Tuesday, April 18, 2006

Kondisi Bio – Fisik Pulau Kalimantan

A.5. Kondisi Bio – Fisik Pulau Kalimantan

A.5.1. Bio-geografi

Pemisahan fauna antara Borneo dan Sulawesi mula-mula dikenal oleh penjelajah besar dan pencinta alam abad ke-19 Alfred Russel Wallace, yang menghabiskan sembilan tahun untuk menjelajah Kepulauan Indonesia. Dia mengusulkan batas fauna Asia, yaitu Bali dan Lombok ke utara melalui Selat Makasar antara Sulawesi dan Borneo, termasuk Filipina. Kemudian Thomas Huxley, seorang ahli biologi, mengurangi garis Wallace dengan mengeluarkan seluruh Filipina kecuali Palawan, yang mengikuti batas Selat Sunda dan mencakup seluruh daratan Sunda Konu. Walaupun ada perdebatan tentang keabsahannya, Garis Wallace sekarang menjadi pedoman yang baik sebagai pembatas yang berguna untuk distribusi banyak marga binatang dan tumbuhan (Balgooy 1987; Goerge 1987)[1]

Unit-unit Biogeografi di Borneo

Penyebaran jenis binatang dan tumbuhan di Borneo tidak seragam. Selain distribusi menurut ketinggian yang jelas dan batas-batas habitat, ada perbedaan dalam divisi fitogeografis, yang mungkin menggambarkan perbedaan sejarah geografis, hubungan darat Kala Plestosen dan rintangan geografis yang menghalangi penyebaran jenis. Borneo dan pulau-pulau lepas pantainya dapat dibagi dalam 9 unit biografi (MacKinnon dan MacKinnon 1986 dengan tujuh unit di Pulau Borneo saja1.

Penyebaran flora, lokasi kekayaan tumbuhan dan endemisme di G. Meratus di Kalimantan Selatan dan pesisir utara termasuk Berunai dan Serawak bagian timur, keduanya terkenal karena kekayaan jenis tumbuhannya (Myers 1988). Boiunit ke empat yang berbeda berpusat diperbukitan konu barat daya Borneo, sebelah utara S. Kapuas dan Serawak bagian barat. Daratan rendah di bagian selatan, suatu wilayah yang berhutan rawa gambut dan rawa air tawar yang luas, umumnya lebih sedikit kekayaan jenisnya. Pesisir timur Borneo agak berbeda karena secara musimanlebih kering daripada bagian pilau lainnya. Kawasan yang kurang dikenal dan berbeda mencakup perbukitan dan pegunungan tengah Borneo yang belum di eksploitasi.1

Distribusi fauna tidak hanya berkaitan dengan tipe habitat tetapi juga rintangan geografi seperti jajaran pegunungan dan sungai-sungai. Wilayah dataran rendah Borneo dialiri oleh sungai – sungai utama, yang lebarnya berperan sebagai rintangan perpindahan binantang. Hulu sungai, dimana sungai-sungai ini dan anak-anak sungainya lebih sempit dan mengalir dengan cepat tetapi umumnya lebih mudah di seberangi, terletak di atas batas distribusi menurut ketinggian bagi jenis-jenis dataran rendah. Sungai-sungai Kapuas dan Barito berperan sebagai rintangan untuk memisahkan fauna Borneo yang endemik dn pendatang dari Sumatera yang mencapai Borneo pada akhir Kala Pleistosen, ketika Sumatera dan Kalimantan Barat masih dihubungkan oleh daratan. 1

A.5.2. Iklim

Borneo terletak di katulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relatif konstan sepanjang tahun, yaitu antara 250 -35 0 C di dataran rendah. Tipe vegetasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan tahunan juga oleh distribusi curah hujan sepanjang tahun. Dataran rendah di sepanjang garis katulistiwa yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulan dapat mendukung hutan yang selalu hijau (Holdridge 1967). Semua bagian Borneo terletak di daerah yang selalu basah sepanjang tahun.1

Pola curah hujan di Indonesia ditentukan oleh dua angin musim – angin musim tenggara atau “musim kering” (mei – oktober) dan angin musim barat laut atau “musim basah” (Nopember – April). Dari Mei sampai Oktober matahari melintas Indocina dan Cina bagian selatan, dan suatu sabuk dengan tekanan rendah berkembang di atas daratan Asia yang panas. Angin yang membawa hujan bertiup ke arah utara dari daerah yang bertekanan tinggi di atas Australia dan Samudera India. Angin ini menyerap kelembaban sambil melintasi lautan yang luas. Ketika mencapai pulau-pulau di Kawasan Sunda Besar dan daratan Asia, angin naik ke atas karena harus melintasi jajaran bukit dan gunung. Sambil naik udara menjadi lebih dingin dan kelembabannya turun menjadi titik hujan. Hujan musim yang sangat lebat jatuh di atas India dan Cina bagian selatan dan curah hujan yang lebih rendah jatuh di pulau-pulau Dangkalan Sunda termasuk Borneo.1

Dari Oktober sampai maret matahari melintasi bagian selatan garis katulistiwa. Asia tengah sangat dingin dan daerah yang panas bertekanan rendah sekarangberada di bagian selatan Benua Australia. Angin musim yang bertiup dari daerah yang bertekanan tinggi di atas samudera India. Di tempat udara panas danudara dingin ini bertemu, hujan yang lebat terjadi di atas seluruh Dangkalan Sunda dan Sulawesi, Nusa Tenggara dan P. Irian.1

Kalimantan terletak di garis Equator dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relative konstan sepanjang tahun antara 250 – 350 C di dataran rendah. Dataran rendah di sepanjang equator yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulannya dapat mendukung hutan yang selalu hijau. Kalimantan terletak di daerah basah sepanjang tahun[2]. Memiliki sedikitnya bulan basah dengan curah hujan kurang dari 200 mm. Angin musim barat laut (Nopember-April) pada umumnya lebih basah dari pada angin musim tenggara, tetapi beberapa daerah pesisir menunjukkan pola curah hujan bimodal. Kalimantan dapat dibagi menjadi lima zona agroklimat. Sebagian besar daerah perbukitanyang tinggi menerima curah hujan 2.000 – 4.000 mm setiap tahun. Sebagian besar wilayah Kalimantan masuk ke dalam kawasan yang paling basah (Oldeman dkk. 1980). Tidak seperti Sumatera, di Kalimantan tidak ada gunung-gunung di daerah pesisir yang mempengaruhi curah hujan, walaupun beberapa gunung yang pendek mempengaruhi curah hujan lokal, terutama di Borneo bagian timur. Borneo tengah dan barat adalah kawasan yang paling basah, sementara bagian-bagian di pesisir timur jauh lebih kering1. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah merupakan kawasan yang paling basah. Angin musim Barat laut di Kalimantan Barat pada bulan Agustus-September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei. Curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Pada bulan Juni-Agustus iklim relatif lebih kering, akan tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan tahunan di Putussibau (Kapuas Hulu) mencapai lebih dari 4000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm. Dengan wilayah panas sepanjang tahun dan daerah lembab2

Angin musim barat laut mencapai Kalimantan Barat pada bulan Agustus-September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei; curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Dari bulan Juni sampai Agustus, iklim relatif lebih kering tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan di Putusibau lebih dari 4.000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm. Di Kalimantan Tengah dan Selatan, curah hujan umumnya bertambah tinggi ke arah utara dari daerah pesisir. Pengaruh angin musim tenggara jauh lebih besar daripada di Kalimantan Barat. Bulan kering terjadi dari bulan Juli sampai September terutama di daerah-daerah bayang-bayang hujan di bagian barat Pegunungan Meratus, misalnya di Martapura. Namun musim kemarau disini masih tidak sekering di jawa dan Nusa Tenggara. Pesisir di bagian tenggara dan P. Laut umumnya lebih basah daripada pesisir bagian selatan. Karena pengaruh Pegunungan Meratus (Oldeman dkk 1980)1.

