Tuesday, November 28, 2006

Potensi konflik dan kerunyaman pengelolaan SoB(1)

Investasi Ekonomi di wilayah komunitas GB (Sebaran HPH, HTI, Kebun, Tambang, Infrastruktur)
Sebaran HPH di Kawasan Green Belt
Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada tahun 2005 yang kemudian di analisis melalui overlay dengan kawasan Green Belt diperoleh data luasan dan jumlah HPH yang berada di kawasan Green Belt terdapat 76 HPH dengan Total luasan sekitar 3,983 juta Ha.

Green Belt Luasan Jumlah HPH
Kapuas Hulu 55.233,57 5
Iban 1.242.783,21 16
Muller 595.773,43 25
Meratus 451330,99 13
Schawaner 1.638.834,80 25
Jumlah 3.983.956,00 84
Keterangan : Jumlah seluruh HPH yang berada di Green Belt adalah 76 Perusahaan, Jumlah di tabel dikarenakan ada HPH yang masuk lebih dari 1 kawasan GB. Jumlah HPH bukan berdasarkan per Propinsi tetapi perhitungan Pulau, misalnya Meratus bagian Kalsel hanya ada 4 HPH

Thursday, April 20, 2006

Latar Belakang

Kalimantan atau lazim juga disebut Borneo, sebuah pulau yang terbagi menjadi 3 negara, yaitu Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia yang berada pada garis katulistiwa yang beriklim trofis. Borneo yang masuk dalam wilayah negara Indonesia, secara administrative terbagi menjadi 4 propinsi , yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan luas seluruhnya adalah 549.032 km2 atau 73 % dari luas Borneo (Kathy Mackinnon:1:2000). Luas diatas merupakan 28% seluruh daratan Indonesia. Borneo terbentang di katulistiwa antara 70 LU dan 40 LS. Borneo terletak di kawasan bercurah hujan konstan dan bersuhu tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu, pulau ini memiliki beberapa habitat tropis tersubur di muka bumi dan memiliki hutan basah tropis terluas di kawasan Indomalaya. Pulau ini kaya akan keragaman hayati.



Jumlah penduduk Kalimantan sekitar 9,1 juta (1991), dengan kepadatan penduduk 17 orang/km2. Kalimantan berperanan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Kekayaan ini bukan berasal dari produk industri, juga bukan dari hasil pertanian dan perkebunan, melainkan karena besarnya cadangan sumber daya alam: hutan, minyak, gas, batu bara, dan mineral-mineral lain.

Pulau Borneo berbentuk pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama di bagian selatan. Lebih dari setengah pulau ini berada di bawah ketinggian 150 m dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Borneo tidak memiliki gunung berapi tetapi jajaran pegunungan, utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau, seperti trisula terbalik dari utara ke selatan, dengan tiga mata tombaknya bercabang di bagian selatan. Secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Wilayah pesisir umumnya didefinisikan sebagai suatu jalur daratan dan laut yang terdapat di sepanjang pesisir. Wilayah ini hanya sebagian kecil di Kalimantan. Wilayah ini mencakup beberapa habitat yang dari segi ekologi sangat produktif, yaitu muara sungai, lahan basah pasang-surut, hutan bakau dan terumbu karang, dan juga merupakan daerah temapat tinggal sebagaian besar penduduk Kalimantan, di mana sebagian besar pembangunan sedang berlangsung.

Garis pesisir Kalimantan membentang sejauh 8.054 km, yakni dari Semenanjung Sambas di bagian barat sampai Pulau Nunukan di perbatasan Sabah. Sebagaian besar garis ini berhadapan dengan pantai yang dangkal, dan dibelakangnya terdapat hutan bakau dan hamparan lumpur, atau pantai berpasir yang luas, yang tepinya ditumbuhi pohon-pohon cemara Casuarina. Habitat-habitat utama di Kalimantan meliputi pulau-pulau kecil berbatu-batu, formasi terumbu karang, garis pantai berbatu-batu termasuk tanjung pantai berpasir, asosiasi bakau/nipah, dan hamparan lumpur, serta muara sungai.

Di belakang batas hutan bakau dan nipah daerah pesisir, tanah yang tergenang air di dataran rendah Kalimantan menunjang kehidupan rawa gambut dan hutan air tawar yang sangat luas. Kalimantan, secara keseluruhan, memiliki lahan basah seluas 20.116.000 ha. Dari lahan seluas itu, yang tersisa sekitar 12.478.000 ha. Persoalannya adalah dari 20 juta ha luas lahan itu, yang dilestarikan hanya sebesar 1.322.000 ha.

Kalimantan memiliki kekayaan hutan yang berlimpah ruah. Pada tahun 1968, Kalimantan ditaksir mempunyai 41.470.000 ha hutan atau kira-kira 70%. Luas ini mencakup 34% seluruh luas hutan di Indonesia. Menjelang tahun 1990, dengan basis data yang lebih baik, luas lahan di Kalimantan yang masih tertutup hutan hanya 34.730.000ha atau 63%. Angka ini menunjukkan kehilangan hutan tujuh juta hektar selama dua puluh tahun.

Saat ini, perhatian masyarakat di Kalimantan diberikan pada tanaman perkebunan dan tanaman keras. Tiga tanaman perkebunan utama di Kalimantan adalah kelapa sawit, karet, dan kelapa. Ketiga produk alam ini dipandang efektif dalam memenuhi kebutuhan hidup dan mampu diterapkan dalam melindungi sistem ekologi. Selain itu, pengelolaan lahan dengan media perkebunan besar mampu melindungi tanah dengan baik, menjaga eksistensi satwa liar, dan menganut sistem berkelanjutan.

Borneo merupakan daratan dengan sungai-sungai besar: Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kayan, dan Sungai Mahakam di wilayah Kalimantan. Sungai-sungai ini merupakan jalur masuk utama ke pedalaman pulau dan daerah pegunungan tengah. Semakin ke hulu, sungai lebih sempit. Sungai tersebut mengalir melalui hutan-hutan perbukitan, berarus deras, dan airnya jernih.

Kebanyakan sungai-sungai utama di Kalimantan terdapat di jajaran pegunungan tengah. Sungai-sungai itu semakin lebar dan semakin besar volumenya menuju ke laut, karena ada tambahan air dari anak-anak sungainya, yang membentuk sungai utama yang mengalirkan air dari daerah aliran sungai yang luas. Debit air bervariasi menurut musim. Kecepatan arus, kedalaman air, dan komposisi substrat bervariasi menurut panjang aliran dan lebar sungai, dan ini mempengaruhi biota yang dapat hidup di dalamnya.

Borneo memiliki flora yang terkaya di Kepulauan Sunda, baik jumlah kekayaan maupun keragaman jenisnya. Borneo memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae, yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di kawasan Asia Tenggara; 58% jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Borneo memiliki lebih dari 2.000 jenis anggrek dan 1.000 jenis Pakis, dan merupakan pusat distribusi karnivora kantung semar Nepenthes. Tingkat endemisme flora cukup tinggi, yaitu sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya 59 marga di pulau ini unik (dari 1.500 marga seluruhnya). Hanya satu suku endemik di Borneo, yaitu Scyphostegiaceae.

Kekayaan jenis tumbuhan dapat dihubungkan dengan tipe tanah. Keragaman tipe habitat dan endemisme lokal berkaitan dengan tanah, misalnya sifat geologi batuan muda, khususnya di barat daya Borneo, berperanan dalam menentukan kekayaan jenis tersebut. Keragaman habitat hutan di Borneo berkisar dari hutan Dipterocarpaceae dewasa dengan tajuk tinggi, stratifikasi yang jelas, dan tumbuhan polong-polongan yang tinggi dan hutan Dipterocarpaceae yang menjulang tinggi. Sebagaian dari 146 enis rotan Borneo berkaitan dengan tipe hutan khusus.

Fauna Borneo menggambarkan sejarah geologi dan hubungannya dengan daratan purba. Pulau ini kaya akan fauna yang berasal dari Asia, misalnya, keluarga rusa, sapi liar, babi, kucing, monyet dan kera, tupai, dan banyak keluarga burung Asia. Banyak fauna Borneo yang serupa dengan fauna daratan Asia dan pulau-pulau Sunda lainnya, tetapi keserupaan dengan Sulawesi dan pulau-pulau di sebelah timur hanya sedikit, karena komposisi faunanya agak berbeda.

Gambaran Kehidupan Masyarakat Kalimantan

Penduduk terbanyak yang mendiami Kalimantan adalah Suku Dayak. Secara harfiah, “Dayak” berarti orang pedalaman dan merupakan istilah kolektif untuk bermacam-macam golongan suku, yang berbeda dalam bahasa, bentuk kesenian, dan banyak unsur budaya serta organisasi sosial. Mereka terutama merupakan peladang berpindah padi huma, yang menghuni tepi-tepi sungai di Kalimantan. Di seluruh Borneo, barangkali terdapat 3 juta orang Dayak. Pada umumnya, mereka tinggal di daerah-daerah aliran sungai di dataran rendah dan dataran-dataran aluvial.

