Sunday, April 02, 2006

Potensi Sumber Daya Alam, Lahan dan Jasa Lingkungan SoB

Potensi Sumber Daya Alam

n Potensi Hasil Hutan

Kalimantan Kaya dengan hasil hutan baik itu kayu non kayu. Sumber hasil hutan kayu telah lama dimanfaatkan oleh Negara melalui HPH, kini potensi kayu sudah menipis jika kita lihat dengan banyak perusahaan kayu yang gulung tikar karena kekhurangan stok kayu. Hasil hutan non kayu sebenarnya tidak kalah potensinya, namun belum secara serius di garap. Selama ini hasil hutan bukan kayu (HHBK) banyak di manfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat yang berada di kawasan hutan.

Di Kalimantan Tengah potensi non kayu cukup dominan seperti beberapa jenis Rotan, Getah Jelutung, beberapa jenis Damar, Kemedangan, Biji Tengkawang, Kulit Kayu Gemor, Gaharu, Sirap dan Sarang Burung. Berdasarkan hasil inventarisasi Pilot Proyek KPHP di Kalimantan Tengah yang dilaksanakan United Kingdom – Indonesia Tropical Forest Management Programme (UK-ITFMP) tahun 1994 – 1997, selain jenis-jenis HHBK yang dominan tersebut, hutan di Kalimantan Tengah juga memiliki potensi yang cukup menjanjikan akan tanaman/tumbuhan obat-obatan, seperti Pasak Bumi, Saluang Belum, Akar Kuning, Akar Ginseng, Sintuk, Akar Busi, Tusuk Kusung, Penawar Bisa, Anak Busi, Sula Adam, Akar Sutra, Akar Gusi, Sendi Adam, Kei Umbut, Ipung, Ikang Siau serta Akar Buli.

Potensi HHBK tersebut pada umumnya tersebar tidak merata pada tipe Hutan Hujan Tropika (Tropical Rain Forest) baik dataran tinggi (Tropical Mountain Rain Forest) maupun dataran rendah (Tropical Lowland Rain Forest). Meskipun hingga saat ini belum dilaksanakan kegiatan inventarisasi potensi HHBK secara menyeluruh guna mengetahui luas dan sebaran HHBK, namun mengacu pada hasil survey yang dilaksanakan oleh ODA UK-ITFMP, diperkirakan mencakup luasan sedikitnya 10 % dari total luas Hutan Hujan Tropika di Kalimantan Tengah atau sekitar 1.350.363,87 Ha. (data kawasan hutan kalteng 2001).

Dilihat dari nilai ekonomi dan ekologi, potensi hasil hutan non kayu seperti rotan dan berbagai getah (pantung dan jerenang) lebih berpotensi. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan potensi hasil hutan non kayu untuk jenis rotan mencapai 839.684.000 ton/tahunnya. Hasil hutan ikutan saat ini lebih banyak terdapat pada daerah hulu sungai.

Pegunungan Meratus

Di Kawasan Pegunungan Meratus potensi HHBK cukup melimpah, mulai dari buah-buahan, bahan baku kerajinan, tumbuhan obat dan rempah-rempahan, tumbuhan berbunga, getah pohon, bahan baku bangunan subtitusi kayu, hingga madu.

Namun semua jenis tersebut belum maksimal dimanfaatkan, HHBK yang paling banyak di usahakan di Pegunungan Meratus adalah perkebunan karet rakyat, terutama di lereng sebelah barat dan utaranya. Hulu Sungai Tengah adalah kabupaten yang menempatkan karet sebagai produk unggulannya. Sentra lain terdapat di Kecamatan Loksado (HSS) dan Kecamatan Halong (Balangan).

Potensi lain yang tidak kalah melimpah adalah bambu. Bambu di kawasan Pegunungan Meratus biasanya terdapat di bekas-bekas ladang dan kadang bersama mengisi relung yang ada dengan tanaman perkebunan lainnya seperti kayumanis dan karet. Hal ini berhubungan erat dengan kearifan tradisonal masyarakat adat di kawasan ini. Berbagai macam bambu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai macam kepentingan juga, dari pemanfaatan untuk kerajinan, peralatan dapur bahkan untuk kelengkapan upacara ritual aruh adat. Dengan pemanfaatan seperti ini bambu adalah komponen penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak, karena hampir setiap aktivitas kehidupan masyarakat Dayak menggunakan unsur bambu untuk mendukung kehidupannya. Di Loksado minimal terdapat 17 jenis bambu dengan luasan area yang sangat besar (R. Udur, 2002).

BOX :

Potensi& Nilai Ekonomis Hasil Hutan Bukan Kayu di Lokasado Pegunungan Meratus :

Loksado juga terkenal dengan produk kayu manis (Cinnamomum burmanni Blume). Potensi ini tersebar merata di sebagian besar kecamatan ini. Salah satu kampung penghasil adalah Malaris. Di Malaris Rata rata kayu manis efektif yang di panen menghasilkan 10 kg kayu manis kering siap jual sehingga potensi produk kayu manis saat ini adalah 5.950 pohon x 10 kg = 459.500 kg. kayu manis kering jemur. Sedangkan populasi kayu manis belum produktif (berumur kurang dari 7 tahun) sebanyak 9.900 pohon.

Berikut 4 kampung dengan NTFP sebagai basis utama penghasilan masyarakatnya yang dapat dianggap mewakili kampung lain yang ada di Pegunungan Meratus.

No

Kampung

Hasil Hutan Non Kayu

1

Kampung Malaris (Loksado/HSS)

kemiri, kayu manis, walatung/ manau, rotan, karet, damar, bambu dan obat-obatan, buah-buahan.

2

Kampung Kiyo (Batang Alai Timur/HST)

kayu manis, keminting, damar, bamban, karet, obat-obatan dan rotan

3

Kampung Tampaan

(Halong/Balangan)

Karet, Kemiri, Bambu, Pisang, Madu

4

Kampung Rantau Buda (Kec. Sungai Durian/Kotabaru)

Madu, Buah-buahan

Sumber : Menggali Kearifan di Kaki Meratus, 2002 dan Bank Data YCHI

Tahun 1997/1998 produksi rotan Kalimantan Selatan adalah 1.255,92 ton, meningkat di Tahun 1998/1999 sebanyak 5.430,17 ton dan kembali meningkat di Tahun 1999/2000 dengan jumlah produksi sebanyak 5.700,18 ton. Hal yang sama juga terjadi pada produk madu. Produksi madu hasil kegiatan perlebahan selama kurun waktu lima tahun sebanyak 249,91 ton yang tercatat sejak tahun 1996 hingga tahun 2000.

Pegunungan Iban

Belum di dapat secara pasti potensi kayu di kawasan Pegunungan Iban, namun jika mengacu pada wilayah green Belt pegunungan Iban. Asumsinya bahwa kawasan hutan berada hampir di seluruh kawasan GB. Setidaknya data di bawah ini bisa menggambarkan potensi hasil hutan di kawasan tersebut :

Tabel . Petensi Kayu bulat komersil

No

Kabupaten

Luas Areal (ha)

Prosentase terhadap luas Kabupaten

Produksi (m3)

1

Nunukan

1.236.836

8,89

593.501,18

2

Malinau

4.205.000

98,66

546.670,66

3

Kutai Barat

2.413.332

76,33

1.619.725,50

Sumber : 1). BPS, Kabupaten Nunukan Dalam Angka Tahun 2002

2). BPS, Kabupaten Kutai Barat Dalam Angka Tahun 2002

3). BPS, Kabupaten Malinau Dalam Angka Tahun 2001

Secara Umum di Kalimantan Timur Potensi SDA Katim[1]

- Hutan : 7.855.168 Ha

- Kayu Alam

- Hasil Hutan Ikutan : Gaharu, Sarang Burung Walet, Damar, Rotan Dan Tumbuh-Tumbuhan Yang Berkhasiat Untuk Obat-Obatan.

n Potensi Bahan Mineral – Energi

Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai banyak potensi SDA tambang. Bahan galian C lebih di dominasi oleh tanah liat, pasir kwarsa, kaolin dan granit terdapat hampir di semua kabupaten. Sedangkan batu gamping banyak terdapat di kabupaten kapuas, GUMAS, Barito Timur, Barito Utara dan Mura.

Bahan galian A didominasi oleh batu bara dari pada potensi gas. Berdasarkan data yang ada, potensi bahan galian batu bara lebih banyak terdapat pada kabupaten MURA, BARUT, BARSEL dan BARTIM.

Bahan galian B hampir setiap kabupaten terdapat potensi ini,baik emas sekunder dan emas primer. Di kalimantan tengah saat ini terdapat kurang lebih 20 perusahaan tambang emas yang saat ini masih dalam tahap melakukan penelitian dan eksplorasi (Potensi sumberdaya mineral pertambangan-gol A dan B ,2005). Dibawah ini dapat dilihat sebaran bahan galian yang terdapat di Kalimantan tengah dan sudah dikelola oleh beberapa perusahaan.


Peta. Sebaran Potensi bahan meneral di kalimantan Tengah

Pada daerah hilir lebih banyak tanah gambut (palangkaraya,kapuas,KOBAR,KOTIM dan katingan). Untuk bahan galian dengan jenis batu permata (kecubung) hanya terdapat di kabupaten Kotawaringin Barat.

Diwilayah Schawaner yaitu di kecamatan Sanaman Mantike terdapat batu granit, Batu Mulia terletak di Bukit Butik, Desa Tumbang Atei Kecamatan Sanaman Mantkei dan di Desa Rantau Bahai Kecamatan Katingan Hulu.

