Tuesday, April 18, 2006

Migrasi

masih draft

A.2. Migrasi

Kalimantan adalah pulau khusus yang mempunyai daya tarik bagi para penduduk dari pulau yang jumlah penduduknya lebih padat.. Sering kali mereka merantau sendiri ke Kalimantan sedangkan keluarganya masih di tempat asal. Kalau pendatang baru sudah merasa cocok dan aman dengan tempat baru dan kesempatan pada masa depan terbuka, seluruh keluarganya akan mengikutinya. Atau dalam situasi lain, ibu-bapak merantau karena kontrak kerja di perkebunan akan langsung pindah bersama dengan keluarganya. 0a[R1]

Migrasi pertama kemungkinan terjadi ketika orang luar datang dari daerah Yunnan Cina Selatan sekitar tahun 3000 – 1500 SM (Zaman glasial/zaman es) menggunakan perahu bercadik melalui Indocina ke semenanjung Malaya ke selatan Kalimantan, kelompok ini disebut dengan ”Proto-Melayu”. Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama[R2] . Kedatangan bangsa melayu Sumatera & Semenanjung Malaya ke Kalimantan memaksa suku dayak yang tinggal di tepi sungai Kapuas pindah ke hulu-hulu sungai; migrasi bangsa Cina Ke Kalbar sejak abad ke – 17 melalui rute Indocina-Malaya-Kalbar & Borneo Utara-Kalbar sebagai tenaga pekerja emas di Monterado (Sultan Sambas & Panembahan Mempawah).[R3]


Menurut H.TH.Fisher, migrasi dari Asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras Mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang di sebut pegunungan Muller-Schwaner.

Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulai Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Cerita selanjutnya tentang suku dayak, dalam menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan. Umumnya orang Dayak enggan tinggal bersama satu pemukiman dengan suku lain, mereka lebih senang pindah dan membuka kampung baru ke arah hulu sungai[R4] . Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan yang menurut tradisi lisan dayak, disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (fridolin ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Migrasi orang Dayak sendiri memilik berbagai cerita yang berbeda namun secara umum bisa dilihat dari gambaran mingrasi Dayak yang terjadi oleh suku Dayak Kenyah dan Kayan. Migrasi dan asal muasal Dayak Ngaju yang konon merupakan induk beberapa anak suku dayak yang ada di Kalimantan memiliki sejarah tersendiri dalam kaitan sejarah migrasi kependudukan di Kalimantan.

Menurut Hose (1990 : 7) dalam teks orisinal yang ditulis pada tahun 1926 dikemukakan bahwa beberapa abad yang lalu suku Iban merupakan salah satu suku yang mungkin merantau dari Sumatera. Hipotesis dari Adelaar yang mengatakan migrasi kembali ke Kalimantan menunjukkan kemungkinan orang Dayak memang berasal dari Kalimantan yang pindah ke luar dan pada akhirnya kembali lagi ke Kalimantan. Dewasa ini karena banyaknya migrasi, pernikahan di luar kelompok asli, dan juga orang Dayak yang pecah dari kelompoknya menyebabkan sulit untuk menemui tokoh masyarakat adat yang bisa menceritakan mitos dan sifat-sifat lain budayanya padi atau keperluan hidup sehari-harinya saja. 1

Tampaknya sekitar abad ke-11 suku Melayu masuk (atau kembali) ke Sambas, Mempawah, Sangga, Sintang dan kemudian menyebar ke tempat lain. Menurut pendapat umum agama Islam menyebar ke Kalimantan sekitar abad ke-15. Ini menunjukkan bahwa Islam masuk setelah orang Melayu dan Jawa membawa unsur-unsur agama Hindu dan budaya dari zaman Sriwijaya dan juga dari zaman Majapahit ke Kalimantan. Salah satu Kerajaan Hindu tertua di Kutai didirikan sekitar abad keempat, tepatnya di Kalimantan Utara. Disebutkan bahwa di candi Borobudur ada gambar laki-laki dengan telinga panjang yang sepertinya menggunakan sumpit yang panjang. Relief ini mungkin melukiskan orang Dayak (Avé 1986 : 13). Menurut Kühr (1995 : 53) dewa-dewi orang Dayak yang tinggal di pinggir sungai Kapuas, sebenarnya diberi nama dewa-dewi Hindu-Jawa yang didayakkan seperti; Petara (Batara), Jubata (Déwata) dan Sengiaug (Sang Hyang). 1