Pentingnya Penyelematan Pulau Kalimantan

Berdasar karekteristik umum Pulau Kalimantan ada keterikatan antar kawasan terutama daerah hulu-hulu sungai yang menjadi bagian penting dari kehidupan di Pulau ini. Namun kondisi kawasan ini menunjukan adanya penurunan fungsi yang secara nyata dari tahun ke tahun diantaranya oleh kegiatan ekstraktif apalagi dengan kebijakan pemerintah yang terus mengancam kawasan ini seperti rencana pertambangan di kawasan lindung di Pegunungan Meratus atau rencana spektakular sawit 1,8 juta hektar di perbatasan maupun. Sehingga kedepannya bagaimana kawasan tersebut dapat diselamatkan, karena dengan menyelamatkan kawasan tersebut otomatis juga akan menyelamatkan kehidupan di pulau ini.

Kawasan “penting” yang dimaksud adalah kawasan yang memberikan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat . Di kawasan inilah tempat penyedia air, penyeimbang kondisi lingkungan hidup, pelindung dari bencana, intinya kawasan inilah yang akan membantu menyelamatkan kehidupan di Pulau Kalimantan. Kawasan ini kemudian disebut sebagai “sabuk hijau.

Kondisi Terkini

Kalimantan pada umumnya ketersediaan sumber daya alam meskipun dikatakan masih cukup tinggi namun ketersediaannya mulai terbatas. Nilai komoditas sumber daya alam di Kalimantan berasal dari beberapa sector, diantaranya hasil hutan, tambang, pertanian dan perikanan yang mendatangkan nilai ekonomi wilayah. Namun belakangan ini potensi sumber daya alam tersebut mengalami pemborosan dalam pemanfaatan, sehingga terjadi kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan hidup yang ditandai dengan pencemaran sungai serta banjir. Kalimantan yang berada di Wilayah Republik Indonesia terletak diantara 4º24' LU - 4º10' LS dan 108º30' BT - 119º00' BT, dengan luas wilayah lebih kurang 535.834 km². Perbatasan dengan Negara Malaysia terletak dibagian utara yang panjangnya mencapai 3.000 km. sebagai wilayah yang mempunyai kawasan perbatasan maka tidak dapat dikesampingkan pula persoalan yang terkait dengan illegal loging, konversi kawasan hutan dan illegal trading. Potensi hutan lindung, hutan produksi, cagar alam dan tambang umumnya menyebar di kawasan perbatasan. Potensi ini sudah dilirik oleh Negara-negara Asia, yaitu dengan membentuk kerangka kerjasama ekonomi regional BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan melalaui jalur perdagangan laut internasional.

Kondisi fisik wilayah Kalimantan yang masih menyimpan potensi sumber daya alam sebagian besar di wilayah pegunungan, yang meliputi kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai konservasi flora dan fauna, hutan di pegunungan Muller dan Schawaner, serta kawasan hutan dan hutan lindung lainnya yang ditetapkan sebagai “world heritage forest”. Kawasan hutan tersebut merupakan hulu-hulu sungai yang menyimpan cadangan air untuk seluruh Kalimantan, yaitu sebanyak 35 % yang tidak akan habis, tetapi dengan syarat tidak terganggu dan tercemar serta perlu dikelola sebagai suatu kawasan bioregion.

Sampai saat ini hasil hutan Kalimantan masih dijadikan kayu industri, sehingga beberapa spesies kayu mulai punah seperti, gaharu, ramin dan cendana yang ditebang tanpa kendali. Selain industri kayu, juga dari hasil pertambangan, pertanian/perkebunan dan industri hasil olahan yang mengandalkan sumber daya alam mengabaikan kondisi lingkungan hidup dan keberlanjutannya. Potensi sumber daya alam tersebut memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Nasional yang mencapai 10,09%, hal ini merupakan suatu nilai yang cukup tinggi. Kontribusi terbesar berasal dari sector industri pengolahan (25,8%), pertambangan dan bahan galian (20,66%), serta pertanian/perkebunan (16,34%). Meskipun pertanian pada urutan ke tiga, namun pada lingkup Propinsi, pertanian sangat dominant memberikan kontribusi pada PDRB, yaitu antara 20 – 40 %.

Gambaran singkat tersebut dapat memberikan ilustrasi bahwa Kalimantan dipandang oleh para ekonom sebagai kawasan yang memberikan harapan perkembangan dan pertumbuhan wilayah dan kontribusinya pada pertumbuhan nasional. Namun, para ekonom tersebut tidak pernah memandang dari ketersediaan sumber daya alam dan daya dukung lingkungan, serta kodisi social, budaya masyarakat yang sangat tergantung oleh ketersediaan sumber daya alam sebagai ruang dan sumber kehidupan masa depan.

Pemasalahan

  • Degradasi kualitas lingkungan hidup sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak mengacu pada kondisi bioregion, sehingga mengurangi potensi sumber daya alam Kalimantan.
  • Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan yang subur di dataran rendah dan tidak berawa. Pola penyebarannya sangat terbatas dibagian barat, selatan dan timur bagian utara wilayah Kalimantan. Dibagian tengah dan dataran rendah pantai selatan umumnya lahan gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi dan sulit ditanami dengan komoditas pertanian yang ekonomis. Sedangkan dibagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air.
  • Alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi salah satu isu utama di Kalimantan, walaupun telah terdapat berbagai peraturan perundang-undangan tentang alokasi lahan, dalam pelaksanaannya masih terjadi penyimpangan di lapangan. Kondisi ini telah menimbulkan dampak negative yang sangat berat dengan munculnya banjir dan menurunnya produktivitas pertanian rakyat, serta serta dampak social lainnya.
  • Perkembangan pembangunan di bagian hulu kawasan perbatasan dan hulu pegunungan, telah mempersempit vegetasi yang menutup permukaan tanah menjadi lapisan kedap air, sehingga meningkatkan air limpasan dan telah mengakibatkan bahaya erosi tanah.
  • Kesenjangan pembangunan di Kalimantan tidak hanya antar Propinsi tetapi juga antar Kabupaten di wilayah bagian pesisir, pedalaman dan perbatasan
Kami meminta partisipasi semua pembaca, terutama pada semua tulisan-tulisan kami, untuk penyelamatan Pulau Kalimantan dari Bencana

Wednesday, April 19, 2006

Kalimantan Secara Umum

A.1.1. Letak Geografis

Kalimantan adalah nama bagian wilayah Indonesia di Pulau Borneo Besar; yaitu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Seluruh Pulau Irian. Kalimantan meliputi 73 % massa daratan Borneo. Keempat propinsi di Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, luas seluruhnya adalah 549.032 km2. Luasan ini merupakan 28 % seluruh daratan Indonesia. Kalimantan Timur saja merupakan 10% dari wilayah Indonesia. Bagian utara P. Borneo meliputi negara bagian Malaysia yaitu Serawak dan Sabah, dan Kesultanan Brunei Darusallam. Batasan wilayah secara politik yang ada sekarang ini mencerminkan kepentingan penjajah masa lampau.

Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia, terletak diantara 40 24` LU - 40 10` LS dan anatara 1080 30` BT - 1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535.834 km2. Berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”illegal trading” apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. Selain itu pesoalan ”illegal loging” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional ALKI 1 dan ALKI 2.

A.1.2. Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan

Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain–lain (0,93 %). Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kelerengan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang[1]. Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis tersebut adalah Pegunungan Muller, Schawaner, Iban dan Kapuas Hulu serta dibagian selatan Pegunungan Meratus. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu, ramin, dan cendana sudah hampir punah. Analisis ekonomi hasil hutan dengan ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, wilayah dan ekonomi nasional

Para Ahli agronomi sepakat bahwa tanah-tanah di Kalimantan adalah tanah yang sangat miskin, sangat rentan dan sangat sukar dikembangkan untuk pertanian. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut, lahan bertanah asam, berpasir, dan lahan yang memiliki kelerengan curam. Kalimantan dapat dikembangkan, tetapi hanya dalam batas-batas ekologis yang agak ketat dan dengan kewaspadaan tinggi. Lahan yang luas telah dieksploitasi secara buruk. Operasi pembalakan yang dikelola dengan buruk pula, serta rencana-rencana pertanian yang gagal, telah meninggalkan bekas-bekasnya pada bentang lahan di Kalimantan. Padang Pasir putih yang luas dan kerangas yang mengalami Lateralisasi menjadi merah dan ditinggalkan ; padahal semula ditumbuhi hutan lebat. Setiap tahun lautan padang alang-alang menjadi kering dan terbakar. Hutan tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan regeneresi dan lautan padang rumput terus bertambah luas.