Peg Muller :

Pada tahun 1961, PBB menugaskan Jepang (JICA) melakukan studi hydro power electric generator di wilayah Laung Tuhup dan Muara Joloi yang diketahui akan mampu memberikan daya listrik yang cukup untuk keseluruhan Pulau Borneo, bahkan ke wilayah lainnya. Tahun 1997, di lakukan lagi penelitian oleh Pemda Kalteng dan ditemukan banyak potensi tambang di wilayah calon reservoir air / genangan daerah aliran sungai untuk hydro electric tersebut, maka rencana pembuatan waduk PLTA tersebut dinilai tidak feasibel.

Menurut Pemaparan Bupati tentang kondisi dan percepatan pembangunan di Kabupaten Murung Raya berdasarkan peta geologi lembar Kalimantan, bagian Utara Kalimantan Tengah merupakan jalur mineralisasi yang dikenal dengan “Borneo Gold Belt” yang menghasilkan berbagai mineral bernilai ekonomi seperti: Au, Ag, Cu, Zn, Pb, Fe dan intan serta mineral-mineral industri seperti Kaolin, Pasir Kwarsa, Bentonite maupun Granit. Pada bagiah tengah ditemukan sekungan Barito, Kutai dan Kuala Pambuang memiliki kandungan endapan minyak dan gas bumi serta batubara.

Di Kalimantan Selatan setidaknya ada 22 bahan tambang yang berpotensi, diantaranya ada 7 bahan tambang unggulan yaitu batu bara, intan, emas, marmer, bijih besi, pasir kwarsa dan batu gamping.

Menurut data yang tersedia dari sumber yang sama sampai tahun 2000, bahan tambang emas belum berproduksi. Eksplorasi emas seluas 291 297.27 ha dilakukan oleh PT. Meratus Sumber Mas (operasi tahun 1998), PT. Pelaihari Mas Utama dan PT. Aneka Tambang/Pelsart (operasi tahun 2000). Adapun yang sudah lebih dulu melakukan eksploitasi adalah usaha pertambangan emas rakyat yang oleh pemerintah dianggap illegal seperti di daerah Kusan.

Saat ini Kalimantan Selatan merupakan penyetor terbesar di Indonesia dari SDA batu bara, dengan dominasi terbesar oleh investor melalui PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin Indonesia, dan PT. Bahari Cakrawala Sebuku (CBS). Potensi batu bara sebagai SDA yang tidak pulih di Kalimantan Selatan diperkirakan + 3 milyar ton. Catatan kantor Dinas Pertambangan Propinsi Kalimantan Selatan, PT AGM telah mencatatkan produksi batubaranya sejak 1999. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2001 PT AGM telah memproduksi Batubara sebanyak 632.711 ton. PT AGM diberikan kesempatan bulk sampling sebesar 200.000 ton per tahunnya, tapi sejak tahun 2000 bulk sampling PT AGM telah mencapai lebih dari 200.000 ton/th.

Secara keseluruhan realisasi ekspor batu bara Kalsel per Januari – September 2005 saat ini mencapai volume 39.526.503.377,13 kilogram, atau naik sekitar 12,71 persen dari waktu yang sama pada periode sebelumnya yang hanya 34.661.820.681,17 kilogram. Jumlah tersebut dipastikan terus bertambah hingga akhir tahun 2005 (Desperindag Kalsel). Dari total volume tersebut diperoleh pendapatan sebesar Rp 1.262.582.117,73 atau naik sekitar 47,37 persen dari periode sebelumnya Rp 856.721.729,16. Perhitungan ini tentunya diluar dari kegiatan pertambangan illegal yang marak di Kalimantan Selatan yang mulai terasa sejak tahun 1999.

SDA lainnya adalah biji besi dengan potensi terbesar terletak di Tanah Bumbu yang diperkirakan sebanyak 140 juta ton. Selanjutnya Kotabaru, Tanah Laut dan Satui (B. Post, 25 April 2006) dengan kwalitas yang cukup baik dengan kadar Fe mencapai 67. Adapun Tanah Laut telah meng ekspor biji besi + 300.000 ton (Syaifullah Tamliha, 2006) ke China melalui PT. Kuang Ye Int. MD.

Berikut gambaran lengkap potensi tambang di Kab. Hulu Sungai Selatan sebagai gambaran kekayaan SDA Pegunungan Meratus :

No.

Bahan Tambang/

Galian

Lokasi

Deposit

Ket

1.

Bijih Besi

Kec. Loksado

-

Deposit yang

ada merupakan

sumberdaya

hipotetik

2.

Batu Gamping

Kec. Padang Batung

661,455 juta ton

Kec. Loksado

160.38 juta m3

3.

Marmer

Kec. Loksado

90.105.599 m3

4.

Pospat

Kec. Padang Batung

41.512,3 ton

Kec. Telaga Langsat

12,89 juta ton

5.

Lempung

Kec. Padang Batung

4,68 juta m3

Kec. Angkinang*

176,852 juta ton

Kec. Sungai Raya

171.64 juta ton

6

Pasir Kwarsa

Kec. Padang Batung

10,08 juta ton

7.

Basalt

Kec. Padang Batung

769,388 juta m3

8.

Lava Basal

Kec. Loksado

540 juta m3

9.

Sirtu

Kec. Padang Batung

101,75 juta m3

10.

Tanah Urug

Kec. Padang Batung

238,825 juta m3

11.

Konglomerat

Kec. Sungai Raya

46,875 juta m3

12.

Granit

Kec. Lokasdo

-

13.

Granodiorit

Kec. Loksado

63,56 juta m3

14.

Batubara

Kec. Telaga Langsat

77.000 ton

Kec. Sungai Raya

632.812,5 ton

Kec. Padang Batung

20,36 juta ton

Sumber : Hasil Investigasi Advokasi Kamawakan oleh YCHI-Walhi-PIM Loksado, 2005 (Hebat kali udah bisa ngitung giniian…)

Ket : * bukan kecamatan di kawasasan GB Meratus

Pegunungan Iban,

Potensi Bahan tambang yang terdapat di kawasan pegunungan Iban diantaranya Emas, Granit, Lempung, Batu Gamping dan Mata air Asin. Berdasarkan data yang di dapat dengan pendekatan wilayah adminstrasi adalah seperti tabel di bawah ini :

Tabel. Potensi Bahan tambang di Pegunungan Iban

No

Kab.

LOKASI

Komoditi

Luas (ha)

Patner usaha

Trend pasar

Kec.

Desa

1

Nunukan

Nunukan

-

Lempung

17,5

Bahan baku industri semen

Belum dimanfaatkan

Bahan baku industri keramik

Bahan baku industri cat

Bahan baku genteng dan batu bata

Lumbis

Labang

Batu Gamping

5

Bahan baku industri semen

Belum dimanfaatkan

Bahan penetral keasaman tanah

Bahan campuran industri keramik dan bahan bangunan

Bahan campuran industri Metalurgi

Krayan, Lumbis

-

Pasir kwarsa

-

Industri gelas, optik, industri keramik

Belum dimanfaatkan

Bahan kontruksi bangunan

Krayan

Buduk Kinangan

Mata Air Asin

-

Industri garam

Dimanfaatkan oleh masyarakat untuk konsumsi rumah tangga

2

Malinau

Long Nawang

Emas

-

-

3

Kutai Barat

Long Pahangai

-

Emas

-

-

-

Long

Pahangai

Sungai topai

Granit

-

-

-

Sumber: Dinas Pertambangan Propinsi Kaltim Tahun 2003

Sumber Daya Mineral Dan Energi Diperkirakan :

Minyak : 1,17 Juta Mmstb (Million Metric Stock Tank Barrel)

Gas Bumi : 48.680 Bscf (Billion Standard Cubic Feet)

Batubara : 21,00 Milyar Ton

Emas : 60,50 Juta Ton.

n Potensi Keragaman Hayati

[2]Deretan pegunungan meluas dalam bentuk Y terbalik, melalui bagian tengah dan bagian utara pulau ini. Pegunungan Schawaner di Kalimantan Tengah bertemu dengan bagian barat pegunungan Kapuas Hulu disepanjang perbatasan Serawak dan Kalimantan, selanjutnya meluas ke Utara melalui jajaran Iran sampai ke jajaran Crocker di Sabah. Satu cabang di bagian tenggara meluas ke Pegunungan meratus di Kalimantan Selatan, yang merupakan daerah dengan flora tersendiri.

Kebanyakan gunung di Borneo termasuk dalam satu unit pusat boigeografi [R1] yang memiliki flora dan fauna pegunungan yang khusus pulau ini (MacKinnon dan MacKinnon 1986). Gunung-gunung di Borneo dapat diibaratkan seperti pulau-pulau di lauatan hutan basah dataran rendah, dan karena isolasi ini kemudian mengembangkan jenis-jenis unik. Dari jenis-jenis endemik di Borneo, 23 jenis (73%) merupakan jenis pegunungan, demikian pula 21 dari 44 jenis mamalia endemik di pulau ini. Namun disayangkan keragaman hayati pegunungan di Kalimantan baru sedikit yang di eksplorasi secara ilmiah. Bukit Raya yang tingginya 2.728 m, barangkali merupakan gunung tertinggi di Kalimantan yang paling banyak diteliti dan merupakan daerah yang tinggi keragaman hayati (Nooteboom 1987 ; MacKinnon).

Gunung Sebagai Pusat Keragaman Hayati[3]

Gunung – gunung merupakan daerah yang sangat menarik dari segi biologi, mewakili tempat pengungsian Kala Pleistosen, pusat pembentukan jenis-jenis baru dan terjadinya endemisme. Endemisme di gunung sangat tinggi untuk golongan binatang yang merupakan pemencar-memencar yang buruk, misalnya amfibi dan invertebrata. Sisa-sisa hutan dataran tinggi di Tanzania, misalnya menunjukkan endemisme di pegunungan Usambara Timur yang beragam dari 2% untuk mamalia sampai 95% untuk golongan senggulung (Rodgers dan Homewood 1982). Pembukaan vegetasi pegunungan dan khususnya hutan pegunungan dapat menyebabkan kepunahan jenis-jenis yang unik. Gunung-gunung di Borneo dengan hutan dataran rendah di sekitarnya merupakan sebagian dari tempat-tempat keragaman hayati penting di pulau ini.

