Tuesday, April 18, 2006

Penduduk Kalimantan Dulu dan Sekarang


Secara Umum Kondisi Penduduk Pulau Kalimantan sekarang ini berdasarkan jumlahnya dari data BPS adalah seperti berikut :

Propinsi

Jumlah Penduduk (BPS)

Kepadatan

1995

2000

2002

2003/04


Kalimantan Barat

3.635.730,00

3.740.017,00

4.167.293,00

4.033.234


Kalimantan Tengah

1.627.453,00

1.801.504,00

1.947.263,00



Kalimantan Selatan

2.893.477,00

2.970.244,00

3.054.129,00

3.267.282(2,04%)


Kalimantan Timur

2.314.183,00

2.436.545,00

2.566.125,00

2.704.851 /2.750.369

14,13

Jumlah

10.470.843,00

10.948.310,00

11.734.810,00



Hasil susenas, 2002. diambil dari profil tataruang per-propinsi 2003

Jumlah penduduknya11 juta (2002) , dengan kepadatan penduduk 22 orang/km2. Laju pertumbuhan penduduk 1990 – 2000 adalah 1,87 %.

A.3.1. Kondisi Penduduk Berdasarkan Suku bangsa yang ada di Kalimantan dan perkembangan dan penyebaran menurut waktu

Suku Dayak sebenarnya adalah nama kolektif puluhan suku, sub suku dan sub-sub suku. Beberapa kategorisasi digunakan pada masyarakat Dayak, tetapi pada umumnya bisa disebutkan bahwa kelompok induk Dayak terdiri dari Ngaju–Ot Danum, Iban, Punan, Kenyah Kayan, Lun Dayeh dan Land Dayak sebagai kelompok utama di Kalimantan (Avé 1996 : 4). Menurut klasifikasi Mallinckrodt, yang sedikit berbeda dari yang disebut di atas, yakni ada enam suku induk Dayak utama. Kelompok pertama, Kenya – Kayan – Bahhau, yang pada umumnya mendiami daerah Kalimantan Timur. Kedua, suku Ot Danum mendiami Kalimantan Tengah. Ketiga, suku Iban tinggal di daerah Malaysia Timur, Sabah dan Kalimantan Timur. Keempat, kelompok Murut, yang pada umumnya di Malaysia Timur, bagian Sabah dan bagian utara Kalimantan Timur. Kelima, kelompok Klemantan, juga sering diklasifikasikan sebagai Dayak Darat yang tinggal di Kalimantan Barat dan Keenam, kelompok Punan yang pada umumnya tinggal di pedalaman Kalimantan.

Kita harus mengetahui bahwa dewasa ini bahasa dan latar belakang etnis Dayak tidak selalu mengikuti wilayah yang sama. Kadang-kadang kelompok terpisah dari sub suku yang pindah ke daerah lain, karena kesempatan ekonomi atau alasan lain. Masyarakat itu membawa bahasa dan kebudayaan sendiri. Bahasa mungkin berubah sedikit, tetapi budaya dapat berubah dengan cepat sesuai dengan lingkungannya. Misalnya, ada informan yang mengatakan, bahwa ada kelompok orang Iban yang baru pindah pada waktu Perang Dunia Kedua dari Sarawak ke Kalimantan Barat (Kalbar). Alasan mereka pindah karena hidup di Sarawak terlalu berat dibandingkan dengan hidup di Kalbar khususnya pada waktu Jepang menduduki Borneo. Setelah perang selesai, kelompok Iban tidak kembali ke tempat asalnya.. [R1]

Banyak literatur tentang suku-suku yang mendiami pulau Kalimantan namun belum ada secara konfehensif secara pasti membuat peta sebaran suku-suku tersebut. Suku bangsa Dayak saja, menurut hasil penelitian awal seperti Tjilik Riwut (1958 & 1979), A.B Hudson(1967), Ukur(1972) terbagi kedalam paling sedikit 405 sub etnis. Nama-nama sub etnis itu pada umumnya dibuat sendiri oleh masing-masing sub kelompok etnis berdasarkan ciri-ciri tempat tinggal seperti daerah aliran sungai dan daerah pedalaman. Berdasarkan data yang dikutif dari http://www.ethnologue.com terdapat sebanyak 123 suku, ini termasuk suku yang telah mengalami perkembangan[1]. Di website ini mereka mencoba untuk membuat bolder sebaran suku namun mereka hanya berani membaginya berdasarkan penggunaan bahasa yang bisa/secara umum di gunakan di daerah tersebut. Peta tersebut seperti gambar di bawah ini :








Namun berdasarkankan FGD yang dilakukan oleh SOB beberapa bagian masih salah dan yang pasti belum lengkap dan detail. Saat ini dicoba untuk melakukan perbaikan terhadap data dasar tersebut diatas melalui ground cek dan pengumpulan data lebih lanjut.

Kalsel

Dalam perkembangannya, penduduk Kalimantan Selatan sekarang terdiri dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Suku Banjar menjadi suku yang mendominasi jumlah penduduk di Kalimantan Selatan. Suku-suku lain diantaranya adalah suku Dayak Meratus, Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Mandar, Dayak Bakumpai dan lain-lain (BPS 2000). Prosentase penduduk Kalimantan Selatan berdasarkan suku bangsa adalah sebagai berikut :

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan berjumlah 35.838 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :

· 585 jiwa di kabupaten Tanah Laut

· 14.508 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk Tanah Bumbu)

· 1.737 jiwa di kabupaten Banjar

· 836 jiwa di kabupaten Barito Kuala

· 112 jiwa di kabupaten Tapin

· 3.778 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan

· 3.368 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah

· 244 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Utara (termasuk Balangan)

· 1.106 jiwa di kabupaten Tabalong

· 7.836 jiwa di kota Banjarmasin

· 1.728 jiwa di kota Banjarbaru

(Belum ditemukan data penduduk Kalsel berdasarkan suku bangsa pada periode sebelum tahun 2000, BPS tidak tersedia data tersebut)

Kalteng

Wilayah propinsi Kalimantan Tengah didiami oleh banyak suku yang tersebar di berbagai kabupaten. Suku-suku tersebut antara lain adalah suku dayak Ngaju, Maanyan, Katingan, Lawangan, Bakumpai,Dusun, Ot danum (Kadorih),Ot marikit, Ot patih Tarukah, Ot siao, siang, Murung, Teboan dan Bentian. Suku-suku ini terbagi dalam sejumlah anak suku (sub suku). Suku dayak Ngaju dan Ot danum merupakan suku terbesar yang menyebat pada wilayah DAS kahayan, DAS Katingan, DAS Mentaya, DAS Seruyan, DAS Kapuas dan DAS Barito.

Seiring dengan perkembangan kota palangkaraya, masyarakat banjar yang identik dengan sistem perdagangannya mulai mengisi sentra-sentra ekonomi (pasar). Saat itu semua kebutuhan bahan pokok di pasok kebanyakan dari Banjarmasin. Kapal-kapal dagang dari Banjarmasin mulai marak memasuki sungai kahayan dengan melalui Kabupaten kapuas (Sebelum lancarnya arus transportasi darat). Maka tidak tidaklah aneh di kota Palangkaraya, Sampit dan Pangkalan Bun banyak warga Banjar yang juga ikut membangun dan meramaikan pembangunan provinsi Kalimantan Tengah.

Suku Jawa dan Madura lebih banyak pada daerah pesisir seperti kota Sampit dan Pangkalanbun. Hal ini dikarenakan sistem perdagangan dengan daerah lain seperti pulau Jawa. Untuk masyarakat dari Sulawesi (suku bugis) sebagian terdapat di kabupaten Kuala Pembuang. Awal masuk suku bugis ini masih belum ada data yang cukup (perlu dilakukan penelitian lebih lanjut).

Program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah orde baru pada tahun 1980-an dan kemudian banyak perusahaan HPH, menjadi faktor utama masuk penduduk dari Pulau jawa dan Bali secara besar besaran mulai masuk. Selain itu juga banyak penduduk dari suku Madura, Sunda, Flores, Lombok dan Bugis.

Menurut laporan Deputi kepala Pelaksanaan harian Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana dan Pengungsi (BAKORNAS PBP) pada tahun 2002, telah terjadi migrasi/perpindahan besar-besara dari seluruh Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah faktor utamanya adalah konflik etnis. Tercatat sekitar 181.575 jiwa mengungsi ke luar Kalimantan Tengah. Bahkan laporan dari seluruh pemerintah Kabupaten/kota se kalimantan Tengah jumlah pengungsi tersebut hanya tercatata 70.070 jiwa (adat istiadat dayak ngaju-pemerintah kota palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)

Saat ini perpindahan warga dari madura dari pulau Jawa mulai terlihat yang dulunya mengungsi sudah kembali ke daerah yang dulunya terjadinya konflik seperti di sampit. Diterimanya warga Madura ini juga melaui kesepakatan-kesepakatan dengan pemerintah kabupaten dan kota yang dulu pernah terjadi konflik.