Sebagai besar lahan Gambut berada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman, pegunungan, dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan usaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan.

Proses-proses ekologis utama adalah proses-proses yang diatur atau ditentukan oleh ”ekosisitem dan sangat mempengaruhi produksi pangan, kesehatan dan aspek lain untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan. Sistem penunjang kehidupan adalah ekosistem ekosistem utama yang terlibat di dalamnya, beberapa ekosistem kehidupan yang menghadapi ancaman bahaya terbesar adalah sistem pertanian, hutan, lahan basah dan sistem pesisir.

Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka, da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat.

Pencemaran sungai dikarenakan pembalakan hutan, buangan limbah industri tanpa perlakukan, limbah rumah tangga dan limbah dari penambangan emas tanpa izin telah menyebabkan alur perairan menjadi bahaya bila digunakan untuk keperluan ruamah tangga dan menyebabkan kerugian berupa sebagian sumber daya perikanan.

Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas, mangan, bauksit, pasir kwarsa, fosfat, mika dan batubara. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah, pantai, dan ”off sore”. Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan, perkebunan, dan pertanian. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi.

Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran, karena keterbatasan lahan di negara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai. Namun sekarang ini pengembangan perkebunan juga mengancam kawasan perbukitan dataran tinggi, namun di duga areal yang sebenarnya kurang cocok untuk perkebunan hanya sebagai dalih untuk melakukan eksploitasi kayu.

Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini.

A.1.3. Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah

Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) . HDI pada tahun 1996 sampai dengan 1999 menurun di semua propinsi. Total HDI rata-rata di Kalimantan 68,2 tahun 1996 dan 64,3 pada 1999 kemudian pada tahun 2003 menjadi 65. Penurunan ini lebih disebabkan karena memang tingkat pendapatan perkapita jauh menurun akibat krisis, sementara HDI sangat ditententukan oleh faktor income/capita.

Jika melihat data kemiskinan pada tahun 2002 yang dikeluaran dinas sosial terlihat kondisi sosial masyarakat Kalimantan, buta huruf rata-rata 7,28 % dengan Kalimantan Barat yang tertinggi yaitu di Kabupaten Sintang 17 %. Masyarakat yang belum mendapatkan pelayananan air bersih rata-rata 58,7 %, dengan Kalimantan barat yang tertinggi yaitu 92 %. Indeks Kemiskinan masih 29 % dari total penduduk, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel

Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan (1999) terhadap PDB nasional mencapai 10.09 %, suatu nilai yang cukup baik. Dari angka itu nilai PDRB terbesar didapat dari propinsi Kaltim yaitu 59,21 %. Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB tahun 2000 adadalh Industri pengolahan (25,8 %), sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian (20,66 %) sendangkan ketiga pertanian (16,34 %). Walupun sektor pertanian ketiga, namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %, kecuali di propinsi Kaltim. Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian yaitu mencapai 23 % (1996-2000). Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya.

Kalimantan berperan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Pada tahun 2003[2], Kalimantan menghasilkan 29 % pendapatan sektor Indonesia yang berasal dari migas, 25,72% dari sektor pertambangan dan 34.54 % dari sektor hutan. Namun perlu di lontarkan pertanyaan apakah dalam jangka panjang eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan bersiapat nasional? Apakah eksploitasi dapat berjalan terus? Ataukah akan menyebabkan kerusakan lingkungan, penurunan kualitas tanah dan hutan serta pemcemaran perairan? Apa yang dilakukan untuk memperbaiki berbagai potensi kerusakan tersebut.

A.1.4. Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimantan

Tahun 2000 total panjang jalan di pulau Kalimantan 42.641 km. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar. Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85,29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terhubungkan secara masif, yaitu jalur utara membentang barat-timur, tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai. Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis, mendukung dan mendorong perkembangan wilayah.

Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan raya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan, yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan, Kalsel 1 kota pelabuhan, dan Kaltim 15 kota pelabuhan. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu 2.491.102 ton bongkar dan 54.324.824 ton muat.

Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial, agama dan keamanan wilayah. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima), Kalteng 7 (tujuh), Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat). Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang - keluar pelabuhan udara tercatat 39.964 pesawat keberangkatan dan 40.005 pesawat kedatangan.

A.1.5. Kondisi Prasarana Kelistrikan

Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total, sebagian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. Wilayah-wilayah lainnya sudah dihubungi dengan jaringan bertegangan 150 KV dan masih terbatas dalam jangkauan pelayanannya. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD dan ada beberapa dari PLTG, PLTA dan PLTGU. PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal. Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air, batu bara, dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA, PLTG, dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit, olahan hasil hutan, pertambangan, semen, dan industri lainnya. Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis. Saat ini telah direncanakan pembangunan, PT PLN bakal menambah dua unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 2x65 mega watt pada tahun 2007 di Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan.[3]

A..1.6. Wilayah Administrasi

Secara administratif di Pulau Kalimantan terdiri dari :

Propinsi

Kabupaten

Kecamatan

Desa

Kalimantan Barat

12

127

1500

Kalimantan Tengah

14

85

1355

Kalimantan Selatan

13

117

1972

Kalimantan Timur

13

88

1404

Jumlah

52

417

6231

Sumber : data administrasi KPU, 2003

Kalimantan Barat Secara Umum

Kalimantan Barat memiliki luas 146.807 Km2, terletak di bagian barat pulau Kalimantan atau di antara garis 2o08’ LU serta 3o05’ LS serta di antara 108o0’ BT dan 114o10’ BT pada peta bumi. Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis lintang 0o) tepatnya di atas Kota Pontianak yang merupakan ibukota propinsi ini. Karena pengaruh letak ini pula, maka Kalbar adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara cukup tinggi serta diiringi kelembaban yang tinggi.

Ciri-ciri spesifik lainnya adalah bahwa wilayah Kalimantan Barat termasuk salah satu propinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara asing, yaitu dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Bahkan dengan posisi ini, maka daerah Kalimantan Barat kini merupakan satu-satunya propinsi di Indonesia yang secara resmi telah mempunyai akses jalan darat untuk masuk dan keluar dari negara asing. Hal ini dapat terjadi karena antara Kalbar dan Sarawak telah terbuka jalan darat antar negara Pontianak – Entikong – Kuching (Sarawak, Malaysia) sepanjang sekitar 400 km dan dapat ditempuh sekitar enam sampai delapan jam perjalanan.

Pengeksploitasian yang buruk (pembalakan hutan/kayu, pertanian lahan kering yang gagal) telah meninggalkan bekas pada bentang alam/lahan, hilangnya sumberdaya dan pencemaran yang terjadi pada sungai merupakan suatu dampak dan akibat dari pengeksploitasian yang buruk (pembukaan hutan, limbah industri tanpa perlakuan dan rumah tangga, dan kegiatan PETI) menyebabkan alur-alur sungai menjadi bahaya untuk digunakan sebagai keperluan rumah tangga. Selain itu juga, ada suatu dampak berupa kerugian pada sumberdaya ikan, dan juga penebangan hutan bakau untuk tambak menyebabkan kerugian sumberdaya lepas pantai. Tanpa perencanaan yang seksama, pembangunan di Kalimantan Barat hanya dapat menimbulkan suatu keuntungan ekonomi pada Jangka pendek, yang dengan terus mengorbankan kerusakan lingkungan dalam Jangka Panjang

Kalimantan Tengah Secara Umum

Propinsi Kalimantan Tengah beribukota di Palangkaraya dengan luasan .... . Secara geografis terletak di daerah khatulistiwa, yaitu 0°45 LU, 3°30 LS, 111 ° BT dan 116° BT.

Sebagian besar wilayah propinsi Kaimantan Tengah merupakan dataran rendah, ketinggian berkisar antara 0 s/d 150 meter dari permukaan laut. Kecuali sebagian kecil di wilayah utara merupakan daerah perbukitan di mana terbentang pegunungan Muller dan Schwaner dengan puncak tertingginya (bukit Raya) mencapai 2.278 meter dari permukaan laut.

Terdapat sebelas (11) sungai besar dan tidak kurang dari 33 anak sungai kecil/anak sungai, keberadaanya menjadi salah satu ciri khas Propinsi Kalimantan tengah. Sungai barito dengan kepanjangannya mencapai 900 km dengan rata-rata kedalaman 8 meter merupakan sungai terpanjang dan dapat dilayari hingga 700 km.

Kalimantan Selatan Secara Umum

Propinsi Kalimantan Selatan memiliki luasan 3,7 jt Ha atau 6,98% luas Pulau Kalimantan dengan ibukota Banjarmasin. Secara geografis terletak di antara 1o 21’ 49” LS – 1o 10’ 14” LS dan 114o 19’ 33” BT – 116o 33’ 28”. Kekhasan propinsi ini adalah Propinsi di belah oleh gugusan pegunungan Meratus dan menjadi batas alam hampir seluruh kabupaten di propinsi ini.