Meratus :

Kawasan Meratus terkenal juga dengan endemisitas floranya, diantarnya adalah 12 jenis tanaman endemik yang hanya ada di kalimantan. Mereka adalah keluarga palem paleman dan satu lagi adalah Rhododendron alborugosum. Jenis tersebut sangat dicari oleh banyak kolektor termasuk Botanical Garden Edinburgh Inggris. Sembilan jenis endimik lainnya adalah lahung (Durio dulcis), damar merah (Shorea beccariana, S. parvistipulata), pitun (Shorea myrionerva), damar ( Shorea obscura, S. rugosa), tengkawang ( Shorea stenoptera), resak (vatica enderti) dan binturung (Artocarpus lanceifolius). Selain itu dikawasan ini juga terdapat hutan agathis (Aghatis beccari) yang kondisinya relatif masih baik di kalimantan Selatan.

Kawasan ini sangat kaya dengan keragaman fauna. Sampai saat ini paling tidak telah tercatat sebanyak 89 jenis mamalia, 334 jenis burung, 132 jenis herpetofauna (amphibi dan reptil), 65 jenis ikan, 173 jenis kupu-kupu yang tergabung dalam 417 jenis serangga.

Menurut regulasi perlindungan satwa baik internaional maupun nasional, tidak kurang dari 116 jenis satwa yang dilindungi dapat dijumpai di kawasan ini, antara lain Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Owa owa (Hylobates albibarbis), Hirangan (Presbytis frontata) Bekantan (Nasalis larvatus), Lutung Merah (Presbytis rubicunda), Ayam Hutan (Lophura ignita) dan Cukias (Lophura bulweri), Betet-kelapa Filipina (Ciconia stormi), Elang Walacea (Spizaetus nanus), Biawak (Varanus salvator) Ular Sendok (Naja sumatrana), King Cobra (Ophiophagus hannah), Jelawat (Tor tambra), Trogonoptera brookiana albescens, dan Troides amphyrisus thomsonii. Tingkat endemisitas satwa di kawasna ini pun cukup tinggi, dimana tidak kurang dari 75 jenis.

Muller :

Ekosistem

Terdapat 8 (delapan) tipe ekosistem yang dicuplik dari ketinggian 150 – 1.150 mdpl. Dari 8 tipe hutan itu, ialah tipe hutan Dipterocarpaceae dataran rendah (Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Paras horea, shorea, Vatica); hutan alluvial; hutan rawa; hutan sekunder tua; hutan Dipterocarpaceae bukit; hutan berkapur; hutan sub gunung; hutan gunung.

Flora

Masuk ke dalam 8 tipe hutan di atas dengan ketinggian 50 - 1.150 mdpl terdapat 695 jenis pohon, terdiri dari 15 marga dengan 63 suku dan 50 jenis antaranya endemic pulau Borneo. Kerabat kayu Gaharu (Amyxa pluricor), misalnya jenis pisang baw (Musa lawitienisi); jenis baru lainnya seperti Neo uvaria, Acuminatissima, Castanopsis inermis, Lithocarpus phillipinensis, Chisocheton caulifloris, Eugenia spicata, Shore peltata. Suku Dipterocarpaceae terdapat 121 jenis, Shorea terdapat 30 jenis, Euporbiaceae terdapat 73 jenis, Clusiaceae terdapat 33 jenis, Burseraceae terdapat 30 jenis, Myrtaceae terdapat 28 jenis.

Fauna

Di dalam kawasan TNBK terdapat 48 jenis mamalia, diantaranya Harimau dahan, Kucing hutan, Beruang madu, Kijang, Kaijang emas, Rusasambar, Kancil Berang-berang. Terdapat 7 jenis kelompok primate, seperti Orang utan, Kelampiau, Hout, Kelasi, Beruk, Kera, Tarsius. Dari kelompok burung yang teridentifikasi ada 301 jenis dengan 151 marga dan 36 suku, 15 jenis migrant, 6 jenis temuan baru di Indonesia (Accipernisus, Dendricitta cinerasceus, Ficudela parva, Luscinia calliope, Pycononotus flasvescent, Rhinom yas brunneata), 6 jenis burung yang dilindungi UU, Enggang gading, 24 jenis endemic Borneo. Untuk reptilian dan amphibian, ada sekitar 1.500 specimen, 103 telah diidentifikasi dengan 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura, 21 jenis ular dan 1 katak terkecil di dunia (Leptobrachella myorbergi) kurang dari 1 Cm dewasanya. Untuk jenis ikan ada 4.000 specimen dengan 112 jenis ikan, 41 marga, 12 suku dan 14 jenis endemic Borneo.

Eksistensi jenis mamalia besar, misalnya banteng dan badak di Pulau Kalimantan, adalah berdasarkan informasi masyarakat sekitar yang pernah melihatnya di sekitar Sungai Boh di Kaltim, ataupun petunjuk lainnya seperti daerah mengasin atau sumber air garam, serta jejak kaki. Namun, perburuan yang keras terhadap jenis badak di masa lalu telah berdampak signifikan terhadap kelangkaan dan kepunahannya sekarang ini.

Sedangkan untuk Orangutan di Kaltim, penyebarannya banyak dibatasi keganasan Sungai Mahakam. Sebaliknya migrasi babi hutan di daerah Kaltim dari sebelah utara ke selatan lebih banyak dibatasi oleh Pegunungan Muller di sebelah barat dan Sungai Mahakam di arah selatan.

Sungai Mahakam menjadi pembatas ekologi bagi banyak mamalia yang tidak dapat berenang, kecuali bekantan di daerah hilir sungai, ataupun jenis arboreal yang bergelantungan pada cabang dan ranting pohon yang menjulur ke seberang sungai, misalnya, jenis owa.

Tipe hutan tropis dataran rendah adalah hutan yang terdapat di kaki Pegunungan Muller, baik di sebelah Kalteng maupun Kaltim. Di sini terdapat jenis-jenis komersial, seperti jenis dari meranti-merantian (famili dipterocarpaceae) ataupun jenis ulin (famili lauraceae). Keragaman jenis dari famili dipterocarpaceae ini terus menurun dengan naiknya ketinggian tempat, terbanyak adalah sekitar 134 jenis pada ketinggian di bawah 100 meter.

Panas yang tinggi dan level oksigen yang rendah dapat menghilangkan jenis-jenis tertentu dari tumbuhan dan hewan perairan. Kekayaan jenis ikan perairan tropis cukup tinggi, di mana sejumlah 394 jenis di antaranya terdapat di Borneo dan sekitar 149 jenis di antaranya adalah endemik.

Kekhasan Ekosistem dan bervariasinya keadaan topografi kawasan memberikan peluang untuk hidupnya beranekaragam jenis tumbuhan yang hidup pada beberapa tipe ekosistem. Kawasan ini merupakan ekosistem hutan dataran rendah hingga dataran tinggi yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan.

Pada tipe ekosistem hutan daratan rendah didominasi oleh jenis dari family Dipterocarpaceae seperti Tengkawang tungkul (Shorea sp). Jenis lainnya seperti Jelutung (Dyera costulata), Pulai (Alstonia scholaris) dan Belian (Eusideroxylon zwageri). Dari family Palmae ditemukan jenis Bambu (Bambusa spp), Rotan (Calamus sp) dan Aren (Arenga pinata).

Tipe vegetasi Daratan sedang masih didominasi oleh jenis-jenis dari family Dippterocarpaceae seperti Meranti (Shorea sp), Resak (Vatica sp) dan Kapur (Driyobalanops sp). Jenis lainnya adalah Ubah (Syigium sp), Medang (Litsea sp), Bintangor (Callophylum inofilum) dan Durian burung (Durian carinatus).

Pada Tipe Vegetasi Daratan Tinggi masih ditumbuhi berbagai jenis meranti. Jenis lain yang khas pada tipe vegetasi ini adalah jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan Ubah ribu (Syzigium sp). Perbedaan yang terlihat jelas pada tipe vegetasi ini adalah munculnya lumut-lumut hijau di setiap batang tumbuhan. Pada tipe vegetasi Puncak Pegunungan, ukuran tumbuhan semakin kecil dan lumut-lumut hijau semakin tebal menempel di kulit pohon. Di antaranya jenis Cemara gunung (Casuarina junghuniana), Pandan (Pandanus sp), Rotan (Calamus sp) dan beraneka ragam jenis Kantong semar (Nephentes sp).

Jenis satwa yang mendominasi dan paling sering terlihat di kawasan ini adalah jenis Primata (Monyet) seperti Orangutan (Pongo pygmaeus), Kelempiau (Hylobathes moloch) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Jenis Mamalia lain yang sering terlihat di antaranya Beruang madu (Helarctos malayanus), Rusa (Cervus unicolor) dan Pelanduk (Tragulus napu). Jenis burung yang paling menonjol di kawasan ini adalah berbagai jenis Enggang (Bucerotidae), termasuk jenis Enggang Gading (Rhinoplax vigil) yang menjadi maskot fauna Kalimantan Barat.[4] Sayangnya enggang yang menjadi kebanggaan itu, saat ini sulit ditemui.