Kalbar :

Penduduk di Kalimantan Barat pada umumnya masih melakukan suatu kegiatan dengan berpegang pada pedoman leluhur dari muali sejak lahir sampai menutup hidup di dunia, didalam aktivitasnya selalu melakukan tradisi-tradisi yang masih dipercaya. Yang membedakan kondisi dulu dan sekarang ada pada cara melakukan ekspoitasi dan berinvestasi akan sesuatu kegiatan, dimana dulu untuk melakukan eksploitasi & investasi hanya dilakukan siapa yang dulu menemukan lahan dialah si pemiliknya serta juga siapa yang mampu membersihkan & membuka lahan dialah si empunya. Selain itu juga ada sistem berinvestasi diberikan kepada seseorang pendatang ataupun baru beranjak mandiri/dewasa dengan memeberikan tanah hanya untuk keperluan memenuhi kebutuhan hidup (bercocok tanam). Namun sekarang arus eksploitasi & investasi seperti mengucur dari kebijakan politik-hukum pemerintah tanpa di mengerti oleh masyarakat dan bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dalam satu tahun saja, akan tetapi memperoleh untung yang besar. Arus migrasi mempengaruhi demografi masyarakat di Kalimantan Barat dengan semakin beragamnya orang (suku) yang tinggal di Kalimantan Barat. Hal ini kemungkinan dikarenakan, kawasannya yang masih luas dengan rata-rata kepadatan penduduk 1 KK per 1 s/d 2 Km, sebagai tempat transit menuju ke wilayah negara tetangga. Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%. Kelompok utama yang bukan etnis Dayak yang tinggal di Kalbar adalah kelompok etnis Melayu, Tionghoa, Jawa, Bugis, dan Madura

Penyebaran penduduk di Kalimantan Barat tidak merata, karena penduduk lebih banyak berdiam di wilayah hilir 75.87 % dari RTRWP KalBar dengan total penduduk 3.722.172 jiwa (Kab&Kota Pontianak, Ketapang, Sambas, Landak, Bengkayang, Sanggau, Singkawang), sedangkan di bagian hulu hanya 24.13% dari total penduduk KalBar (Sanggau, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang).

Dengan dilihat dari penyebaran penduduk, banyak masyarakat di hulu berdiam di hilir (kota) untuk menperoleh pekerjaan di sektor riil (jasa, industri hilir, pemerintahan, dll), hal ini disebabkan pembangunan yang terjadi KalBar bermula dari hilir baru ke hulu (menentang pepatah & arus sungai ’dari hulu sampai ke hilir’). Ini menyebabkan suatu pengaruh yang sangat berarti dalam kepadatan & jumlah penduduk dan juga pada penduduk yang dapat dikaitkan dari sendi sosial dalam memenuhi kebutuhan hidup. Untuk di KalBar sendiri membagi ke dalam 3 wilayah site SOB terlebih dahulu (Melawi, Sintang, Kapuas Hulu) dalam mengklasifikasikan data penduduk menurut sendi sosial yang berkembang di masyarakat (pekerjaan, agama, pendidikan, etnis, umur tingkatan sebaran desa-kota, ketergantungan dengan asset alam )Di lihat dari Pekerjaan Kependudukan di Kabupaten Kapuas Hulu, untuk tahun 2003/2004 berjumlah 105.827 jiwa dengan terbagi ke dalam jenis pekerjaan ( Pertanian 79.98 %, Pertambangan 2.21%, Industri 2.55%, Energi 0.09%, Bangunan 1.79%, Perdagangan & motel 6.09%, jasa pengangkutan 2.25%, Finansial & perusahaan 0.09%, Jasa lainnya 4.95% ); dengan usia produktif 15-60 tahun 2004 berjumlah 204.521 jiwa Kabupaten Sintang meliputi usaha ( Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri 1.52%, Energi 0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi & komunikasi 1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08% ); Kabupaten Melawi (Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri 1.52%, Energi 0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi & komunikasi 1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08% )

Agama/Rumah Ibadah Kabupaten Sintang ( Islam 189 Masjid &314 Surau, Katolik 165 Gereja & 137 Kapel, Protestan 187 Gereja, Budha 6 Vihara ) ; Kabupaten Kapuas Hulu ( Islam 106.398 Jiwa dengan 204 Masjid & 135 Surau, Katolik 76.171 Jiwa dengan 126 Gereja & 157 Kapel, Protestan 21.689 Jiwa dengan 63 Gereja, Hindu 289 Jiwa, Budha 87 Jiwa ); Kabupaten Melawi ( Islam 138 Masig & 141 Surau, Katholik 73 Gereja & 25 Kapel, Protestan 119 Gereja, Hindu 2 Vihara ) .

Pendidikan Kabupaten Sintang ( TK 125 guru & 1489 Murid, SD 2216 Guru & 50.806 Murid, SLTP 841 Guru & 12.842 Murid, SLTA 555 Guru & 7163 Murid, Perguruan Tinggi 5484 Jiwa ) ; Kabupaten Kapuas Hulu ( TK 1187 Murid, SD 31.568 Murid, SLTP 7356 Murid, SLTA 4308 Murid, Pendidikan Non Formal 1334 Jiwa ); Kabupaten Melawi ( TK 58 Guru & 482 Murid, SD 1184 Guru &23.369 Murid, SLTP 394 Guru & 5572 Murid, SLTA 201 Guru & 3668 Murid, Perguruan Tinggi 2607 Jiwa ).

Etnis Kabupaten Kapuas Hulu berdasarkan Transmigrasi (Sunda 439 Jiwa, Jawa 42 Jiwa)

Per Kecamatan Kabupaten Sintang per jiwa ( Serawai 21.215, Ambalau 14.085, Kayan Hulu 21.696, Sepauk 41.63, Tempunak 24.016, Sei Tebelian 12.655, Sintang 51.398, Dedai 12.090, Kayan Hilir 12.401, Kelam Permai 14.086, Binjai Hulu 10.650, Ketungau Hilir 10.083, Ketungau Tengah 25.572, Ketungau Hulu 18.228 ) ; Kabupaten Kapuas Hulu Per Jiwa ( Putussibau 16.377 , Manday 7.405, Emabaloh Hilir 9.812, Embaloh Hulu 4.937, Bunut Hilir 10.260, Bunut Hulu 11.556, Embau 9.861, Hulu Gurung 12.402, Selimbau 14.587, Semitau 6.638, Seberuang 9.505, Batang Lupar 4.706, Empanang 2.466, Badau 5.057, Silat Hilir 13.528, Silat Hulu 9.876, Kedamin 15.888, Kalis 7.694, Mentebah 8.739, Boyan Tanjung 7.506, Batu Datu 7.899, Suhaid 7.944, Puring Kencana 2.823; Kabupaten Melawi per jiwa (Sokan 13.679, Tanah Pinoh 24.348, Sayan 14.917, Nanga Pinoh 48.916, Belimbing 25.904, Ella Hilir 14.319, Menukung 16.957 ).

A.3.2. Model-Model Kelola Asset Alam Rakyat Yang Sudah Ada

Model Kelola Asset Alam sangat dipengaruhi oleh kondisi bentang alam yang ada di Kalimantan serta perkembangan jaman. Hutan & Pegunungan, Sungai, Lahan Basah dan Pesisir merupakan wilayah kelola asset secara umum. Pada jaman purba penduduk memelihara petak-petak sagu bukit disamping kegiatan berburu, seperti suku Penan. Mereka juga telah menanam pohon buah-buahan dan umbi umbian. Hal ini mungkin merupakan usaha-usaha pertanian yang tertua di Borneo. Dengan pemanenan sagu dan umbi-umbian yang pasti dan teratur, terbentuklah pemukiman menetap disepanjang sungai dan daerah pantai dan mereka mulai menangkap ikan dan mengumpulkan kerang (Bellwood, 1988). Ketika datang migran dari bangsa Mongoloid mereka membawa cara budidaya padi dari daratan Asia kira-kira 5.000 tahun yang lalu (Glover, 1979) Pemukiman tetap dan pemanenan padi memerlukan pembukaan lahan. Berkembanglah sistem perladangan gilir balik[2].

Model kelola asset alam yang terdapat di Kalimantan Barat dapat di kategorikan ke dalam 3 kawasan :

1. Kawasan Hutan, dimana pengelolaan menggunakan pembagian kawasan dengan sistem pembagian secara bilateral dan turun-temurun yang didominasi akan dari hasil hutan dan dengan pola pertanian berladang gilir-mudik untuk menyuburkan tanah (mengahsilkan tanah bakar), karena kandungan asam yang cukup tinggi.

2. Kawasan DAS (Sungai), dimana pengelolaan lahannya hanya dapat digunakan pada musim tertentu (kemarau) dengan memanfaatkan sungai pasang surut dengan per periode 6 bulanan, selain dari memanfaatkan perladangan dengan jenis tanaman berumur pendek juga memanfaatkan sungai sebagai tempat mencari lauk (ikan).

3. Kawasan Pesisir, dimana pengelolaan lahannya dilakukan sesuai dengan pasang surut air laut dengan di dominasi tanaman bakau dan berjenis gambut, yang mayoritas masyarakatnya beraktivitas sebagai nelayan.

Hubungan dan Arti Penting Hutan

Melihat persoalan hubungan masyarakat adat dengan hutan, ada 2 unsur yang menjadi ciri hampir semua sistem tradisional di Indonesia di bidang pengelolaan dan penggunaan sumber daya hutan.

Pertama kerumitan ratusan spesies dipelihara atau dipanen, meskipun tidak pada musim yang sama. Pendekatan “Portopolio” ini mengurangi resiko kegagalan sistem dan juga mengurangi dampak ekologi pada satu spesies dan sumber daya. Kecenderungannya adalah penduduk memadukan pertanian untuk kehidupan sehari-hari dengan tanaman keras dari puluhan Spesies, berburu dan menangkap ikan, beternak dan mengumpulkan ratusan spesies hutan (Barber, 1987, Dove, 1985).