Kalimantan Timur Secara Umum

Kalimantan Timur dengan luas wilayah 245,237.8 km² atau seluas satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura, terletak antara 113º44’ Bujur Timur dan 119º00’ Bujur Barat serta diantara 4º24’ Lintang Utara dan 2º25’ Lintang Selatan. Dengan adanya perkembangan dan pemekaran wilayah, propinsi terluas kedua setelah Papua ini dibagi menjadi 9 (sembilan) kabupaten, 4 (empat) kota.

Kesembilan kabupaten tersebut adalah Pasir dengan ibukota Tanah Grogot, Kutai Barat dengan ibukota Sendawar, Kutai Kartanegara dengan ibukota Tenggarong, Kutai Timur dengan ibukota Sangatta, Berau dengan ibukota Tanjung Redeb, Malinau dengan ibukota Malinau, Bulungan dengan ibukota Tanjung Selor dan Nunukan dengan ibukota Nunukan, dan Penajam Paser Utara dengan ibukota Penajam. Sedangkan keempat kota adalah Balikpapan, Samarinda, Tarakan dan Bontang. Kalimantan Timur merupakan salah satu pintu gerbang pembangunan di wilayah Indonesia bagian timur. Daerah yang juga dikenal sebagai gudang kayu dan hasil pertambangan ini mempunyai ratusan sungai yang tersebar pada hampir semua kabupaten/kota dan merupakan sarana angkutan utama di samping angkutan darat, dengan sungai yang terpanjang Sungai Mahakam.

Propinsi Kalimantan Timur terletak di sebelah paling timur Pulau Kalimantan dan sekaligus merupakan wilayah perbatasan dengan Negara Malaysia, khususnya Negara Sabah dan Sarawak. Tepatnya propinsi ini berbatasan langsung dengan Negara Malaysia di sebelah utara, Laut Sulawesi dan Selat Makasar di sebelah timur, Kalimantan Selatan di sebelah selatan, dan dengan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta Malaysia di sebelah barat.

Daratan Kalimantan Timur tidak terlepas dari gugusan gunung dan pegunungan yang terdapat hampir di seluruh kabupaten, yaitu ada sekitar 13 gunung. Gunung yang paling tinggi di Kalimantan Timur yaitu Gunung Makita dengan ketinggian 2 987 meter yang terletak di Kabupaten Bulungan. Sedang untuk danau yang berjumlah sekitar 17 buah, keseluruhannya berada di Kabupaten Kutai dengan danau yang paling luas yaitu Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang dengan luas masingmasing 15 000 hektar, 13 000 hektar, dan 11.000 hektar.



[1] Kawasan ini yang harus diselamatkan, melihat dari kondisi karakteristik pulau

[2] Bapenas, 2004

[3] BPost Selasa, 05 September 2006

Tuesday, April 18, 2006

Migrasi

masih draft

A.2. Migrasi

Kalimantan adalah pulau khusus yang mempunyai daya tarik bagi para penduduk dari pulau yang jumlah penduduknya lebih padat.. Sering kali mereka merantau sendiri ke Kalimantan sedangkan keluarganya masih di tempat asal. Kalau pendatang baru sudah merasa cocok dan aman dengan tempat baru dan kesempatan pada masa depan terbuka, seluruh keluarganya akan mengikutinya. Atau dalam situasi lain, ibu-bapak merantau karena kontrak kerja di perkebunan akan langsung pindah bersama dengan keluarganya. 0a[R1]

Migrasi pertama kemungkinan terjadi ketika orang luar datang dari daerah Yunnan Cina Selatan sekitar tahun 3000 – 1500 SM (Zaman glasial/zaman es) menggunakan perahu bercadik melalui Indocina ke semenanjung Malaya ke selatan Kalimantan, kelompok ini disebut dengan ”Proto-Melayu”. Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama[R2] . Kedatangan bangsa melayu Sumatera & Semenanjung Malaya ke Kalimantan memaksa suku dayak yang tinggal di tepi sungai Kapuas pindah ke hulu-hulu sungai; migrasi bangsa Cina Ke Kalbar sejak abad ke – 17 melalui rute Indocina-Malaya-Kalbar & Borneo Utara-Kalbar sebagai tenaga pekerja emas di Monterado (Sultan Sambas & Panembahan Mempawah).[R3]


Menurut H.TH.Fisher, migrasi dari Asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras Mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang di sebut pegunungan Muller-Schwaner.

Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulai Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Cerita selanjutnya tentang suku dayak, dalam menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan. Umumnya orang Dayak enggan tinggal bersama satu pemukiman dengan suku lain, mereka lebih senang pindah dan membuka kampung baru ke arah hulu sungai[R4] . Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan yang menurut tradisi lisan dayak, disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (fridolin ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Migrasi orang Dayak sendiri memilik berbagai cerita yang berbeda namun secara umum bisa dilihat dari gambaran mingrasi Dayak yang terjadi oleh suku Dayak Kenyah dan Kayan. Migrasi dan asal muasal Dayak Ngaju yang konon merupakan induk beberapa anak suku dayak yang ada di Kalimantan memiliki sejarah tersendiri dalam kaitan sejarah migrasi kependudukan di Kalimantan.

Menurut Hose (1990 : 7) dalam teks orisinal yang ditulis pada tahun 1926 dikemukakan bahwa beberapa abad yang lalu suku Iban merupakan salah satu suku yang mungkin merantau dari Sumatera. Hipotesis dari Adelaar yang mengatakan migrasi kembali ke Kalimantan menunjukkan kemungkinan orang Dayak memang berasal dari Kalimantan yang pindah ke luar dan pada akhirnya kembali lagi ke Kalimantan. Dewasa ini karena banyaknya migrasi, pernikahan di luar kelompok asli, dan juga orang Dayak yang pecah dari kelompoknya menyebabkan sulit untuk menemui tokoh masyarakat adat yang bisa menceritakan mitos dan sifat-sifat lain budayanya padi atau keperluan hidup sehari-harinya saja. 1

Tampaknya sekitar abad ke-11 suku Melayu masuk (atau kembali) ke Sambas, Mempawah, Sangga, Sintang dan kemudian menyebar ke tempat lain. Menurut pendapat umum agama Islam menyebar ke Kalimantan sekitar abad ke-15. Ini menunjukkan bahwa Islam masuk setelah orang Melayu dan Jawa membawa unsur-unsur agama Hindu dan budaya dari zaman Sriwijaya dan juga dari zaman Majapahit ke Kalimantan. Salah satu Kerajaan Hindu tertua di Kutai didirikan sekitar abad keempat, tepatnya di Kalimantan Utara. Disebutkan bahwa di candi Borobudur ada gambar laki-laki dengan telinga panjang yang sepertinya menggunakan sumpit yang panjang. Relief ini mungkin melukiskan orang Dayak (Avé 1986 : 13). Menurut Kühr (1995 : 53) dewa-dewi orang Dayak yang tinggal di pinggir sungai Kapuas, sebenarnya diberi nama dewa-dewi Hindu-Jawa yang didayakkan seperti; Petara (Batara), Jubata (Déwata) dan Sengiaug (Sang Hyang). 1

Di samping back migration (merantau kembali) orang Melayu, bangsa Tionghoa berlayar ke pantai Asia Timur pada abad ketiga untuk perdagangan dan kembalinya melalui Kalimantan dan Filipina dengan memanfaatkan angin musim. Bangsa Tionghoa adalah kelompok etnis yang cukup penting dalam sejarah Kalimantan, sehingga sejarah mereka penting disorot. 1

Sekitar abad ketujuh orang Tionghoa mulai menetap di Kalimantan tetapi mereka tetap bercorak Cina dan hubungan dengan negeri leluhur mereka selalu dipelihara. Pada tahun 1292 pasukan Kubilai Khan dalam perjalanannya untuk menghukum raja Kertanegara dari Majapahit di Jawa singgah di pulau Karimata yang terletak tidak terlalu jauh dari Pontianak. 1

Kawasan tersebut termasuk jaringan lalu lintas rute pelayaran dari daratan Asia ke Asia selatan. Pasukan Tar-tar dari Jawa menderita kekalahan total dalam pertempuran dengan pasukan Kubilai Khan. Ada kemungkinan bahwa sebagian besar pasukannya lari dan menetap di Kalimantan karena mereka takut dihukum oleh pejabat Kubilai Khan yang masih ada di Jawa. 1

Sumber lain menyebutkan, Bangsa Tionghoa diperkirakan mulia datang ke Kalimantan pada masa dinasti Ming, tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhurup kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Agama Islam di Kalimantan juga ikut disebarkan oleh orang Tionghoa. Pada tahun 1407 berdiri perkumpulan masyarakat Tionghoa Hanafi yang menganut Islam di Sambas. Laksamana Cheng Ho seorang Hui adalah penganut Islam dari Yunan yang atas perintah Cheng Tsu3[1] dan anak buahnya masuk untuk menguasai daerah tersebut. Dia menetap di sana dan menikah dengan penduduk setempat, serta menyebarkan agama Islam kepada penduduk lokal. 1.