Daerah-daerah pesisir di Kalimantan Timur dan bagian timur Sanah jauh lebih kering daripada bagian-bagian lainnya di Borneo. Pengaruh angin musim barat laut jauh lebih lemah karena hampir semua hujan jatuh di pegunungan tengah. Bahkan selama musim penghujan, curah hujan relatif rendah dan seringkurang dari 200 mm/bulan, terutama di daerah Semenanjung Sankulirang. Tidak ada musim kemarau yang khusus karena angin musim tenggara melintasi laut terbuka sehingga juga membawa hujan ke daerah lain1.

Walaupun pola iklim Borneo secara umum bercirikan curah hujan yang tinggi, periode kemarau yang pendek sepanjang tahun berperan penting dalam kehidupan tumbuhan dan mempengaruhi pola pembungaan dan pembuahan pada tumbuhan. Hanya kadang-kadang saja musim kemarau berlangsung agak lama. Pada tahun 1982-1983 di Borneo terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, yang terjadi lagi pada tahun 1987, 1990 dan 1997. Musim kemarau yang panjang ini terjadi secara berkala dalam sejarah Borneo, dan mungkin berkaitan dengan osilasi El Nino di bagian selatan (Leighton dan Wirawan 1986).1

Box : Kondisi Iklim Per- Propinsi

Kalimantan Selatan :

· Temperatur ratarata berkisar antara 15,6­­­­oC sampai 26,9oC. sedangkan kelembaban udara rata-ratanya berkisar antara 77% - 91% tiap bulan.

· Rerata Curah hujan tertinggi didaerah ini terjadi di Bulan Maret yaitu kurang lebih 426,0 mm dan terendah terjadi pada bulan September yaitu kurang lebih 75,0 mm

· Curah hujan di Peg. Meratus dan Pantai Timur rata-rata 2.000 - 3.000 mm, sedangkan di wilayah bagian Barat Meratus dan Pantai Selatan rata-rata 2.279 - 2.649 mm.

Kalimantan Tengah :

Karateristik iklim di Kalimantan Tengah adalah Type iklim : tropis lembab dan panas. Klasifikasi Koppen : Afa. Suhu udara rata-rata 29° C, maksimum 33 ° C. Curah hujan rata-rata tahunan : 2.732 mm dengan rata-rata hari hujan 120 hari. Klasifikasi curah hujan Schmidt dan Farguson : Type - A (Q=14,3%) dan Type B (Q=33,3%), makin ke Utara curah hujan semakin tinggi. (KTDA 2004)

Kalimantan Barat :

Iklim Kalimantan Barat termasuk tropis basah dan mempunyai curah hujan ± 3.000 mm per tahun dan jumlah hari hujan 170 hari per tahun. Suhu udara beragam antara 20,3º C – 33,3º C.

Kalimantan Timur[3] :

Beriklim tropis denganmusim kemarau biasanya terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedang musim penghujan terjadi pada bulan Nopember sampai dengan bulan April. Keadaan ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi dengan musim peralihan pada bulan-bulan tertentu. Karena letaknya di daerah khatulistiwa maka iklim oleh angin Muson, yaitu angin Muson Barat Nopember-April dan angin Muson Timur Mei-Oktober. Namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Kalimantan Timur kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak ada hujan sama sekali, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya musim kemarau bahkan terjadi hujan dengan musim yang jauh lebih panjang.

Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Secara umum daerah Kalimantan Timur beriklim panas dengan suhu udara pada tahun 2003 berkisar dari 17,90 ºC (Stasiun Meteorologi Long Bawan = September) sampai dengan 35,60 ºC (Stasiun Meteorologi Tanjung Selor = Mei). Suhu udara rata- rata paling rendah sebesar 18,83ºC terjadi di Long Bawan dan suhu udara rata-rata tertinggi sebesar 34,69 ºC terjadi di Tanjung Selor. Selain itu, sebagai daerah beriklim tropis dengan habitat hutan yang sangat luas, Kalimantan Timur mempunyai kelembaban udara relatif tinggi dengan ratarata berkisar antara 81,42 – 86,25 persen. Kelembaban udara paling rendah yang dapat dipantau melalui Stasiun Meteorologi Samarinda terjadi pada bulan Maret sebesar 73,00 persen, sedang yang paling tinggi terdapat di Stasiun Meteorologi Tanjung Redeb yang terjadi pada bulan Desember sebesar 89,00 persen. Rata-rata suhu minimum dan maksimum serta kelembaban udara rata-rata pada tahun 2003 di beberapa stasiun pengamat meteorologi.

Curah hujan di daerah Kalimantan Timur sangat beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Rata-rata curah hujan tertinggi selama tahun 2003 tercatat pada Stasiun Meteorologi Balikpapan sebesar 267,32 mm dan rata-rata curah hujan paling rendah tercatat pada Stasiun Long Bawan yang hanya mencapai 122,59 mm. Keadaan angin di Kalimantan Timur pada tahun 2003 yang dipantau di beberapa stasiun pengamat, menunjukkan bahwa kecepatan angin berkisar antara 0,70 knot sampai 8,00 knot. Kecepatan angin paling tinggi 8,00 knot terjadi di Kota Balikpapan pada bulan Juli sampai September, sedang terendah 0,70 knot terjadi di Kota Tanjung Selor pada bulan Desember.

A.5.3. Bentang Alam


Gambar. Bentukan Medan di Pulau Kalimantan

Kalimantan memiliki pulau yang datar, dikarenakan mempunyai pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama disebelah selatan dan barat. Lebih dari setengah pulau ini berada di ketinggian di bawah 150 m dpl dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Borneo tidak memiliki pegunungan berapi namun jajaran pegunungan utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau seperti trisula terbalik dari utara ke selatan dengan tiga mata tombak bercabang di bagian selatan. Gunung Kinibalu di Borneo yang tingginya 4.101 m dpl, merupakan puncak tertinggi di Asia tenggara dan merupakan gunung tertinggi diantara pegunungan Himalaya dan puncak Jayawijaya yang tertutup salju di Irian Jaya. Puncak gunung lain di Borneo yang mencapai 2.000 m hanya beberapa saja. Gunung Kinibalu terdiri atas sumbat batu granit yang terangkat oleh tekanan vulkanik dan masih terus bertambah tinggi.

Pengunungan Iran (Iban) antara Kalimantan Timur dan Malaysia Timur menjulang sampai 2.160 m di G. Harun (Harden), dekat perbatasan dengan Sabah. Ujung bagian barat rangkaian pegunungan Iran tengah membentuk jajaran Kapuas Hulu di sepanjang perbatasan Serawak dengan Kalimantan Barat. Menjulang di G. Lawit (1.767 m) dan G. Cemaru (1.681 m). Dari pegunungan tengah sekitar G. Cemaru, Pegunungan Muller (puncak tertingginya G. Liangpran 2.240 m) dan Pegunungan Schwaner (Bukit Raya 2.278 m) melintang kebarat daya di sepanjang perbatasan Kalimantan Tengah dan Barat. Kearah tenggara melintang pengunungan Meratusyang rendah (puncak tertingginya G. Besar 1.892 m), memisahkan kalimantan Selatan dan timur dan memanjang ke arah selatan sepanjang pesisir. Seluruh rangkaian pegunungan ini merupakan pegunungan sekunder dengan ketinggian rata-rata 1.000 – 1.500 dan dengan puncak kadang-kadang hanya mencapai 2.000. Gunung Makita (2.987 m) yang berada dekat Longnawan dan G. Giho (2.550 m) di dekat Longsaan, keduanya berada di perbatasan dengan Serawak merupakan puncak tertinggi Borneo yang berada di kalimantan, diikuti dengan G. Mantam (2.467 m) di sebelah barat Tanjung Redep, Kalimantan Timur.