Hal yang Kedua adalah penggunaan tradisi kelola hutan, umumnya termasuk dari bagian dari sistem yang jelas dari wewenang lokal dan adat yang mengatur panen, mengawasi warga keluar masuk lahan dan menyelesaikan perselisihan berdasarkan aturan atau norma-norma yang berlaku.

Keterkaitan masyarakat Dayak Meratus dengan hutan sangat bersifat religio magis, sehingga banyak bagian-bagian hutan yang menjadi tempat keramat (sakral), yang bersifat pemujaan. Ketergantungan hubungan ini berakibat berkembanglah bermacam-macam pranata sosial yang mengatur berbagai macam hubungan antar manusia dengan hutan dan menjadi tunduk kepada aturan adat yang terus berkembang, dalam mengatur warga masyarakat hak untuk berburu dan mengambil hasil hutan dan pemanfaatannya. Hal ini juga berlaku di Kalimantan lainnya[R2] .

Secara umum, aturan tersebut juga mengatur hubungan kerja dalam hal penggunaan dan penguasaan wilayah-wilayah tertentu terhadap hutan. Dari berbagai pranata-pranata yang ada dan berkembang di Dayak Meratus dan pengertian serta batasan tentang sistem kategori hutan yang dikenal masyarakat, dikaitkan dengan konsepsi tentang status kepemilikan dari masing-masing kategori hutan, dan juga ditinjau dari konsepsi dari model-model pemanfaatan hutan berdasarkan tata ruang pemanfaatan wilayah yang dikenal masyarakat Dayak Meratus tersebut.

Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan memiliki arti penting dalam kehidupan mereka. Tidak hanya sebagai penyedia kebutuhan hidup berupa makanan, air, bahan bangunan tetapi juga dalam hubungan religi mereka. Hubungan yang terjalin antara masyarakat dan alamnya dapat terlihat dalam budaya dan kehidupan mereka.

Hutan sebagai sumber penghidupan

Hutan menyediakan berbagai jenis makanan bagi masyarakat, sebagai sumber protein masyarakat dapat mencari/berburu binatang seperti babi, kijang, pelanduk serta, paku-pakuan, talas, berbagai jenis rembung, beragai jenis tumbuhan kulat yang hidup di lantai hutan maupun kayuan hutan, buah-buahan dan tanaman untuk sayur mayur bisa menjadi sumber vitamin bagi masyarakat selain dari buah-buahan hutan lainnya.

Tanaman hutan juga menjadi bahan-bahan untuk pengobatan tradisional bagi masyarakat, menurut balian beberapa tanaman obat hanya bisa tumbuh di daerah katuan (hutan) dan sangat susah untuk dibudidayakan.

Bahan bangunan berupa kayu meranti, ulin, sungkai, rumbia baik itu diambil dari batang, kulit dan daunnya diperoleh hutan.

Pendapatan uang tunai yang bersumber dari hasil hutan bisa berupa minung, tu’u, manau yang merupakan jenis rotan dapat di jual perbatangan. Untuk tabungan tahunan yang bisa diambil masyarakat bisa berupa madu dan buah-buahan seperti kedaung, jengkol, durian dan cempedak belum lagi tanaman lainnya yang belum ekonomis untuk diusahakan di karenakan mahalnya biaya angkut.

Perlengkapan kehidupan sehari-hari yang mendukung aktivitas di rumah tangga juga tersedia dihutan-hutan mereka. Mulai dari kayu bakar, alat bantu memasak seperti pengaduk nasi, pembuat hulu parang, sampai dengan peralatan kerja seperti bakul, arangan semuanya di ambil dari bahan – bahan yang berada dihutan. Dengan masuknya teknologi luar menyebabkan peran hutan sebagai pendukunga aktivitas rumah tangga mulai digantikan. Getah damar tidak dipakai lagi sebagai penerang digantikan oleh minyak tanah.

Arti hutan yang bukan berbentuk nyata namun sangat berperan penting bagi kehidupan masyarakat Dayak Meratus seperti pemulih kesuburan tanah dengan adanya proses perubahan bentuk ladang menjadi belukar mayunan, sebagai pelindung sumber-sumber mata air, sebagai sumber makanan bagi hewan-hewan buruan. Dalam usaha pelestarian hutan, walaupun lahan tersebut mereka jadikan ladang namun sebelum di berakan (diistirahatkan) terlebih dulu ditanami dengan tanaman yang bernilai ekonomis. Antara lain karet alam, maupun tanaman lainya sehingga akan terjadi penghutanan kembali. Dengan pertanian sistem perladangan ini memungkinkan dapat tumbuhnya kembali secara alamiah tumbuhan hutan karena tidak ada proses pengolahan lahan sehingga biji-biji maupun akar (semacam stek) bisa menjadi pohon kembali. Sehingga kaitan keberadaan hutan bukan hanya memiliki fungsi ekologis (hidro-orologis erat kaitannya dengan teknologi pertanian mereka), melainkan juga memiliki fungsi sosial ekonomi dan sosial budaya yang lebih luas (mata rantai)

Hutan juga berkaitan dengan agama dan kepercayaan mereka, oleh karena itu ada daerah-daerah tempat panapaan dan panadaran, yang berada pada suatu kawasan tertentu. Tempat penadaran ini biasanya berupa gunung, gunung dimaksud adalah menurut pengertian mereka yaitu pegunungan yang berupa gunung batu dan disekitar dan di gunung tersebut ditumbuhi oleh pohon besar. Selain itu pula ada tumbuhan yang dijaga untuk keperluan upacara adat. Untuk kegiatan upacara adat diperlukan bahan-bahan yang bersumber dari hutan seperti enau, kelapa, bambu, lilin dari sarang madu, dupa dari getah kayu.

Pola pertanian masyarakat dayak Meratus pada umumnya adalah perladangan gilir balik. Pola pertanian ini sudah lama dipraktekan dan merupakan teknologi yang tepat untuk menghadapi berbagai kendala alam di sebagian besar Kalimantan. Pola pemanfaatan ladang yang dilakukan merupakan meniru siklus alam dengan pengolah proses alamiah di kondisi alam yang ada sebagai suatu teknologi dalam pemanfaatan SDA, sehingga banyak anggapan selama ini mereka hidup di manjakan oleh alam dan dituduh perusak hutan, padahal mereka mampu mengelola SDA untuk memanjakan mereka.

Secara umum, kearifan tradisional masyarakat suku Dayak Meratus telah mampu menjaga keutuhan sumber daya hutan secara proporsional dan mampu menjadi penopang kebutuhan hidup mereka tanpa mengurangi fungsi-fungsi ekologis dari hutan itu sendiri.

Pengelolaan asset di Kalimatan Tengah hampir sama, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dayak yang masih hidup di pedalaman dan tergantung akan SDA. Pola dan sistem yang gunakan sebagian masih tradisional yang sudah diturunkan secara turun temurun. Adat istiadat tentang kepedulian dan toleransi dengan masyarakat lain juga sebagain masih di lakukan. Masyarakat dayak di kalimantan pada umumnya masih mengelola SDA secara arif seperti dalam proses berladang,berkebun,berburu,mencari hasil hutan (rotan dan getah) dll. Ada beberapa istilah dalam kehidupan sosial antara masyarakat di kalteng, diantaranya adalah :

§ Habaring hurung ; dapat diartikan sebagai tata cara kehidupan saling tolong menolong antara sesama warga,seperti mendirikan rumah,perkawinan dan kematian

§ Royong ; bekerja bersama secara sukarela untuk kepentingan umum seperti memperbaiki jalan,jembatan dll

§ Handep ; merupakan suatu bentuk arisan kerja atau suatu pekerjan yang dilakukan secara bergiliran. Handep pada umumnya terkait dengan pekerjaan berladang.

§ Harubuh ; merupakan salah satu adat kebiasaaan pada saat menuai padi seorang petani ladang. Untuk mempercepat penuaian tersebut dapat dilakukan dengan cara membayar tanaga upahan,namum dapat pula dilaksanakan dengan cara harubuh. Dalam harubuh pemilik ladang mengundang sanak keluarganya,kerabat bahkan warga dari kampung lainnya untuk bersama-sama menuai padi pada hari yang ditentukan. Ia tidak membayar upah bagi orang yang membantunya dalam menuai padi,tapi hanya cukup melaksanakan pesta di ladangnya. Pesta sedikit besar ini biasanya dengan memotong ayam dan babi (adat istiadat dayak ngaju-pemerintah kota palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)

Ada sistem kearifan lokal dalam bersyukur menerima hasil panen di tahun panen di Kalimantan Barat, diantaranya ;

1. Gawai Nyapat Tahun, yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Dayak yang berdiam di wilayah DAS dan kawasan hutan. Ini dilakukan untuk memohon syukur kepada penguas sebagai hasil panen tahun ini dan juga menyambut tahun tanam berikutnya;

2. Robo-robo, yang umumnya dilakukan oleh masyarakat yang berada di pesisir dengan bersyukur kepada penguasa melalui membuang saji ke laut dan melakukan aktivitas pagelaran, selain itu juga diyakini sebagai napak tilas terhadap masuknya penyebaran Islam;Untuk masyarakat Jawa, melakukan syukuran dengan caranya sendirinya yang biasanya melakukan saprahan.