Di Kawasan TNBK yang termasuk dalam kawasan GB Muller pernah dilakukan inventarisasi, hasilnya sebanyak 1.200 jenis tumbuhan, 159 jenis burung, 24 jenis kupu-kupu, 282 jenis ngengat, 17 jenis reptil dan 11 jenis ampibi, 41 invertebrata gua, dan 82 jenis ikan. Tercatat sedikitnya 40 jenis tumbuhan, sembilan jenis ikan, dan 10 jenis burung yang endemik Kalimantan. Untuk jenis yang tergolong langka, setidaknya ada 10 jenis tumbuhan dan delapan jenis satwa berupa enam jenis burung, satu jenis macan dahan, dan satu jenis bulus. Disebutkan juga, ada lima jenis ikan dan satu jenis tumbuhan yang termasuk jenis yang baru tercatat, serta sejumlah jenis flora dan fauna yang diduga jenis baru, seperti Thismia mullerensis.[5]

Schwaner :

Ekosistem

Dilihat dari keberadaan ekosistem di wilayah green belt pegunungan Schwaneer yang masuk dalam kawasan TNBB – TNBR , berdasarkan Management Plan 25 tahun TNBB-TNBR, ekosistem hutan Dipterocarpaceaea terletak 100 - 1.000 mdpl, hutan perbukitan 1.000 – 1.500 mdpl, hutan pegunungan 1.500 – 2.000 mdpl, hutan lumu > 2.000 mdpl atau <>Menurut Steenis analisis Citra Landsat ada 3 tipe ekosistem :

a. Tipe Zona Tropika; tersebar di seluruh areal <>

b. Tipe Ekosistem Pegunungan Bawah; tersebar di ketinggian 1.000 – 1.500 mdpl seluas 58.489,26 Ha (32,30%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 45.637,8 Ha, hutan bekas tebangan ± 9.587,07%, non hutan ± 2.340,03 Ha.

c. Tipe Pegunungan Atas; menyebar di ketinggian > 1.500 mdpl seluas 6.930 Ha (3,83%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 6.420, 93 Ha, bekas hutan tebangan ± 299,81 Ha.

Ekosistem pegunungan bawah memiliki keragaman jenis pohon serta individu yang lebih tinggi dari zona lainnya. Membuat ekosistem berupa flora – fauna dan plasma nuftah dikawasan ini beragam sesuai dengan tingkat tipe ketinggian perbukitan. Untuk di Desa Nanga Kalan sendiri, masuk ke dalam tipe zona tropika yang mana di sekitarnya banyak terdapat jenis kayu belian dan pepohonan buah-buhan yang bersifat keras (cempedak, langsat, durian) secara alamiah. [R2] Keadaan flora juga didominasi akan jenis hama bagi peladang, seperti kijang, pelanduk, trenggiling, babi, kera serta jenis predator pada belalang1.

Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh aktivitas kehutanan, menyebabkan hilangnya rantai kehidupan di sekitar Desa Kalan dengan serangan hama belalang. Kejadian hama belalang ini pada musim panen tahun 2005, yang menyebabkan gagal panen dan memperoleh kerugian sekitar 2 juta per KK yang membuka ladang1.

Di kawasan mendalam yang merupakan kawasan TNBK dan berada di tengah Pegunungan Kapuas Hulu dan Peg Muller yang terletak di kabupaten Kapuas Hulu, terdapat jenis endemic kayu atau pohon Kalimantan kerabat kayu gaharu serta jenis endemic primata Kalimantan merupakan suatu potensi tersendiri dalam peruntukan kawasan konservasi. Namun dengan potensi ini mengakibatkan tergiur pengusaha kehutanan untuk memanfaatkan potensi kayu yang ada di dalam hutannya. Ini terjadi suatu kehilangan jenis flora-fauna yang dianggap saklar oleh masyarakat di sekitar kawasan Mendalam hilang bahkan punah, seperti jenis kayu belian, meranti, mayas (orang utan), enggang gading dan burung pungkapung/kroak sejenis burung untuk menunjukan keberuntukan kawasan perladangan. Dari jenis flora dan fauna yang dulunya dimiliki di sekitar kawasan Mendalam, dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu pemebritahuan musim, karena dengan adanya burung enggang sering dipercaya kemunculannya dan suaranya tersebut menandakan akan terjadinya suatu perubahan musim1.

Berdasarkan Management Plan 25 tahun TNBB-TNBR, ekosistem hutan Dipterocarpaceaea terletak 100 - 1.000 mdpl, hutan perbukitan 1.000 – 1.500 mdpl, hutan pegunungan 1.500 – 2.000 mdpl, hutan lumu > 2.000 mdpl atau <>

Tipe Zona Tropika; tersebar di seluruh areal <>

Tipe Ekosistem Pegunungan Bawah; tersebar di ketinggian 1.000 – 1.500 mdpl seluas 58.489,26 Ha (32,30%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 45.637,8 Ha, hutan bekas tebangan ± 9.587,07%, non hutan ± 2.340,03 Ha.

Tipe Pegunungan Atas; menyebar di ketinggian > 1.500 mdpl seluas 6.930 Ha (3,83%) dari luas kawasan, mencakup hutan primer ± 6.420, 93 Ha, bekas hutan tebangan ± 299,81 Ha.

Ekosistem pegunungan bawah memiliki keragaman jenis pohon serta individu yang lebih tinggi dari zona lainnya.

Flora

Telah terinventarisasi ada 817 jenis (610 marga dalam 139 suku).vegetasi hutan ekosistem tropika tersebar di sepanjang Sungai Jelundung, Serawai dan sungai kecil lainnya dengan jenis khas Dipterocarpus oblongifolius, Salacca zalacaa, Neuclea rivularis, Osmoxylon helleborinum, Pinanga rivularis, Saurauria angustifolia, Dipteres lobiana, Asplenium sabaquatile, Tectaria hosei, Bolbitis sinuatar Jenis umum, Pandanus sp., Elaeocarpus glaber, Ficus riber, Ficus microcarpa, Ficus macrostyla, Michelia sp., Artocarpus altilis, Pometia piñata, Pterospemum sp., Rhododenron sp., Schefflera sp., Dillenia beccariana, Lithocarpus cooertus dan Knema sp. Pada ketinggian 250 -700 mdpl pada lereng bukit di dominasi famili Dipterocarpaceaea, genus Shorea spp, Hopea spp, Agathis bomeensis. Ketinggian 700 – 1.000 mdpl di dominasi famili Dipterocarpaceaea juga Myrtaceae, Sapotaceae, Lauraceae, Euphorbiaceaea dan ada Rafflesia tuan-mudae Becc, Palem-paleman (Areca spp, Igunura walici, Pinanga spp). Ketinggian 1.000 – 1.200 mdpl terdapat hutan kerangas dari suku Myrtaceae jenis (Syzigium rhamphiphyllum, Syzigium rosttratum, Syzigium lineatum). Ketinggian 1.200 – 1.600 mdpl hutan tipe kerangas dengan suku Euphorbiaceae, Sapotaceae, Lauraceae, Fagaceae dengan jenis Aporosa sp, Palaquium dasyphyllum, Litsea densifolia, Baccaurea racemosa, Listhocarpus ewyckii. Ketinggian 2.000 – 2.278 mdpl ditemukan hutan lumut yang di dominasi dari suku Ericaceae, Rubiaceae serta jenis palma dan liana, juga ditemukan anggrek (Apendicula alba, Trichostosia lanseolaris, Trischostosia velutina). Selain itu juga ada jenis tumbuhan ‘Bungon Pemaceh’ sebagai obat kontrasepsi, pasak bumi ‘Seloang Belum’ sebagai obat kuat (tonik), ‘Ramoy’ sebagai obat diare, Liana ‘Kanyong’ sebagi racun di ujung tombak atau anak panah, ‘Bayan Akah’ kulit berwarna kuning sebagai pematik api.

Fauna

Terdapat 221 jenis yang telah diidentifikasi, terdiri dari 65 jenis mamalia, 140 jenis aves (burung), 9 jenis reptilian, 7 jenis amphibian. Jenis Primata dari ketinggian 100 – 1.200 mdpl ada lutung, Wau-wau tangan hitam, Kelasi; dikawasan punggung perbukitan sekitar sungai Ella terdapat jalur jelajah Orang utan dan Singapuar. Di sekitar kawasan terbuka (kawasan HPH dan sekitar ladang) terdapat Rusa sambar, jenis Ungulata (Kancil, Napu, Kijang), Musang congkok, Musang bogoh, Musang bergaris, Linsang bergaris, Tenggalung, Kucing hutan. Pada sekitar lereng ketinggian 400 – 700 mdpl terdapat landak, beruang, tupai besar, tupai bergaris, tupai hitam bergaris. Binatang pengerat pada ketinggian 2.000 mdpl ada Tupai pohon, bajing kecil, bajing tanah bergaris tiga, bajing tanah, bajing kelapa. Informasi dari masyarakat binatang yang punag ada Badak, Tembadau (Banteng), Ikn duyung (Duyung Irawadi). Burung terdapat 8 jenis endemic Borneo, 52 jenis burung dilindungi UU, 2 jenis burung ‘new record’ (Punai Imbuk, Uncal merah), Burung Ruai, burung Kuau kerdil Burung Enggang gading. Jenis Herpetofauna seperti Kodok ada 91 jenis, seperti Kodok Bako dan Ular 168 jenis, biawak hijau, ular Lamaria schegeli, kadal Spenomorphus sp, kura-kura. Jenis insekta seperti keluing pil raksasa, keluing biasa keluing raksasa, keluing bergerigi, kelabang, serangga ranting dan daun (belalang ranting dan muda), jenis Tongerert. Jenis Capung seperti capung jarum ekor porok, capung jarum merah capung jarum zamrud, bangsa capung (sibar-sibar betina, sibar-sibar merah, sibar-sibar putih susu, sibar-sibar cincin mas, sibar-sibar raja, sibar-sibar merah hitam, sibar-sibar hijau. Jenis Kupu-kupu seperti kupu-kupu sayap burung, kupu-kupu jeruk sayap panjang, kupu-kupu sayap burung paris, kupu-kupu jesebel.