Borneo tertoreh oleh sungai-sungai besar yang mengalir dari bagian tengah pulau ke pesisir. Borneo memiliki tiga sungai terpanjang yang menjadi kebanggaan Indonesia. S. Kapuas (1.143 km), sungai Barito (900 km) dan sungai Mahakam (775 m). S. Kapuas mengalir dari kaki g. Cemaru ke barat, mengaliri sebagian besar Kalimantan Barat. Sungai Barito yang besar mata airnya berasal dari pegunungan Muller dan mengalir ke selatan dan bertemu dengan Sungai Negara yang berasal dari Pegunungan Meratus bermuara dekat Banjarmasin. Sungai Kahayan yang kecil tetapi memiliki sejarah yang penting juga mengaliri pesisir selatan. Sungai Kayan dan S. Mahakam mengalir dari pegunungan di pedalaman ke pesisir timur. Sejumlah sistem sungai yang berukuran besar mempunyai anak-anak sungai yang sangat luas di daerah alirannya di pedalaman dam pantai-pantainya di dataran rendah. S. Mahakam, S. Barito, S. Negara, S. Kapuas dan S. Baram (serawak) semuanya mempunyai danau tapal kuda dan anak sungai musiman pada dataran banjir. Di bagian selatan, anak sungai Bayan mengalir ke Seruyan.

BOX :

Bentang Alam Kalimantan Per-propinsi

Topografi Kalteng :

1. Bagian selatan, terdiri dari daerah pantai dan rawa serta terpengaruh oleh pasang surut dengan ketinggian 0 – 50 meter dpl

2. Bagian Tengah, merupakan daerah dataran dan berbukit/bergelombang dengan dominasi penutupan lahan berupa hutan hujan tropis yang khas dengan ketinggian 50 – 100 meter dpl

3. Bagian Utara merupakan daerah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian di atas 150 meter dpl (DISHUT Kalteng 2006)

Sebagian besar wilayah propinsi kaimantan tengah merupakan dataran rendah,ketinggian berkisar antara 0 s/d 150 meter dari permukaan laut. Kecuali sebagian kecil di wilayah utara merupakan daerah perbukitan di mana terbentang pegunungan muller dan schwaner dengan puncak tertingginya (Bukit Raya) mencapai 2.278 meter dar permukaan laut. (KTDA 2004)

Topografi Kalsel :

· Daerah datar (tingkat kemiringan 0 - 8%) meliputi areal seluas 915.427 Ha atau 24,39% dari seluruh luas daratan yang ada tersebar di sepanjang Pantai Timur dan Selatan, sepanjang aliran sungai Barito dan sungai-sungai Iainnya.

· Daerah landai (tingkat Kemiringan tanah 8 - 15%) meliputi areal seluas ± 646.250 Ha atau 17,22% dari seluruh areal yang ada tersebut didaerah antara pegunungan Meratus dengan Sungal Barito, di bagian barat, dan Pantai Timur dan dengan Pantai Selatan

· Daerah Agak Curam (tingkat kemiringan tanah 15 - 25%) meliputi areal seluas ± 1.742.472 Ha atau ± 48,77% dan seluruh luas daratan yang ada tersebar di sebelah Timur dan Selatan mendekati pegunungan Meratus

· Daerah Curam (tingkat kemiringan tanah 25 - 40 %) meliputi areal seluas ± 88.153 Ha atau 2,35% dari luas daratan yang ada

· Daerah sangat curam (tingkat kemiringan tanah diatas 40 %) meliputi areal seluas ± 360.750 Ha atau 9,61% dan seluruh areal yang ada, Daerah ini merupakan punggung-punggung pegunungan Meratus dan bagian bahu dari sungai-sungai yang ada

Sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan berada pada kelas ketinggian 25 - 100 m diatas permukaan laut yakni 31,29 %.

Topografi Kalbar :

Provinsi Kalimantan Barat merupakan wilayah yang memiliki permukaan alam yang terdiri atas dataran rendah dan dataran tinggi. Hamparan dataran rendah terdapat di sepanjang pantai dari utara ke selatan dan sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Sebagian besar paparan dataran rendah itu merupakan dataran rawa pantai yang bergambut. Wilayah dataran tinggi dan pegunungan terdapat di bagian timur garis Pegunungan Miller dan Schwaner yang membujur sepanjang perbatasan dengan Kalimantan Tengah dan Pegunungan Kapuas Hulu di sepanjang perbatasan dengan Serawak (Malaysia Timur).

Topografi Kaltim :

Daratan Kalimantan Timur tidak terlepas dari gugusan gunung dan pegunungan yang terdapat hampir di seluruh kabupaten, yaitu ada sekitar 13 gunung. Gunung yang paling tinggi di Kalimantan Timur yaitu Gunung Makita dengan ketinggian 2 987 meter yang terletak di Kabupaten Bulungan. Sedang untuk danau yang berjumlah sekitar 17 buah, keseluruhannya berada di Kabupaten Kutai dengan danau yang paling luas yaitu Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang dengan luas masing masing 15 000 hektar, 13 000 hektar, dan 11.000 hektar.

Ketinggian 100-500 m dpl (41 %), 500-1000 m dpl (43 %), > 1000 (16%)

A.5.4. Tanah

Kondisi tanah merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi penyebaran vegetasi. Ada lima faktor utama dalam formasi tanah : litologi, iklim, topografi, mahluk hidup dalam waktu. Secara umum pengetahuan tentang penyebaran tanah di kalimantan masih terbatas ; 90% laporan survey tanah yang dibuat oleh Pusat Penelitian Tanah terbatas untuk proyek-proyek khusus seperti transmigrasi, perkebunan atau jaringan irigasi (sudjadi 1988).

Sebagian besar tanah telah di Kalimantan berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua. Tanah-tanah ini berkisar dari ultisol masam yang sangat lauk dan inceptisol muda. Di bagian selatan dataran aluvial dan tanah gambut yang sangat luas, terus meluas sampai ke Laut Jawa. Perluasan ini masih terus terjadi di dangkalan Kalimantan bagian selatan, dengan endapan aluvial yang terbentuk di belakang hutan bakau pesisir.

Di daerah tropis yang lembab pelapukan berlangsung sangat cepat, disebabkan oleh panas dan kelembaban. Karena curah hujan yang tinggi, tanah selalu basah dan unsur-unsur pokoknya yang dapat larut hilang ; proses ini disebut pelindian. Tingkat pelapukan, pelindian dan kegiatan biologi (kerusakan bahan-bahan organik) yang tinggi merupakan ciri berbagai tanah di Borneo (Burnham, 1984). Batuan pulau ini miskin kandungan logam dan tanah Borneo umumnya kurang subur dibandingkan dengan tanah vulkanik yang subur di Jawa. Pelapukan sempurna yang dalam disertai dengan pelindian menghasilkan tanah yang kesuburannya rendah di berbagai dataran rendah. Lereng yang lebih curam mungkin lebih subur karena erosi dan tanah longsor terus membuk batuan induk yang baru.

Tanah di atas bagian utama Borneo tengah dan Borneo timur laut adalah ultasol (acrisol). Tanah yang mengalami pelapukan sangat berat ini membentuk jenis tanah podsolik merah-kuning di sebagian besar daratan Kalimantan yang bergelombang. Sebagian besar ultisol di Kalimantan adalah tropodult. Jenis udult sukar untuk digunakan secara intensif karena kandungan hara di bawah lapisan permukaan rendah dan komposisi antara kandungan aluminium yang tinggi dan keasaman yang kuat (RePPProT 1990). Secara tradisional penduduk setempat telah menggunakan tanah ini untuk perladangan ”berpindah” dengan tanaman berumur pendek dan masa bera yang lebih panjang supaya kesuburan tanah pulih kembali. Cara ini memberikan kesempatan bagi lapisan permukaan tanah untuk mengumpulkan humus dan bahan organik lagi yang penting bagi cadangan hara dan untuk mengatur kelembaban dan suhu tanah.