Gambaran diatas adalah sebagian kecil model pengelolaan SDA yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kalimantan tengah (dayan Ngaju). Ada beberapa model pengelolaan SDA yang dilakukan oleh masyarakat dayak. Diantaranya adalah hasil studi POKKER SHK di Tumbang Habangoi (kabupaten Katingan)dan di desa Sembuluh (Kabupaten Seruyan)-lihat beberapa model kearifan tradisi masyarakat dayak di Kalimantan tengah

Di Kalimantan Timur, Agroforestri tradisional yang dapat dijumpai adalah sistem-sistem kebun hutan (forest-gardens) dan kebun pekarangan (home-gardens). Kedua sistem tersebut dalam kenyataannya hingga saat ini masih sangat berperan bagi kehidupan masyarakat setempat. Salah satu dari implementasi praktek tradisional tersebut di atas yang luas dikenal di Kabupaten Kutai Barat (Propinsi Kalimantan Timur), khususnya di wilayah Sendawar adalah budidaya lembo. Yang secara ilmu Agroforestry merupakan areal kebun tradisional Masyarakat Dayak di mana terdapat berbagai jenis tanaman berkayu bermanfaat, baik yang belum dibudidayakan (wild-species), setengah dibudidayakan (semi-cultivated species) dan dibudidayakan (cultivated species), didominir oleh jenis pohon dari suku penghasil buah-buahan, sebagian dikombinasikan dengan tanamantanaman bermanfaat lainnya atau hewan (binatang), serta berada tersebar tak teratur di bekas lahan ladang atau di sekitar tempat tinggal.

Di Kalimantan Barat di Masyarakat Dayak di Kabupaten Sanggau terdapat Sistem kebun yang disebut Tembawang. Menurut Kartasubrata (1991) kebun hutan berasal dari perladangan gilir balik di mana beberapa jenis pohon, bambu dan palem ditanam atau dipelihara pada suatu bagian atau seluruh lahan. Informasi yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa sistem kebun masyarakat Dayak memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan perladangan berpindah yang sudah sejak ratusan tahun lalu dilakukan.

Tembawang di Kabupaten Sanggau merupakan suatu bentuk kebun hutan yang berlokasi agak jauh dari pemukiman. Tembawang dapat diklasifikasikan kedalam bentuk kebun hutan karena penampakan dari jarak agak jauh seperti hutan serta berisi berbagai jenis pohon-pohonan yang berdiamater cukup besar.

Terminologi “Tembawang” merupakan terminologi umum yang dipakai oleh masyarakat Dayak di seluruh wilayah Kabupaten Sanggau bahkan di Propinsi Kalimantan Barat. Namun beberapa kelompok masyarakat Dayak memiliki istilah khusus untuk bentuk kebun hutan seperti itu. Misalnya masyarakat Dayak di daerah Mabit menyebutnya “ Mawa”, sedangkan di Darok disebut “Mbawa”. Kedua istilah tersebut tampaknya merupakan dialek modifikasi dari istilah umum “Tembawang”.

BOX :

Model Kelola Asset Rakyat ”Budaya Mendulang Emas”

Kepandaian menuang perunggu tersebar luas di Asia Barat Laut (Levent), karena adanya tembaga di pulau Syprus (Kypros), sedang dari pusat penemuan di Tiongkok kepandaian itu tersebar ke Asia Tenggara termasuk warga masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Tengah yang secara turun temurun mendulang emas di tepi-tepi sungai pada saat musim kemarau tiba. Biji emas ini di kumpulkan dan menjadi penghasilan setiap hari untuk menyambung hidup mereka ke tahun depan. Artinya hasil mendulang emas di tepi sungai secara tradisional dan membudaya tidak ada sejak nenek moyang "tempoe doeloe". Termasuk zaman sekarang timbul gejolak sebagai akibat datangnya penggusaha dari luar dengan menggunakan mesin penyedot dari kedalaman 18 - 25 meter di bawah permukaan sungaidiambilnya.

Secara tradisional, masyarakat hanya mengambil biji emas yang hanyut dibawa air dan terdampar di tanjung-tanjung. Pesisir tanjung inilah yang didulang oleh masyarakat Dayak dan dihasilkan setiap hari antara: 1 - 3 gram biji/pasir emas. Dengan menggunakan mekanik, terkadang bisa didapatkan 15 - 25 gr atau lebih sehari, untuk 1 biji mesin sedot. Bahkan, emas yang diambil bukan di permukaan bumi, karena dengan menggunakan teknologi mencapai kedalaman 25 sampai 40 meter dapat disedot. Namun, masyarakat setempat tidak mengerti bahwa di bawah desa mereka terkandung biji emas, termasuk di 6 anak desa Babuat (Suku Dayak Siang, dan Dohoy) yang pada akhir Maret 2000 lalu berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Australia yang mengusir penduduk desa mereka. Padahal mereka telah lahir dan dibesarkan itu sejak ratusan tahun silam. Mengapa mereka yang tinggal di desa diusir oleh pihak-pihak tertentu dari pemukiman? Paling tidak, mereka telah menebas dan menanam padi (berladang) sejak puluhan tahun silam. Setelah diketahui bahwa di bawah desa mereka ada jalur tambang emas, mengapa mereka diusir. Sementara hasil tambang tak dinikmati penduduk setempat. Ada dugaan bahwa hasil tambang sekalipun belum tahu bagi pemda setempat, berapa ton emas yang telah digali. Sebab pengangkutan emas tidak melalui sungai atau darat, melainkan diambil dengan helikopter (pesawat udara) dan diterbangkan entah kemana (Araudin, 1999[R3] ).

Mendulang emas yang bila diamati dengan cermat merupakan pekerjaan yang cukup mudah. Namun, tidak semua penduduk desa mau turun ke kali/sungaiuntuk mendulang. Pasalnya masih banyak sumber daya alam lain yang mendatangkan uang lebih cepat dan berharga setiap saat. Misalnya, menebang pohon di pinggir sungai, kemudian dijual pada pihak pengumpul. Kayu ulin banyak ditebang untuk membuat atap, tiang, atau papan, sebab kayu ulin (kayu besi) ini, bila sampai ke pinggir kali sudah ada pembelinya.

Sementara itu, bila orang mendulang emas, penghasilan sehari tidak pasti. Terkadang hanya memperoleh 1 gram. Namun kalau rezeki besar, ia menemukan serbuk biji emas yang sewaktu banjir terbawa arus ke lokasi itu, sehingga sekali ia mendulang mendapatkan serbuk emas yang lumayan. Tetapi perlu diingat bahwa mendulang emas secara tradisional hanya berlaku dimusim kering (kemarau). Sebab mereka tidak mengetahui bahwa dibawah perut bumi sekitar tempat tinggal mereka terdapat emas tertimbun (tambang emas). Mereka hanya mengetahui sebatas air yang menyapu tebing di waktu hujan deras, atau bah/banjir.

Biji emas yang BD-nya cukup berat itu, perlahan-lahan ikut terbawa air. Sehingga pada tanjung-tanjung tertentu tertahan bersama pasir dan mengendap untuk beberapa lama.

Dampak Musim Terhadap Harga Barang

Pada musim kemarau tiba, penduduk yang umumnya berusia 15 tahun keatas turun ke sungai/kali untuk mendulang. Masing-masing mencari lokasi yang menurut kebiasaan dan pengetahuan terdapat endapan biji emas. Pekerjaan ini biasanya dilakukan mulai pagi hingga petang.

Sewaktu musim kemarau tiba, harga barang, baik sandang maupun pangan melambung tinggi. Hal ini cukup beralasan, karena kapal pembawa barang dagangannya kandas di desa-desa yang lebih hilir dan biasanya tidak berpotensi emas. Barang dagangan sampai ke desa-desa pedalam ini hanya dengan kapal-kapal kecil. Sehingga harga barang pun jadi naik. Hal itu disebabkan karena sulitnya melayari sungai yang dangkal, sehingga harga emas menjadi murah, sebaliknya harga barang dagangan menjadi mahal. Walaupun harga yang dijual pedagang itu mahal namun mereka tatap membelinya. Dengan pertimbangan mereka menemukan barang yang sampai ke desa itu. Apalagi mereka mengetahui bahwa musim kemarau masing berlangsung lama. Pada umumnya mereka mencari antara lain gula, tembakau, garam, dan beras. Sedangkan di musim penghujan, biasanya penduduk memanfaatkannya dalam usaha membawa kayu gelondongan untuk dijual maupun sebagai bahan Ramu (membuat rumah). Selain itu juga harga barang biasanya sedikit lebih murah atau normal untuk di wilayah Green Belt, sehingga barang-barang yang masuk dapat dilakukan dengan menggunakan transportasi sungai (motor air/bandung).

BOX :

Upaya Pengembangan SDM dalam Pengelolaan Asset SDA

Sebagai upaya persiapan ke masa depan bagi generasi penerus bagi warga masyarakat Dayak akan meningkatkan sumber daya manusia dalam budaya masyarakat dengan cara yang sederhana, pengetahuan yang sangat minim, dan keterbatasan dana dan daya serta dipengaruhi oleh lingkungan alam yang sangat mengisolasi. Namun upaya untuk mewujudkan teori pendidikan barat : Langeveld (1971) bahwa seorang petani bercita-cita agar anaknya tidak menjadi petani, melainkan menjadi juragan tani, dapat terwujud. Walau yang mampu mewujudkan hal tersebut hanya sebagian kecil. Sedikitnya jumlah penduduk yang mampu mewujudkan teori ahli di atas, disebabkan oleh faktor kemiskinan dan yang paling tidak dapat dielakkan adalah adanya kondisi alam yang kurang menguntungkan sehingga menciptakan budaya, yang juga jauh berbeda dengan daerah lain. Warga masyarakat yang mau menyekolahkan anaknya sangat besar tantangan terhadap lingkungan dan budaya. Mengapa demikian?. Karena si anak harus dipindahkan ke luar daerah. Sebab di masyarakat desa yang sangat terpencil itu, tidak tersedia fasiltas tempat belajar, di samping budaya yang selalu mengekang keluarga di lingkungannya. Misalnya bila anak masuk usia remaja, orang tua berkewajiban menikahkan anaknya. Bila tidak, maka orang tua dianggap tidak mampu mengawinkan anaknya atau sianak dianggap tidak laku. Untuk menutupi budaya yang keliru itu, maka orang tua harus segera menikahkan anaknya yang telah remaja walaupun belum diketahui nasib masa depan anak mereka setelah berkeluarga dan mempunyai keturunan.