Vegetasi di Bukit Raya secara vertikal dapat dibagi dalam zona-zona menurut ketinggian dan tipe tanah. Secara keseluruhan kawasan ini tertutup oleh vegetasi tingkat pohon yang penyebarannya bervariasi dari kaki bukit hingga ke puncak puncaknya. Vegetasi pada dataran rendah (kaki bukit) hingga ketinggian 400 m dpl menunjukkan kekhasan hutan hujan dataran rendah yang mengandung ± 30% species dari famili Dipterocarpaceae. Tipe vegetasi penyusun hutan berubah secara bertahap berdasarkan ketinggian tempat.

Jenis tumbuhan dan famili Dipterocarpaceae didominasi jenis Shorea spp dan Hopea spp. Sedangkan jenis lainnya terdapat Agathis bornencis dan beberapa jenis dari famili Myrtaceae dan Sapotaceae. Pada ketinggian antara 1.000 - 1.200 m dpl (sekitar Bukit Birang Merabai) dan di lereng Bukit Baka merupakan tipe hutan kerangas yang ditandai dengan dominannya jenis Podocarpus imbricatus. Sedangkan pada daerah puncak Bukit Raya ditemukan berbagai jenis dari famili Ericaceae.

Salah satu jenis flora dilindungi yang ditemukan di kawasan ini adalah Bunga Rafflesia spp. Diduga jenis tumbuhan ini memiliki persamaan dengan hasil penemuan di kawasan Taman Nasional Kinabalu Serawak Malaysia.

Jenis fauna yang menjadi primadona kawasan ini adalah jenis burung Enggang Gading (Buceros vigil). Burung jenis ini mempunyai kisaran jelajah yang tidak terlalu jauh dari sarangnya, yang dibuat di sepanjang sungai. Satwa liar lainnya yang sering dijumpai, diantaranya berbagai jenis mamalia darat, seperti Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan dahan (Neofalis nebulosa), Babi hutan (Sus barbatus), Kancil (Tragulus sp) dan berbagai jenis Primata, terutama Kelempiau/Owa (Hylobathes agilis).

Pegunungan Iban :

Kawasan ini memiliki kenakeragaman hayati yang berlimpah. Penelitian-penelitian yang berusaha menggali potensi keanekaragaman hayati terus berlangsung. Pada tahun 1997 telah dilakukan Borneo Biodiversity Expedition to the Trans-Boundary Conservation Area of Betung-Kerihun National Park (West Kalimantan, Indonesia) and Lanjak-Kentimau Wildlife Sanctuary (sarawak, Malaysia) yang merupakan daerah Green Belt Pegunungan Iban disponsori oleh ITTO dan melibatkan sejumlah ilmuwan dan kelembagaan dari kedua negara dengan beberapa temuan antara lain:

· Pada kedua kawasan lindung tersebut ditemukan sejumlah jenis tumbuhan yaitu genera Laxocarpus, Ardisia, Lepisanthes, Microtopis dan Jarandersonia.

· Tumbuhan langka Cyrtranda mirabilis di TN Betung-Kerihun.

· Diidentifikasi 62 jenis palem-paleman dimana 2 diantaranya jenis baru.

· Kedua kawasan kaya akan jenis Dipterocarpaceae, terutama di Sarawak.

· Tercatat 125 jenis ikan dari 12 famili (91 jenis ikan di Kalbar dan 61 jenis di Sarawak). Dua jenis ikan dari genus Glaniopsis dan sejenis ikan Gastromyzon ditemukan pertama kali di Kalimantan.

· Ditemukan 291 jenis burung dari 39 famili termasuk di dalamnya 20 jenis endemik dan 17 jenis burung migran yang secara keseluruhan mewakili 70% avifauna hutan daratan rendah Kalimantan.

· Tercatat 41 jenis tumbuhan obat-obatan, 144 jenis tumbuhan menghasilkan bahan makanan, 38 jenis tumbuhan untuk upacara, 30 jenis tumbuhan untuk bahan bangunan dan 60 jenis tumbuhan untuk berbagai macam bahan bangunan

· Ditemukan tumbuhan Hornstedtia spp yang digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan bahwa lahan perladangan gilir balik sudah ditanami kembali.

C.1.2. Potensi Jasa Lingkungan

n DAS

Pegunungan Meratus memiliki nilai penting sebagai pengatur tata air yang meliputi penyerapan curah hujan dan mengalirkannya ke dalam sistem drinase yang berada di bawahnya. DAS Barito, Das Sampanahan dan DAS Satui

Muller[6] : Kondisi Sungai Barito berbeda dengan kondisi di Mahakam, di mana air Sungai Barito terlihat lebih berwarna gelap dibanding Sungai Mahakam. Hal ini diduga karena daerah hulu Barito adalah daerah yang kaya dengan hamparan rawa dan rawa gambut.

Air tanah yang meresap melalui media yang masam seperti gambut akan mengakibatkan airnya menjadi sangat masam dan berwarna hitam.

Sungai Barito dan Mahakam dicirikan oleh zona riam yang ganas, memiliki karakteristik sangat berbeda dengan zona arus lambat, di mana kecepatan arus bertambah dan tidak adanya endapan-endapan pasir, juga berbagai material yang mengendap pada dasar sungai.

Salah satu pemandangan yang agak asing adalah teridentifikasinya sejumlah besar serangga air (famili ephemeroptera, mayflies) di atas perairan Sungai Barito pada sore hari yang memberikan nuansa warna putih di sekitar permukaan air.

Tumbang Keramu dan Tumbang Topus adalah dua desa terujung di hulu Barito sehingga lebar Sungai Barito sudah terasa menyempit. Sedangkan daerah Penyungkat adalah daerah anak Sungai Mahakam, yaitu di Sungai Sebunut dan daerah Long Bagun, tempat tim ekspedisi turun dari Penyungkat. Daerah ini belumlah daerah yang terakhir di hulu Mahakam.

Daerah Penyungkat di kaki Muller adalah daerah cagar alam, atau paling tidak semestinya berupa hutan lindung. Meski demikian, di daerah ini masyarakat sudah mulai membuka hutan untuk berladang dan mengambil kayu secara ilegal. Diperlukan suatu keseriusan untuk menyelamatkan hutan di kawasan ini yang merupakan hulu dari anak-anak sungai yang menuju ke Mahakam dan Barito.

Menyelamatkan daerah Muller suatu keharusan karena di sana berawal banyak anak sungai yang bermuara ke Sungai Barito dan Mahakam. Ancaman kerusakan dari daerah Kaltim diperkirakan lebih besar mengingat tipe hutan di bawah dinding Muller masih memiliki keragaman jenis yang tinggi dan menyimpan potensi besar untuk kayu-kayu komersial.

Dari kaki-kaki pegunungan Muller mengalir sungai-sungai kecil yang membentuk DAS besar seperti DAS Kapuas, DAS Sibau, DAS Mendalam, DAS Bungan dan DAS Embaloh.[7]

Pegunungan Iban :

Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terbentuk dari hulu sungai-sungai yang mengalir ke Provinsi Kalimantan Timur dan Sarawak adalah DAS Simenggaris. DAS ini luasnya 89.275 ha dengan pola drainase paralel,yang terdiri dari Sub DAS Simaja dan Wawasan. Panjang aliran utama sekitar 60 km dengan lebar antara 50-60 meter dan semakin melebar (> 200 meter) pada bagian muaranya. Dasar sungai bagian hulu berpasir dan pada bagian hilirnya berlumpur sampai sepanjang kurang lebih 20 km dari pantai. Aliran sungai Simenggaris masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.[8]

Pada wilayah perbatasan ini juga terdapat DAS Tabur yang didalamnya terdapat areal kerja HPH seluas 5.780 ha. DAS ini merupakan aliran drainase pantai dimana seluruh wilayahnya berupa rawa dan bakau serta dipengaruhi oleh pasang surut. Panjang aliran sungai Tabur sekitar 39,5 km dengan lebar antara 20 – 50 meter serta dasar sungai berpasir – berlumpur. Selain itu terdapat pula DAS Sebuku yang mempunyai pola drainase modifikasi dendritik dengan luas sekitar 68.350 ha. Panjang aliran sungai yang masuk dalam areal HPH sekitar 52 km dengan lebar sungai antara 20 – 50 meter dan kedalaman antara 1 – 3 meter. Dasar dan tepi sungai berbatu pada bagian hulu ditumbuhi oleh vegetasi semak. DAS Sebuku terdiri dari Sub DAS Kapukan, Agison, Tepilan dan Apan. DAS Sebakung seluas 101.595 ha mempunyai pola drainase dendritik, berhulu di Sabah (Malaysia) dan bermuara di Laut Sulawesi (Selat Makasar). Panjang aliran sungai Sembakung adalah sekitar 115 km, lebar antara 35 – 50 meter dan secara umum DAS Sembakung mempunyai arus sungai dari agak deras sampai dengan deras, dengan kecepatan aliran rata-rata sekitar 0,45 meter/detik. Dasar sungai berbatu dan dijumpai adanya beberapa riam (jeram) di bagian hulu. Tebing sungai berlereng agak curam sampai curam yang ditumbuhi vegetasi semak, dan sungai ini tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut8.