Kelompok tanah yang paling umum di Kalimantan adalah Inceptisol. Tanah ini pelapukannya sedang dengan profil yang jelas merupakan tanah Borneo yang relatif lebih subur. Di Kalimantan juga terdapat kelompok tanah aquept dan tropept (RePPProT 1990). Jenis tanah tropoquept yang tersalir buruk terbentuk pada endapan sungai yang tererosi dari batu pasir silika periode Tersier. Sabak merupakan kelompok aquept yang paling tidak subur. Tanah tropept yang lebih subur tersebar luas, terutama di pegunungan yang terpotong tajam dan daerah pegunungan di tempat-tempat dengan kelerengan terjal dan erosi aktif. Beberapa tropept tua berkaitan dengan bentang lahan yang datar. Kelompok dystropept yang berwarna coklat tua kemerahan terbentuk di atas batuan masam dan bersilika, seperti batuan konglomerat, batuan pasir, dan batuan lanau mudah ditemukan di Kalimantan.

Tanah histosol, nonmineral atau tanah yang terutama tersusun atas bahan organik disebut gambut, mencakup daerah yang luas di dataran rendah Kalimantan (RePPProT 1990). Tanah ini semula berupa dataran aluvial berbatu di rawa. Di sini serasah dan sampah organik terkumpul secara cepat, lebih dari 4.5 mm/tahun (Anderson, 1964), karena kondisinya yang tetap jenuh dan anaerob. Pada tanah tropohemist bahan organik hanya terurai sebagian. Histosol juga terdapat di Borneo sebagai lapisan bahan organik yang relatif tipis (50-150 cm) yang terkumpul di dataran tinggi dan perbukitan, dimana terdapat banyak awan dan kelembabanya tinggi. Tanah ini berupa gambut ombrogen (gambut asam) yang terkait erat dengan hutan lumut. Hampir seluruh tanah histosol sangat masam dengan kandungan hara utama dan hara tambahan rendah, sehingga sulit diolah dan memerlukan biaya tinggi untuk mengolahnya (RePPProT 1990).

Tanah alfisol terbentuk bila batuan menghasilkan sejumlah besar bahan dasar ketika mengalami pelapukan, seperti marl berkapur dan batuan kapur di bagian timur Kalimantan. Di Kalimantan, malisol dibatasi oleh bentang lahan yang kaya akan kapur. Tanah ini berwarna gelap, karena kandungan humusnya tinggi dan kaya bahan dasar terutama kalsium. Secara umum jenis tanah ini miskin kalium yang merupakan hara utama. Kapur yang menyebabkan kekurangan hara tambahan merupakan masalah bagi kebanyakan tanaman di tanah yang keasaman dan kebasaan rendah. Rendol yang tersalir dengan baik dapat dengan mudah ditemukan dibagian timur Kalimantan, terutama di Semenanjung Sankulirang.

Tanah yang paling lapuk adalah exisol, didominasi oleh liat yang mempunyai sedikit mineral yang terdapat lapuk dan menghasilkan sedikit hara tanaman. Jenis tanah ini terdapat diatas batuan ulta basa di Ranau dan Tawau, Sabah dan pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Walaupun tanah ini mengandung Mg/Ca dengan kadar tinggi dan nikel, krom dan kobalt yang berkadar tinggi, vegetasinya tidak berbeda dengan hutan disekitarnya. Sebaliknya tanah-tanah yang kaya akan bahan organik di daerah yang tinggi dengan gambut di atas batuan ultrabasa, seperti g. Kinibalu pada ketinggian 2.000-2.800 m, mendukung kehidupan vegetasi tertentu (Burnham 1984).

Jenis tanah entisols berasal dari batuan yang lebih muda dan kurang berkembang. Fluvent dan aquents (tanah aluvial) terdapat di dataran-dataran banjir pada lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari tanah aluvial secara berkala. Tanah equents jenuh air dalam suatu periode yang panjang dalam satu tahun dengan ciri khas dalam, berwarna abu-abu dan warna lainnya; tingkat kesuburannya bergantung pada kandungan mineral dan bahan organik endapan aluvial asalnya. Tanah hydraquents terdapat di rawa pasang surut Kalimantan; tanah ini muda, lunak, berlumpur dan belum berkembang. Tanah sulfaquents umumnya terdapat bersama-sama dengan hydraquents. Tanah-tanah yang tersalir buruk ini sangat terbatas untuk tanah pertanian, karena mengandung pirit, yang jika dikeringkan akan menimbulkan kondisi yang sangat masam dengan kadar besi dan aluminium sulfat yang cukup tinggi, sehingga bersifat beracun. Tanah asam sulfat ini terdapat di daerah P. Petak, Kalimantan Selatan.

Jenis tanah fluvents penting di dataran banjir di tepi sungai atau danau di Kalimantan. Tanah-tanah ini umumnya terdapat di sungai-sungai yang mengangkut endapan yang rawan terhadap banjir dan perubahan aliran sungai. Kandungan mineral dan kesuburan tanah tropofluvents di kalimantan tergantung pada formasi geologi di daerah aliran sungai bagian hulu dan topografi daerah sekitarnya. Dua lingkungan utama yang bertanah aluvial adalah muara sungai dan rawa-rawa belakangnya. Tanah-tanah aluvial baru yang berasosiasi dengan air tawar di Borneo sebagian besar mendukung hutan-hutan rawa air tawar. Tanah aluvial yang lebih baru ini umumnya lebih subur dari pada lereng-lereng sekitarnya, tetapi tidak sesubur tanah aluvial laut atau abu vulkanik (Burnham 1984). Tanah-tanah aluvial di dataran tepi sungai di Kalimantan adalah tanah-tanah yang paling subur dan merupakan habitat yang mudah dikelola. Kebalikan dari tanah yang subur ini adalah tanah psamments, merupakan tanah muda yang mencolok, umumnya terdapat pada pantai-pantai muda maupun pantai tua. Tingkat kesuburan jenis tanah ini sangat rendah. Jenis tanah psmaments yang luas terdapat di bagian tengah kalimantan.

Kapasitas umum menyimpan zat-zat hara pada tanah-tanah Borneo sebagian besar bergantung pada kandungan humus. Oleh karena itu kandungan zat hara yang sangat rendah bila lapisan humusnya rendah, misalnya pada tanah-tanah pasir kerangas. Di dalam tanah yang dalamnya satu meter, hampir setengahnya dari basa yang diserap hanya terdapat dalam lapisan atas sedalam 25 cm (Nye dan Greeland 1960). Hal ini menjelaskan tingkat kesuburan yang sangat rendah pada ladang-ladang, karena pembakaran vegetasi penutup dan erosi lapisan tanah atas menyebabkan lapisan yang paling subur hilang. Untuk penggunaan tanah lahan pertanian yang berkelanjutan, banyak tanah-tanah di Borneo memerlukan tindakan-tindakan konservasi terutama untuk lapisan tanah atas dan pengendalian erosi, penggunaan pupuk yang seimbang serta pengelolaan yang baik.

BOX :

Jenis Tanah Per - Propinsi

Kalimantan Selatan :

Secara umum sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan tersusun atas jenis tanah podsolik merah kuning, aluvial dan litosol. Adapun luas sebaran jenis tanah adalah sebagai berikut :

  • Organosol (litosol) Gleyhumus (519.881 Ha)
  • Aluvial (757.740 Ha)
  • Latosol (270.339 Ha)
  • Utosol (34.757 Ha)
  • Padsolik (138.311 Ha)
  • Padsolik Merah Kuning (671.917 Ha)
  • Asosiasi Latosal Utosal (12.500 Ha)
  • Asosiasi Padsolik Merah Kuning & Bahan Endapan (151.168 Ha)
  • Asosiasi Padsolik Merah Kuning dengan batuan beku (59.766 Ha)

Kalimantan Barat :

Kondisi tanah merupakan faktor terpenting dalam mempengaruhi penyebaran vegetasi, sebagian besar tanah di Kalimantan Barat berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh di atas batuan sedimen dan batuan beku tua. Tanah-tanah ini berkisar dari ultisol masam yang sangat lapuk dan inceptisa muda. Di daerah tropis yang lembab, pelapukan berlangsung sangat cepat, hal ini disebabkan karena oleh panas dan kelembaban (lampiran. 1). Selain itu uga dikarenakan curah hujan yang tinggi, tanah selalu basah dan unsure-unsur pokoknya yang dapat larut hilang, proses ini disebut dengan pelindingan.