Bagi orang tua yang ingin masa depan anaknya lebih baik dari kehidupan keluarga mereka sekarang, anak meningkatkan sumber daya manusia (SDM) perlu ditingkatkan dengan cara menyekolahkan anaknya. Pada umumnya mereka menitipkan ke luarganya yang tinggal di kota untuk memberikan kesempatan putra-putrinya belajar, sekalipun tidak seluruhnya berhasil. Ada kalanya terlena dengan dunia kota dan ada pula yang tidak mampu bertahan tingal di kota, karena faktor himpitan zaman disertai tidak dapat berpisah dengan orang tua. Akhirnya mereka harus kembali ke desa dan siap menanti masa depan yang suram. Sebaliknya, bagi mereka yang dapat bertahan dan berhasil pendidikannya, nampaknya memiliki kelemahan karena tidak kembali membangun desanya, melainkan bertugas di perkotaan atau di desa juga tapi pada tempat lain.

Kebudayaan selalu bersifat sosial dan historik. Sosial karena tak ada kebudayaan perseorangan, selalu meliputi sekelompok orang manusia: suku, sukubangsa, bangsa (Ingg.: nation) atau kesatuan yang meliputi berbagai bangsa. Yang terakhir contohnya bangsa yang berbahasa Arab. Kebudayaan berevolusi sesuai dengan keperluan. Umpamanya : Kalau suatu kelompok gembala/ penggembala menetap di sebuah lembah yang subur seperti di Asia dan India kurang lebih 4000-5000 tahun sebelum masehi, mereka menjadi petani yang menetap (Ingg.:sedentary). Kalau sekelompok petani ladang yang menebang hutan dan membakar tebangan mereka, lalu berladang. Namun perlu diketahui masyarakat Dayak dari hasil penelitian penulis tahun 1997 (saat kabut asap tebal, di Kalimantan dan Sumatera) sedang berada di masyarakat terasing Suku Dayak: Lawangan, Bantian dan Dohoy serta Siang (di pedalaman Kalimantan Tengah perbatasan dengan wilayah propinsi Kalimantan Timur). Penelitian ini bekerjasama dengan Departemen Sosial. Kemudian awal tahun 1998 pada suku Dayak Darat (di perbatasan Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Barat). Kerjasama dengan Depkes dan LIPI Jakarta (M. Norsanie, 1999). Terbukti membakar hutan tidak dilakukan semaunya. Suku Dayak berpantang membakar hutan setelah mereka menebang pada musim kemarau, kecuali bila beberapa kali turun hujan dan telah melihat tanda-tanda pada bintang (lihat ilmu falak).

Menurut tokoh masyarakat (toma) membakar yang tidak mengikuti kehendak alam, akan merusak lingkungan. Secara adat, mereka akan mendapat sanksi budaya. Hal itu berarti dari sudut pandang budaya, mereka telah memiliki budaya untuk memelihara lingkungan hutan di sekitar mereka, agar segala habitat yang ada di sekitar mereka tidak habis (musnah) terbakar. Kebakaran terjadi karena perusahaan akan menanam sawit, karet dll. Tetapi masyarakat Dayak tinggal sejak nenek moyangnya di sekitar hutan, sering dijadikan kambing hitam oleh orang-orang tertentu. Sedangkan mereka tak berdaya menghindar atas tuduhan itu. Bahkan, terkadang mereka yang dituduhpun tak tahu siapa orang yang yang menuduhnya, karena mereka tinggal di lokasi yang terasing.

Berbicara masalah sumber daya, maka untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu demi satu sebagai berikut:

Arti dan pentingnya Sumber Daya Manusia menurut H. Malayu S.P. Hasibuan (1997;269) adalah akan dapat dilakukan dengan baik dan benar, jika perencanaannya mengetahui apa dan bagaimana sumber daya manusia itu. Sumber daya manusia atau Man Power disingkat SDM merupakan kemampuan yang dimiliki manusia. Tegasnya, kemampuan setiap manusia merupakan unsur utama dan pertama dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Peralatan yang andal/canggih tanpa peran aktif SDM, tidak berarti apa-apa.

Bila dilihat dalam aspek perencanaan sumber daya manusia atau Human Resources Planning disingkat HRPmerupakan fungsi utama dalam perencanaan (Plan). Dalam rencana ini ditetapkan tujuan dan pedoman pelaksanaan serta menjadi kontrol tanpa rencana, kontrol tak dapat dilakukan, dan tanpa kontrol, pelaksanaan perencanaan baik ataupun salah tidak diketahui hasilnya termasuk dalam pemberdayaan masyarakat desa tertinggal di Kalimantan Tengah.

Sumber daya menurut: Totok Mardikanto (1997;39) pada awalnya diartikan sebagai benda atau subtansi yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi, kemudian terbukti bahwa manusia juga merupakan sumber daya terpenting (Schumacher, 1974;45).

Tentang hal ini Zein (1982;4) menegaskan bahwa pengertian sumber daya manusia tidak sekedar terbatas pada barang (termasuk manusia) atau substansi yang digunakan dalam upaya yang lebih luas. Sedangkan menurut: Djudju Sudjana (2000) bahwa sumber daya selain manusia dan alam, juga buatan, angin, matahari, dsb. Untuk lebih jelasnya hal itu, dapat dilihat dalam uraian berkut: Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) kawasan pantai, memang masyarakatnya belum menemukan cara untuk yang pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang efektif. Sebagai bukti, sapu yang mereka ketahui hanya lidi kelapa, dan ijuk atau plastik. Padahal sabut kelapa di desa mereka berlimpah ruah. (M.Norsanie Darlan, 1996;24)

Masalah sumber daya alam (SDA) dilihat dari segi tradisional kedaulatan bangsa tertantang secara terus menerus oleh realitas ketergantungan lingkungan alam dan aspek-aspek ekonominya. Tak ada urusan yang lebih nyata dari pada pembagian wilayah ekosistem di seluruh dunia yang merupakan bagian dari planet bumi di luar yurisdiksi nasional. Pembangunan berkesinambungan hanya bisa dilaksanakan melalui kerjasama internasional untuk pengawasan dan peraturan bagi kepentingan bersama. Sehubungan dengan hal itu, yang dipertaruhkan bukan hanya pembagian wilayah ekosistem sumber-sumber daya alamnya saja, tetapi juga pada kemajuan manajemen

Sumber daya alam antar bangsa.

Dalam aspek ekonomi sumber daya, menurut: Ruslan H. Prawiro (1980; 12) bahwa secara garis besar dan lebih luas mengupas tentang sumber daya dengan uraiannya masing-masing. Tentang sumber daya lingkungan berupa: Fungsi lingkungan hidup. Dinamikan lingkungan, dan pertemuan ilmu pengetahuan dengan sumber daya. Klasifikasi sumber daya berupa: alam, manusia, kebudayaan. Udara, air, cahaya dan sumber daya pendukung lainnya. Sumber daya multi demensi berupa: Kawan atau lawan, sejarah penggunaan sumber daya hutan, kewasan hutan, pelestarian hutan, silvikutura, penggunaan kayu hutan, dan tipe-tipe hutan. Sumber daya dan kekayaan laut seperti: kandungan mineral air laut, kehidupan di laut, perikanan laut dan bercocok tanam di laut. Tanah sumber daya pertanian berupa: agrekultura, fungsi tanah dalam pertanian, unsur-unsur esensial bagi tetumbuhan, profil tanah dan perusakan tanah pertanian.

Konsep Pembangunan Bangsa

Dalam mengembangkan sikap kritis terhadap nilai-nilai budaya dalam rangka memilah-milah budaya yang kondusif dan serasi untuk menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan, maka pemerintah telah mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menuju tercapainya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi dengan meningkatkan anggaran pendidikan secara berarti. Meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan secara optimal terutama dalam meningkatkan pendidikan watak dan budi pekerti adalah untuk mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan. Selain itu, pemerintah perlu mengembangkan kualitas sumber daya manusia sendini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lingkungan sesuai dengan potensinya. Upaya tersebut diberikan kepada seluruh warga negara, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun daerah terpencil, seperti di pedalaman Kalimantan Tengah.