Sebuah lembaga Internasional pernah melakukan penelitian di sebuah DAS untuk menilai secara ekonomi air dari Sungai Kelay dan Sungai Segah. Diperkirakan kedua sungai tersebut memiliki nilai per tahun saat ini sekitar Rp. 48.2 miliar, atau sekitar US $ 5.62 juta. Area berhutan dari daerah aliran sungai (DAS) Kelay dan Segah juga memberikan fungsi ekologi yang penting dalam pengaturan kecepatan arus dan muatan sedimen, dan penyediaan air untuk masyarakat dan sistem pertanian. Melalui penyediaan fungsifungsi tersebut infrastruktur penting dan sistem pengairan dilindungi, dan kualitas air terjaga. Hutan-hutan tersebut merupakan bagian penting dari karakter fisik dan ekonomi Kabupaten Berau, dan akan terus menjalankan peran penting pada pembangunan masa mendatang. Hubungan antara hutan, air, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,[9]

Schwaner :Rantai pegunungan Schwaner tersebut merupakan daerah tangkapan air utama untuk Sungai Kapuas di Kalimantan Barat dan Sungai Katingan di Kalimantan Tengah. Sebagai daerah tangkapan air dan persediaan air serta kawasan perlindungan tata air untuk DAS Melawi (Kal-Bar) dan DAS Katingan (Kal-Teng). Muara DAS melawi meliputi Sungai Ella hilir, Juoi, Umbak, Sangkei, Mentatai, Serawai, Labang, Jelundung, Lekawai, Ambalau; Muara DAS Katingan meliputi Sungai Bimban, Tai, Hiran, Samba, Senamang. Pada bagian hulu DAS banyak terdapatriam/jeram dan air terjun yang dipengaruhi curah hujan. Dengan kondisi geologi perbukitan & pengendapan di kawasan bukit serta keadaan tanah yang berupa podsolik merah – kuning yang berasal dari batuan endapan, ini merupakan suatu potensi yang sangat besar dalam pertambangan di wilayah pegunungan Schwaner. Jenis potensi tersebut berupa bahan tambang yang tergolong ke dalam golongan galian C yang sangat berpotensi, seperti Batubara, Uranium, Antimoni.

Muller & Kapuas:

Ada ratusan jaringan sungai kecil dan besar masuk dalam system DAS Kapuas, dan beberapa sub DAS, diantaranya Sub DAS Embaloh di bagian Barat, Sub DAS Sibau – Menyakan dan Sub DAS Mendalam di bagian tengah, Sub DAS hulu Kapuas/Koheng dan Sub DAS Bungan di bagian Timur. Sub DAS Embaloh bermuara di Nanga Embaloh di DAS Kapuas, menjadi andalan penduduk di Banua Martinus dan Nanga Embaloh serta ibukota kecamatan Embaloh hilir. Selain itu juga sebagai tempat pencarian menangkap ikan dan sebagai sarana transportasi sungai.

Sub DAS Sibau; terletak di sebelah Timur Sub DAS Embaloh dengan batas puncak Gunung Lawit,. Sub DAS Mendalam; terletak di sebelah Timur Sub DAS Sibau dengan karakter aliran sungai deras di perhuluannya. Dimana juga banyak ditemui sumber air yang lebih asin (Sepan) ketika air sungai meluap. Sub DAS Kapuas Koheng; merupakan ujung (Uncak) Kapuas merupakan bagian dari pegunungan Muller. Karakter sungai banyak berjeram/riam dengan tertinggi pada jeram matahari yang juga mengandung mineral emas dan di rambah secara tradisional.

Sub DAS Bungan; terletak di Selatan Sub DAS Kapuas Koheng berbatasn dengan Kal-Tim dan Kal-Teng masuk dalam jajaran pegunungan Muller. Karakter sungainya banyak jeram/riam dan gua alam akibat susunan geologi berupa batuan kapur.

Panjang Sungai Embaloh 95 Km di ukur dari puncak Gunung Tunggal sampai muara Sungai Paloh; panjang Sungai Sibau 25 Km dari mata air Gunung Aseh; panjang Sungai Menyakan 65 Km dari mata air Gunung Lawit; panjang Sungai Mendalam 30 Km dari mata air Gunung Batu; panjang Sungai Hulu Kapuas/Koheng 100 Km dari mata air Gunung Cemaru; panjang Sungai Bungan 50 Km dari mata air Gunung Liang Cahung. Tipe sungai kelurusan yang dapat berupa patahan-patahan/kekar-kekar dengan jurang yang terjal dan licin serta berlantai dasar batuan induk hitam akibat aktivitas vulkanik pada Post-Eocene. Panjang dan kondisi sungai bervariasi mulai yang lebar, sempit, keruh, jernih, dalam, dangkal, berlumpur, berbatu berans (tenang, deras, jeram yang cukup tinggi).

Potensi sosial terutama budaya dan etnik Dayak. Dari rumah panjang (Betang) di Kal-Bar, (Umak) di Kal-Tim sampai ke barang kerajinan, makanan, minuman, tarian, upacara tardisi dan kearifan local masyarakat dalam berinteraksi dengan alam, bukit Lanjak, Desa Sei Sedik, Desa Ukit-ukit, Dusun Sungai Ulu Palin. Penduduk yang mendiami di sekitar pegununagn Muller & Kapuas Hulu ialah suku Dayak. Dimana tersebar pada bagian-bagian sesuai dengan mata angin yang membentang di pegunungan, pada bagian Barat di humi Dayak Iban dan Tamambaloh, di bagian Tengah Dayak Bukat, di bagian Timur Dayak Punan. Masyarakat mengandalkan Sumber Daya Alam seperti peladang, pemungut gaharu, pemungut tengkawang, pemburu dan pencari ikan. Dari jumlah penduduk relative kecil jika dibandingkan dengan luas kawasan penyangga TNBK. Pembuatan zona pemanfaatan tradisonal/enclave terhadap desa di kawasan TNBK salah satu alternative mengatasi permasalahan pengelolaan kawasan yang penduduknya makin bertambah.[R3]

n Wisata

Schwaner : Kekayaan sumber daya alam, panorama alam dan beranekaragam fenomena alam serta berbagai jenis budaya masyarakat setempat. Kegiatan pendakian ke puncak Gunung(Bukit) Raya (2.278 m dpl) merupakan puncak gunung tertinggi di Kalimantan (bagian Indonesia), sumber air panas yang terdapat di Sungai Bukit Rimban, terletak di atas Desa TumbangTabulus serta kehidupan masyarakat Dayak dan Melayu yang bermukim di sekitar kawasan.

Wisata Sejarah Rumah Betang di Kecamatan Katingan Hulu merupakan keunikan sosial budaya tersendiri yang berpotensial mendatangkan wisatawan yang tertarik dengan wisata budaya dan alam.

Dari peta RTRWK Kabupaten Gunung Mas setidaknya terdapat 3 kawasan wisata alam yang berada di Kawasan Schawaner dan Muller, namun dalam dokumen tersebut tidak disebutkan namanya.

Muller : Menyusuri sungai dan melewati jeram-jeram di sepanjang Sungai Sibau, Embaloh dan Kapuas hingga ke Sungai Mahakam memberikan kesan petualangan yang sangat menyenangkan serta pemandangan bentang daratan yang ditutupi kabut pada bagian-bagian puncak bukit, serta terkadang melintas berbagai jenis satwa liar seperti Burung Enggang (Bucerotidae) dan Rusa menimbulkan kesan alami bagi penikmatnya. Disamping itu beraneka ragam pola kehidupan masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai merupakan hal yang tak kalah menariknya.

Suasana seperti ini tentu merupakan suatu daya tarik yang memikat bagi para wisatawan khususnya dari mancanegara yang lebih menyenangi kegiatan petualangan di alam bebas.

Ada beberapa potensi yang terdapat di kawasan TNBK, seperti pemandangan yang unik dan jalur pendakian; pendakian G. Betung 1.150 mdpl dan G. Condong 1.240 mdpl, G. Lawit 1.770 mdpl, G. Kerihun 1.790 mdpl; telah dipromosikan melalui equator expedition; arung sungai dan jeram di Sungai Bungan dan jeram matahari; Sepan, tempat minum binatang; pegunungan kapur dan gua di hulu Sungai Bungan, Orang Punan Hovongen menyebutnya ‘Diang’ (lubang gua) di Tanjung Lokang.

Iban : Wisata budaya yang merupakan kekayaan nilai nilai tradisional yang masih melekat secara kuat dalam kehidupan sehari-hari. Objek wisata budaya setempat yang ada antara lain berupa rumah betang panjang (long house) serta kesenian tradisional dari masing-masing anak suku yang ada di peg. Iban.

Di Kecamatan Nunukan terdapat Air terjun Sungai Binusan, Wanawisata yang didominasi oleh vegetasi spesifik hutan dataran rendah, seperti pohon meranti, bengkirai dan ulin yang mengelilingi Desa Pembeliangan.

Di Kecamatan Lumbis terdapat Wisata budaya yang menampilkan berbagai jenis tari suku Dayak Murud yang sangat menarik, antara lain tari gong, tari koqoi dan tari samajau, Air terjun Tao Lun di Desa Patal, Arung Jeram Sungai Lumbis dari Tao Lumbis ke Desa Labang.

Di Kecamatan Krayan terdapat Wisata budaya yang menampilkan berbagai seni budaya suku Dayak Lun Dayeh, baik seni musik maupun seni tari (Bambu, Kecapi, Perang, Pusan dan Busaq Baku) di Desa Long Bawan. Ekowisata Kayan Mentarang, membujur dari perbatasan Kabupaten Nunukan dengan Sabah Malaysia di bagian Utara sampai ke Kecamatan Kayan Hulu di Kabupaten Malinau dengan negara bagian Serawak Malaysia di Selatan. Gunung Batu Sicien (Sicen), termasuk dalam kawasan ekowisata Kayan Mentarang tepatnya di Desa Tanjung pasir. Goa Kelelawar, termasuk dalam kawasan ekowisata Kayan Mentarang tepatnya di Desa Tanjung Pasir. Kuburan batu, goa penyimpanan tulang dan pembusukan mayat, serta benda-benda pusaka yang bernilai seni dan magis (guci, gong, mandau, dll), termasuk dalam kawasan ekowisata Kayan Mentarang tepatnya di tepi hulu Sungai Krayan. Batu berukir Paru’Ating, terletak di areal Taman Nasional Kayan Mentarang, tepatnya di tepi hulu Sungai Krayan. Air Terjun Ruab Sebiling, terletak di Desa Ba’Liku daerah Krayan Hulu. Hulu Giram Sungai Krayan. Pembuatan garam Gunung, terletak di hulu Sungai Main Desa Long Layu, Binuang, Ba’ Liku dan Pa’Kebuan.