Pengaruh Islam diperkuat oleh kerajaan demak terutama di Kalselteng bersama masuknya para pedagang melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku dayak memeluk islam tak lagi mengakui dirinya sebagai orang dayak, tapi menyebutnya sebagai orang melayu atau orang banjar. Sedangkan orang dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagain Kota Waringin, salah seorang sultan kesultanan banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang dayak (Maanyaan atau Ot danum?)

Pada tahun 1609 Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang aktif dari tahun 1602-1799 menjalin peniagaan dengan kerajaan Sambas, yang pada waktu itu masih di bawah kedaulatan kerajaan Johor. Dalam waktu yang relatif pendek perselisihan terjadi dan beberapa orang Belanda dibunuh oleh masyarakat Sambas. Pada tahun 1612 tindakan pembalasan oleh VOC terjadi, sebuah kampung di Sambas juga dibakar. 1

Pada abad ke-17 sudah ada dua rute laut dari Cina melalui Indo-Cina ke Nusantara. Pertama yang terus ke Malaya dan pantai Sumatra Timur lalu ke Bangka-Belitung serta pantai Kalbar, terutama Sambas dan Mempawah. Rute laut kedua melalui Borneo Utara terus ke Sambas dan pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu. 1

Pada tahun 1745[2] gelombang besar masyarakat Tionghoa datang dengan persetujuan Sultan Sambas untuk membuka tambang-tambang emas. Pada waktu itu sepertujuh produksi emas dunia diperkirakan berasal dari Kalbar. Orang Tionghoa membentuk kongsi di Montrado dan di Mandor, kongsi itu semakin lama semakin kuat. Perkongsian itu menetap di daerah tersebut dan wajib membayar upeti kepada sultan Melayu. Pembayaran itu mengakibatkan sultan memberi izin kepada orang Tionghoa untuk mengatur daerah sendiri, seperti urusan pemerintahan lokal dan punya pengadilan sendiri. Orang Dayak yang tidak merasa cocok dengan kekuatan orang Tionghoa berpindah ke luar daerah kekuasaan kongsi tersebut.

Gelombang perantau baru dari Tiongkok masuk karena hidup di Kalimantan aman dan ada cukup kesempatan untuk mencari emas, intan, perak dan juga karena tanahnya cukup subur. Pada tahun 1777, orang Tionghoa dari suku Tio Ciu dan suku Khe yang mencari emas di Mandor dan Montrado mendirikan Republik Lan Fong di Mandor, enam tahun setelah kota Pontianak didirikan. Pada umumnya hanya laki-laki Tionghoa yang merantau, ini dikarenakan mereka cepat berbaur dan bisa memperistri wanita Dayak atau Melayu. Kelompok Tionghoa cepat berkembang sehingga jumlah mereka mencapai 30.000 jiwa. Pada waktu itu, setelah mereka berkembang mereka berani melawan pemerintahan sultan. Beberapa pertempuran terjadi antara kongsi-kongsi dan pangeran dari Sambas.

Pada tahun 1818 bendera Belanda dikibarkan di Sambas dan atas alasan perjanjian Belanda dengan Sultan, kepala-kepala Tionghoa sebenarnya berada di bawah kekuasaan Belanda. Setelah beberapa pertempuran berat terjadi, kekuasaan kongsi-kongsi Tionghoa dibubarkan di seluruh daerah Kalimantan Barat dan Republik Lan Fong Mandor yang berkuasa selama 107 tahun dan Republik Montrado yang berkuasa selama 100 tahun diakhiri (Lontaan 1975 : 256).

Sekitar 18 bulan setelah G30S meletus di Jawa, yang menyebabkan Soeharto menjadi pemimpin Indonesia, orang Dayak mengusir sekitar 45.000 jiwa Tionghoa dari pelosok dan membunuh ratusan jiwa Tionghoa, sebagai aksi politik untuk mengimbangi masalah pada zaman dahulu (Schwarz 2004 : 21). Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah kolonial mempengaruhi kehidupan orang Dayak, dan juga bahwa sejarah orang Tionghoa, Melayu dan Dayak sangat terjalin.

Apa yang sudah disebutkan di atas, orang Melayu masuk dari Sumatra dan dari Semenanjung Malaka sekitar abad ke-11 atau ke-12 dan berbaur dengan orang Dayak. Pada umumnya mereka mendiami daerah pinggir laut dan menjadi perantara orang luar dan orang Dayak yang ingin menukar atau menjual hasil hutan. Orang Melayu juga berbaur dengan keturunan orang Jawa yang sudah masuk sebelumnya. Seorang Ratu dari keturunan Hindu Majapahit yang memerintah daerah Sambas pindah ke agama Islam untuk memudahkan perniagaan dan mengembangkan hubungan baik dengan Johor dan Brunei yang sudah masuk Islam. Dewasa ini istilah Melayu digunakan sebagai kontras Dayak dengan Melayu. Istilah Melayu tidak digunakan sebagai referensi etnis tetapi sebagai referensi Islam kontras non-Islam. Peningkatan jumlah besar orang Melayu di Kalimantan disebabkan oleh orang asli atau Dayak yang memeluk Islam dan bukan karena jumlah besar orang Melayu yang merantau ke Kalimantan. Orang Dayak yang memeluk Islam tidak berarti bahwa mereka selalu memeluk secara penuh tetapi mungkin hanya secara nominal.

Pada zaman dahulu, orang Dayak yang tidak mau dikuasai oleh suku lain terdesak dari pantai ke pedalaman Kalbar. Tergantung kekuatan suku Dayak tertentu, mereka membayar upeti atau tidak. Upeti dibayar dalam bentuk hasil hutan kepada sultan yang dibawa dengan sampan oleh pedagang Melayu ke hilir, ke pusat perdagangan di pinggir laut. Ada juga suku Dayak yang bertahan yang disebut “Dayak merdeka” dan mereka tidak dikuasai langsung oleh kerajaan Melayu pada zaman dahulu

Migrasi yang dilakukan oleh penduduk Tionghoa ke Kalimantan awalnya di daerah Singkawang (Monterado), karena konon ceritanya dari kejauhan laut terpencar sinar berwarna kuning, yang berrati banyak emas. Sejak itu dimulailah berbondong-bondong masyarakat Tionghoa masuk ke wilayah Kalimantan (Kalimantan Barat) dan banyak membuka pertambangan emas. Setelah itu masuk penjajahan Belanda yang ikut berperan berinvestasi emas di wilayah Singkawang. Selain itu juga dipengaruhi oleh migrasi dari Bugis, Melayu (Sumatera Semenanjung), Arab, Jawa. Dimana mereka masuk melalui muara sungai-sungai (Mempawah, Selakau, Kapuas), mereka pada umumnya menjadikan Kalimantan Barat awalnya sebagai tempat singgah dan berdagang, namun pada lama kelamaan ada yang memulai berinvestasi tanah dan melakukan perkawinan di sekitar pesisir sungai.

Migrasi Suku-suku Lain di Indonesia ke Kalimantan


Bugis – Bajau


[3]Serbuan Imigan dari orang-orang Bugis dari Sulawesi Selatan ke Kalseltim sekurang-kurangnya dimulai pada abad ke – 16. Para pelaut bugis terlibat dalam perdangangan dan pengangkapan ikan.

Pada awal tahun 1950-an terjadi gelombang imigran baru dari orang Bugis yang karena penderitaan akibat pemberontakan Islam Kahar Muzakar di Sulsel (Vayda dan Sahur 1985). Mereka kemudian disusul oleh kerabatnya dan mulai membuka daerah-daerah hutan didataran rendah yang luas di sepanjang jalan untuk usaha tani lada dan perdaganan lainnya. Pada tahun 1990-an migrasi orang bugis lebih pada kencendrungan mencari pekerjaan pada sektor usaha eksploitasi SDA seperti pertambangan.

Di daerah pantai barat laut Sabah dan sepanjang daerah pantai timur terdapat banyak suku Bajau, yang semual dikenal sebagai petualang laut ; penjelajah Laut Sulu untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya (Sopher 1965; Rutter 1930).