Budaya Mengirim Biaya Untuk Investasi Kualitas SDM

Dalam masa 25-30 tahun silam, kantor pos tidak sebanyak zaman sekarang. Biasanya kiriman untuk anak yang sedang sekolah hanya dititipkan kepada seseorang. Pengiriman yang dilakukan orangtua kepada anaknya yang berada di kota untuk biaya pendidikan, biasanya dengan periode bulanan maupun 3 bulanan. Ini pun juga tergantung dengan siapa orang yang akan turun ke kota, begitu pun sang anak yang mengirimkan surat kepada orang tuanya di kampung. Sampai sekarang ini untuk di kawasan green belt yang noata benenya jalur transportasi masih di dominasi dengan sungai dan jarak antara kampung dengan kota yang memiliki fasilitas pendidikan yang lebih. Namun untuk, wilayah yang sudah dimasuki transportasi umum darat, biasanya pengiriman surat dilakukan dengan cara menitipkan kepada supir (bis, angkot/oplet, ojek maupun truck). Komunikasi radio maupun radio SSB/ HT pun juga dirasakan begitu efektif untuk mengabarkan keluarga di wilayah yang diinginkan. Penggunaan Pos pemerintah memang kurang efektif sama sekali untuk menajangkau ke kawasan sekitar green belt, disamping itu pun rata-rata di Kecamatan yang berlokasi dengan kawasan green belt tidak berfungsi. Dari Jumlah anyaknya pengiriman surat melalui Pos, Contohnya, di tahun 2004 untuk wilayah Kapuas Hulu secara menyeluruh jenis surat tercatat (kirim 1.448 surat & terima 912 surat) kilat khusus (kirim 99728 & terima 10.747 surat), jikalau dilihat dari jumlah penduduk 207.466 jiwa dengan kepadatan 7 jiwa/Km² memang pengumpulan benada pos sangat menempuh jarak yang jauh, dibandingkan dengan menggunakan titipan kepada sarana angkutan umum yang frekuensi operasinya setiap hari.

Hasil Investasi

Seperti diuraikan di atas, bahwa hasil investasi yang telah dilakukan itu terwujud. Namun sang anak tidak kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan studinya. Ada rasa kebanggaan tersendiri baik dari pihak keluarga maupun warga desa atas keberhasilan seorang anak manusia yang lahir di desa itu. Keberhasilan itu dapat meningkatkan derajat, harkat dan martabat keluarga atas keberhasilan dalam menginvestasikan SDMnya. Biasanya walau walau orang tua telah mengeluarkan biaya yang terkadang harus mengurungkan biaya dan hak untuk anak-anaknya yang lain, namun atas keberhasilan seorang anak saja dalam keluarga itu menjadi "sarjana", misalnya. Apalagi kalau seorang ayah dapat menginvestasikan anaknya dan berhasil menjadi Bapak/Ibu teladan yang sebenarnya harus ada lembaga menobatkan orang tua itu menjadi orang tua "teladan". Karena mampu menciptakan semua anak jadi sarjana. Walaupun orang tuanya tidak tamat SD.

Mengapa anak tidak kembali ke desa?. Umumnya pada masa sekarang anak yang tidak leselai pendidkannya berusaha untuk tinggal di kota. Hanya beberapa tinggal di desa, namun demikian tidak bertugas di desa kelahirannya karena di desa kelahiran tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pengetahuan dan ilmu yang telah ia terima di sekolah. Ada kalanya mereka jadi guru, PNS lain dan ditugaskan ke pelosok tanah air.

Cara warga masyarakat Dayak menginvestasikan terhadap masa depan sumber daya manusianya adalah dengan mengirim anak-anaknya ke kota. Ada beda cara masyarakat Dayak di Bagian selatan dengan utara dalam budaya menginvestasikan SDMnya. Yakni untuk kawasan selatan cenderung dengan hasil padi dan cengkeh, adapun bagian utara cenderung pada perkayuan & emas. Sedangkan karet dan rotan sama. Para pemuda yang dikirim sekolah hanya sebagian kecil yang kembali ke desa. Umumnya setelah tamat sekolah mereka bekerja ke berbagai daerah di pelosok tanah air. Sesuai dengan bidang ilmu yang mereka tekuni.

Secara menyeluruh etnik (suku) yang ada dan tinggal beranak pinak di Kalimantan Barat sudah banyak beragam atau dapat dikatakan dari segi demografinya sudah majemuk. Karena ada beberapa suku yang besar menjadi penduduk Kalimantan Barat, yaitu Dayak, Melayu (Semenanjung), Jawa, Madura, Sunda, Bugis, Batak, Flores, Tiong Hoa. Hal ini dapat dimungkinkan sudah adanya dan terjadi perkawinan campuran yang membaur dengan komunitas setempat.

A.3.3. Kearifan Rakyat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam & Distorsi

Pada beberapa dekade terakhir sering ada masalah lingkungan dan masalah etnis di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang mendapat perhatian dari media. Banyak terjadi perubahan lingkungan alam secara fisik, tidak hanya disebabkan oleh masalah internal tetapi juga masalah yang berkaitan dengan kondisi kekurangan tanah dan permintaan bahan mentah dari luar Kalimantan. Walaupun kebijaksanaan pada waktu lalu mungkin cukup mantap, sehingga pemerintah mengeluarkan izin kepada perusahaan kayu untuk menebang pohon-pohon, tetapi kebijaksanaan pemerintah belum memperhatikan rencana perusahaan kayu untuk rehabilitasi tanah pada masa yang akan datang. Sekarang, short term thinking pada waktu itu mengakibatkan erosi tanah, sehingga tidak subur lagi dan merugikan kesempatan pada generasi muda di Kalimantan.

Hal itu sangat berbeda dari kebijaksanaan petani tradisional yang membuka ladang secara gilir balik. Setiap keluarga Dayak hanya membuka hutan seluas satu atau dua hektar saja, sehingga keseimbangan ekosistem hutan tidak rusak. Abu dari pembakaran hutan menjadi pupuk alami yang mengakibatkan hasil ladang cukup dan lingkungan pertanian kembali subur untuk manusia bertahan hidup di lingkungannya. Sesudah panen padi atau jagung tanahnya bisa dikembalikan menjadi hutan lagi dalam beberapa waktu. Seandainya bekas ladang sudah menjadi hutan dengan pohon yang sudah cukup tinggi, hutan itu bisa dibuka kembali untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat.

Tanaman padi menjadi salah satu faktor esensial pada suku Dayak dalam mewujudkan kebudayaan dan lingkungan hidupnya. Tanaman padi adalah inti dari budaya, pola pikiran dan kosmologi mereka karena keseluruhan hidup berkaitan dengan siklus padi. Seorang informan menyatakan bahwa kalau butiran padi tidak ditanam lagi maka tradisi Dayak bisa terancam punah. Petani ladang gunung atau petani sawah sebenarnya sangat cakap dalam menanam dan memilih bibit padi yang cocok dengan lokasinya. Semua desa memiliki puluhan jenis bibit padi, yaitu beras biasa dan beras ketan, yang ditanam di sawah atau di ladang. Tiap jenis padi mempunyai sifat yang unik, antara lain, tahan hama atau resistensi terhadap serangga, tahan kekeringan, menyesuaikan dengan kondisi kesuburan dan konsistensi tipe tanah. Sifat nasi juga berbeda, ada yang keras ada yang lembut, ada yang aroma wangi dan tidak beraroma.

Di samping suku Dayak, sudah sejak lama ada masyarakat dari luar dengan latar belakang etnis yang berbeda yang masuk Kalimantan. Mereka meningkatkan persaingan dalam mencari nafkah, menggali hasil bumi, seperti emas dan intan, membuka ladang pertanian atau melakukan perniagaan.

Ada kecenderungan bahwa masyarakat yang berpendidikan formal, yang menggunakan bahasa tulis, mengharapkan untuk mengelola sumber daya manusia dan sumber daya alam dimana-mana. Sebuah komunitas yang tidak hidup menurut standar tata tertib atau dengan norma yang ditetapkan oleh pemerintah dan pejabat daerah sering dipinggirkan. Marginalisasi tersebut tidak hanya berdasarkan latar belakang finansial atau etnis saja tetapi juga berdasarkan agama atau kepercayaan. Kepercayaan tradisional suku Dayak bukan merupakan salah satu agama resmi yang diterima atau yang boleh dicantumkan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP). Religi memang terkait dengan kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Tiap penduduk didorong untuk menganut Ketuhanan Yang Maha Esa yang berarti menjadi salah satu pengikut ajaran Islam, Budha, Katolik, Protestan, atau Hindu, khususnya setelah perubahan politik pada tanggal 30 September 1965 (Gerakan 30 S).

Waktu itu penduduk yang tidak menganut kepercayaan resmi didorong dengan keras untuk mendaftar secepat mungkin. Walaupun mungkin mereka dipaksa menganut agama seperti Islam atau Kristen, akan tetapi mereka sering mendaftar secara nominal saja. Banyak informan dari tokoh masyarakat Kanayatan yang berusia setengah tua pada waktu pergantian keyakinan menerima religi Kristen Katolik atau Protestan karena mereka menemui banyak unsur-unsur yang mirip dengan kepercayaan tradisional. Salah satunya adalah mitos Simulai Jadi dan Simulai Jagat yang mirip cerita dalam agama Kristen tentang Adam dan Eve atau dalam Islam cerita Adam dan Hawa.

Thambun Anyan (1996: 78) mencatat satu hal yang sangat menarik mengenai agama.

Pada waktu zaman kolonial masyarakat suku Dayak yang ingin melanjutkan sekolah terlebih dahulu harus masuk Islam supaya tidak diejek sebagai orang kafir atau orang yang dihina sebagai pemotong kepala.