Di Kabupaten Malinau terdapat Pusat budaya kesenian bukan adat dalam terdapat di Long Nawang (Ibukota Kecamatan Kayan Hulu). Daerah ini mempunyai bukti sejarah adanya bekas tangga jajahan dan makam tentara Belanda. Suku Punan terdapat di desa Sambudurut yang dikenal dengan ketangkasan berburu serta ahli membuat sumpit dan racun sumpit serta tikar rotan. Daerah Sungai Kayan yang sangat terkenal dengan arung jeram yang sangat terjal terdapat di Data Dian yang merupakan ibu kota Kecamatan Kayan Hilir. Suku Dayak Kenyah Lepo Jalau yang memiliki lamin adat dan seni budaya yang juga terkenal sangat rajin berladang.

Di Kabupaten Kutai Barat terdapat wisata Anggrek alam terdapat di Kersik Luway antara lain: Anggrek hitam (Coelogynepandurata), Erya Vania, Erya Floribuda, Coelogyne dan Rocus Soini dan Bulpophylum Mututina. Museum Mencimai terdapat desa Mencimai dan lamin sebagai pusat seni suku Dayak Tunjung yang terdapat di desa Mencimai, Eheng, Engkuni, dan Benung . Objek wisata Air terjun Jantur Gemuruh terletak di Desa Mapan. Upacara adat yang terkenal: Lamelah Tenan. Laliq Iqal, Hudoq Apah terdapat di Desa Tering.

C.1.3. Potensi Tutupan Lahan & Tingkat Kekeritisan Lahan

Berdasarkan data tutupan yang di miliki oleh Walhi pada tahun 2005 (Analisis Citra Landsat tahun 2004) terlihat seperti gambar di bawah ini menunjukkan bahwa kawasan hutan primer (hijau tua) dan hutan skunder (hijau muda) berada pada kawasan –kawan green belt. Umumnya kondisi hutan di kawasan ini memiliki tutupan baik dan masih merupakan hutan primer dan sebagian hutan skunder.

Di Kawasan Green Belt Pegunungan Meratus (GBPM), kondisi hutan cukup memprihatinkan. Kawasan ini hanya memiliki 136 ribu Ha atau 7% dari total kawasan, ini juga menunjukkan bahwa hutan di Kalsel kurang dari itu karena kawasan GBPM termasuk juga ke propinsi Kaltim. Hutan Primer sekitar 55 % dan semak belukar 17 % atau 296 ribu Ha. Ini menunjukaan kawasan GBPM sudah menuju kearah kritis. Hal ini juga ditunjukkan oleh kondisi Satuan Wilayah Sungai (SWS) utama yang berhulu sungai ke GBPM sudah kritis.

Di Kawasan Green Belt Pegunungan Muller (GBPMu), kondisi hutan masih cukup bagus. Kawasan ini memiliki hutan primer lebih dari 53 % dari total kawasan atau 1,179 juta Ha hutan dan hutan skunder 37 %. Sedangkan kawasan semak belukar dan tanah terbuka tidak sampai dengan 1 %.

Kawasan Green Belt Pegungungan Schawaner memiliki hutan primer 1,017 juta Ha atau 27 % kawasan dan hutan skunder 1,8 juta Ha atau 48 % dari total kawasan. Kawasan semak belukar sekitar 230 Ha atau 6%.

Kawasan Green Belt Pegunungan Iban memiliki hutan primer sekitar 3,651 jt Ha atau 76 % dari total kawasan dan hutan skunder sekitar 500 ribu Ha atau 10 % dari total kawasan. Kawasan ini memiliki semak sekitar 1% dan tanah terbuka sekitar 0,09 %.

Kawasan Green Belt Pegunungan Kapuas Hulu terdapat hutan primer sekitar 1,35 jt Ha (82%) dan hutan skunder sekitar 245 ribu Ha (15%). Kawasan ini juga memiliki semak belukar dan lahan terbuka kurang dari 1 % dan sisanya tertutup awan.

Secara umum tutupan lahan Kalimantan pada tahun 2005 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :



Box :

Kondisi Hutan Kalsel

Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi Kalimantan Selatan yang ditetapkan berdarsarkan peputusan Menteri Kehutanan Nomor 453/Kpts-II/1999 tanggal 17 Juni 1999 adalah seluas ± 1.839.494 Ha. Sedangkan menurut Perda No. 9 Tahun 2000 adalah seluas 1.659.003 Ha. Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi dengan perincian luas sebagai berikut :

Fungsi Kawasan

Luas (Ha)

SK Menhut

Persen (%)

Luas (Ha) Perda

Persen (%)

Kawasan Konservasi (HAS & HPA)

175.565

9,54

67.902

4.09

Kawasan Hutan Lindung (HL)

554.139

30,12

627.627

37.83

Kawasan Hutan Produksi

· Hutan Produksi Terbatas (HPT)

· Hutan Produksi Tetap

· Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK)

1.109.790

155.268

688.884 265.638

60,33

8,44

37,45

14,44

963.429

176.615

574.637

212.177

58.07

10.65

34.64

12.79

Total Luasan

1.839.494

100

1.659.003

100

Data di atas merupakan luasan kawasan hutan Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Oleh sebab itu tidak diketahui secara pasti luasan hutan kawasan Pegunungan Meratus. Paling tidak luasan hutan kawasan Pegunungan Meratus adalah luasan tersebut dikurangi luasan Cagar Alam (CA) Pulau Kaget (85,0 ha), CA Tel.Kelumpang, Sel Laut, Sel Sebuku (66.650,0 ha), CA Kep. Karimata (77.000,0 ha), dan CA. Pulau Kembang (60,0 ha). Kemudian dikurangi oleh Kawasan Hutan Produksi yang kemungkinan dalam data tersebut juga dimasukan dari wilayah Pulau Laut (Kotabaru sebrang) dan Kab. Barito Kuala.

Luas Penggunaan Lahan Kalimantan Selatan Tahun 2003

No

Penggunaan Lahan

Luas(Ha)

Prosentase (%)

1

Hutan Dataran Tinggi

667.444,7

17,784

2

Hutan Dataran rendah

58.065,2

1,547

3

TAD

14,872,9

0,396

4

Bekas Tebangan

11.001,8

0,293

5

Lahan Kering Tidak Produktif

768.498,6

20,447

6

Pertanian Lahan Kering

636.884,0

16,670

7

Pertanian Lahan Basah

312.737,4

8,333

8

Danau/Sungai

29.745,7

0,793

9

Sawah

6,927,1

0,185

10

Pemukiman

7.742,0

0,206

11

Hutan Tanaman Industri

225.537,6

6,009

12

Perkebunan

348.798,9

9,294

13

Pertambangan

13.039,2

0,347

14

Air Port

203,7

0,005

15

Hutan Rawa

40.747,5

1,086

16

Hutan Bakau

56.435,3

1,504

17

Rawa

554.370,3

14,771

Luas Provinsi Kalimantan Selatan

3.753.052

100,000

Sumber : Citra Landsat (Photo Satelit), Uni Eropa, 2003

Keadaan penutupan lahan propinsi Kalimantan Selatan, berdasarkan hasil penafsiran citra landsat yang berkisar dari tahun 1994 s/d 1997 di wilayah daratan Kalimantan Selatan diketahui bahwa luas daratan yang masih berupa hutan (berhutan) adalah sebesar 27 % dan daratan yang bukan berupa hutan (Non Hutan) sebesar 65 %. Penutupan lahan non hutan adalah penutupan lahan selain daratan yang bervegetasi hutan yaitu berupa semak/belukar, lahan tidak produktif, sawah, lahan pertanian, pemukiman, alang-alang dan lain-lain.

Keadaan Penutupan Lahan Propinsi Kalimantan Selatan Berdasarkan penafsiran citra satelit tahun 1994-1997

Penutupan Lahan

Luas (ha)

Persen Luas (%)

Total Daratan yang ditafsir

3.703.550

100

Berhutan

999.182

26,98

Bukan Hutan

2.416.248

65,24

Berawan

288.120

7,78

Sumber : Pusat Data dan Perpetaan 1998, Badan Planalogi Kehutanan

Secara terperinci kondisi tutupam lahan dapat dilihat pada tabel Luas Tutupan Hutan (vegetasi) Kalimantan Selatan sebagai berikut :

VEGETASI

Luas (Ha)

Danau/Air

Hutan dataran Rendah

Hutan Dataran Tinggi

Hutan Mangrove

Hutan pegunungan

Hutan Rawa

Lahan Basah Tidak Produktif

Lahan kering Tidak produktif

Pemukiman

Penutupan Lahan Lainnya

Perkebunan

Pertanian

(blank)

8.032,84

1.347.078,56

0,00

79.918,63

0,00

106.788,58

181.559,70

1.198.405,14

7.150,04

0,00

129.988,91

651.697,77

67.763,55

3.778.383,73

Sumber : National forestry Inventory Project, Planning Bereau, ministry of Forestry and Plantation, 1998

Gambaran Luas Jumlah dan Luas Konsesi HPH 1980-1997 Di Kalimantan Selatan dan Areal Eks HPH

Pengguna

Luas konsesi (Ha)

1980

1985

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

HPH Aktif

1.479.000

1.255.950

1.042.500

1.255.950

1.217.950

1.149.790

1.102.310

Eks HPH

195.100

120.500

Sumber :

