Thursday, April 06, 2006

Fungsi Dan Manfaat Shield of Borneo

masih draft


B.2. Fungsi Dan Manfaat Green Belt

B.2.1. Secara Ekonomis, Ekologis Dan Sosial Bagi Kehidupan Masyarakat di Dalam dan diluar Kawasan GB

  • Pegunungan Schwaner

Secara Ekologis Kawasan ini berfungsi sebagai tempat tinggal (habitat) bagi…..tumbuhan langka dan …endemik.

Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan berfungsi sebagai 5 areal hutan lindung dan 2 Taman Nasional.

Dipegunungan ini merupakan sumber air bagi 5 DAS (Kotawaringin, Seruyan, Sampit/Mentaya, Katingan, Kahayan) yang jatuh ke Kalteng dan 1 Das (Kendawangan) serta 3 Sub DAS yang jatuh ke Kalbar (Melawi, Pawan, Kapuas Tengah) yang mengalir ke daerah Kalimantan Barat

Secara Sosial, berdasarkan hasil studi kelompok Kerja SHK pada tahun 200-2002 di desa Tumbang Habangoi, masyarakat memanfaatkan hutan dan sekitarnya sebagai kebutuhan hidup (berladang dan kebun rotan)dan usaha lain (satiar) seperti berburu, mencari getah dan rotan (rotan Potik). Sebagian kawasan yang ada di GB (Schwaner dan Muller) merupakan daerah keramat seperti Tumbang Dahie, Bukit Raya, Bukit Keminting, gunung Lumut dll. Mereka mempercayai juga bahwa awal turunnya leluhur dayak berada di kawasan GB (schwaner). Bagi masyarakat desa Tumbang Habangoi dan sekitarnya, asal muasal leluhur mereka berasal dari daerah Dahtah Hotap yang berada diantara sungai Samba dan hulu sungai Baraoi (studi POKKER SHK, 2002).

Begitu juga halnya bagi masyarakat dayak yang berada di daerah Berong (gunung Lumut) yang mempercayai bahwa kawasan gunung lumut merupakan tempat bersemayamnya para leluhur mereka.

Secara Ekonomis ini telah dimanfaatkan 24 perusahaan HPH (2005), 4 Perusahaan Hutan Tanaman Industri (2001), Saat ini di Kabupaten Murung Raya Kalteng terdapat 3 buah perusahaan tambang batu bara yang sudah melakukan eksplorasi pada kawasan yang berdekatan (bahkan merupakan) areal kawasan hutan lindung Sapat Hawung, Batu batikap dan hutan lindung Tasang Butung. Perusahaan tersebut di bawah bendera BHP Billiton yaitu PT.Kalteng Coal, Sumber Barito Coal, Joloi Coal dan Maruwai Coal diperkirakan seluas 354.800 ha (lampiran....dan bahan presentase dengan DPRD I). Namun sampai sekarang berapa nilai ekonomi yang telah di hasil dari kawasan ini belum diperoleh datanya.

Kawasan ini menghasilkan hasil hutan non kayu.

Secara tidak langsung kawasan ini di manfaatkan masyarakat di luar kawasan sebagai sangat berperan dalam menopang kehidupan terutama sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berada di sekitar sungai. Sungai di jadikan sumber penghasilan berupa ikan. Selain itu sungai – sungai tersebut masih menjadi sarana transportasi. Bagi masyarakat perkotaan, green belt yang merupakan daerah hulu sungai menjadi sumber mata air untuk pemenuhan air bersih.

  • Pegunungan Muller

Secara Ekologis Kawasan ini berfungsi sebagai tempat tinggal (habitat) bagi…..tumbuhan langka dan …endemik. Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan ini berfungsi sebagai ……

Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan berfungsi sebagai 7 areal hutan lindung dan 1 Cagar Alam.

Dipegunungan ini merupakan sumber air bagi 1 DAS (Kahayan) dan 1 Sub Das (Barito) yang turun ke Kalteng. 1 Sub Das (Melawi) yang airnya mengalir ke Kalbar. 1 Das (Kayan) dan 1 Sub Das (Mahakam Hulu)

Secara Sosial Kawasan ini berfungsi sebagai …..

Secara Ekonomis ini telah dimanfaatkan 24 perusahaan HPH (2005), dan ….Perusahaan Pertambangan . Kawasan ini menghasilkan hasil hutan non kayu..