Di samping back migration (merantau kembali) orang Melayu, bangsa Tionghoa berlayar ke pantai Asia Timur pada abad ketiga untuk perdagangan dan kembalinya melalui Kalimantan dan Filipina dengan memanfaatkan angin musim. Bangsa Tionghoa adalah kelompok etnis yang cukup penting dalam sejarah Kalimantan, sehingga sejarah mereka penting disorot. 1

Sekitar abad ketujuh orang Tionghoa mulai menetap di Kalimantan tetapi mereka tetap bercorak Cina dan hubungan dengan negeri leluhur mereka selalu dipelihara. Pada tahun 1292 pasukan Kubilai Khan dalam perjalanannya untuk menghukum raja Kertanegara dari Majapahit di Jawa singgah di pulau Karimata yang terletak tidak terlalu jauh dari Pontianak. 1

Kawasan tersebut termasuk jaringan lalu lintas rute pelayaran dari daratan Asia ke Asia selatan. Pasukan Tar-tar dari Jawa menderita kekalahan total dalam pertempuran dengan pasukan Kubilai Khan. Ada kemungkinan bahwa sebagian besar pasukannya lari dan menetap di Kalimantan karena mereka takut dihukum oleh pejabat Kubilai Khan yang masih ada di Jawa. 1

Sumber lain menyebutkan, Bangsa Tionghoa diperkirakan mulia datang ke Kalimantan pada masa dinasti Ming, tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhurup kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Agama Islam di Kalimantan juga ikut disebarkan oleh orang Tionghoa. Pada tahun 1407 berdiri perkumpulan masyarakat Tionghoa Hanafi yang menganut Islam di Sambas. Laksamana Cheng Ho seorang Hui adalah penganut Islam dari Yunan yang atas perintah Cheng Tsu3[1] dan anak buahnya masuk untuk menguasai daerah tersebut. Dia menetap di sana dan menikah dengan penduduk setempat, serta menyebarkan agama Islam kepada penduduk lokal. 1.

Pengaruh Islam diperkuat oleh kerajaan demak terutama di Kalselteng bersama masuknya para pedagang melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku dayak memeluk islam tak lagi mengakui dirinya sebagai orang dayak, tapi menyebutnya sebagai orang melayu atau orang banjar. Sedangkan orang dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagain Kota Waringin, salah seorang sultan kesultanan banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang dayak (Maanyaan atau Ot danum?)

Pada tahun 1609 Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang aktif dari tahun 1602-1799 menjalin peniagaan dengan kerajaan Sambas, yang pada waktu itu masih di bawah kedaulatan kerajaan Johor. Dalam waktu yang relatif pendek perselisihan terjadi dan beberapa orang Belanda dibunuh oleh masyarakat Sambas. Pada tahun 1612 tindakan pembalasan oleh VOC terjadi, sebuah kampung di Sambas juga dibakar. 1

Pada abad ke-17 sudah ada dua rute laut dari Cina melalui Indo-Cina ke Nusantara. Pertama yang terus ke Malaya dan pantai Sumatra Timur lalu ke Bangka-Belitung serta pantai Kalbar, terutama Sambas dan Mempawah. Rute laut kedua melalui Borneo Utara terus ke Sambas dan pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu. 1

Pada tahun 1745[2] gelombang besar masyarakat Tionghoa datang dengan persetujuan Sultan Sambas untuk membuka tambang-tambang emas. Pada waktu itu sepertujuh produksi emas dunia diperkirakan berasal dari Kalbar. Orang Tionghoa membentuk kongsi di Montrado dan di Mandor, kongsi itu semakin lama semakin kuat. Perkongsian itu menetap di daerah tersebut dan wajib membayar upeti kepada sultan Melayu. Pembayaran itu mengakibatkan sultan memberi izin kepada orang Tionghoa untuk mengatur daerah sendiri, seperti urusan pemerintahan lokal dan punya pengadilan sendiri. Orang Dayak yang tidak merasa cocok dengan kekuatan orang Tionghoa berpindah ke luar daerah kekuasaan kongsi tersebut.