Jawa – Bali – Madura

Pendatang dari jawa telah ada dalam jumlah besar di kalimantan dalam abad ke-14 dan ke-15 semasa puncak kejayaan Kerajaan majapahit di Jawa Timur. Pengaruh mereka masih dapat dilihat dalam bahasa dan budaya serta tatacara istana di Banjarmasin, sambas dan Kotawaringain (Ave dan King 1986). Migran baru terus berdatangan dan banyak yang berhasil mengerjakan sawah lahan basah pasang surut di Kalimantan Selatan (Collier 1977, 1980).

Petani muskin yang cukup besar jumlahnya dari Jawa dan Bali juga telah dimukimkan kembali di kalimantan melalui program transmigrasi yang disponsori pemerintah. Banyak pekerja kasar di industri perminyakan, perkayuan dan kini juga pendatang dari Jawa (termasuk di kegiatan illegal). Masyarakat Madura terdapat di Kalimantan barat, Tengah dan Selatan membawa orang madura ke Kalimantan akhir abad yang lalu sebagai bagian dari program kolonisasi mereka. Orang Madura menduduki berbagai lapangan pekerjaan, dari mengemudi beca, bertani dsb.



[1] Kaisar keempat dari dinasty Ming

[2] Ada yang menyebutkan tahun 1750, misalnya dalam Sarwoto kertodipoero,1963

[3] Ekologi Kalimantan


[R2]Ditulis ari Walhi Kalbar

[R3]Uban

[R4]Hal itu terjadi jika pendatang melakukan kegiatan yang sama dengan penduduk asal, misalnya bertani dsb, namun jika beda kegiatan utama umumnya mereka bisa bergabung.

Sejarah Pengelolaan Sumber Daya Alam


draft

A.2.3.1. Umum

Tekanan dari luar untuk memenuhi kebutuhan hidup dewasa ini lebih intrusif lagi. Pertama karena tekanan ekonomis memaksa eksplorasi kekayaan sumber daya alam dengan mengonversi yang tumbuh di atas bumi. Kayu hutan hujan tropis menjadi bahan baku pada pabrik plywood dan produk kayu lainnya secara legal dan sebagian besarnya lagi secara illegal. Hutan dan tanah dusun juga dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Kedua, kekayaan dari perut bumi, yakni mineral-mineral digali dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk permintaan pasar dunia. Itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pasca tradisional lebih diprioritaskan dibandingkan kebutuhan masyarakat pra modern. Bahan mentah sebenarnya terletak di “Lebensraum” kelompok tradisional. Sejak lama Kalimantan dilihat sebagai sumber alam yang tidak ada habis-habisnya, padahal sumber itu sebenarnya terbatas. 1

Permintaan kayu pasar dunia masih kuat, sementara produksi kayu bulat turun karena sulit memperpanjang izin atau menebang pohon secara ilegal. Beberapa tahun belakangan ini, beberapa industri kayu sudah kesulitan bahan baku, beberapa industri sudah gulung tikar karena alasan kesulitan bahan baku. Beberapa yang bertahan memperoleh kayu dari luar pulau seperti Papua.

Di beberapa daerah kebanyakan kayunya ditebang untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Di Kalimantan Barat, di desa Paham ada beberapa orang Dayak yang menebang kayu untuk permintaan pasar lokal. Mereka adalah kelompok penebang kayu yang masuk hutan memakai sepeda ontel yang rangkanya diperkuat lagi dengan menggunakan kayu supaya bisa mengangkat beban kayu yang berat. Mereka pulang dari hutan dengan membawa papan kayu ke desanya pada waktu sore. 1

A.2.2.2 Sejarah Pertambangan Di Kalimantan2

Eksploitasi mineral pertama yang penting adalah pertambangan dan pengolahan bijih besi yang terdapat di berbagai tempat di seluruh Borneo. Hal ini dimulai dengan diperkenalkannya keterampilan penggarapan besi dari daratan Asia diantara abad ke-5 dan ke-10 Masehi (Bellwood 1985), penduduk setempat mengembangkan keterampilan untuk peleburan dan penggarapan besi yang dengan cepat menyebar ke daerah pedalaman sejak abad ke-6 dan seterusnya (Sellato, 1989a). Sungai Apo Kayan dan S. Mantalat di daerah hulu daerah aliran S. Barito, S. Mantikai yaitu anak s. Sambas, S. Tayan yaitu anak S. Kapuas di Kalimantan Barat, semuanya mempunyai endapan biji besi dan terkenal dengan peleburan dan pembuatan barang-barang dari besi.(Ave dan King 1986)

Emas dan intan juga dikumpulkan sejak dahulu , diperdagangkan ke istana-istana Sultan dan kepada pedagang-pedagang Hindu dan Cina. Menurut tradisi orang Dayak sendiri hampir tidak pernah membuat dan memakaii perhiasan emas (Sellato 1989a), tetapi perdagangan emas mempengaruhi kebudayaan pulau ini. Emas telah di ekspor dari Borneo bagian barat kira-kira sejak abad ke-13 dan menjelang akhir abad ke -17 pedagang-pedagang Cina telah mengumpulkan muatan-muatan emas di Sambas (Hamilton 1930).

Selama berabad-abad emas diperoleh dalam skala kecil oleh penambang-penambang suku dayak, dengan mendulang debu emas di sungai-sungai. Dulang, yaitu sejenis baki yang dangkal terbuat dari kayu yang digunakan untuk mendulang emas, dijual di pasar-pasar setempat seperti Martapura.

Penambangan emas secara komersial pertama di Kalimantan di lakukan oleh masyarakat Cina. Dalam keramaian mencari emas pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ladang emas terkaya dan termudah dicapai dikerjakan dahulu, tambang emas terbesar berada di Sambas dan Pontianak di sekitar Mandor. Masyarakat Cina kemudian berpindah ke arah barat di wilayah Landak, pungguh daerah aliran S. Kapuas, dan setelah cadangan emas habis mereka mulai membuka tambang-tambang yang sangat kecil di daerah pedalaman. Menjelang pertengahan abad ke-19, industri pertambangan emas di Kalimatan menurun dengan cepat tetapi meninggalkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kebudayaan

Sekarang ini Kalimantan telah terbagi-bagi dalam konsesi-konsesi pertambangan emas. Di Sambas Kalimantan barat di kaki bukit pegunungan Schwaner, Kalimantan Tengah dan S. Kelian Kalimantan Timur telah dibuka pertambangan emas

Penambangan Batubara secara terbuka dibawah pengawasan kesultanan sudah mulai beroperasai di Kalimantan menjelang abad ke-19, yang menghasilkan batubara bermutu rendah dalam jumlah kecil untuk penggunaan setempat (Lindblad 1988). Tambang kecil milik negara di Palaran dekat Tenggarang di kesultanan Kutai merupakan suatu contoh yang khas. Tambang batubara Modern yang pertama di Kalimatan adalah tambang “Oranje Nassau’ yang dibuka oleh Belanda di Pengaron, Kalimantan Selatan pada tahun 1849. tambang ini lebih diarahkan untuk menujukkan haknya terhadap kekayaan mineral pulau itu dan bukan karena potensi komeresialnya (Lindblad 1988). Dengan pertimbangan serupa Inggris mendirikan “British North Borneo Company” untuk bekerja di Sabah, kerena mereka tertarik kepada tambang batubara di Labuan. Hak-hak kolonial ini hanya dapat didirikan dengan beberapa kerepotan.

Pada tahun 1888 perusahaan batubara Belanda (Oost-Borneo Maatchappij) mendirikan sebuah tambang batubara besar di Batu Panggal di tepi S. Mahakam. Ada pula kegiatan pribumi secara kecil-kecilan yang dilakukan di Martapura sepanjang S. Barito, sepanjang Mahakam Hulu dan S. Berau. Pada tahun 1903, dengan penanaman modal Belanda, tambang batubara terbesar di P. Laut mulai berproduksi dan menjelang tahun 1910 telah menghasilkan kira-kira 25 % dari semua keluaran Indonesia (Lindblad 1988). Produksi tambang-tambang yang besar milik Belanda di ekspor, sedangkan kegiatan-kegiatan produksi yang lebih kecil diarahkan untuk pemasaran setempat. Kualitas batubara yang rendah dan tersedianya batubara dari Eropa yang lebih murah, terutama dari Inggris, akhirnya menyebabkan kemunduran pada pertambangan besar Belanda di Kalimantan. Namun penemuan ladang-ladang batubara baru akhirnya-akhirnya ini menyebabkan timbulnya perhatian baru terhadap batubara Kalimantan.

Kalsel :

Daerah pedalaman dan pegunungan sebagai penghasil kekayaan alam, sedangkan daerah pesisir sebagai pusat perdagangan, merupakan sebuah kombinasi yang sangat ideal bagi para pemilik modal baik para bangsawan maupun bangsa penjajah. Selain melihat potensi lada yang begitu besar, Pemerintah Belanda juga mengetahui bahwa tanah Banjar sangat kaya akan sumber daya tambang. Selain hasil tambang intan, potensi batubara di tanah Banjar juga menjadi incaran Pemerintah Belanda sejak waktu itu.