Secara tidak langsung kawasan ini di manfaatkan masyarakat di luar kawasan sebagai

Hidrologi dalam system DAS Kapuas dengan Sub DAS meliputi Sub DAS Embaloh, Sibau, Mendalam, Kapuas Koheng, Bungan;

Dinding Muller sebagai pembatas ekologi sekaligus sebagai sebagian pembatas administrasi antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Pada kawasan pegunungan muller,gagasan untuk mengusulkan kawasan Pegunungan Muller menjadi kawasan konservasi Warisan Dunia telah dimunculkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Utara (yang pada saat itu masih membawahi wilayah administratif Murung Raya) melalui Surat Bupati kepada Meneg Lingkungan Hidup dengan No. 315990/BPDL/X/2001 tanggal 6 Oktober 2001. Usulan tersebut diagendakan dalam Tahun Internasional tentang Gunung (International Year of Mountain) di Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2002. Kemudian, berdasarkan usulan tersebut Meneg Lingkungan Hidup melalui Surat No. B.536/Meneg LH/2002 tanggal 20 Maret 2002 menyampaikan kepada Menko Kesra selaku focal point yang mengkoordinasi pengusulan. Pada tanggal 31 Mei 2002, Menko Kesra melalui suratnya No. 14/Kep/Menko/Kesra/V/2002 membentuk Tim Penyiapan dan Pengusulan Perubahan Status Pegunungan Muller menjadi World Heritage. Berdasarkan pertemuan koordinasi yang dilakukan Menko Kesra, maka Tim Penyiapan beranggotakan dari Kantor Menko Kesra, Menneg Lingkungan Hidup, UNESCO, Departemen Kehutanan dan Masyarakat setempat. Sementara itu, dengan mempertimbangkan kompetensi, otoritas ilmiah, independensi dan obyektivitas, maka LIPI ditunjuk untuk melakukan penelitian terpadu sebagai landasan ilmiah penilaian nilai ekologis penting dari kawasan konservasi. Melalui beberapa kali pertemuan koordinasi, diperoleh kesepakatan bahwa sebelum diusulkan menjadi Natural World Heritage Site, maka kawasan Pegunungan Muller perlu ditetapkan terlebih dahulu sebagai Taman Nasional. Langkah tindak lanjut dari kesepakatan tersebut di atas, dengan mendorong gagasan di tingkat lokal melalui komitmen dan visi konservasi Pemerintah Daerah Kabupaten Murung Raya, Gunung Mas dan Katingan dinominasikanlah kawasan Pegunungan Muller dan Schwaner sebagai calon Taman Nasional. (lampiran)

  • Pegunungan Kapuas Hulu

Secara Ekologis Kawasan ini berfungsi sebagai tempat tinggal (habitat) bagi…..tumbuhan langka dan …endemik.

Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan berfungsi sebagai 4 areal hutan lindung dan 1 Cagar Alam.

Dipegunungan ini merupakan sumber air bagi Sub DAS Kapuas Hulu.

Secara Sosial Kawasan ini berfungsi sebagai …..

Secara Ekonomis ini telah dimanfaatkan 5 perusahaan HPH (2005), 2 Perusahaan Hutan Tanaman Industri (2001) dan ….Perusahaan Pertambangan . Kawasan ini menghasilkan hasil hutan non kayu..

Secara tidak langsung kawasan ini di manfaatkan masyarakat di luar kawasan sebagai

  • Pegunungan Iban

Secara Ekologis Kawasan ini berfungsi sebagai tempat tinggal (habitat) bagi…..tumbuhan langka dan …endemik.

Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan berfungsi sebagai 6 areal hutan lindung dan 1 Taman Nasional.

Dipegunungan ini merupakan sumber air bagi 3 DAS (Kayan, Sesayap dan Sebakung).

Secara Sosial Kawasan ini berfungsi sebagai …..

Secara Ekonomis ini telah dimanfaatkan 16 perusahaan HPH (2005), 1 Perusahaan Hutan Tanaman Industri (2001)…..Hti dan ….Perusahaan Pertambangan . Kawasan ini menghasilkan hasil hutan non kayu..

Secara tidak langsung kawasan ini di manfaatkan masyarakat di luar kawasan sebagai

  • Pegunungan Meratus

Secara Ekologis Kawasan ini berfungsi sebagai tempat tinggal (habitat) bagi…..tumbuhan langka dan …endemik.

Menurut Aturan pemerintah sebagian besar kawasan berfungsi sebagai 6 areal hutan lindung dan 1 Taman Hutan Rakyat

Secara Sosial Kawasan ini berfungsi sebagai …..

Secara Ekonomis ini telah dimanfaatkan 13 perusahaan HPH (2005), 10 Perusahaan Hutan Tanaman Industri (2001)…..Hti dan ….Perusahaan Pertambangan . Kawasan ini menghasilkan hasil hutan non kayu..

Secara tidak langsung kawasan ini di manfaatkan masyarakat di luar kawasan sebagai penyedia air bagi pertanian, perikanan dan energi listrik

Pegunungan Meratus merupakan kawasan hutan asli (native forest) yang masih tersisa di Propinsi Kalimantan Selatan, letaknya membentang dari arah Tenggara sampai kesebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur. Posisinya membelah wilayah Kalimantan Selatan menjadi dua bagian, sebelah Barat dan sebelah Timur. Berdasarkan letak geografis, kawasan Pegunungan Meratus terletak diantara 115038’00” dan 115052’00” Bujur Timur dan 2028’00” dan 20054’00” Lintang Selatan. Menurut pembagian wilayah administrasi pemerintahan, kawasan Pegunungan Meratus termasuk dalam Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Hulu Sungai selatan, Kab. Tabalong, Kab. Kotabaru, Kab. Banjar dan kab. Tapin.