Tabel. 1. Tipe-tipe tanah utama di Kalimantan, berkisar dari histosol muda tidak berkembang sampai spodsol dan oxisol terlapuk berat

Ordo

Ciri

Sub Ordo

Kelompok

Ciri

Histosa

Entisol

Inceptisol

Mollisol

Alfisol

Ultisol

Spodosol

Oxisols

Terutama tanah organic

Sedikit berkembang

Profil tanah mencolok, pelapukan sedang

Lapisan horison A tebal

Lapisan horisol B tebal kaya akan basa

Lapisan horison dari lempeng dan miskin hara

Tanah terlapuk berat dengan horison B tanah podsol

Tanah terlapuk berat

Hemist

Aquent

Psamment

Fluvent

Aquept

Tropept

Rendoll

Udalf

Udult

Aquod

Tropohemist

Hydraquent & Flumaquent

Tropopsamment

Quartzipsamment

Tropofluvent

Tropaquept

Dystropept

Tropudalf

Tropudult

Placaquod

Tanah berawa, setengah membusuk.

Penyaliran buruk & Tanah masam.

Dataran rendah alluvial, tidak berkembang, dan pasir tak subur.

Tanah alluvial lebih subur.

Penyaliran buruk dan kurang subur, tanah dilereng curam subur.

Tanah dangkal di atas, benda kuno berongga.

Tanah lebih subur, lebih mudah lepas.

Tanah tua, tidak subur, tanah lempung & berdebu.

Pasir tidak subur.

Tanah tua tidak subur di batuan beku dasar dan ultrabasa

sumber : RePPProT : 1990

Tingkat pelapukan, pelindingan, dan kegiatan biologi (kerusakan bahan-bahan organic) yang tinggi merupakan ciri berbagai tanah di Kalimantan (Burnham ;1984). Bagian di Kalimantan Barat yang tanahnya paling subur, ialah tanah yang dalam, tersalir dengan baik dan tekstur agak halus dengan kandungan zat hara yang seimbang (alfisols, vertisols, hapludolls, haplustolls) yang semuanya dapat terjadi dengan tanah yang terjadi longsor. Sehingga permukaan atas tanah terus turun ke bawah dan permukaan bawak tanah naik kepermukaan. Jenis tanah yang subur ini sudah diolah secara intensif untuk budidaya tanpa tanaman dan tanpa irigasi.

Berdasarkan Luasan Jenis tanah yang ada di Kalimantan Barat :

Ø OGH (2.030.580,0 Ha)

Ø Alluvial (1.596.114,0)

Ø Regosol (44.800,0 Ha)

Ø Podsolik MK¹› (10.515.703,0 Ha)

Ø Podsol (414.783,0 Ha)

Ø Latasol (159.414,0 Ha)

Kalimantan Tengah :

Jenis tanah di kalimantan tengah dapat dilihat dibawah ini :


Kalimantan Timur :

Beberapa jenis tanah di Kalimantan Timur adalah pada umumnya terdiri dari Hapludults, Plinthudults, Dystropepts, Fluvaquents, Haplaquents

A.5.5. Hutan (kondisi & Jenis Hutan)

Kondisi Hutan di Pulau Kalimantan tidak dapat mengetahui secara pasti seberapa luas tutupan hutan pada jaman dulu. Namun berdasarkan estimasi potensi vegetasi (yaitu luas kawasan yang kemungkinan tertutup berbagai tipe hutan dan dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan lingkungan serta intervensi manusia) dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia pada awalnya tertutup hutan (MacKinnon, 1997)

Pada tahun 1950, Dinas Kehutanan Indonesia menerbitkan peta vegetasi untuk negara ini. Dari peta ini disimpulkan bahwa hampir 84 persen luas daratan Indonesia pada masa itu tertutup hutan primer dan sekunder serta tanaman perkebunan seperti teh, kopi dan karet. Alasan utama pembukaan hutan yang terjadi sampai tahun 1950 adalah untuk kepentingan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa luas hutan tanaman dan perkebunan tidak lebih dari 4 juta ha pada tahun 1950, dan sisanya berupa hutan primer dan hutan sekunder dan hutan pantai yang dipengaruhi pasang surut. Dibawah ini tabel kondisi hutan berdasarkan data pemerintah pada tahun 1950

Tabel 2.1. Tutupan Hutan pada Tahun 1950 (hektar)

Pulau

Pulau Hutan Hujan Primer, Hutan Lindung, Hutan Rawa & Hutan Rimba, Perkebunan

Hutan

Pantai

Hutan

Sekunder

Luas Total

Hutan

Savana,

Padang Rumput dan Sawah Tanpa Irigasi

Sawah

Irigasi

Luas Total

Lahan

Kalimantan

47.500.000

700.000

3.200.000

51.400.000

3.500.000

---

54.900.000

Berdasarkan analisis FWI, Deforestasi mulai menjadi masalah penting di Indonesia sejak awal tahun 1970-an, ketika penebangan hutan secara komersial mulai dibuka secara besar-besaran. Gambaran umum tentang situasi ini pada pertengahan tahun 1980-an dapat dilihat dari hasil kegiatan pemetaan yang dilakukan dalam program transmigrasi yang menunjukkan penurunan luas hutan sebesar 27 persen dari luas kawasan hutan pada tahun 1950.

Antara tahun 1970-an dan 1990-an, laju deforestasi diperkirakan antara 0,6 dan 1,2 juta ha (Sunderlin dan Resosudarmo, 1996). Namun demikian pemetaan tutupan hutan yang dilakukan pada tahun 1999 oleh Pemerintah Indonesia dengan bantuan dari Bank Dunia (GoI/ World Bank, 2000) menyimpulkan bahwa laju deforestasi rata-rata dari tahun 1985-1997 sebenarnya mencapai 1,7 juta ha. Pulau-pulau yang mengalami deforestasi terbesar selama periode waktu ini adalah Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan, yang secara keseluruhan kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya. Jika kecenderungan deforestasi ini berlangsung terus (sebagaimana telah berlangsung sejak tahun 1997), hutan dataran rendah non-rawa akan lenyap di Kalimantan setelah tahun 2010 (Holmes, 2000).

Indonesia secara keseluruhan telah kehilangan lebih 20 juta ha tutupan hutannya antara tahun 1985 dan 1997 atau sekitar 17 persen dari kawasan hutan yang ada pada tahun 1985. Tabel 2.2 menyajikan perkiraan laju deforestasi yang dibuat oleh Holmes, berdasarkan perbandingan dengan data dari RePPProT dan analisis terhadap citra satelit pada sekitar tahun 1997.

Berdasarkan data yang dimiliki Walhi dari hasil analisis Citra Landsat 2004, di ketahui bahwan sisa hutan di Kalimantan adalah primer (termasuk lahan basah) hanya mencapai 18 % saja dan berdasarkan peta penyebarannya kawasan hutan primer dan skunder (terutama lahan kering) berada di kawasan green belt..

Jenis Hutan.

Jenis hutan yang ada di Kalimantan termasuk dalam hutan tropis pegunungan bawah dan dataran rendah dengan ketingginan 0 – 2.500 dpl.

Box :

Profil Kondisi Hutan Per-propinsi

Kondisi Hutan Kalteng :

Penutupan lahan pada sebagian besar kawasan di Provinsi Kalimantan tengah adalah hutan dimana secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe hutan yang berbeda berdasarkan pada ketinggian tempatnya, yaitu:

- Hutan Hujan tropika seluas + 10.350.363,87 ha atau sekitar 65,51%

- Hutan Rawa Tropika seluas + 2.382.683,31 Ha atau sekitar 15,08%

- Hutan Rawa Gambut Tropika seluas + 2.280.573,55 Ha atau sekitar 5,27%

(DISHUT Kalteng 2006)

Kondisi Hutan Kalbar :

No.