Kebijaksanaan yang diambil Pemerintah Belanda ialah menyewa tanah apanase milik Pangeran Mangkuhumi Kencana (Mangkubumi pada masa Pemerintahan Sultan Adam Al Wasik Billah), untuk membuka tambang batu-bara di daerah Pengaron. Sewa tanah itu sebesar 10.000 Gulden setahun. Belanda mengambil inisiatif untuk segera eksploitasi terhadap sumber batu bara tersebut. Batu bara ketika itu sedang mempunyai banyak peminat di pasar dunia dan sumber batu bara tersebut banyak ditemukan di daerah Kerajaan Banjar. Pada tahun 1849 dibukalah di Pengaron oleh Gubernur Jenderal J.J. Rochassen dengan nama tambang batubara Oranje Nassau. Tambang ini berproduksi 10.000 ton per tahun. Demikianlah optimisnya pembukaan pertambangan itu dan diharapkan sukses seperti tambang yang telah ditutup di Martapura karena terbunuhnya para pekerjanya sewaktu pecah perang Banjar pada tahun 1859.

Adanya resiko pertambangan seperti yang dihadapi oleh kedua tambang di Martapura itu tidak mengecilkan semangat para investor untuk menanamkan modalnya pada usaha itu, karena prospeknya yang kelihatan cerah. Kompetisi di pasaran terjadi dengan batu bara yang diproduksi Inggris, karena kemampuan kapal-kapalnya yang mempunyai daya angkut besar sehingga dapat menekan harga angkutan dari Asia ke Eropa.

Untuk mengelola pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan, maka pada tahun 1888 berdiri sebuah perusahaan Oost Borneo Maatschappij (OBM) berpusat di Batu Panggal. Perusahaan ini mengeskploitasi tambang batubara di Palaran, Kutai.

Kemudian setelah itu, perusahaan batu baru Pulau Laut didirikan pada 1903, sesudah dilihat adanya kemungkinan untuk mengeksploitasi secara terbuka. Modal yang cukup besar dari rencana 180.000 menjadi 2 juta gulden, untuk membuat laporan tentang situasi geologi daerah itu. Berdasarkan laporan inilah tidak kurang pemilik modal yang berminat menanamkan modalnya di Pulau Laut. Persiapan cukup matang diperlukan agar para investor dapat bekeja dengan baik di daerah itu, yakni membangun jalan untuk mengangkut batu, penyediaan tenaga buruh dan sebagainya. Sejumlah modal dan beratus-ratus kuli akan membawa pembahan pada kehidupan ekonomi dan sosial di pulau yang sepi itu. Ketika adminsitrator bernama J. Lousdorfer mendarat di Kota Baru pada 1908, dia menjumpai keadaan masyarakat yang sama sekali asing dari pengetahuannya, yakni mereka hidup dengan aturan yang sangat berbeda dengan yang dikenalnya. Produksi dari pabrik di Pulau Laut sebanyak 80.000 ton per tahun 1905. Pada tahun 1908 kemampuan produksi maksimum tercapai. Jumlah pegawai bertambah dari 150.000 orang kuli menjadi 230.000 orang kuli pada tahun 1910. Pulau Laut menjadi kekuatan ekonomi yang besar, menjadi salah satu daerah tambang batu bara terbesar di wilayah jajahan Belanda.

Keberhasilan Pulau Laut sebagai eksportir batu bara didukung oleh lokasi pelahuhannya yakni Stagen yang terletak dalam jalur pengapalan besar yang mudah ditempuh berbagai macam kapal dari Makassar karena tidak ada lagi tempat pengapalan batu bara yang dekat tempat tersebut. Sebelum tahun 1909 paling tidak 3/5 dari hasil tambang diekspor ke luar negeri antara lain ke Jerman. dimana batu bara Pulau Laut banyak dipakai oleh Norddeutscher Lloyd. Bremen.

Di Pulau Kalimantan, pasca Perang Duni I terdapat tiga perusahaan tambang besar milik Eropa yang beroperasi di bidang pertambangan batu bara yakni Maskapai Tambang Pulau Laut, OBM dan Parapattan Baru di Sambaliung. Ketiga perusahaan itu saling bersaing baik dalam hal kapasitas produksi, jumlah buruh yang digunakan maupun keuntungan yang diperoleh perusahaan. Pada tahun 1919-I922 Maskapai Tambang Pulau Laut memperoleh keuntungan melebihi perolehan OBM dan Parapattan. Namun pada tahun-tahun berikumya keuntungan Maskapai Tambang Pulau Laut semakin menurun hingga sampai memperoleh kerugian sebesar 260.000 gulden. Samentara di tahun 1923-1929 adalah tahun-tahun yang menguntungkan bagi OBM dan Parapattan, keduanya bisa menyaingi Maskapai Pulau Laut yang saat itu mengalami penurunan sehingga dibubarkan pada tahun 1930. Pada mulanya OBM yang berjalan pesat, tetapi sesudah tahun 1927 Parapattan berhasil sebagai ranking pertama sebagai perusahaan tambang batu bara terbesar di Kalimantan Selatan.

Sejarah pertambangan mineral di Kalimantan sejak di bukanya kran PMA di mulai dengan kontrak kerja Generasi III+ yaitu Indo Muro Kencana di Kalteng dan Kelian Equatorial Mining di Kaltim. Sedangkan Pertambangan Batu Bara di mulai dengan Generasi Pertama oleh Adaro dan Arutmin di Kalsel dan di Kaltim Berau Coal, Indominco Mandiri, KPC, Kideco Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Tanito Harum

Saat ini setidaknya terdapat 21 perusahaan besar pertambangan di Kalsel, 15 perusahaan besar pertambangan di Kaltim dan 154 KP dan 13 PKP2B perusahan pertambangan di Kalimantan Tengah

A.2.2.3. Sejarah Eksploitasi Hutan2

Eksploitasi kayu di Kalimantan telah berlangsung lama dan menempati kedudukan yang penting selama penjajahan Belanda. Mulai tahun 1904 sejumlah konsesi penebagan hutan telah diberikan di bagian hulu S. Barito dan daerah-daerah Swapraja di pantai timur, khusunya Kutai (Potter 1988).

Sampai tahun 1914, 80% kayu yang dihanyutkan ke hilir S. Barito terdiri atas kayu Depterocarpaceae, sedangkan kayu yang berasal dari pantai timur terutama adalah kayu besi (van Braam 1914). Hamparan hutan Dipterocarpaceae yang luas di pantai timur lebih sukar untuk dieksploitasi dan berbagai upaya pada permulaan gagal, meskipun dengan penanaman modal besar (Potter 1988). Pada tahun 1942 petugas-petugas penjajah Belanda menyiapkan peta hutan yang bersipat menyeluruh untk karesidenan Borneo Selatan dan Borneo Timur (meliputi KaltengSelTim) yang menunjukkan bahwa 94% luas karesidenan merupakan daerah yang tertutup hutan. Angka-angka mengenai luas lahan berhutan yang diterbitkan pada tahun 1929 masih dijadikan dasar dalam pemberian ijin konsesi penebangan hutan pada tahun 1975 (Hamzah 1978; Potter 1988). Sejak jaman penjajahan pelestarian hutan telah mendapat perhatian. Empat kawasan hutan ditetapkan ditetapkan sebagai cagar hidrologi[R1] di Borneo Tenggara yaitu gunung-gunung di Pulau Laut, dan tiga cagar alam meliputi Pegunungan Meratus yang membujur dari utara ke selatan (van Suchtelen 1933).

Penebangan kayu secara besar-besaran dimulai pada tahun 1967, ketika semua hutan yang ditaksir pada tahun 1968 seluas 41.470.000 atau kira-kira 77% di nyatakan milik negara. Pada waktu itu pemerintah menghadapi masalah-masalah ekonomi yang berat sehingga membirikan konsesi kayu dengan murah kepada perusahaan-perusahaan asing yang berniat untuk mengeksploitasi tegakan kayu keras tropis yang luas. Menjelang tahun 1972 luas daerah konsesi mencapai 26,2 juta hektar dan kemudian meningkat menjadi 31 juta ha pada tahun 1982 terutama di Kalteng dan Kaltim (Ave dan King). Dan kini luasan HPH mencapai 17.072.503 Ha (SOB, 2006)

Sejarah pemanfaatan hutan di Kalimantan Tengah telah dimulai sejak lebih dari setengah abab lalu, yaitu dengan dimulainya kegiatan eksploitasi kayu agathis secara sederhana menggunakan sistem panglong/tebang banjir di daerah Sampit dan sekitarnya yang dilaksanakan oleh NV. BRUINZEEL. Dan setelah kemerdekaan, kegiatan eksploitasi dan pengolahannya selanjutnya diambil alih oleh PT. SAMPIT DAYAK dan PN Perhutani.

Kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh PT. Sampit Dayak dan PN Perhutani selain ditujukan untuk diolah sendiri, juga diarahkan untuk mensuplai kebutuhan Pabrik Kertas yang berada di Martapura.Kegiatan PN Perhutani mengekploitasi hutan di daerah Sampit tersebut terus berlanjut sampai dengan memasuki era Orde Baru, dan pada dekade tahun 1970 karena tuntutan kebutuhan dan ketentuan, PN Perhutani selanjutnya direktruturisasi menjadi PT. Inhutani III.

Selaras dengan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya alam untuk pembangunan, maka memasuki tahun 70-an, kegiatan eksploitasi di Kalimantan Tengah tidak lagi sebatas dilaksanakan oleh PT. Inhutani, tetapi telah melibatkan perusahaan swasta lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah dengan terbukanya peluang untuk memperoleh konsesi HPH dalam skala luas.

Pengusahaan Hutan Sejak Pelita I sampai saat ini

Era baru bagi pelaksanaan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hutan secara besar-besaran dan modern, perkembangannya dimulai dengan ditetapkannya Undang-Undang Pokok Kehutanan No. 5 tahun 1967, Undang-Undang No. 1 tahun 1967 mengenai PMA dan Undang-Undang No. 6 tahun 1968 tentang PMDN. Ketiga Undang-Undang itulah yang mendasari dan menjadi landasan bagi pengelolaan hutan di Kalimantan Tengah khususnya dan Indonesia umumnya, yang ditandai dengan adanya pemanfaatan hutan dalam bentuk HPH dan HPHH, serta berkembangnya industri yang mengolah produk hasil hutan (sawmill, plywood, blackboard, particle board, chipmill, pulpmill dan sebagainya).

Berikut ini disajikan data tentang perkembangan HPH sejak Pelita I sampai dengan saat ini :

No

Periode

Propinsi

Kalbar

Kalteng

Kalsel

Kaltim

Jumlah

Luas

Jumlah

Luas

Jumlah

Luas

Jumlah

Luas


1967 – 1970



3

381.000






1971 – 1975



87

8.567.500






1976 – 1980



95

9.291.500






1981 – 1985



112

11.231.500






1986 – 1990



117

11.862.500






1991 – 1995



117

4.790.522






1995 – 2000



53

4.790.522






2001 – 2005



54







2006 -



54






Berdasarkan data tersebut di atas terlihat bahwa era baru kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah di mulai dengan hanya 3 unit HPH pada tahun 1969/1970. Setiap tahunnya data kepemilikan HPH selalu bertambah dan mencapai puncaknya pada tahun 1989/1990 dengan jumlah 117 HPH yang mencakup areal seluas 11.862.500 Ha, dan selanjutnya sejak saat itu mulai menyusut hingga pada tahun 2000 hanya berjumlah 53 unit saja dengan cakupan areal 4.790.522 Ha. Menyusutnya kepemilikan HPH tersebut diantaranya kerena pengelolaanya dianggap gagal melakukan pengelolaan hutan yang berazaskan kelestarian, sehingga pengelolaanya dikembalikan ke Negara.

Sementara itu, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 312/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 terjadi perubahan yang sangat mendasar dalam trend pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah. Lebih dari 90 pemohon HPH baru telah mengajukan permohonan kepada Menteri Kehutanan untuk memperoleh Hak Pengusahaan atas suatu luasan tertentu kawasan hutan. Para pemohon tersebut memang sangat beragam, seperti koperasi, LSM di daerah, Perguruan Tinggi setempat, Pengusaha Lokal, termasuk swasta nasional tetapi umumnya bukan tergolong dalam kelompok konglomerat kehutanan seperti yang terjadi sebelumnya. Sebaliknya, hingga sekarang dari 90-an pemohon tersebut hanya 14 unit saja yang telah resmi memperoleh SK HPH dari Menteri Kehutanan. Artinya disatu sisi Pemerintah Pusat membuat kebijakan yang sangat “retorik” tetapi disi lain tidak didukung dengan “pengkondisian” kebijakan yang berpihak kepada daerah.

Investasi Perkebunan

Dengan tidak menentunya pasaran batu bara, pemerintah Hindia Belanda yang telah memberikan perhatian pada potensi daerah-daerah luar Jawa mencoba untuk mengusahakan jenis komoditi lain. Dengan suksesnya tanaman tembakau di Deli, maka dicoba pula untuk mengembangkannya pula di daerah Banjar, namun ternyata hasilnya jauh dari memuaskan. Bersamaan dengan waktu pasar dunia sedang dibanjiri oleh permintaan komoditi jenis baru, yakni karet, yang diperlukanoleh industri mobil yang baru mulai berkembang saat itu. Untuk itu para pengusaha swasta yang telah diberi keleluasaan untuk menanamkan modalnya di wilayah jajahan.

Karet merupakan salah satu primadona ekspor Hindia Belanda waktu itu. Primadona ekspor Hindia Belanda adalah karet. Tanaman ini mulai dikenal dunia sekitar tahun 1900 dan masuk ke Kalimantan Selatan melalui dua jalan yang lokasinya terpisah yakni daerah Pagat (dekat Barabai) dan pada daerah perkebunan tembakau di wilayah utara Hulu Sungai. Pada mulanya karet jenis Ficus Elastica dan Hevea Brasiliensis dicoba di tanam di Perkebunan Hayup dekat Tanjung oleh dua orang pengusaha bernama C.Bohmer dan W.M. Ernest tetapi kemudian mengalami hambatan. Perkebunan karet kemudian bisa dikembangkan dengan bantuan dana dari bank-bank di Berlin dan pagawasan dari Perusahaan Karet Borneo yang berbasis di Banjarmasin. Seorang pengusaha bernama E.A. Hilkes mencoba menanam karet dengan mendatangkan bibit karet Hevea dari Semenanjung Malaya. Ia membuat perkebunan di daerah Martapura; Tanah Intan (Karang lntan) dan Danau Salak yang jumlah pohonnya lebih dari 100.000 pohon di tahun 1907. Perkebunan karet pada tiga wilayah tersebut menggunakan tenaga kuli kontrak dari Jawa maupun dari daerah sekitarnya. Jenis kuli yang terakhir inilah yang nantinya akan menjadi pengusaha karet pribumi. Setelah masa kontraknya terutama yang dari Hayup selesai. Mereka kembali ke kampungnya dan menanam karet sendiri. Mereka sudah mendapat cukup pengalaman dalam pengolahan karet selama bekerja di Perkebunan Eropa.

Harga karet yang tinggi sebelum Perang Dunia I mengakibatkan perluasan perkebunan karet di sana terutama di daerah Hulu Sungai. Banyak tanah sawah yang dijadikan perkebunan karet. Tidak kurang dari 40% kepala keluarga di Hulu Sungai mempunyai perkebunan karet.

Usaha budidaya karet di daerah Banjar kemudian dipekuat oleh modal-modal asing diluar orang-orang Belanda. Mulai dengan Hayup dan Tanah Intan yang dikelola oleh para pengusaha Inggris, sedangkan Danau Salak pada 1917 dipegang oleh Jerman, namun setahun sejak menduduki daerah Banjar perusahaan-perusahaan perkebunan karet itu dijual kepada orang-orang Jepang dan sebagian kepada pemilik-pemilik modal Cina.

Salah satu pusat budidaya karet, Hulu Sungai terus menambah jumlah pohon karetnya. Pada tahun 1924 terdapat sekitar 10 juta pohon yang dimiliki oleh sekitar 3.000 orang (rata-rata setiap pemilik mempunyai 300 pohon). Jumlah itu terus bertambah sehingga pada tahun 1963 terdapat tidak kurang dari 49 juta pohon dengan pemilik sekitar 12.000 orang, dengan luas perkebunan sekitar 50.000 hektar. Kebanyakan pohon itu ditanam pada waktu memuncaknya permintaan karet pada tahun 1920an.

Salah satu keistimewaan dari budi daya karet di daerah Banjar, bahwa pada mulanya mereka dipelopori oleh pengusaha-pengusaha asing, namun pada masa kemudian justru yang memegang peran adalah para pemilik kebun pribumi. Akibat dari naik turunnya produksi karet dan permintaan karet pasar dunia yang dapat mengikuti perkembangan harga hanyalah karet rakyat, karena mereka menggunakan tenaga kerja lebih banyak tenaga anggota keluarganya sendiri.

Demikianlah berkembangan budidaya karet di daerah Banjar, maka pada sekitar tahun 1930-an kesejahteraan penduduk meningkat dengan pesat. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan banyaknya rumah yang dibangun di daerah Hulu Sungai, disamping itu permintaan daerah Banjar akan barang-barang impor sangat