Proses memilih atau pemaksaan kepercayaan baru tidak hanya terjadi pada abad ke-19 tetapi juga sudah terjadi pada waktu agama Hindu, Islam dan Kristen menyebar di Nusantara. Pada zaman dahulu penggantian kepercayaan muncul dari hubungan yang lebih akrab dengan kelompok yang dipercaya dan lebih berpengaruh atau langsung dipaksa ikut kepercayaan tertentu. Misalnya, pada zaman dinasti Çailendra yang mendirikan candi Borobudur2 menunjukkan sudah adanya kolonialis Jawa yang masuk Kalimantan dan Apabila kita mengamati struktur sosial, kita harus menyadari bahwa struktur sosial masyarakat Dayak dapat diubah oleh pendatang yang masuk sebelumnya. Khususnya budaya India dengan latar belakang Hindu, Budha dan Islam. Orang Arab dengan latar belakang Islam dan orang Eropa dengan latar belakang Kristen ikut mengubah institusi sosial di Kalimantan. Pejabat Kühr (1995 : 78) pada tahun 1892, di Serawei, Kabupaten Sintang Hulu, menemukan monumen Hindu dari zaman dahulu, yang dianggap sebagai tempat suci dan untuk meletakkan sajen oleh orang Melayu dan Dayak agar panennya dikabulkan. King (1978 : 2) menyatakan bahwa pembelahan (fission) dan perpaduan (fusion) sosiokultural terjadi karena anggota masyarakat sering meminjam unsur-unsur sosial yang semakin lama semakin mempersulit kategorisasi kelompok etnik.

Enthoven menjelaskan dalam buku yang ditulis pada tahun 1903 (King, 1978 : 3) bahwa masyarakat Pengaki di Kalimantan Barat yang baru masuk Islam, yang dalam bahasa daerah mereka disebut masok Melayu. Mereka tidak melepaskan kebiasaan tinggal di rumah panjang, minuman tradisional yang beralkohol dan makan jenis daging yang menurut ajaran Islam tidak halal. Nilai atau kepentingan sosial bersama mewujudkan struktur sosial masyarakat. Radcliffe Brown (1980: 223) menyatakan bahwa hubungan sosial tidak muncul dari persamaan kepentingan tetapi diwujudkan dari kepentingan bersama.

Unsur kepentingan bersama yang menyatukan masyarakat, seperti melestarikan klan dan tujuan bersama dari sudut kesehatan atau ekonomi, misalnya hasil panen yang cukup dan prasarana dusun, seperti jalan, sekolah dan air bersih. Hal itu memang menyatukan masyarakat di tempat tertentu. Agama dan bahasa yang sama juga merupakan salah satu alat yang dapat mewujudkan persatuan. Upacara seperti untuk merayakan panen, pernikahan, kelahiran anak, kerja bakti dan lain-lain adalah kesempatan untuk mengakrabkan hubungan antara anggota masyarakat. Kegiatan tersebut menolong manusia dalam perjalanan selama siklus hidup, dari kelahiran sampai meninggal dunia, dan juga mengikuti siklus alam dan irama hidup. (Van Gennep 1960 : 194)

Sama dengan orang kota, masyarakat di pelosok juga tergoda dengan gaya hidup “ala” konsumerisme. Salah satu anggota tokoh masyarakat memakai istilah “mabuk penyakit pasar” yang menurut dia artinya; berkeliling di pasar kota, sekaligus menikmati segala sesuatu di sana dan akan hilang keinginan untuk kembali ke desa lagi atau tidak berkeinginan lagi untuk mencari nafkah seperti petani.

Realitas saat ini adalah banyak hutan sudah ditebang dan kesempatan mencari sayur seperti rebung, daun pakis dan memburu binatang dan burung tidak sama dengan 20 tahun yang lalu. Ada PT dan perusahaan yang berminat masuk untuk menggali emas, batu-bara dan membuka ladang minyak, yang memang mengubah sistem ekologi, ekonomi dan budaya mereka secara drastis.

Ketika pertanian perkebunan komersial masuk wilayah mereka, pasti ada perubahan, itu juga dikonfirmasi salah seorang karyawan dari PT yang sudah mengelola beberapa proyek konversi hutan. Seandainya konversi hutan terjadi, kerutinan atau irama hidup tidak diatur lagi oleh musim dan ladang

Aktivitas perniagaan menyebabkan aspek baru muncul seperti pembayaran dengan uang atau membayar dengan kredit atau pinjaman dengan jaminan. Institusi sejenis “budak hutang” (pandeling) muncul sebagai jaminan diri sendiri terhadap hutang yang ada, setelah mendapat barang perniagaan tanpa menukar dengan duit atau barang hasil hutan (Mallinckrodt 1928 :136). Selama “budak hutang” tidak mengembalikan hutangnya atau tidak mampu melunasi, dia dipaksa kerja untuk orang yang memberi pinjaman atau kreditor. Pada tahun 1892 secara resmi diundangkan penghapusan sistem perbudakan (King 1978 : 27).

Secara tradisional suku Dayak tinggal di tengah hutan di rumah panjang yang tingginya beberapa meter dari tanah sehingga penghuni menggunakan tangga untuk naik ke lantai rumah. Mereka tinggal di rumah panjang yang tinggi dari tanah supaya hidup lebih aman dari binatang ganas. Pada zaman dahulu hal itu juga dimaksudkan untuk menghindari musuh anggota suku Dayak yang mencari kepala manusia (ritual pengayau) sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Menurut kosmologi mereka kegiatan mengayau dilakukan supaya mendapat kekuatan gaib yang menguntungkan bagi suku dan daerah mereka. Selain itu juga untuk mengusir roh jahat dan sesuatu yang tidak baik atau menyakitkan bagi kehidupan manusia.

Semakin lama semakin sering orang Dayak didesak oleh pihak dari luar untuk mengubah gaya pemukiman karena alasan kesehatan masyarakat, politik, pengamanan dan lain-lain. Setelah masyarakat tidak membangun rumah tradisional yang panjang dan tinggi lagi, masyarakat membangun sebuah rumah panjang langsung di atas tanah, bergaya Cina. Semakin lama semakin banyak orang Dayak membangun rumah sendiri dengan gaya arsitektur yang tidak lagi tradisional. Dewasa ini bentuk rumah tidak sama, keanekaragaman arsitektur yang digunakan oleh masyarakat sangat tinggi. Ada banyak rumah dengan lantai yang terbuat dari papan kayu atau dari semen, ada yang menggunakan atap dari daun sagu atau seng dan ada rumah yang bertingkat. Walaupun kebanyakan masyarakat kelihatannya egaliter, tetapi ada keluarga yang lebih mampu membeli barang mewah dari pada keluarga lain dan rumahnya lebih berkecukupan meskipun tidak berlebih-lebihan.

Obat-obatan pertanian atau pestisida dan herbisida sudah masuk daerah terpencil dan dikenal oleh petani tradisional. Ongkos buruh dengan ongkos penggunaan herbisida untuk membersihkan dan memudahkan penggarapan tanah hampir sama. Kelihatannya bahwa kebijakan perusahaan multi nasional herbisida menyadari ongkos potong rumput ladang secara manual dengan efek dan ongkos penggunaan Roundup sebagai alternatif yang ongkosnya hampir sama. Penggunaan obat-obatan di pelosok tersebar luas dan ladang padi tradisional tidak selalu bebas dari racun tersebut.

Masyarakat Dayak Meratus sangat arif dan bijaksana dalam pemanfaatan SDA. Dikarenakan Alam merupakan sahabat dalam kehidupan mereka. Alam bukan hanya sebagai tempat untuk mencari nafkah tapi juga punya peran penting dalam bertahan hidup demi kelangsungan kehidupan dan Religi.

Dalam pemanfaatan SDA masyarakat Dayak Meratus tidak sekedar memanfaatkan tetapi juga melalui tahapan-tahapan yang arif. Proses yang mereka jalani dan lakukan berdasarkan pengalaman dan peninggalan leluhur mereka. Dari proses sebelum membuka lahan, pada saat membuka lahan dan sampai panen serta sesudah panen mereka selalu tidak lepas dari acara-acara ritual.

Dalam penggunaan Obat-obatan Kimia dalam pola Pertanian sangat kecil (hanya sedikit masyarakat) yang menggunakannya yaitu hanya untuk membasmi hama walang sangit (nangau) bahan kimia yang digunakan adalah Matador.

Sedangkan untuk pupuk penyubur tanah, mereka tidak pernah menggunakan pupuk yang dijual dipasaran. Mereka memanfaatkan daun maupun tumbuh-tumbuhan yang dibakar untuk dijadikan humus

Luas pemanfaatan lahan untuk berladang oleh masyarakat sangat tergantung dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Selain disimpan untuk kebutuhan pangan, hasil panen tersebut juga digunakan sebagai persyaratan dalam melakukan ritual adat. Terjadinya penyempitan lahan yang digunakan untuk berladang lebih sering disebabkan oleh karena cadangan pangan masyarakat yang disimpan melebihi dari cukup, sehingga biasanya lahan yang dibuka untuk menanam padi hanya cukup untuk memenuhi persyaratan aruh tersebut.

Pola pertanian masyarakat dayak pada umumnya adalah perladangan gilir balik, masa bera pada proses gilir balik tersebut biasanya antara 15 – 20 tahun. Dalam perkembangannya panjangnya masa bera tersebut dari waktu ke waktu semakin memendek menjadi 5 – 7 tahun. Memendeknya masa bera tersebut diakibatkan menyempitnya wilayah kelola masyarakat. Selain diakibatkan adanya pengaplingan wilayah hutan yang dilakukan oleh pemerintah baik untuk konservasi maupun konsesi, penyempitan wilayah perladangan masyarakat di pegunungan Meratus juga diakinbatkan oleh adanya alih fungsi penggunaan lahan oleh masyarakat untuk digunakan sebagai kebun kayu.