Status Kawasan

2001

2002

2003

I

Kawasan Lindung/Protected Forest

1. Hutan Cagar Alam/Natural Conservation

2. Hutan Taman Nasional/National Park

3. Hutan Wisata Alam/

4. Hutan Lindung/ Protected Forest

5. Suaka Alam Laut/Marine Conservation

- Daratan

- Perairan

153. 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

153 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

153 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

II

Kawasan Budidaya/Cultivated Area

1. Hutan Produksi Terbatas

2. Hutan Produksi Biasa

3. Hutan Produksi Konversi

2 445 985

2 265 800

514 350

2 445 985

2 265 800

514 350

2 445 985

2 265 800

514 350


Jumlah / Total

9 178 760

9 178 760

9 178 760

Sumber/Source : Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat/Forestry Service of Kalimantan Barat

Kondisi Hutan di Kaltim

Luas wilayah daratan: 19.550.208 ha.

Terdiri :

v Hutan penelitian : 25.484 ha (0,13%).

v Kawasan lindung : 4.579.186 ha (23,42%).

§ hutan lindung : 2.816.320 ha

§ cagar alam : 1.487.368 ha.

§ taman nasional : 204.399 ha.

§ taman hutan raya : 71.099 ha.

v kawasan budidaya kehutanan : 9.774.753 ha (50%).

v kawasan budidaya non kehutanan : 5.170.785 ha (26,45%).

sumber : presentasi usulan program prioritas tahun 2007 provinsi kalimantan timur pada musrenbangnas, april 2006

A.5.6. Geologi

Sejarah Geologi

Biogeografi seluruh kepulauan Indonesia dan distribusi tanah, binatang dan tumbuhan ditentukan oleh sejarah geologi dan iklimnya.

Berikut ini merupakan cerita tentang lempeng tektonik dan hanyutnya benua, peristiwa-peristiwa iklim dan perubahan permukaan air laut, yang sampai sekarang terus berlanjut (Audley-Charles 1981, 1987;Burrett dkk.1990).

Kira-kira 25 juta tahun yang lalu; gugus kepulauan indonesia seperti yang diketahui sekarang belum ada, tetapi cerita ini sudah dimulai lebih awal dari waktu tersebut.

Ahli geologi saat ini mengakui bahwa massa benua tidak tetap dan bumi berada dalam keadaan yang dinamis.

Bagian terluar bumi yang padat, yaitu kerak bumi, sangat tipis seperti kulit buah jeruk. Jenis kerak ada dua yaitu : kerak benua dan kerak samudera.

* Kerak samudera biasanya muda (0-200 juta tahun), tipis (5-15 km) dam tersusun atas batuan vulkanis padat

* Kerak Benua sering memiliki inti batuan yang lebih tua (200-3.500 juta tahun), tebal (20-50 km) dan kurang padat dibandingkan dengan kerak samudera karena tersusun dari batuan yang lebih muda seperti batu pasir dan granit (RePPProT 1990)

Indonesia bagian barat seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa Barat serta jawa Tengah tersusun oleh kerak benua, demikian pula dasar lautan di antara pulau-pulau ini yang dangkal. Di bawah kerak bumi adalah zona yang batuannya lebih panas dan bersifat lebih plastis. Lempeng benua dan lempeng samudera mengapung di atas bahan cair di bawahnya.

Publikasi peta geologi Kalimantan yang sistematis tidak banyak dibandingkan dengan peta daerah-daerah lainnya di Indonesia (RePPProT, 1990). Di Kalimantan terdapat empat unit geologi utama ; batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng; batuan dasar ; batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras ; dan batuan alivial serta endapan muda yang dangkal.

Konpleks batuan dasar di Kalimantan di bagian barat dan bagian tengah Kalimantan (termasuk pegunungan Schwaner) mewakil singkapan dasar benua terbesar di Indonesia. Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya. Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis bela terkena panas. Hasil metamorfosis batuan ini yang khas adalah batu pualam yang berasal dari batu kapur; bati sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik, batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda. Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas.

Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup opiolit (kerak samudera) dan melange. Potongan lantai samudera (kerak samudera) terdapat beberapa tempat didaratan Borneo. Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan batuan beku yang padat gelap tipe basa dan ultra basa dengan komponen granit. Endapan batu kersik samudera dan karbonat mungkin juga terdapat deretan batuan ini disebut opiolit. Sebagian pengganti jalur penunjaman, opiolit-opiolit ini terbentuk oleh tubrukan lempeng ketika kerak samudera terperangkap oleh gerakan tektonik lempeng dan tertekan ke pinggir lempeng yang berdekatan dan di sini opiolit-opiolit ini tetap terlindungi. Proses pencuatan ini sering disertai oleh rubuh dan retaknya batuan. Kompleks opiolit di P. Laut dan Peg. Meratus terbentuk dengan cara ini.

Batuan melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat. Potongan-potongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga berukuran besar (ratusan meter atau lebih. Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan jalur penunjaman. Melange merupakan perpaduan antara bahan-bahan yang terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan yang berasal dari massa daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan terpotong karena desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan cara ini berasosiasi dengan desakan keatas lempeng opiolit yang besar di Pegunungan Meratus.

Daerah melange yang luas di bagian tengah borneo, yaitu yang terbentang di perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah melange ini merupakan zona batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan opiolit, tetapi luas dan umur geologinya (akhir mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua) sulit untuk dijelaskan dalam peristilahan lempeng tektonik sederhana (williams dkk, 1989)

Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus., batuan vulkanik dan endapan tersier. Borneo tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapu memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantan yang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas.

Suatu kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Borneo terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai

Setidaknya di kalimantan terdapat 205 formasi formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan di Kalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit di Kalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari pulau kalimantan.

Sebaran geologi berdasarkan formasinya di Kalimantan dapat dilihat pada peta di bawah ini :


BOX :

Kondisi Geologi Per-propinsi

Kalimantan Tengah :

Secara umum geologi kalimantan tengah di bangun oleh tiga (3) satuan batuan,yaitu batuan sedimen (65%),batuan beku (25%) dan batuan metafor (10%). Dan terdapat tiga (3) buah cekungan dan 2 tinggian yaitu,

1. Cekungan barito (dibagian selatan dan timur)

2. Cekungan malawi (bagian barat danselatan)

3. Cekungan Kutai (di bagian Timur)

Sedangkan ketinggian yaitu,pegunungan Schwaner dam pegunungan Muller (lampiran gambar)

Kalimantan Selatan :

Bentuk geologi wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berupa Aluvium Muda dan Formasi Berai

Formasi Geologi

No

Formasi Geologi

Luas (Ha)

Luas (%)

No

Formasi Geologi

Luas (Ha)

Luas (%)

No

Formasi Geologi

Luas (Ha)

Luas (%)

1

Alluvium Tua
(Qal)

153.800

4,098

11

Formasi Manunggal (Km)

169.100

4,506

21

Batuan Tak
Berinci (Ksv)

5.189

0,138

2

Alluvium Muda
(Qha)

1.033.133

27,58

12

Anggota Pau
Formasi Manunggal (Kmp)

65.020

1,732

22

Diorit (Mdi)

16.240

0,433

3

Formasi Dohor
(Qtd)

157.400

4,194

13

Formasi Keramaian (Kak)

5.750

0,153

23

Gabro (Mgb)

10.980

0,293

4

Formasi Warukin
(Tmw)

216.700

5,774

14

Formasi Pitab (Kp)

387.800

10,333

24

Diabas
( Mdb)

84

0,002

5

Formasi
Pulaubalang (Tmp)

25.300

0,674

15

Anggota Haruyan
Formasi Pitab (Kph)

130.700

3,483

25

Basal (Mba)

1.672

0,045

6

Formasi Berai
(Tomb)

406.400

10,829

16

Anggota Batunggal
Formasi Pitab (Kbp)

19.020

0,507

26

Batuian
Ultramafik
(Mu)

217.600

5,798

7

Formasi Pemaluan
Tomp)

196.600

5,238

17

Basal Kasale (Tkb)

1.500

0,040

27

Rijang
Radiolaria

6.876

0,183

8

Formasi Binuang
(Tob)

17.080

0.445

18

Andesit (An)

209

0,006

28

Batuan
Malihan (Mm)

56.220

1,498

9

Formasi Tanjung
(Tet)

366.700

9,771

19

Granodiorit (Kgd)

15.350

0,409

-

-

-

-

10

Anggota Berai
Formasi Tanjung
( Tetb)

2.447

0,065

20

Granit (Mgr)

68.150

1,816

-

-

-

-

Kalimatan Barat :

Biogeografi seluruh kepulauan Indonesia dan distribusi tanah, binatang dan tubuhan ditentukan oleh sejarah geologi daerah dan iklim, karena massa benua tidak tetap dan bumi dalam keadaan yang dinamis. Bagian bumi yang padat merupakan kerak bumi yang tipis terbagi menjadi 2 bagian (kerak samudera dan kerak benua). Kerak Samudera ini memiliki batuan yang lebih muda (0-200 juta tahun) dengan ketipisan 5-15 Km, yang tersusun atas batuan vulkanik padat. Sedangkan pada Kerak benua memiliki inti batuan yan tua (200-3.500 juta tahun)dengan ketebalan 20-50 Km, yang tersusun dari batuan pasir dan granit sehingga kurang padat. Di Indonesia bagian Barat (Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah) tersusun oleh bagian bumi Kerak Benua dengan mempunyai dasar lautan di antara bawah pulau-pulai ini sangat dangkal. Di bawak Kerak Bumi merupakan zona yang batuannya lebih panas dan bersifat plastis, sehingga lempeng benua dan samudera di atas bahan cair dibawahnya.

Aliran konveksi yang berputar dari inti planet dan meleleh dengan menyapu kedua lempeng dan menciptakan zona-zona yang lemah dan kacau. Sehingga kedua lempeng tersebut bergeser saling menjauh, dan batuan yang mencair bergerak mengisi tempat yang kosong dan bertubrukan, sehingga satu jalur menukik dan menciptakan palung yang dalam dan merontokan jajaran pegunungan. Dangkalan benua laut Cina Selatan dan laut Jawa yang dangkal, tertoreh oleh beberapa saluran sungai purba, diantaranya sungai Anambas, sungai Sunda Utara (sungai Kapuas purba sebagai anak sungainya), dan lembah-lembah Lupar Purba.

Keserupaan ikan air tawar di Kalimantan Barat dan Sumatera memperlihatkan, bahwa sungai dari kedua pulau itu pernah bersambung (sungai Musi di Sumatera Selatan dan sungai Kapuas di Kalimantan Barat). Kedua sungai tersebut merupakan bagian dari system sungai Sunda Utara. Beberapa dari sungai yang besar sebagai pembatas penyebaran flora dan fauna. Di Kalimantan sendiri terdapat 4 unit geologi utama, diantaranya batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan dasar, batuan muda, alluvium serta endapan muda yang dangkal. Kompleks batuan dasar pada Kalimantan barat di Pegunungan Schwaner (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah) mewakili singkap dasar benua terbesar di Indonesia.

Batuan dasa merupakan batuan didasar lapisan stratigrafi yang lebih tua dari batuan batuan diatasnya, biasanya mengalami metamorfosis bila terkena panas dengan dengan mengahsilkan batu pualam dari batu kapur. Pada batu sekis hijau dari batuan vulkanik, dan batu gneis dari batu pasir dan granit merupakan dipengaruhi oleh batuan intrusi muda. Semua komplek batuan dasar di Kalimantan tercampur dengan granit dari era Palaezoikum, Mesozoikum, dan Periode Tersier yang membentuk daerah kristal dan luas. Batuan yang berhubungan dengan pinggir lempeng ialah opiolit dan Melange. Opiloit ialah deretan batuan dari potongan lantai samudera dengan susunan batuan beku yang padat dan gelap dengan tipe basa dan ultrabasa dengan komponen granit.

Batuan Melange, ialah campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang berbeda (centimeter – ratusan meter), sebagian besar Kalimantan memiliki batuan Kuarter di wilayah perbatasan. Batuan kuarter tersebut terkandung batuan vulkanik dan endapan tersier di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, karena hasil magma dari perut bumi yang mencapai kepermukaan pada 300 juta tahun lalu. Magma menjadi dingin dan beku hingga terbentuk batuan intrusi, seperti granodiorit, yang hasil intrusi tersebut mengandung emas dari interaksi magma dan air tanah kandungan mineral. Selain formasi batu pasir dan batu sebak, di Kalimantan Barat juga banyak terdapat formasi sedimen relative muda yang dapat mencakup kandungan batubara dan batu yang mengandung minyak bumi.

A.5.7. Vegetasi

Vegetasi alami tidak terlepas dari perpaduan topografi, ketinggian dari permukaan laut, geologi, tanah, iklim dan pasokan air (curah hujan). Kalimantan terletak di garis equator, dengan panas sepanjang tahun dan daerah terlembab yang dapat mendorong timbulnya penggolongan dan keragaman jenis yang tinggi. Di Kalimantan memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di Asia Tenggara, sekitar 58% jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Juga memiliki lebih dari 2.000 jenis anggrek dan 1.000 jenis pakis, juga sebagai pusat distribusi karnivora Kantong semar (Nepenthus). Tingkat endemisme flora juga cukup tinggi sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya mempunyai 59 marga unik dari 1.500 marga.

Tabel 2. Luas semula, luas sisa dan luas kawasan yang dilindungi dan produksi habitat di Kalimantan (dalam 1000 Ha)

Wilayah

Luas Semula

Luas Sisa

Luas yang termasuk di dalam kawasan yang dilindungi

Produksi Habitat

Hutan Lumut

Hutan Pegunungan di atas batu

Hutan basah Pegunungan di atas batu

Hutan basah Pegunungan

50

2.004

7.456

222

50

2.004

7.175

210

24

989

1.899

13

0,35

0,18

0,23

0,64

Hutan dataran rendah daerah basah :

Aluvial

Batu kapur

Dipterocarpaceae

Dataran rendah

2.201

17

4.271

3.437

265

17

10.936

1.362

16

-

970

63

1,42

2,67

0,40

0,78

Daerah lembab:

Aluvial

Batu kapur

Dipterocarpaceae

Dataran rendah

87

48

1.983

1.614

25

41

850

85

-

-

89

-

2,57

2,14

0,67

2,35

Dataran kering :

Aluvial

Batu kapur

Dipterocarpaceae

Dataran rendah

21

162

970

360

-

87

225

50

-

-

190

-

10,03

1,93

0,67

2,45

Hutan Dipterocarpaceae & kayu besi

Hutan kerangas

Hutan rawa air tawar

Hutan gambut

Hutan bakau

Vegetasi pantai

Terumbu karang

Danau

210

8.076

3.895

4.403

1.560

8

110

92

73

2.475

1.717

3.531

920

3

110

92

20

210

362

257

78

2

15

25

0,84

0,74

0,51

0,45

0,69

1,39

0,59

0,46

Hutan Pegunungan di atas batu

Hutan basah Perbukitan di atas batu

Hutan basah Pegunungan

Dipterocarpaceae daerah lembab

Batu kapur daerah kering

Hutan Dipterocarpaceae dan kayu besi

Hutan Kerangas

Hutan rawa air tawar

Hutan Gambut

Hutan Bakau

Vegetasi pantai

Terumbu Karang

Danau

2.004

7.456

222

1.983

162

210

8.076

3.895

4.403

1.560

8

110

92

2.004

7.175

210

850

87

73

2.475

1.717

3.531

920

3

110

92

989

1.899

13

89

-

20

210

362

257

78

2

15

25

0,18

0,23

0,64

0,67

1,93

0,84

0,74

0,51

0,45

0,69

0,39

0,59

0,46

Sumber : Mac Kinnon & Artha; 1981

Hutan di Kalimantan juga kaya akan pohon buah-buahan yang amat penting bagi kehidupan di hutan, diantaranya Mangga (Mangifera), Durian (Durio), Baccaurea, Sukun dan Nangka (Artocarpus), Rambutan (Nephelium). Ada juga jenis palem-paleman. Diantaranya Aren (Arenga pinnata), Nipah (Nypa fructicans), Lontar (Barrasoden drom borneensis),Sagu asli (Eugeissona utilis)ada juga Merroxylon sagu, Rotan (Calamus spp.). Selain itu juga masyarakat Dayak masih banyak menggunakan hasil hutan sebagai makanan, kerajinan tangan, bahan bangunan, obat-obatan, racun ikan, bahan pebungkus dan kebutuhan ritual. Tumbuhan yang ujarab sebagai obat, diantaranya Pityogramma, Blechum, Nephrolepis, Urena celrodendrum, dan juga sebagai tumbuhan farmakologi (Pearce, dkk; 1987). Tumbuhan yang berfungsi sebagai efekfisiologi, diantaranya Akar tuba (Derris elliptice) sebagai insektisida dan racun ikan, Goniothalamus sebagai penangkis serangga yang memiliki anti kuman, Racun ikan purut (Diospyros), serta racun yang ada di dalam Paratocarpus latex.

Kalteng :

Untuk vegetasi di kalimantan Tengah berdasarkan RTRWP (revisi) lebih banyak di dominasi pada kawasan budidaya sekitar 12,950,104.61 Ha yang terdiri dari Hutan Produksi terbatas (HPT),Hutan Produksi Tetap, HTI, KPP, KPPL, trans, Hutan pendidikan dan kawasan handil rakyat (lihat tabel RTWP)[R1]

Kalsel :

Wilayah propinsi Kalsel akan akan sumber plasma nutfah dan dianggap sebagai tempat asal dari berbagai tumbuhan seperti :

  • Durian ( Duriospesi )
  • Tebu ( Sacharum Officinarum )
  • Kasturi ( Mangifera Delmiana )
  • Rambutan ( Nephelium Lappocum )

Hutan Daratan rendah dan tinggi didominasi oleh spesies :

  • Meranti (Dipterocorpus Spesi )
  • Hopea ( Hopea spesia )
  • Ulin ( Eusideroxlyon )
  • Kempos ( Komposia Spesi )
  • Damar ( Agathis bornensis )
  • Sindor ( Sindora Spesi )

Didaerah hutan tanah bergambut pepohonan utamanya meliputi :

  • Ramin ( Gonostylus Bancadud )
  • Jeluntung ( Dura Spesi )
  • Ebony ( Displyros Spesi )

Didaerah hutan rawa dibagian barat Kalimantan Selatan banyak ditemui

  • Xylopia Spesi
  • Tarantang ( Comnaperma Spesi )
  • Nipah ( Nipahfruitcans )

A.5.8. Fauna

Seperti halnya pada flora, fauna di Kalimantan menggambarkan kekayaan yang berasal dari Asia, misalnya keluarga Rusa, sapi liar, Babi, Kucing, Manyet dan Kera, Tupai, keluarga burung Asia. Kalimantan memiliki 222 jenis Mamalia, 13 jenis Primata, 10 jenis Celurut. Kalimantan juga memiliki beberapa jenis karnivora ukuran sedang dan kecil, dari Macan dahan (Neofelis nebulosa) dan Beruang madu (Helarctros malayanus) sampai banyak musang dan tikus, binatang pengerat yang kecil dan kelelawar yang banyak hidup di habitat pegunungan. Terdapat fauna burung yang khas berasal dari Asia dan mirip dengan yang terdapat di Semenanjung Malaya dan Sumatera, seperti ada 18 jenis Burung Enggang, 18 jenis Caladi/Pelatuk, 13 jenis Paok dan keluarga burung hutan lainnya. Selain itu juga di Kalimantan terdapat 420 jenis burung penetap, dimana banyak terdapat di wilayah pegunungan. Ada juga fauna yang Reptilia, seperti terdapat 166 jenis ular, 100 jenis amfibi, 394 jenis ikan air tawar yang memang lebih banyak di daerah Balitoridae (jenis dari hulu sungai) dan Bolintiidae. Ada juga jenis Invertebrata, seperti kupu-kupu sayap burung dan Kalimantan juga meiliki 40 jenis burung layang-layang.

Tabel 4. Kekayaan Jenis Fauna Di Kalimantan

Jenis

Jumlah

Tumbuhan

10.000 – 15.000

Mamalia

222

Burung Penetap

420

Ular

166

Amfibi

100

Ikan

394

Kupu-kupu

40

BOX :

Kondisi Fauna per-Propinsi

Kalteng :

Di kalimantan Tengah,ada beberapa jenis fauna yang dilindungi. Jenis fauna masih banyak terdapat pada daerah yang mempunyai hutan primer yang sangat jauh dari aktivitas manusia. Beberapa jenis satwa yang dilindingi anatar lain adalah bekantan,kukang,lutung,beruang madu,elang,orang utan dan owa-owa. Sedangkan berbagai jenis yang tidak dilindungi seperti biyuku,kura-kura dan labi-labi (DISHUT Kalteng 2006)

Kalsel :

Berbagai fauna yang tergolong satwa langka yang dilindungi yang tersebar pada Hutan Suaka Alam dan Wisata secara umum di Kalimantan Selatan yaitu :

  • Bekantan ( Nasalis Larvatus )
  • Kera Abu - Abu ( Maccaca Irrus )
  • Elang ( Butatstur sp )
  • Beruang Madu ( Hylarotis Malayanus )
  • Kijang Pelaihari ( Muntiacus Salvator )
  • Owa - Owa ( hylobatus Mullerii )
  • Elang Raja Udang ( Palargapais Carpusis )
  • Cabakak ( Hakyan Chalaris )
  • Rusa sambar ( Cervus Unicular )
  • Biawak ( Varanus spesi )
  • Kuau ( Argusianus Argus )
  • Pecuk Ular ( Prebytus Rubicusida )

Tabel 5. Tata Guna Lahan yang Berpotensi Untuk Pertanian di Kalimantan

Propinsi

Luas (Km2)

Luas Hutan (Ha)

Luas yang Digunakan (Ha)

Luas yang Sesuai (Ha)

Luas yang tidak sesuai (Ha)

S (H)

Ha

S (NH) Ha

TS (H) Ha

TS (NH) Ha

Kal-Bar

47.516

87.010

(59%)

60.500 (41%)

72.270 (49%)

75.260 (51%)

19.550 (27%)

52.720 (73%)

67.480 (90%)

7.780 (10%)

Kal-Teng

145.290

111.125 (76%)

34.165 (24%)

77.772 (54%)

67.518 (46%)

50.992 (66%)

26.780 (34%)

60.133 (89%)

7.386 (11%)

Kal-Sel

37.480

7.960 (48%)

19.500 (52%)

23.690 (63%)

13.800 (37%)

6.910 (29%)

16.780 (71%)

11.080 (80%)

2.720 (20%)

Kal-Tim

197.110

180.000 (9%)

17.110 (9%)

79.330 (40%)

117.880 (60%)

63.360 (80%)

15.970 (20%)

116.640 (99%)

1.230 (1%)

Total

527.406

396.095 (75%)

131.275 (25%)

253.062 (48%)

274.458 (52%)

140.812 (56%)

112.250 (44%)

255.333 (93%)

19.115 (7%)

N : Hutan ; NH : Non Hutan ; S : Sesuai untuk Pertanian

Sumber : RePPProT ; 1990


[1] Ekologi kalimantan

[2] Ditulis walhi kalbar

[3] Kaltim dalam angka, 2003


[R1]bukan

0 Comments:

Post a Comment

<< Home