; text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Saat ini perpindahan warga dari madura&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;dari pulau Jawa mulai terlihat yang dulunya mengungsi sudah kembali ke   daerah yang dulunya terjadinya konflik seperti di sampit. Diterimanya warga Madura   ini juga melaui kesepakatan-kesepakatan dengan pemerintah kabupaten dan kota   yang dulu pernah terjadi konflik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kalbar :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Penduduk di   Kalimantan Barat pada umumnya masih melakukan suatu kegiatan dengan berpegang   pada pedoman leluhur dari muali sejak lahir sampai menutup hidup di dunia,   didalam aktivitasnya selalu melakukan tradisi-tradisi yang masih dipercaya.   Yang membedakan kondisi dulu dan sekarang ada pada cara melakukan ekspoitasi   dan berinvestasi akan sesuatu kegiatan, dimana dulu untuk melakukan   eksploitasi &amp; investasi hanya dilakukan siapa yang dulu menemukan lahan   dialah si pemiliknya serta juga siapa yang mampu membersihkan &amp;amp; membuka   lahan dialah si empunya. Selain itu juga ada sistem berinvestasi diberikan   kepada seseorang pendatang ataupun baru beranjak mandiri/dewasa dengan   memeberikan tanah hanya untuk keperluan memenuhi kebutuhan hidup (bercocok   tanam). Namun sekarang arus eksploitasi &amp; investasi seperti mengucur dari   kebijakan politik-hukum pemerintah tanpa di mengerti oleh masyarakat dan   bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dalam satu tahun saja, akan   tetapi memperoleh untung yang besar. Arus migrasi mempengaruhi demografi   masyarakat di Kalimantan Barat dengan semakin beragamnya orang (suku) yang   tinggal di Kalimantan Barat. Hal ini kemungkinan dikarenakan, kawasannya yang   masih luas dengan rata-rata kepadatan penduduk 1 KK per 1 s/d 2 Km, sebagai   tempat transit menuju ke wilayah negara tetangga. Daerah Kalimantan Barat   dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melayu" title="Melayu"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="SV"&gt;Melayu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dayak" title="Dayak"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="SV"&gt;Dayak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa" title="Tionghoa"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="SV"&gt;Tionghoa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu,   terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura,   Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%. Kelompok   utama yang bukan etnis Dayak yang tinggal di Kalbar adalah kelompok etnis   Melayu, Tionghoa, Jawa, Bugis, dan Madura&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Penyebaran   penduduk di Kalimantan Barat tidak merata, karena penduduk lebih banyak   berdiam di wilayah hilir 75.87 % dari RTRWP KalBar dengan total penduduk   3.722.172 jiwa (Kab&amp;Kota Pontianak, Ketapang, Sambas, Landak, Bengkayang,   Sanggau, Singkawang), sedangkan di bagian hulu hanya 24.13% dari total   penduduk KalBar (Sanggau, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Dengan   dilihat dari penyebaran penduduk, banyak masyarakat di hulu berdiam di hilir   (kota) untuk menperoleh pekerjaan di sektor riil (jasa, industri hilir,   pemerintahan, dll), hal ini disebabkan pembangunan yang terjadi KalBar   bermula dari hilir baru ke hulu (menentang pepatah &amp; arus sungai ’dari   hulu sampai ke hilir’). Ini menyebabkan suatu pengaruh yang sangat berarti   dalam kepadatan &amp;amp; jumlah penduduk dan juga pada penduduk yang dapat   dikaitkan dari sendi sosial dalam memenuhi kebutuhan hidup. Untuk di KalBar   sendiri membagi ke dalam 3 wilayah site SOB terlebih dahulu (Melawi, Sintang,   Kapuas Hulu) dalam mengklasifikasikan data penduduk menurut sendi sosial yang   berkembang di masyarakat (pekerjaan, agama, pendidikan, etnis, umur tingkatan   sebaran desa-kota, ketergantungan dengan asset alam )Di lihat dari &lt;b style=""&gt;Pekerjaan &lt;/b&gt;Kependudukan di Kabupaten &lt;i style=""&gt;Kapuas Hulu&lt;/i&gt;, untuk tahun 2003/2004   berjumlah 105.827 jiwa dengan terbagi ke dalam jenis pekerjaan ( Pertanian   79.98 %, Pertambangan 2.21%, Industri 2.55%, Energi 0.09%, Bangunan 1.79%,   Perdagangan &amp; motel 6.09%, jasa pengangkutan 2.25%, Finansial &amp;amp;   perusahaan 0.09%, Jasa lainnya 4.95% ); dengan usia produktif 15-60 tahun   2004 berjumlah 204.521 jiwa Kabupaten &lt;i style=""&gt;Sintang&lt;/i&gt;   meliputi usaha ( Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri 1.52%, Energi   0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi &amp; komunikasi   1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08% ); &lt;i style=""&gt;Kabupaten Melawi&lt;/i&gt; (Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri   1.52%, Energi 0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi &amp;   komunikasi 1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08%&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Agama/Rumah Ibadah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kabupaten &lt;i style=""&gt;Sintang &lt;/i&gt;( Islam 189 Masjid &amp;314   Surau, Katolik 165 Gereja &amp;amp; 137 Kapel, Protestan 187 Gereja, Budha 6   Vihara ) ; Kabupaten &lt;i style=""&gt;Kapuas Hulu&lt;/i&gt; (   Islam 106.398 Jiwa dengan 204 Masjid &amp; 135 Surau, Katolik 76.171 Jiwa   dengan 126 Gereja &amp;amp; 157 Kapel, Protestan 21.689 Jiwa dengan 63 Gereja,   Hindu 289 Jiwa, Budha 87 Jiwa ); Kabupaten &lt;i style=""&gt;Melawi&lt;/i&gt; ( Islam 138 Masig &amp; 141 Surau, Katholik 73 Gereja   &amp;amp; 25 Kapel, Protestan 119 Gereja, Hindu 2 Vihara )&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt; Kabupaten &lt;i style=""&gt;Sintang&lt;/i&gt; ( TK 125   guru &amp; 1489 Murid, SD 2216 Guru &amp;amp; 50.806 Murid, SLTP 841 Guru &amp;   12.842 Murid, SLTA 555 Guru &amp;amp;amp;amp;amp; 7163 Murid, Perguruan Tinggi 5484 Jiwa ) ;   Kabupaten &lt;i style=""&gt;Kapuas Hulu&lt;/i&gt; ( TK 1187   Murid, SD 31.568 Murid, SLTP 7356 Murid, SLTA 4308 Murid, Pendidikan Non   Formal 1334 Jiwa ); Kabupaten &lt;i style=""&gt;Melawi&lt;/i&gt;   ( TK 58 Guru &amp; 482 Murid, SD 1184 Guru &amp;amp;23.369 Murid, SLTP 394 Guru   &amp; 5572 Murid, SLTA 201 Guru &amp;amp; 3668 Murid,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perguruan Tinggi 2607 Jiwa ).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Etnis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt; Kabupaten Kapuas Hulu berdasarkan   Transmigrasi (Sunda 439 Jiwa, Jawa 42 Jiwa) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Per Kecamatan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kabupaten Sintang per jiwa (   Serawai 21.215, Ambalau 14.085, Kayan Hulu 21.696, Sepauk 41.63, Tempunak   24.016, Sei Tebelian 12.655, Sintang 51.398, Dedai 12.090, Kayan Hilir   12.401, Kelam Permai 14.086, Binjai Hulu 10.650, Ketungau Hilir 10.083,   Ketungau Tengah 25.572, Ketungau Hulu 18.228 ) ; Kabupaten Kapuas Hulu Per   Jiwa ( Putussibau 16.377 , Manday 7.405, Emabaloh Hilir 9.812, Embaloh Hulu   4.937, Bunut Hilir 10.260, Bunut Hulu 11.556, Embau 9.861, Hulu Gurung   12.402, Selimbau 14.587, Semitau 6.638, Seberuang 9.505, Batang Lupar 4.706,   Empanang 2.466, Badau 5.057, Silat Hilir 13.528, Silat Hulu 9.876, Kedamin   15.888, Kalis 7.694, Mentebah 8.739, Boyan Tanjung 7.506, Batu Datu 7.899,   Suhaid 7.944, Puring Kencana 2.823; Kabupaten Melawi per jiwa (Sokan 13.679,   Tanah Pinoh 24.348, Sayan 14.917, Nanga Pinoh 48.916, Belimbing 25.904, Ella   Hilir 14.319, Menukung 16.957 ).