Tak cuma keragaman biodiversitinya yang membuat kawasan Meratus bernilai penting. Kawasan ini juga dihuni oleh sekurangnya 115 kelompok masyarakat/ Balai Adat Dayak Meratus dengan ribuan penduduk. Dimana semua kehidupan sehari-harinya hidup bergantung pada kelestarian ekosistem hutan dan sumber daya alam disekitarnya. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda telah dipertahankan sebagai hutan cadangan untuk kepentingan pengatur tata air (hidrologis).

Sudah seharusnya kawasan Meratus dilindungi, karena hampir seluruh kawasan merupakan daerah bergunung dengan topografi agak curam (kelerengan 20-38 derajat), curam (40-50 derajat), hingga sangat curam (50-90 derajat), yang membentuk dinding curam dan terjal. Kawasan Meratus merupakan juga daerah hulu sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di Kalsel. Dari di bagian barat mengalir sungai Batang Alai, sungai Barabai, sungai Amandit, sungai Balangan, sungai Pitap. Sedangkan di bagian Timur mengalir sungai Batang Aing Bantai, sungai Juhu, sungai Sampanahan. Dengan kondisi alam yang demikian, tak pelak pegunungan Meratus merupakan kawasan yang mempunyai fungsi yang sangat vital bagi wilayah bawahannya.

Sebagai daerah tangkapan air, kondisi pasokan air beberapa DAS yang berhulu di kawasan Meratus sangat bergantung dari baik atau buruknya hutan hujan yang mendominasi ekosistem pegunungan Meratus. Kelestarian hutan di pegunungan Meratus juga menjadi jaminan dan taruhan bagi kelangsungan pasokan air di DAS-DAS tersebut di atas. Jika hutan di hulu-hulu DAS tersebut terganggu ekosistemnya, misalnya dibabat maka bencana setiap saat dapat melanda daerah bawahannya.

Pegunungan Meratus juga memiliki nilai penting sebagai pengatur tata air yang meliputi penyerapan curah hujan (presipitasi) dan mengalirkannya ke dalam sistem drinase yang berada di bawahnya dengan sistem sungai seperti urat syaraf otak. Beberapa Sud DAS yang ada di kawasan ini antara lain Tabalong, Balangan, Batang Alai, Amandit, Panehutan, Bantai Barangkak, Sampanahan Hulu, Sampanahan Renyah, Maluka, Tapin, Riam Kanan dan Riam Kiwa. Sub DAS tersebut bersatu di DAS Sampanahan, DAS Kusan, DAS Batulicin dan DAS Barito.

DAS Barito yang berhulu di Pegunungan Meratus, beberapa sungai utama masih menjadi prasana transportasi yang masih efektif baik digunakan oleh masyarakat secara umum maupun beberapa perusahaan pemanfaat sumber daya alam. Dulu sewaktu jaman kejayaan kayu, sungai ini hampir tiap hari dilewati oleh rakit-rakit kayu gelondongan. Sekarang ini angkutan batu bara juga melewati sungai-sungai tersebut, tidak kurang 2 perusahaan besar pertambangan Batubara terbesar di kalsel menjadi pengguna utama sungai- sungai tersebut.

Meratus sangat kaya dengan potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik potensi hutan dan keanekaragaman hayatinya juga termasuk kekayaan berbagai bahan galian mineral. Sebagian besar bahan galian di Kalimantan Selatan terletak di kawasan Pegunungan Meratus, misalnya dari emas, bijih besi, bauksit, dan batubara. Hal ini terbukti dengan banyaknya konsesi-konsesi perusahaan baik tambang maupun hutan yang berada pada kawasan pegunungan ini, dengan perijinan baik dari pemerintah pusat mapun perijinan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Mata pencaharian utama penduduk di kawasan pegunungan Meratus adalah sebagai petani ladang/kebun. Sedikit dari mereka berusaha di bidang perdagangan, jasa dan pertambangan/pendulang emas. Khususnya masyarakat Suku Dayak yang merupakan kelompok masyarakat terbesar di sekitar kawasan ini, hampir semuanya bermata pencaharian sebagai petani ladang yang erat kaitan dengan kebiasaan dan budaya mereka sendiri.

Bagi masyarakat di sekitar areal kawasan Pegunungan Meratus khususnya masyarakat Suku Dayak, hutan adalah sumber penghidupan mereka. Mereka berladang, berburu satwa liar atau mengambil hasil hutan lainnya dari hutan untuk keperluan hidupnya. Jumlah mereka yang relatif sedikit sehingga luas ladang secara keseluruhan relatif kecil. Selain itu, sistem perladangan dengan rotasi 10 – 20 tahun dan pola penanaman terbatas pada ketinggian tidak lebih dari 700 m dpl menyebabkan luas areal perladangan dari tahun ke tahun kelihatan tidak banyak bertambah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home