Gelombang perantau baru dari Tiongkok masuk karena hidup di Kalimantan aman dan ada cukup kesempatan untuk mencari emas, intan, perak dan juga karena tanahnya cukup subur. Pada tahun 1777, orang Tionghoa dari suku Tio Ciu dan suku Khe yang mencari emas di Mandor dan Montrado mendirikan Republik Lan Fong di Mandor, enam tahun setelah kota Pontianak didirikan. Pada umumnya hanya laki-laki Tionghoa yang merantau, ini dikarenakan mereka cepat berbaur dan bisa memperistri wanita Dayak atau Melayu. Kelompok Tionghoa cepat berkembang sehingga jumlah mereka mencapai 30.000 jiwa. Pada waktu itu, setelah mereka berkembang mereka berani melawan pemerintahan sultan. Beberapa pertempuran terjadi antara kongsi-kongsi dan pangeran dari Sambas.

Pada tahun 1818 bendera Belanda dikibarkan di Sambas dan atas alasan perjanjian Belanda dengan Sultan, kepala-kepala Tionghoa sebenarnya berada di bawah kekuasaan Belanda. Setelah beberapa pertempuran berat terjadi, kekuasaan kongsi-kongsi Tionghoa dibubarkan di seluruh daerah Kalimantan Barat dan Republik Lan Fong Mandor yang berkuasa selama 107 tahun dan Republik Montrado yang berkuasa selama 100 tahun diakhiri (Lontaan 1975 : 256).

Sekitar 18 bulan setelah G30S meletus di Jawa, yang menyebabkan Soeharto menjadi pemimpin Indonesia, orang Dayak mengusir sekitar 45.000 jiwa Tionghoa dari pelosok dan membunuh ratusan jiwa Tionghoa, sebagai aksi politik untuk mengimbangi masalah pada zaman dahulu (Schwarz 2004 : 21). Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah kolonial mempengaruhi kehidupan orang Dayak, dan juga bahwa sejarah orang Tionghoa, Melayu dan Dayak sangat terjalin.

Apa yang sudah disebutkan di atas, orang Melayu masuk dari Sumatra dan dari Semenanjung Malaka sekitar abad ke-11 atau ke-12 dan berbaur dengan orang Dayak. Pada umumnya mereka mendiami daerah pinggir laut dan menjadi perantara orang luar dan orang Dayak yang ingin menukar atau menjual hasil hutan. Orang Melayu juga berbaur dengan keturunan orang Jawa yang sudah masuk sebelumnya. Seorang Ratu dari keturunan Hindu Majapahit yang memerintah daerah Sambas pindah ke agama Islam untuk memudahkan perniagaan dan mengembangkan hubungan baik dengan Johor dan Brunei yang sudah masuk Islam. Dewasa ini istilah Melayu digunakan sebagai kontras Dayak dengan Melayu. Istilah Melayu tidak digunakan sebagai referensi etnis tetapi sebagai referensi Islam kontras non-Islam. Peningkatan jumlah besar orang Melayu di Kalimantan disebabkan oleh orang asli atau Dayak yang memeluk Islam dan bukan karena jumlah besar orang Melayu yang merantau ke Kalimantan. Orang Dayak yang memeluk Islam tidak berarti bahwa mereka selalu memeluk secara penuh tetapi mungkin hanya secara nominal.

Pada zaman dahulu, orang Dayak yang tidak mau dikuasai oleh suku lain terdesak dari pantai ke pedalaman Kalbar. Tergantung kekuatan suku Dayak tertentu, mereka membayar upeti atau tidak. Upeti dibayar dalam bentuk hasil hutan kepada sultan yang dibawa dengan sampan oleh pedagang Melayu ke hilir, ke pusat perdagangan di pinggir laut. Ada juga suku Dayak yang bertahan yang disebut “Dayak merdeka” dan mereka tidak dikuasai langsung oleh kerajaan Melayu pada zaman dahulu

Migrasi yang dilakukan oleh penduduk Tionghoa ke Kalimantan awalnya di daerah Singkawang (Monterado), karena konon ceritanya dari kejauhan laut terpencar sinar berwarna kuning, yang berrati banyak emas. Sejak itu dimulailah berbondong-bondong masyarakat Tionghoa masuk ke wilayah Kalimantan (Kalimantan Barat) dan banyak membuka pertambangan emas. Setelah itu masuk penjajahan Belanda yang ikut berperan berinvestasi emas di wilayah Singkawang. Selain itu juga dipengaruhi oleh migrasi dari Bugis, Melayu (Sumatera Semenanjung), Arab, Jawa. Dimana mereka masuk melalui muara sungai-sungai (Mempawah, Selakau, Kapuas), mereka pada umumnya menjadikan Kalimantan Barat awalnya sebagai tempat singgah dan berdagang, namun pada lama kelamaan ada yang memulai berinvestasi tanah dan melakukan perkawinan di sekitar pesisir sungai.

Migrasi Suku-suku Lain di Indonesia ke Kalimantan


Bugis – Bajau


[3]Serbuan Imigan dari orang-orang Bugis dari Sulawesi Selatan ke Kalseltim sekurang-kurangnya dimulai pada abad ke – 16. Para pelaut bugis terlibat dalam perdangangan dan pengangkapan ikan.

Pada awal tahun 1950-an terjadi gelombang imigran baru dari orang Bugis yang karena penderitaan akibat pemberontakan Islam Kahar Muzakar di Sulsel (Vayda dan Sahur 1985). Mereka kemudian disusul oleh kerabatnya dan mulai membuka daerah-daerah hutan didataran rendah yang luas di sepanjang jalan untuk usaha tani lada dan perdaganan lainnya. Pada tahun 1990-an migrasi orang bugis lebih pada kencendrungan mencari pekerjaan pada sektor usaha eksploitasi SDA seperti pertambangan.

Di daerah pantai barat laut Sabah dan sepanjang daerah pantai timur terdapat banyak suku Bajau, yang semual dikenal sebagai petualang laut ; penjelajah Laut Sulu untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya (Sopher 1965; Rutter 1930).

Jawa – Bali – Madura

Pendatang dari jawa telah ada dalam jumlah besar di kalimantan dalam abad ke-14 dan ke-15 semasa puncak kejayaan Kerajaan majapahit di Jawa Timur. Pengaruh mereka masih dapat dilihat dalam bahasa dan budaya serta tatacara istana di Banjarmasin, sambas dan Kotawaringain (Ave dan King 1986). Migran baru terus berdatangan dan banyak yang berhasil mengerjakan sawah lahan basah pasang surut di Kalimantan Selatan (Collier 1977, 1980).

Petani muskin yang cukup besar jumlahnya dari Jawa dan Bali juga telah dimukimkan kembali di kalimantan melalui program transmigrasi yang disponsori pemerintah. Banyak pekerja kasar di industri perminyakan, perkayuan dan kini juga pendatang dari Jawa (termasuk di kegiatan illegal). Masyarakat Madura terdapat di Kalimantan barat, Tengah dan Selatan membawa orang madura ke Kalimantan akhir abad yang lalu sebagai bagian dari program kolonisasi mereka. Orang Madura menduduki berbagai lapangan pekerjaan, dari mengemudi beca, bertani dsb.



[1] Kaisar keempat dari dinasty Ming

[2] Ada yang menyebutkan tahun 1750, misalnya dalam Sarwoto kertodipoero,1963

[3] Ekologi Kalimantan


[R2]Ditulis ari Walhi Kalbar

[R3]Uban

[R4]Hal itu terjadi jika pendatang melakukan kegiatan yang sama dengan penduduk asal, misalnya bertani dsb, namun jika beda kegiatan utama umumnya mereka bisa bergabung.

2 Comments:

At 4:31 PM, Anonymous Anonymous said...

saya ingin menanyakan, dari dulu hingga penghujung tahun 2008 ini bagaimana hubungan suku dayak dengan transmigran asal bali?apabila ada informasi mohon kirim melalui email candrakartikasari@yahoo.com
Terima Kasih

 
At 11:09 AM, Anonymous juniar_h@yahoo.com said...

Terima kasih sudah bisa bergabung.. saya ingin membaca tulisan anda yang sebelumnya, karena halaman di atas... adalah A.2 Migrasi.... sebelumnya.. tentang apa ?
Tulisan kami tunggu ( Juniar-Yogya)

 

Post a Comment

<< Home