1. Statistik kehutanan, dephutbun. 1998

2. Daftar Nama dan Alamat Perusahaan HPH, sensus pertanian 1993. BPS

Catatan : Data Th 1996 & 1997 adalah HPH yang masih berlaku, yidak termasuk eks HPH

Telah dilakukan perhitungan kembali oleh Badan Planalogi Kehutanan yang berdasarkan data citra satelit Landsat tahun 1997 s/d 2000. Perhitungan dilakukan pada 7 unit areal HPH aktif dan 6 unit areal eks-HPH. Diketahui khusus pada areal HPH dan Eks-HPH di Kalimantan Selatan, keadaan penutupan hutannya adalah sebagai berikut :

Penutupan Lahan

Areal HPH

(Ha)

%

Areal eks-

HPH (Ha)

%

Luas areal yang ditafsir

573.908

100

164.200

100

Hutan Primer

105.834

18

7.950

5

Hutan Sekunder

· Kondisi sedang-baik

· Kondisi rusak

317.000

151.074

55

26

59.750

96.500

36

59

Sumber : Pusat Data dan Perpetaan 1998, Badan Planalogi Kehutanan

Pertambangan batubara juga ikut mengurangi tutupan lahan di Kalimantan Selatan seperti apa yang tergambar dalam data bukaan tambang dan reklamasi lahan PKP2B dan PETI di bawah ini

Box :

Kondisi Hutan Kalteng

Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan kalimantan Tengah,luas kawasan konservasi yang ada di kalimantan tengah seluas kurang lebih 2.250.877,66 ha. kawasan ini terdiri dari CA,Suaka Margasatwa,TN,Taman Wisata,Perlindungan an Pelestarian Alam,Konservasi Hutan manggrove,Konservasi Ekosistem air Hitam,Konservasi Flora dan fauna,Konservasi Gambut Tebal dan Konservasi Hidrologi.(tabel 1)

HUTAN KONSERVASI

2.250.877,66

Cagar Alam

235.079,45

Suaka Marga Satwa

71.664,71

Taman Nasional

488.056,29

Taman Wisata

19.142,61

Perlindungan dan Pelestarian Alam

1.628,43

Konservasi Hutan Mangrove

31.018,40

Konservasi Ekosistem Air Hitam

37.225,55

Konservasi Flora dan Fauna

161.849,04

Konservasi Gambul Tebal

253.797,98

Konservasi Hidrologi

185.023,14

Di kalimatan tengah terdapat dua (2) buah Taman Nasional yaitu Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP)yang terletak di kabupaten Kotawaringin Barat dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya yang terletak di Kabupaten Katingan.

Secara umum jenis fauna yang ada di sungai-sungai kalimantan tengah relatif hampir sama. Jenis ikan tersebut selain untuk kebutuhan pangan seperti gabus, sepat, baung, patin dll. Sedangkan jenis ikan untuk kebutuhan ekspor seperti jenis ikan bakut yang harganya mencapai Rp 60-70 ribu/ekor. Selain itu juga ada beberapa jenis ikan hias yang menjadi komoditas seperti ikan arwana dan ikan kakari/penganten (botia macracanta). Untuk jenis ikan arwana saat ini hampir sulit ditemukan dan untuk jenis ikan botia masih banyak di temukan pada semua perairan (sungai)di kalteng. (diskiripsi dan visualisasi ikan hias air tawar di kabupaten katingan,DKP kab.katingan 2004)

Berdasarkan data Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah (data kehutanan 2006) kawasan tutupan lahan berada pada sebagian besar kawasan di Provinsi Kalimantan tengah adalah hutan dimana secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe hutan yang berbeda berdasarkan pada ketinggian tempatnya, yaitu:

- Hutan Hujan tropika seluas + 10.350.363,87 ha atau sekitar 65,51%

- Hutan Rawa Tropika seluas + 2.382.683,31 Ha atau sekitar 15,08%

- Hutan Rawa Gambut Tropika seluas + 2.280.573,55 Ha atau sekitar 5,27%

Kondisi tutupan lahan menurut wilayah propinsi tahun 2000

Hasil pengolahan data citra landsat sebagaimana tabel menunjukan bahwa areal berhutan di kaimantan tengah seluas 9,5 juta ha (62,% dari luas kalteng),namun sebagian besar atau seluas 7,4 juta ha (78% dari luas areal berhutan)merupakan hutan sekunder. Hutan yang primer yang masuh ada diperkirakan seluas 2,093 jutaa ha atau 22% dari luas areal berhutan.

Tabel 2.

No

Penutupan Hutan dan lahan

Luas (ha)

%

1

Hutan :

1. Hutan Lahan kering primer

2. Hutan rawa primer

3. Hutan Lahan kering sekunder

4. Hutan Rawa sekunder

5. Hutan Manggrove sekunder

6. Hutan tanaman

9509010

1864271

228737

4317428

2937095

45927

115552

62,04

1216

150

2817

1916

030

075

2

Non hutan :

1. Belukar

2. Belukar Rawa

3. pemukiman

4. Perkebunan

5. Pertanian lahan kering

6. Pertanian lahan kering + semak

7. Rawa

8. Tambak

9. Terbuka

10. Transmigrasi

11. Tubuh air

5.169.410[R4]

406540

1979807

32772

264647

330022

1460950

549007

437

55779

59119

10330

3,73

265

1292

021

173

215

953

358

000

036

039

007

3

Tidak ada data

648478

4,23

Jumlah

15.326.898

100

Berdasarkan paper bapak Wardoyo (kepala balai pemantapan kawasan hutan wilayah V kalimantan tengah dan selatan - Alamat kantor: jl.PM noor PO Box 62 telp.0511.772208 banjarbaru 70714

Sedangkan areal non hutan seluas 5,1 juta ha didominasi oleh belukar rawa 2,0 juta da dan pertanian lahan kering 1,8 juta ha. Dan sisanya berupa diantaranya belukar,pemukiman,perkebunan,pertanian lahan baah dan daerah rawa. Data luas tersebut di peroleh berdasarkan hasil hitungan secara digital dengan perangkat lunak sistem Informasi Geografis (SIG) Arcview. Data luas tersebut berbeda dengan luas kawasan hutan menurut SK Gubernur tahun 1999. hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaaan sumber data/peta dan metode penghitungan yang dipergunakan.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Planologi (BAPLAN) Departemen Kehutanan tahun 2000, total luasan areal kerja HPH dan eks. HPH di Kalimantan Tengah pada Hutan Produksi (HP dan HPT) seluruhnya mencakup luasan 7.587.411 Ha, dan ternyata bahwa luasan lahan kritis lebih besar dari jika dibandingkan dengan luas hutan primer. [R5] Berturut-turut untuk luasan Hutan Primer (Virgin Forest), Logged Over Area (LOA) dan lahan kritis termasuk konversi untuk kepentingan non kehutanan 1.828.972 Ha, 2.942.636 Ha dan 2.815.803 Ha, seperti pada tabel 3. Secara statistik angka tersebut dapat dianggap sebagai salah satu indikasi akan ketidakmampuan HPH dan sistem yang ada dalam pengelolaan hutan berdasarkan prinsip kelestarian, yang sudah semestinya harus menjadi bahan evaluasi kita semua dan pengalaman yang sangat berharga sebagai akibat dari sistem pengelolaan hutan yang sentralistik di masa sebelumnya. Bisa dibayangkan apabila dalam satu rotasi saja luas lahan kritis sudah mencapai ± 2,8 juta Ha, bagaimana pada saat setelah rotasi kedua, ketiga dan seterusnya nanti.

Tabel Kondisi Kawasan Hutan Produksi Propinsi Kalimantan Tengah Berdasarkan Keadaan Penutupan Lahan.

No.

Kondisi Penutupan Lahan Pada Kawasan Hutan

Luas Hutan Produksi Propinsi Kalimantan Tengah

( Ha )

( % )

A.

HUTAN PRIMER (Virgin Forest) :

- Areal HPH

1.754.674

23,12

- Areal Eks. HPH

74.298

0,98

Total Luas Penutupan Lahan

1.828.972

24,10

B.

HUTAN SEKUNDER (Logged Over Area/LOA) :

Kondisi Sedang s/d Baik

- Areal HPH

2.595.836

34,21

- Areal Eks. HPH

346.600

4,57

Total Luas Penutupan Lahan

2.942.636

38,78

C.

LAHAN KRITIS & KONVERSI NON KEHUTANAN :

Hutan rusak, tanah kosong, pertanian, dll.

- Areal HPH

2.366.891

31,19

- Areal Eks. HPH

448.912

5,92

Total Luas Penutupan Lahan

2.815.803

37,11

Total Luas Areal HPH dan Eks. HPH di Kalteng

7.587.411

100



[1] Presentasi Kaltim pada Musrenbangnas RKP 2007 tentang rencana pembangunan kawasan perbatasan, April2006

[2] Ekologi Kalimantan

[3] Ekologi Kalimantan

[4] .

[5] 12 Oktober 2005 Gatra.com

[6] Chandradewana Boer/Rustam Fahmy/Emi Purwanti*. Kompas * Sabtu, 09 Juli 2005 *

[7] Institut Dayakologi

[8] Renstra Pengelolaan Kawasan Hutan di Perbatasan RI-Malaysia

[9] Nilai sumber daya air di kabupaten berau kalimantan timur. TNC. 2002


[R1]Lihat gambar 1.22

[R2]Dipindahkan saja ke Bagian Potensi GB

[R3]Potensi Sosial

[R4]Setelah di konversi excel hasil tidak sesuai. Hasil data konversi untuk kawasan non hutan 5.149.410 ha. Jadi jumlah keseluruhan adalah 14.658.420 ha

1 Comments:

At 12:36 AM, Blogger imam ciprut said...

Thanks sob Infonya, mampir dimari juga yach...
www.iklantext.com

 

Post a Comment

<< Home