Selain adanya distorsi dalam pengelolaan sumber daya alamnya, distorsi juga terjadi pada kearifan masyarakat dalam kehidupan sosial budayanya. Kegiatan gotong royong yang ada pada masyarakat adat Pegunungan Meratus dalam mengelola perladangan mereka juga mulai menghilang. Sebelumnya dalam setiap tahapan pengelolaan ladang dilakukan oleh masyarakat dengan cara be-arian (arisan tenaga kerja dalam berladang), namun sekarang hanya dilakukan pada beberapa tahapan-tahapan tertentu misalnya pada tahapan menugal dan menyelukut saja. Sedangkan pada tahapan-tahapan berladang lainnya dilakukan oleh masing-masing keluarga bahkan bisa dengan memberikan upah kepada orang lain untuk mengerjakannya.

Selain itu masuknya ajaran agama lain mengakibatkan perpindahan kepercayaan dari kepercayaan kaharingan ke agama-agama samawi, yang menarik adalah terjadinya intrusi budaya lama terhadap ritual dan budaya yang dibawa oleh agama-agama dari luar komunitas tersebut

Semakin lancarnya media komunikasi memberikan pengaruh terhadap berbagai prosesi budaya yang ada pada masyarakat adat, misal prosesi perkawinan serta prosesi budaya lainnya. Pengaruh budaya modern yang sangat kuat terhadap generasi muda masyarakat adat berdampak pada semakin berkurangnya regenerasi budaya terutama dalam pelaksanaan ritual-ritual adat. Disisi lain, masyarakat adat meratus sangat kental dengan budaya tutur daripada budaya tulisnya, sehingga sangat sedikit sarana belajar bagi generasi mudanya untuk “menyalin” berbagai mantra leluhur mereka yang menjadi syarat utama dalam setiap prosesi ritual adat masyarakat.

A.3.4. Demografi desa (dilihat dalam skala propinsi)

Secara Administrasi di Kalimantan pada tahun 2002 terbagi atas :

Propinsi

Jumlah Kabupaten

Jumlah Kecamatan

Jumlah Desa/Kelurahan

Kalimantan Barat

12

127

1500

Kalimantan Selatan

13

119

1947

Kalimantan Tengah

14

85

1355

Kalimantan Timur

13

88

1404

Pemerintah pernah membuat pembagian desa dengan istilah desa tertinggal dan tidak, yang kemudian mengeluakan dana pembangunan Inpres Desa Tertinggal (IDT). Acuan IDT di gunakan juga oleh Pemerintah Propinsi di dalam penyusunan tataruang. Di kalimantan setidaknya terdapat 2500 desa tertinggal dan sekitar 58 desa yang status hukumnya belum Definitif.

Sebagian besar penduduk Kalimantan Selatan hidup di daerah pedesaan. Menurut data statistik tahun 2000, jumlah penduduk pedesaan sebesar 1.902.918 jiwa dan 1.066.110 jiwa tinggal di perkotaan.

Lebih besarnya penduduk Kalimantan Selatan yang tinggal di pedesaan daripada perkotaan ini menunjukkan masih besarnya tingkat ketergantungan masyarakat Kalimantan Selatan terhadap potensi sumber daya alamnya.

Konflik Sosial yang Pernah Terjadi Yang mempengaruhi Kondisi Kependudukan Kalimantan

Kerusuhan etnis Madura-Dayak yang muncul beberapa tahun lalu, digambarkan secara grafis oleh media. Berita itu mengisi halaman pertama selama beberapa hari di media dunia. Sayangnya berita itu tidak merincikan alasan yang tepat, apa yang menyebabkan tindakan kekerasan dari kedua belah pihak. Dalam berbagai media, latar belakang tindakan tersebut tidak dijelaskan sepenuhnya, hanya pada penderitaan fisik yang mendapat sorotan. Sampai sekarang masalah kerusuhan dan masalah pengungsi yang muncul belum dapat terpecahkan. Bagi masyarakat Madura yang tidak langsung mengungsi ke Jawa atau Madura dikumpulkan untuk sementara di kamp-kamp pengungsi sekitar Pontianak. Baru-baru ini ada rencana untuk membuka daerah bagian selatan dari Pontianak yang letaknya di pinggir laut sebagai daerah transmigrasi baru, yang mudah-mudahan tidak akan menyebabkan masalah keamanan bagi semua pihak pada masa depan.

A.3.5. Ketergantungan dengan Asset SDA & Kondisi Lingkungan Hidup ( Ketergantungan Kehidupan atas Kondis Lingkungan)

Sumber Daya Alam masih menjadi andalan utama di Kalimantan untuk melaksanakan pembangunan. Bahkan ada stigma dikalangan pejabat pemerintahan, ”tanpa melakukan eksploitasi maka tidak akan bisa membangun”. Namun pertanyaannya apakah dengan dikurasnya SDA selama puluhan tahun belakangan ini sudah menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Jawabannya tentu tidak, bahkan kondisi lingkungan hidup di Kalimantan semakin parah (lihat lampiran peta overlay wilayah kemiskinan dengan konsesi HPH dan Perkebunan). Buktinya adalah ketidak mampuan lagi kondisi alam untuk meredam bencana alam yang kerap terjadi. Era otonomi lebih parah lagi, banyak pejabat daerah berpendapat bahwa keberhasilan kepemimpinan dinilai dari seberapa tinggi PAD. Dan untuk mendapatkan hal tersebut ternyata hal praktis yang menjadi pilihannya, yaitu eksploitasi SDA yang tidak berkelanjutan dan bukan berkelanjutan dan kerakyatan.

Kalimantan Selatan diera 90-an mengandalkan pendapatan daerah yang diperoleh dari sektor pertanian, pertambangan, perkebunan dan kehutanan. Seperti yang dituangkan dalam dokumen RPJM Kalsel 2006-2010 bahwa hasil eksploitasi sumber daya alam sampai sekarang masih memegang peranan amat penting dalam pembentukan PDRB Kalimantan Selatan, sehingga sampai tahun 2004, perekonomian Kalimantan Selatan masih bertumpu pada sektor pertanian dengan sumbangan pada PDRB sebesar 24 %. Selain itu secara umum, total ekspor terutama yang berasal dari produk pertambangan batubara merupakan penyumbang utama volume ekspor Kalimantan Selatan.

Tingginya ketergantungan penduduk Kalimantan Selatan terhadap potensi sumber daya alam juga terlihat dari data jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan dimana penduduk yang bekerja pada sektor pertanian ini mencapai 50 % dari jumlah angkatan kerja yang ada, sedangkan sisanya bekerja pada sektor non pertanian lainnya.

Disisi lain. disayangkan sekali bahwa pembangunan infra struktur dan non infra struktur yang mencapai wilayah pedesaan sangat minim sekali. Misalnya, berdasarkan data yang ada tercatat bahwa fasilitas umum seperti sarana air bersih pemerintah daerah baru mampu menyediakan 30% dari kebutuhan penduduk pedesaan. 134 desa yang berada di bantaran sungai dinyatakan termasuk dalam kawasan kumuh oleh pemerintah daerah.

Sekedar memberikan gambaran ketergantungan masyarakat kalimantan terhadap SDA terutama dari sektor pertanian dan pertambangan dapat dilihat pada grafik dan tabel dibawah ini :


Grafik . Desa dengan penduduk dominan mata pencarian sebagai petani

Jika dilihat dari grafik jumlah desa dilihat dari data 10 tahun sampai dengan 2003 terlihat jumlah desa umumnya menaik kecuali Kalsel. Namun data ini hanya berdasarkan jumlah desa namun tidak dapat menunjukan apakah terjadi pengurangan maupun penambahan desa semenjak otonomi dan pemekaran wilayah.

Propinsi

Pertambangan

Pertanian

Prosentasi Jumlah Penduduk thn 2002

2000

2001

2002

2000

2001

2002

Tambang

Pertanian

Kalbar

28.369

36.972

57.995

1.075.536

1.081.026

1.212.621

1,39

29

Kalteng

29.218

26.916

30.326

448.773

455.432

495.482

1,56

25

Kalsel

33.772

31.744

38.734

640.953

705.543

663.174

1,27

22

Kaltim

47.316

43.813

47.539

381212

382426

348.026

1,85

14

Sumber : data susenas, 2002. Prosentasi di ambil dari total seluruh penduduk (bukan penduduk pada usia kerja) pada tahun yang sama

Ketergantungan Dengan Asset alam Kabupaten Sintang ( Pertanian 257.769 jiwa, Pertambangan 22.473, Kehutanan, Perikanan ); Kabupaten Kapuas Hulu ( Perikanan & Peternakan tradisional 23.858 jiwa, Pertanian 80.638 jiwa & Pertambangan 1979 jiwa, Kehutanan ); Kabupaten Melawi ( Pertanian 122.222 jiwa & Pertambangan 10.655 jiwa, Kehutanan, Perikanan.

Di Kalimantan Barat secara umum berdasrkan data Pemprop, sektor sumber daya alam terutama pertanian masih mendominasi orang yang bekerja pada bidang tersebut yaitu 47,54 %.

[1] Masih didiskusikan

[2] Dari Ekologi Kalimantan

[3] Presentasi Pemprop Kalbar pada musrenbangnas RKP 2007, April 2006

[4] Presentasi Pemprop Kaltim pada musrenbangnas RKP 2007, April 2006


[R1]Alasan terjadi migrasi dan penyebaran suku Dayak di Kalimantan

[R2]Sebutan daerah larangan di kalimantan Bagian lainnya

[R3]Model Kelola Asset Pertambangan Emas oleh Rakyat

0 Comments:

Post a Comment

<< Home