&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 44.45pt; text-indent: -43.75pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A.3.2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Model-Model Kelola Asset Alam Rakyat Yang Sudah Ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 44.45pt; text-indent: -43.75pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Model Kelola Asset Alam sangat dipengaruhi oleh kondisi bentang alam yang ada di Kalimantan serta perkembangan jaman.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hutan &amp; Pegunungan, Sungai, Lahan Basah dan Pesisir merupakan wilayah kelola asset secara umum.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada jaman purba penduduk memelihara petak-petak sagu bukit disamping kegiatan berburu, seperti suku Penan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mereka juga telah menanam pohon buah-buahan dan umbi umbian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini mungkin merupakan usaha-usaha pertanian yang tertua di Borneo.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemanenan sagu dan umbi-umbian yang pasti dan teratur, terbentuklah pemukiman menetap disepanjang sungai dan daerah pantai dan mereka mulai menangkap ikan dan mengumpulkan kerang (Bellwood, 1988).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika datang migran dari bangsa Mongoloid mereka membawa cara budidaya padi dari daratan Asia kira-kira 5.000 tahun yang lalu (Glover, 1979) Pemukiman tetap dan pemanenan padi memerlukan pembukaan lahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berkembanglah sistem perladangan gilir balik&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Model kelola asset alam yang terdapat di Kalimantan Barat dapat di kategorikan ke dalam 3 kawasan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kawasan Hutan, dimana pengelolaan menggunakan pembagian kawasan dengan sistem pembagian secara bilateral dan turun-temurun yang didominasi akan dari hasil hutan dan dengan pola pertanian berladang gilir-mudik untuk menyuburkan tanah (mengahsilkan tanah bakar), karena kandungan asam yang cukup tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kawasan DAS (Sungai), dimana pengelolaan lahannya hanya dapat digunakan pada musim tertentu (kemarau) dengan memanfaatkan sungai pasang surut dengan per periode 6 bulanan, selain dari memanfaatkan perladangan dengan jenis tanaman berumur pendek juga memanfaatkan sungai sebagai tempat mencari lauk (ikan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;Kawasan Pesisir, dimana pengelolaan lahannya dilakukan sesuai dengan pasang surut air laut dengan di dominasi tanaman bakau dan berjenis gambut, yang mayoritas masyarakatnya beraktivitas sebagai nelayan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hubungan dan Arti Penting Hutan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Melihat persoalan hubungan masyarakat adat dengan hutan, ada 2 unsur yang menjadi ciri hampir semua sistem tradisional di Indonesia di bidang pengelolaan dan penggunaan sumber daya hutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Pertama kerumitan ratusan spesies dipelihara atau dipanen, meskipun tidak pada musim yang sama. Pendekatan “Portopolio” ini mengurangi resiko kegagalan sistem dan juga mengurangi dampak ekologi pada satu spesies dan sumber daya. Kecenderungannya adalah penduduk memadukan pertanian untuk kehidupan sehari-hari dengan tanaman keras dari puluhan Spesies, berburu dan menangkap ikan, beternak dan mengumpulkan ratusan spesies hutan (Barber, 1987, Dove, 1985). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Hal yang Kedua adalah penggunaan tradisi kelola hutan, umumnya termasuk dari bagian dari sistem yang jelas dari wewenang lokal dan adat yang mengatur panen, mengawasi warga keluar masuk lahan dan menyelesaikan perselisihan berdasarkan aturan atau norma-norma yang berlaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Keterkaitan masyarakat Dayak Meratus dengan hutan sangat bersifat religio magis, sehingga banyak bagian-bagian hutan yang menjadi tempat keramat (sakral), yang bersifat pemujaan. Ketergantungan hubungan ini berakibat berkembanglah bermacam-macam pranata sosial yang mengatur berbagai macam hubungan antar manusia dengan hutan dan menjadi tunduk kepada aturan adat yang terus berkembang, dalam mengatur warga masyarakat hak untuk berburu dan mengambil hasil hutan dan pemanfaatannya. Hal ini juga berlaku di Kalimantan &lt;a style=""&gt;lainnya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if !supportAnnotations]--&gt;&lt;a class="msocomanchor" id="_anchor_2" onmouseover="msoCommentShow('_anchor_2','_com_2')" onmouseout="msoCommentHide('_com_2')" href="#_msocom_2" language="JavaScript" name="_msoanchor_2"&gt;[R2]&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Secara umum, aturan tersebut juga mengatur hubungan kerja dalam hal penggunaan dan penguasaan wilayah-wilayah tertentu terhadap hutan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari berbagai pranata-pranata yang ada dan berkembang di Dayak Meratus dan pengertian serta batasan tentang sistem kategori hutan yang dikenal masyarakat, dikaitkan dengan konsepsi tentang status kepemilikan dari masing-masing kategori hutan, dan juga ditinjau dari konsepsi dari model-model pemanfaatan hutan berdasarkan tata ruang pemanfaatan wilayah yang dikenal masyarakat Dayak Meratus tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan memiliki arti penting dalam kehidupan mereka. Tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan hidup berupa makanan, air, bahan bangunan tetapi juga dalam hubungan &lt;i style=""&gt;religi &lt;/i&gt;mereka. Hubungan yang terjalin antara masyarakat dan alamnya dapat terlihat dalam budaya dan kehidupan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hutan sebagai sumber penghidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Hutan menyediakan berbagai jenis makanan bagi masyarakat, sebagai sumber protein masyarakat dapat mencari/berburu binatang seperti babi, kijang, pelanduk serta, paku-pakuan, talas, berbagai jenis rembung, beragai jenis tumbuhan kulat yang hidup di lantai hutan maupun kayuan hutan, buah-buahan dan tanaman untuk sayur mayur bisa menjadi sumber vitamin bagi masyarakat selain dari buah-buahan hutan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Tanaman hutan juga menjadi bahan-bahan untuk pengobatan tradisional bagi masyarakat, menurut &lt;i style=""&gt;balian &lt;/i&gt;beberapa tanaman obat hanya bisa tumbuh di daerah &lt;i style=""&gt;katuan &lt;/i&gt;(hutan) dan sangat susah untuk dibudidayakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Bahan bangunan berupa kayu meranti, ulin, sungkai, rumbia baik itu diambil dari batang, kulit dan daunnya diperoleh hutan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Pendapatan uang tunai yang bersumber dari hasil hutan bisa berupa minung, tu’u, manau yang merupakan jenis rotan dapat di jual perbatangan. Untuk tabungan tahunan yang bisa diambil masyarakat bisa berupa madu dan buah-buahan seperti kedaung, jengkol, durian dan cempedak belum lagi tanaman lainnya yang belum ekonomis untuk diusahakan di karenakan mahalnya biaya angkut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Perlengkapan kehidupan sehari-hari yang mendukung aktivitas di rumah tangga juga tersedia dihutan-hutan mereka. Mulai dari kayu bakar, alat bantu memasak seperti pengaduk nasi, pembuat hulu parang, sampai dengan peralatan kerja seperti bakul, &lt;i style=""&gt;arangan&lt;/i&gt; semuanya di ambil dari bahan – bahan yang berada dihutan. Dengan masuknya teknologi luar menyebabkan peran hutan sebagai pendukunga aktivitas rumah tangga mulai digantikan. Getah damar tidak dipakai lagi sebagai penerang digantikan oleh minyak tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBo
