Thursday, April 20, 2006

Latar Belakang

Kalimantan atau lazim juga disebut Borneo, sebuah pulau yang terbagi menjadi 3 negara, yaitu Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia yang berada pada garis katulistiwa yang beriklim trofis. Borneo yang masuk dalam wilayah negara Indonesia, secara administrative terbagi menjadi 4 propinsi , yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan luas seluruhnya adalah 549.032 km2 atau 73 % dari luas Borneo (Kathy Mackinnon:1:2000). Luas diatas merupakan 28% seluruh daratan Indonesia. Borneo terbentang di katulistiwa antara 70 LU dan 40 LS. Borneo terletak di kawasan bercurah hujan konstan dan bersuhu tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu, pulau ini memiliki beberapa habitat tropis tersubur di muka bumi dan memiliki hutan basah tropis terluas di kawasan Indomalaya. Pulau ini kaya akan keragaman hayati.



Jumlah penduduk Kalimantan sekitar 9,1 juta (1991), dengan kepadatan penduduk 17 orang/km2. Kalimantan berperanan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Kekayaan ini bukan berasal dari produk industri, juga bukan dari hasil pertanian dan perkebunan, melainkan karena besarnya cadangan sumber daya alam: hutan, minyak, gas, batu bara, dan mineral-mineral lain.

Pulau Borneo berbentuk pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama di bagian selatan. Lebih dari setengah pulau ini berada di bawah ketinggian 150 m dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Borneo tidak memiliki gunung berapi tetapi jajaran pegunungan, utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau, seperti trisula terbalik dari utara ke selatan, dengan tiga mata tombaknya bercabang di bagian selatan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Wilayah pesisir umumnya didefinisikan sebagai suatu jalur daratan dan laut yang terdapat di sepanjang pesisir. Wilayah ini hanya sebagian kecil di Kalimantan. Wilayah ini mencakup beberapa habitat yang dari segi ekologi sangat produktif, yaitu muara sungai, lahan basah pasang-surut, hutan bakau dan terumbu karang, dan juga merupakan daerah temapat tinggal sebagaian besar penduduk Kalimantan, di mana sebagian besar pembangunan sedang berlangsung.

Garis pesisir Kalimantan membentang sejauh 8.054 km, yakni dari Semenanjung Sambas di bagian barat sampai Pulau Nunukan di perbatasan Sabah. Sebagaian besar garis ini berhadapan dengan pantai yang dangkal, dan dibelakangnya terdapat hutan bakau dan hamparan lumpur, atau pantai berpasir yang luas, yang tepinya ditumbuhi pohon-pohon cemara Casuarina. Habitat-habitat utama di Kalimantan meliputi pulau-pulau kecil berbatu-batu, formasi terumbu karang, garis pantai berbatu-batu termasuk tanjung pantai berpasir, asosiasi bakau/nipah, dan hamparan lumpur, serta muara sungai.

Di belakang batas hutan bakau dan nipah daerah pesisir, tanah yang tergenang air di dataran rendah Kalimantan menunjang kehidupan rawa gambut dan hutan air tawar yang sangat luas. Kalimantan, secara keseluruhan, memiliki lahan basah seluas 20.116.000 ha. Dari lahan seluas itu, yang tersisa sekitar 12.478.000 ha. Persoalannya adalah dari 20 juta ha luas lahan itu, yang dilestarikan hanya sebesar 1.322.000 ha.

Kalimantan memiliki kekayaan hutan yang berlimpah ruah. Pada tahun 1968, Kalimantan ditaksir mempunyai 41.470.000 ha hutan atau kira-kira 70%. Luas ini mencakup 34% seluruh luas hutan di Indonesia. Menjelang tahun 1990, dengan basis data yang lebih baik, luas lahan di Kalimantan yang masih tertutup hutan hanya 34.730.000ha atau 63%. Angka ini menunjukkan kehilangan hutan tujuh juta hektar selama dua puluh tahun.

Saat ini, perhatian masyarakat di Kalimantan diberikan pada tanaman perkebunan dan tanaman keras. Tiga tanaman perkebunan utama di Kalimantan adalah kelapa sawit, karet, dan kelapa. Ketiga produk alam ini dipandang efektif dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mampu diterapkan dalam melindungi sistem ekologi. Selain itu, pengelolaan lahan dengan media perkebunan besar mampu melindungi tanah dengan baik, menjaga eksistensi satwa liar, dan menganut sistem berkelanjutan.

Borneo merupakan daratan dengan sungai-sungai besar: Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kayan, dan Sungai Mahakam di wilayah Kalimantan. Sungai-sungai ini merupakan jalur masuk utama ke pedalaman pulau dan daerah pegunungan tengah. Semakin ke hulu, sungai lebih sempit. Sungai tersebut mengalir melalui hutan-hutan perbukitan, berarus deras, dan airnya jernih.

Kebanyakan sungai-sungai utama di Kalimantan terdapat di jajaran pegunungan tengah. Sungai-sungai itu semakin lebar dan semakin besar volumenya menuju ke laut, karena ada tambahan air dari anak-anak sungainya, yang membentuk sungai utama yang mengalirkan air dari daerah aliran sungai yang luas. Debit air bervariasi menurut musim. Kecepatan arus, kedalaman air, dan komposisi substrat bervariasi menurut panjang aliran dan lebar sungai, dan ini mempengaruhi biota yang dapat hidup di dalamnya.

Borneo memiliki flora yang terkaya di Kepulauan Sunda, baik jumlah kekayaan maupun keragaman jenisnya. Borneo memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae, yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di kawasan Asia Tenggara; 58% jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Borneo memiliki lebih dari 2.000 jenis anggrek dan 1.000 jenis Pakis, dan merupakan pusat distribusi karnivora kantung semar Nepenthes. Tingkat endemisme flora cukup tinggi, yaitu sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya 59 marga di pulau ini unik (dari 1.500 marga seluruhnya). Hanya satu suku endemik di Borneo, yaitu Scyphostegiaceae.

Kekayaan jenis tumbuhan dapat dihubungkan dengan tipe tanah. Keragaman tipe habitat dan endemisme lokal berkaitan dengan tanah, misalnya sifat geologi batuan muda, khususnya di barat daya Borneo, berperanan dalam menentukan kekayaan jenis tersebut. Keragaman habitat hutan di Borneo berkisar dari hutan Dipterocarpaceae dewasa dengan tajuk tinggi, stratifikasi yang jelas, dan tumbuhan polong-polongan yang tinggi dan hutan Dipterocarpaceae yang menjulang tinggi. Sebagaian dari 146 enis rotan Borneo berkaitan dengan tipe hutan khusus.

Fauna Borneo menggambarkan sejarah geologi dan hubungannya dengan daratan purba. Pulau ini kaya akan fauna yang berasal dari Asia, misalnya, keluarga rusa, sapi liar, babi, kucing, monyet dan kera, tupai, dan banyak keluarga burung Asia. Banyak fauna Borneo yang serupa dengan fauna daratan Asia dan pulau-pulau Sunda lainnya, tetapi keserupaan dengan Sulawesi dan pulau-pulau di sebelah timur hanya sedikit, karena komposisi faunanya agak berbeda.

Gambaran Kehidupan Masyarakat Kalimantan

Penduduk terbanyak yang mendiami Kalimantan adalah Suku Dayak. Secara harfiah, “Dayak” berarti orang pedalaman dan merupakan istilah kolektif untuk bermacam-macam golongan suku, yang berbeda dalam bahasa, bentuk kesenian, dan banyak unsur budaya serta organisasi sosial. Mereka terutama merupakan peladang berpindah padi huma, yang menghuni tepi-tepi sungai di Kalimantan. Di seluruh Borneo, barangkali terdapat 3 juta orang Dayak. Pada umumnya, mereka tinggal di daerah-daerah aliran sungai di dataran rendah dan dataran-dataran aluvial.

Pentingnya Penyelematan Pulau Kalimantan

Berdasar karekteristik umum Pulau Kalimantan ada keterikatan antar kawasan terutama daerah hulu-hulu sungai yang menjadi bagian penting dari kehidupan di Pulau ini. Namun kondisi kawasan ini menunjukan adanya penurunan fungsi yang secara nyata dari tahun ke tahun diantaranya oleh kegiatan ekstraktif apalagi dengan kebijakan pemerintah yang terus mengancam kawasan ini seperti rencana pertambangan di kawasan lindung di Pegunungan Meratus atau rencana spektakular sawit 1,8 juta hektar di perbatasan maupun. Sehingga kedepannya bagaimana kawasan tersebut dapat diselamatkan, karena dengan menyelamatkan kawasan tersebut otomatis juga akan menyelamatkan kehidupan di pulau ini.

Kawasan “penting” yang dimaksud adalah kawasan yang memberikan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat . Di kawasan inilah tempat penyedia air, penyeimbang kondisi lingkungan hidup, pelindung dari bencana, intinya kawasan inilah yang akan membantu menyelamatkan kehidupan di Pulau Kalimantan. Kawasan ini kemudian disebut sebagai “sabuk hijau.

Kondisi Terkini

Kalimantan pada umumnya ketersediaan sumber daya alam meskipun dikatakan masih cukup tinggi namun ketersediaannya mulai terbatas. Nilai komoditas sumber daya alam di Kalimantan berasal dari beberapa sector, diantaranya hasil hutan, tambang, pertanian dan perikanan yang mendatangkan nilai ekonomi wilayah. Namun belakangan ini potensi sumber daya alam tersebut mengalami pemborosan dalam pemanfaatan, sehingga terjadi kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan hidup yang ditandai dengan pencemaran sungai serta banjir. Kalimantan yang berada di Wilayah Republik Indonesia terletak diantara 4º24' LU - 4º10' LS dan 108º30' BT - 119º00' BT, dengan luas wilayah lebih kurang 535.834 km². Perbatasan dengan Negara Malaysia terletak dibagian utara yang panjangnya mencapai 3.000 km. sebagai wilayah yang mempunyai kawasan perbatasan maka tidak dapat dikesampingkan pula persoalan yang terkait dengan illegal loging, konversi kawasan hutan dan illegal trading. Potensi hutan lindung, hutan produksi, cagar alam dan tambang umumnya menyebar di kawasan perbatasan. Potensi ini sudah dilirik oleh Negara-negara Asia, yaitu dengan membentuk kerangka kerjasama ekonomi regional BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan melalaui jalur perdagangan laut internasional.

Kondisi fisik wilayah Kalimantan yang masih menyimpan potensi sumber daya alam sebagian besar di wilayah pegunungan, yang meliputi kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai konservasi flora dan fauna, hutan di pegunungan Muller dan Schawaner, serta kawasan hutan dan hutan lindung lainnya yang ditetapkan sebagai “world heritage forest”. Kawasan hutan tersebut merupakan hulu-hulu sungai yang menyimpan cadangan air untuk seluruh Kalimantan, yaitu sebanyak 35 % yang tidak akan habis, tetapi dengan syarat tidak terganggu dan tercemar serta perlu dikelola sebagai suatu kawasan bioregion.

Sampai saat ini hasil hutan Kalimantan masih dijadikan kayu industri, sehingga beberapa spesies kayu mulai punah seperti, gaharu, ramin dan cendana yang ditebang tanpa kendali. Selain industri kayu, juga dari hasil pertambangan, pertanian/perkebunan dan industri hasil olahan yang mengandalkan sumber daya alam mengabaikan kondisi lingkungan hidup dan keberlanjutannya. Potensi sumber daya alam tersebut memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Nasional yang mencapai 10,09%, hal ini merupakan suatu nilai yang cukup tinggi. Kontribusi terbesar berasal dari sector industri pengolahan (25,8%), pertambangan dan bahan galian (20,66%), serta pertanian/perkebunan (16,34%). Meskipun pertanian pada urutan ke tiga, namun pada lingkup Propinsi, pertanian sangat dominant memberikan kontribusi pada PDRB, yaitu antara 20 – 40 %.

Gambaran singkat tersebut dapat memberikan ilustrasi bahwa Kalimantan dipandang oleh para ekonom sebagai kawasan yang memberikan harapan perkembangan dan pertumbuhan wilayah dan kontribusinya pada pertumbuhan nasional. Namun, para ekonom tersebut tidak pernah memandang dari ketersediaan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan, serta kodisi social, budaya masyarakat yang sangat tergantung oleh ketersediaan sumber daya alam sebagai ruang dan sumber kehidupan masa depan.

Pemasalahan

  • Degradasi kualitas lingkungan hidup sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak mengacu pada kondisi bioregion, sehingga mengurangi potensi sumber daya alam Kalimantan.
  • Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan yang subur di dataran rendah dan tidak berawa. Pola penyebarannya sangat terbatas dibagian barat, selatan dan timur bagian utara wilayah Kalimantan. Dibagian tengah dan dataran rendah pantai selatan umumnya lahan gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi dan sulit ditanami dengan komoditas pertanian yang ekonomis. Sedangkan dibagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air.
  • Alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi salah satu isu utama di Kalimantan, walaupun telah terdapat berbagai peraturan perundang-undangan tentang alokasi lahan, dalam pelaksanaannya masih terjadi penyimpangan di lapangan. Kondisi ini telah menimbulkan dampak negative yang sangat berat dengan munculnya banjir dan menurunnya produktivitas pertanian rakyat, serta serta dampak social lainnya.
  • Perkembangan pembangunan di bagian hulu kawasan perbatasan dan hulu pegunungan, telah mempersempit vegetasi yang menutup permukaan tanah menjadi lapisan kedap air, sehingga meningkatkan air limpasan dan telah mengakibatkan bahaya erosi tanah.
  • Kesenjangan pembangunan di Kalimantan tidak hanya antar Propinsi tetapi juga antar Kabupaten di wilayah bagian pesisir, pedalaman dan perbatasan
Kami meminta partisipasi semua pembaca, terutama pada semua tulisan-tulisan kami, untuk penyelamatan Pulau Kalimantan dari Bencana

0 Comments:

Post a Comment

<< Home